Iris memandang nanar perutnya. Baiklah, sepertinya mau tidak mau ia harus makan di rumah saja. Namun, saat ini yang gadis ini khawatirkan adalah atmosfer yang diciptakan oleh pria di sebelahnya. Iris tak bisa menebak-nebak apa sekarang yang membuat mood Daren menjadi buruk. Meskipun demikian, pria itu tetap membukakan pintu mobil untuk Iris. Iris pun langsung menggandeng tangan Daren untuk masuk ke dalam rumahnya. Mereka disambut oleh Milly yang tampak baru saja membersihkan diri. “Kalian sudah pulang?” ujar wanita itu. “Halo, Ma. Ya. Bagaimana dengan Kak Arvie?” pertanyaan pertama yang gadis itu ajukan. Daren sudah duduk di kursi ruang tamu, begitu juga dengan Iris dan Milly. “Sepertinya dia belum bangun dari tidurnya. Entahlah. Mama belum menengoknya,” jawab Milly. Iris mengangguk

