Ia Akan Menang

2313 Words

Nindy berdiri dengan percaya diri. Bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum manis, khas senyum yang pernah memikat banyak lelaki di masa lalu. Ia melangkah ringan, mendekati Khalil yang berdiri agak terpisah dari rombongan anggota DPRD lainnya. Dengan dua gelas kopi di tangan dan rambut yang sengaja dibiarkan tergerai sempurna, ia terlihat seolah sedang berada di lokasi syuting iklan kopi premium, bukan di acara UMKM lokal. "Apa kabar?" tanyanya dengan suara lembut, sedikit dibuat-buat hangat, seolah ingin mencairkan suasana. Namun tak ada respons yang ia harapkan. Khalil hanya menatapnya sebentar—tanpa senyum, tanpa sapaan, hanya tatapan datar yang tak bisa ia baca. Ia tidak tampak terkejut. Seolah sudah tahu Nindy akan muncul, seolah kehadirannya di tempat ini adalah sesuatu yang sud

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD