Malam itu, kamar kos Alena seketika berubah menjadi ajang peragaan busana dadakan.
Baju yang dipakai? Sudah dipilih dengan teliti sejak tiga hari lalu.
Riasan? Sempurna tanpa cela.
Rambut? Ditata bergelombang lembut yang jatuh indah menutupi bahunya.
Dan penampilan malam ini… tak perlu diragukan lagi, sangat keren.
Jaket pendek hitam dengan aksen perak, dipadukan rok pendek kargo berwarna pink, sepatu bot hitam setinggi lutut, ditambah tas kecil berwarna merah muda lembut yang senada dengan tema acara malam ini. Singkatnya, gayanya sangat modis dan memukau.
Alena berdiri di depan cermin besar dari ujung ke ujung, tangan bertumpu di pinggang. Matanya meneliti pantulan dirinya sendiri dari atas hingga bawah. Lalu…
“Buset…”
Ia mengangguk puas pada bayangannya.
“Keren banget gue.”
Berputar perlahan, pandangannya tak lepas dari cermin.
“Cantik banget, ya ampun.”
Mendekat lagi, ia tersenyum lebar.
“Kalau Jisoo lihat, kayaknya kita bisa jadi sahabat deh.”
Hening menyelimuti ruangan selama dua detik, sebelum Alena tertawa terbahak-bahak.
“Ya Allah, Alena, ngelamun aja terus.”
Belum sempat ia tenang, ponselnya berdering nyaring. Nama Dian muncul di layar.
“Halo cantik!”
Suara Dian meledak terdengar dari seberang telepon.
“WOY, LO UDAH SIAP BELUM?!”
Alena buru-buru menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Iya, udah siap kali!”
“Turun sekarang! Tasya udah nunggu di bawah!”
“Hah? Cepet banget?!”
“YA IYALAH, INI KONSER BLACKPINK, WOY!”
Telepon terputus seketika.
Alena segera meraih tas kecilnya, memastikan semua barang penting sudah ada di dalamnya.
Baterai cadangan? Aman.
Pewarna bibir? Aman.
Tiket VIP? Pasti ada, sudah aman banget.
Tongkat cahaya berwarna hitam merah muda? Siap dipakai kapan saja.
“Dengan izin Allah… hari ini gue bakal ketemu Jisoo.”
Begitu turun ke lobi, Tasya langsung ternganga melihat penampilan Alena.
“WOYYYY!”
Bahkan Dian sampai membuka mulut lebar-lebar tak percaya.
“ASTAGA, ALENA!”
Alena mengerutkan dahi bingung.
“Kenapa?”
Dian menunjuk dari atas sampai bawah, meneliti penampilan sahabatnya itu.
“Lo mau nonton konser apa mau cari jodoh, sih?”
Tasya tertawa lebar.
“Keterlaluan banget… baju yang dipakai kelihatan mahal banget.”
Alena langsung mengubah sikapnya, berusaha terlihat lebih percaya diri.
“Kan harus terlihat keren dan berkelas dong.”
Dian bertepuk tangan antusias.
“BENAR SEKALI, RATU!”
Malam itu, Tasya yang mengemudi. Mobil SUV putih miliknya sudah terparkir rapi tepat di depan pintu masuk. Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil dengan semangat yang meluap-luap.
“NYALAIN DAFTAR PUTARAN LAGU BLACKPINK!” teriak Dian bersemangat.
Tasya segera menghubungkan ponselnya dengan sistem suara mobil, dan seketika…
🎵 Blackpink in your area…
Mobil itu seketika berubah menjadi tempat bernyanyi bersama yang berjalan. Dian bernyanyi sekuat tenaga, Alena ikut bergoyang kecil di kursi penumpang, bahkan Tasya yang sedang menyetir pun tertawa melihat tingkah mereka.
“WOI, KITA BARU BERANGKAT UDAH KAYAK DUNIA MAU RUNTUH!” seru Tasya sambil terkekeh.
“YA IYALAH!” balas Alena dengan nada tinggi. “INI KONSER BLACKPINK, WOY! BLACKPINK!”
Mereka bahkan mulai berlatih menyanyikan bagian sorakan bersama penggemar sambil tertawa dan berteriak. Sampai di lampu merah, pengemudi di kendaraan sebelah sampai menoleh menatap mereka.
Dian segera berbisik pelan, “Eh, gak malu apa dilihatin orang?”
Alena menoleh ke luar jendela, lalu menggeleng tegas. Bahkan ia sedikit menurunkan kaca jendela.
“INI BLACKPINK, WOYYYY!”
“ALENA, TUTUP KACA LO!”
Mobil itu kembali bergemuruh dengan tawa mereka.
Sesampainya di lokasi konser, suasana sudah sangat ramai dan meriah. Penggemar datang dari berbagai penjuru, semuanya berpakaian menarik dengan d******i warna merah muda dan hitam. Kilauan cahaya terdengar di mana-mana, alunan musik terdengar samar, dan jantung mereka bertiga berdebar kencang tak karuan.
“Ya Allah…” bisik Alena dengan mata terbelalak. “Ini beneran terjadi.”
Dian segera menarik tangan kedua sahabatnya.
“AYO FOTO DULU!”
Setelah Tasya memarkirkan mobil, mereka segera diarahkan masuk melalui jalan khusus tamu VIP.
“Buset, kita lewat jalan VIP, dong…” gumam Dian takjub.
Alena pun ikut bersemangat. “Keren banget, ya Allah!”
Begitu masuk ke dalam, mereka langsung sibuk mencari tempat yang bagus untuk berfoto. Tongkat cahaya mereka segera dikeluarkan, bahkan Tasya membawa alat pencahayaan kecil khusus agar hasil fotonya lebih bagus.
“Cepat sini, ambil posisi!” seru Tasya.
Klik. Klik. Klik.
“Alena, gaya kamu jangan kayak orang yang mau buat kartu identitas, dong!” keluh Dian.
“Terus gimana coba?!” protes Alena.
“Gaya kayak Jisoo dong!”
Alena segera mencoba meniru gaya yang lebih anggun dan elegan. Dian tertawa terbahak-bahak melihatnya.
“Loh, malah jadi kayak bos besar organisasi rahasia!”
“Tapi kan tetap keren?” tanya Alena sambil tersenyum.
“Ya tetap keren sih…”
Mereka bertiga mengunggah foto-foto itu ke akun media sosial mereka dengan tulisan:
Akhirnya bisa lihat BLACKPINK 🖤💖
Tak lama kemudian, banyak orang yang melihat dan memberi tanggapan. Bahkan satu nama yang tak disangka-sangka muncul di daftar penonton: Reno melihat cerita kamu.
Alena seketika terdiam. Dian melirik ke arahnya sambil tersenyum jail.
“WOI.”
“Kenapa?”
“Si Reno lihat cerita kamu.”
“Terus kenapa…”
“Lihat tuh, senyum sendiri.”
“ENGGAK!” bantah Alena cepat.
Tasya pun ikut menyela pembicaraan.
“Masih suka ya sama dia?”
“DIEM KALIAN BERDUA!”
Lampu di sekitar panggung mulai meredup, dan suara teriakan penonton mulai terdengar memekakkan telinga. Jantung mereka berdegup semakin kencang.
“Ya Allah… sebentar lagi…” bisik Alena dengan suara bergetar. “Gue mau nangis.”
Tiba-tiba suara musik pembuka bergema keras, layar raksasa di belakang panggung menyala terang, dan saat keempat anggota BLACKPINK muncul di atas panggung… seluruh stadion seolah runtuh oleh sorakan penonton.
“AAAAAAAAAAAAAAA!”
“BLACKPINKKKKK!”
“Ya Tuhannnn!”
Alena bahkan melompat kecil karena kaget dan bahagia. Tangannya gemetar hebat.
“JISOOOOOOO! JISOO, AKU SAYANG KAMUUUU!”
Dian pun tak kalah antusias.
“JENNIEEEEE!”
“LISAAAAA!” teriak Tasya dengan sekuat tenaga.
Semua orang berdiri dari tempat duduknya, ribuan tongkat cahaya berwarna merah muda hitam bergerak serempak, menciptakan pemandangan yang sangat indah. Anggota BLACKPINK melambaikan tangan ke arah penonton.
“Halo Jakartaaaa!”
Teriakan penonton semakin keras dan meriah.
Alena rasanya ingin menangis. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya ia bisa melihat mereka secara langsung. Jisoo terlihat jauh lebih cantik dibanding di layar kaca, sungguh luar biasa.
“WOY…” bisik Alena pada Dian. “Jisoo cantik banget, ya ampun.”
“Gila sih… dia manusia atau bidadari, sih?”
Lagu demi lagu dibawakan dengan sempurna. Mereka bernyanyi sepenuh hati, melompat, bergoyang, merekam video, memotret, dan berteriak sampai suara mereka mulai serak.
Saat lagu kesukaan Alena mulai dimainkan, ia menjadi sangat heboh sendiri.
“YA ALLAHHHH! INI LAGU FAVORIT GUEEEE!”
Tasya tertawa melihat tingkahnya.
“Alena, kamu kayak orang kesurupan, lho!”
“BIARINNNN!”
Mereka bernyanyi bersama ribuan orang lain, suara stadion bergema hebat. Dan saat nada awal lagu APT mulai terdengar, ketiganya langsung berteriak keras.
“AAAAAAAAAA! INI LAGU APT, WOYYYY!”
🎵 APT APT APT APT~
Seluruh stadion ikut bernyanyi, melompat bersama, bersorak, dan berteriak dengan penuh semangat. Suasana kebahagiaan begitu terasa di mana-mana. Alena bahkan sampai meneteskan air mata bahagia sambil terus tertawa.
“Ini malam paling seru seumur hidupku, ya Allah…” bisiknya.
Dian berteriak sambil memegang bahu Alena.
“INI MALAM TERINDAH DALAM HIDUP GUE!”
Tiba-tiba butiran air mulai turun dari langit. Awalnya hanya sedikit, namun tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Penonton mulai heboh.
“WOYYY HUJAN!”
“TASYA! CEPET KELUARKAN JAS HUJANNYA!”
Untung saja mereka sudah bersiap membawa jas hujan. Dan lucunya, semuanya berwarna merah muda.
“Kita lucu banget, kayak kelompok pahlawan berwarna merah muda!” kata Dian sambil tertawa.
Alena pun ikut tertawa.
“Yang penting acaranya terus jalan!”
Konser tetap berjalan lancar, bahkan terasa semakin seru. Mereka bernyanyi sambil terkena air hujan, melompat-lompat, ribuan jas hujan merah muda terlihat di mana-mana, dan cahaya panggung semakin indah saat terkena tetesan air. Anggota BLACKPINK tetap tampil dengan semangat tinggi meski hujan turun.
“Jakarta, apakah kalian masih bersenang-senang?!” teriak salah satu dari mereka.
“YA KAMI MASIH BERSENANG-SENANG!” jawab ribuan orang serentak.
Suara mereka sudah mulai hilang dan serak, namun mereka tetap terus bernyanyi, tetap bersemangat, dan tetap bahagia.
Hingga akhirnya, konser selesai. Lampu di seluruh stadion menyala terang kembali, namun semua orang masih enggan pulang, seolah tak ingin malam indah ini berakhir.
“Udah selesai?” suara Dian terdengar sangat serak. “Gue mau nangis…”
Suara Tasya juga sudah parau. “Suara gue hampir hilang semua.”
Alena tertawa sambil hampir batuk. “Jisoo cantik banget… gue gak rela kalau ini selesai.”
Mereka berjalan keluar dari tempat acara dengan langkah yang masih berat, namun wajah mereka penuh dengan kebahagiaan. Kaki terasa pegal, suara hampir hilang, tapi hati mereka terasa sangat puas dan bahagia.
Di dalam mobil dalam perjalanan pulang, mereka masih terus memutar lagu-lagu BLACKPINK, meski suara mereka sudah tak lagi jelas.
“APTTTT—”
“WOI, SUARA KAMU UDAH SERAK BANGET!”
“BIARIN, YANG PENTING BISA BERNYANYI!”
Mereka tertawa terus sepanjang perjalanan.
Sampai akhirnya, satu per satu turun dari mobil dan masuk ke kamar masing-masing. Begitu sampai di kamarnya, Alena langsung melempar dirinya ke atas kasur.
Sangat lelah, tapi juga sangat bahagia.
Ia membuka galeri foto di ponselnya, melihat ratusan video dan foto yang diambilnya malam ini. Wajah Jisoo, pemandangan tongkat cahaya, suasana stadion yang meriah… senyum di bibirnya tak pernah hilang.
Ia mengunggah satu cerita terakhir.
Malam paling indah seumur hidup 🖤💖
Beberapa menit kemudian, ada notifikasi masuk.
Reno membalas cerita kamu
Kayaknya seru banget ya?
Senyum kecil terukir di bibir Alena. Ia segera mengetik balasan dengan cepat.
SANGAT SERU SAMPAI GAK BISA DICERITAKAN 😭
Tulisan ‘Sedang mengetik…’ muncul di layar.
Besok cerita panjang lebar ya.
Jantung Alena berdebar kencang. Tanpa sadar, ia tersenyum sendiri menatap bantal di depannya.
“Ya Allah… kenapa sih dia selalu bisa bikin aku senyum kayak gini…”