Formulir Pekerjaan

1364 Words
Pagi itu suasana kampus jauh lebih ramai dari biasanya. Lorong fakultas ekonomi dan bisnis penuh mahasiswa semester akhir yang lalu-lalang sambil membawa map, CV, bahkan beberapa sudah memakai outfit semi formal. Ada yang gugup. Ada yang semangat. Ada juga yang panik. Karena hari ini universitas mereka mengadakan program kerja sama khusus fresh graduate. Sepuluh perusahaan besar membuka peluang untuk mahasiswa tingkat akhir melamar pekerjaan. Dan tentu saja Semua orang langsung heboh. Di depan ruang jurusan bahkan antrean sudah mengular. “YA AMPUN GUE DEG-DEGAN!” seru Dian sambil merapikan rambut. “Belum apa-apa udah kayak mau interview,” tambah Fika sambil tertawa. Tasya memegang brosur perusahaan. “Eh serius deh, ini susah banget milihnya.” Kevin yang berdiri dekat pintu menghela napas. “Gue sih maunya perusahaan yang Jakarta aja.” “Kalau gagal?” celetuk Dimas. “Ya nangis.” Mereka semua tertawa. Sementara di sudut ruangan Alena cuma duduk diam. Tangannya menopang dagu. Tatapannya kosong ke arah formulir-formulir di meja. Entah kenapa mood-nya hari ini turun banget. Bad mood tanpa alasan jelas. Atau mungkin… Karena terlalu banyak hal di kepala. Skripsi. Masa depan. Perusahaan papa. Dan hidup setelah lulus. Semua terasa berat. “Al.” Dian duduk di sebelahnya. “Kamu gak ngambil formulir?” Alena menggeleng pelan. “Mmm… kayaknya engga si.” “Hah?!” Fika langsung noleh cepat. “Lo serius?” “Kenapa?” “Alenaaaa!” Dian hampir teriak. “Ini kesempatan bagus banget!” “Iya tau…” “Tapi aku masih bingung.” Tasya ikut duduk. “Bingung kenapa?” Alena menghela napas kecil. “Gak tau…” “Aku tuh kadang pengen kerja sendiri…” “Tapi papa juga pengen aku masuk perusahaan keluarga.” “Terus?” “Aku juga takut gagal…” Kalimat terakhir keluar sangat pelan. Dian langsung melotot. “LO? Takut gagal?” “Alena takut gagal?” Kevin sampai ngakak kecil. “Buset.” “Anak ranking takut gagal.” “Gue yang males aja santai.” “Yaelah Kev,” sahut Fika. Rara yang dari tadi sibuk melihat formulir tiba-tiba ikut bicara. “Kalau takut gagal ya gak usah daftar sekalian.” Sunyi. Semua langsung diam. Dian refleks melirik. “Rara…” “Apa?” jawab cewek itu santai. “Biar realistis aja.” Alena cuma tersenyum kecil. Meski jujur Kadang omongan Rara lumayan nusuk. Untung sebelum suasana makin aneh Seseorang datang. Reno. Cowok itu baru masuk ruangan sambil membawa beberapa formulir. Kaos hitam. Kemeja flanel tipis. Tas selempang. Dan ekspresi khasnya. Datar. Tapi ganteng nyebelin. “Ngapain rame?” tanyanya singkat. “Ini Alena gak mau daftar perusahaan,” jawab Fika cepat. Reno langsung menoleh. Tatapannya otomatis jatuh ke Alena. “Kenapa?” Alena mengangkat bahu kecil. “Gak mood aja…” Cowok itu diam sebentar. Lalu tanpa banyak kata Berjalan ke meja pengambilan formulir. Semua memperhatikan. “Ngapain tuh?” bisik Dian. “Gak tau,” jawab Tasya. Beberapa menit kemudian— Reno kembali. Dan meletakkan dua formulir tepat di depan Alena. “Isi.” Alena berkedip. “Hah?” “Isi aja.” Cowok itu menunjuk formulir pertama. “Ini perusahaan di ibu kota.” Alena langsung membeku. Perusahaan impiannya. Perusahaan yang pernah ia ceritakan diam-diam ke Reno waktu semester lima. Yang bahkan… Dia sendiri udah hampir lupa pernah ngomong. “K-kamu masih inget?” Reno terlihat sedikit salah tingkah. “Ya… inget lah.” Lalu ia menunjuk formulir kedua. “Ini buat luar kota.” “Buat cadangan.” “Kalau yang satu gak lolos.” Sunyi. Semua langsung saling pandang. Kevin sampai nyengir. “Anjay.” Dimas menahan ketawa. “Pengertian banget bang.” Fika bahkan hampir teriak. “YA ALLAH RENO!” Tasya ikut menyenggol Dian. “Fix ini mah.” Sementara Rara Wajahnya langsung berubah. Senyumnya hilang. Tatapannya ke arah Alena terlihat gak suka. “Berlebihan gak sih?” celetuknya pelan. Tapi cukup terdengar. Reno langsung menoleh. “Apanya?” “Ya…” Rara tersenyum kecil. “Baik banget.” Nada suaranya aneh. Sedikit menyindir. Tapi Reno malah santai. “Emang kenapa?” BUM. Semua langsung diam. Karena… Biasanya Reno paling males debat. Tapi kalau soal Alena Cowok itu selalu beda. Alena buru-buru mengalihkan. “Udah deh…” “Makasih Ren.” Reno cuma mengangguk kecil. “Isi aja.” Dan entah kenapa— Alena nurut. Dia mulai mengisi semua formulir yang diberikan Reno. Satu. Dua. Tiga lembar. Meski sebenarnya… Semangatnya gak ada. Mood-nya lagi aneh banget. Tangannya bahkan terasa berat buat nulis. Beberapa kali melamun. Sampai Reno akhirnya duduk di sebelahnya. “Kenapa sih?” “Hm?” “Muka lo kayak habis diputusin.” Alena spontan ketawa kecil. “Apaan sih.” “Serius.” Cowok itu memperhatikan wajahnya. “Dari tadi diem.” “Aku cuma…” Alena diam sebentar. “Capek aja kayaknya.” Reno gak langsung jawab. Lalu pelan berkata, “Kalau takut…” “Takutnya jangan sendirian.” JDEG. Alena langsung menoleh. “Hah?” “Maksud gue…” Cowok itu salah tingkah sedikit. “Ada kita.” “Temen-temen.” Kevin langsung nyeletuk. “a***y hampir aja romantis.” “Mmmm gitu deh,” balas Reno cepat. Semua langsung ngakak. Siang hari. Mereka akhirnya pergi mengantarkan formulir ke perusahaan pilihan masing-masing. Karena lokasi perusahaan partner kampus ternyata gak terlalu jauh. Rame-rame. Naik mobil Tasya dan mobil Kevin. Alena duduk di kursi depan. Masih agak diam. Reno beberapa kali melirik dari belakang. “Lo yakin gapapa?” “Hm?” “Muka lo gak banget.” “Aku gapapa kok.” “Bohong.” Alena diam. Karena jujur Dia sendiri gak ngerti kenapa bad mood. Kayak Kosong aja. Mungkin terlalu banyak mikir, Tentang masa depan, Tentang ekspektasi ,Tentang semua hal. Begitu sampai perusahaan pertama Mereka satu per satu menyerahkan formulir. Reno bahkan tanpa diminta Ikut membantu Alena. “Nih biar gue aja.” “Eh gapapa Ren—” “Udah.” Cowok itu mengambil map formulirnya. “Lo tinggal ikut.” Dan lagi-lagi… Alena cuma bisa diam. Karena terlalu terbiasa diperhatikan Reno. Padahal Hubungan mereka gak jelas. Sama sekali gak jelas. Fika yang melihat langsung senyum-senyum sendiri. Pas Reno menjauh Ia langsung mendekat ke Kevin. “Baik banget si Reno.” “Perhatiannya keliatan banget sama Alena.” Kevin mengangguk. “Kalau gak suka sih mustahil.” “Cuma tuh anak gengsi.” Dimas ikut nimbrung. “Atau takut ditolak.” Rara yang mendengar malah terlihat kesal. “Biasa aja kali.” Fika langsung melirik. “Lah emang keliatan banget.” Rara cuma memalingkan wajah. Gak jawab. Sementara Reno… Tetap diam. Cowok itu hanya membuka botol air mineral. Minum pelan. Seolah gak dengar apa-apa. Tapi ujung telinganya agak merah. Yang artinya Malu. Setelah semua formulir selesai diantar Mereka kembali ke kampus. Hari mulai sore. Langit sedikit mendung. Suasana mobil lebih sepi dari tadi. Dian sibuk main HP. Kevin ketiduran. Tasya nyetir. Dan Reno… Masih memperhatikan Alena dari belakang. Cewek itu diam banget. Melihat keluar jendela. Tatapannya kosong. Sampai akhirnya “Al.” “Hm?” “Mau makan dulu?” Alena menggeleng kecil. “Engga…” “Yakin?” “Iya.” “Lo sakit?” “Engga…” “Terus kenapa?” Nada suara Reno kali ini lebih pelan. Lebih hati-hati. Karena dia beneran khawatir. Dan itu kelihatan. Tapi Alena malah tersenyum kecil. “Aku cuma pengen pulang.” Sunyi sebentar. “Oke.” Reno gak maksa. Begitu sampai kampus Alena langsung berdiri. “Aku duluan ya guys.” “Hah cepet amat?” protes Dian. “Iya…” “Mau istirahat.” Fika terlihat khawatir. "Beneran gapapa?” Alena mengangguk kecil. "Gapapa kok.” Bohong. Tapi dia juga gak tau harus jelasin apa. Karena dirinya sendiri bingung. Reno langsung berdiri. “Gue anter.” “Engga usah Ren.” ucap nya “Gue anter.” ucap Reno maksa. “Serius gak usah—” “Alena.” Nada Reno tegas. “Tunggu bentar.” Tapi sebelum itu Alena malah tersenyum tipis.“Makasih ya…” “Hari ini.” “Udah bantu banyak.” Untuk beberapa detik Reno cuma diam Lalu pelan menjawab, “Gak usah makasih.” Karena sebenarnya Buat Reno Selama itu Alena Dia gak pernah keberatan melakukan apa pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD