Bab 1 : Adam : Melangkah pergi
Hujan turun perlahan, membasahi jalanan kota yang mulai lengang. Langit malam tertutup awan pekat, menyisakan cahaya remang dari lampu-lampu jalan yang berkedip samar. Adam berdiri di seberang jalan, tangannya mengepal di dalam saku jaketnya yang lembap. Napasnya memburu, bukan karena udara dingin, melainkan karena ponselnya terus bergetar di dalam saku.
**Nadine.**
Ia tak perlu mengeluarkannya untuk tahu siapa yang sedang mencoba menghubunginya.
_"Kamu di mana?"_
_"Jangan lakukan ini, Adam."_
_"Tolong, angkat teleponku sekali saja."_
Matanya memejam, seolah dengan begitu, suara Nadine takkan terdengar di kepalanya. Tapi ia tahu, itu mustahil. Nadine bukan sekadar seseorang yang bisa ia tinggalkan begitu saja. Tidak setelah semua yang terjadi.
Adam pertama kali melihat Nadine di bangku SD. Ia adalah anak yang pendiam, lebih suka duduk di sudut kelas dan mengamati sekitarnya tanpa banyak bicara. Tapi Nadine—Nadine adalah kebalikannya. Gadis kecil itu seperti cahaya yang tidak pernah redup. Ia selalu berlarian, tertawa paling keras, dan berbicara tanpa henti. Sejak hari pertama sekolah, ia seakan memutuskan bahwa Adam adalah temannya.
"Hai! Kamu kenapa diem aja?" Nadine bertanya dengan riang, duduk di bangku sebelahnya tanpa diundang.
Adam hanya mengangkat bahu. Ia tidak tahu bagaimana harus menanggapi energi gadis itu.
"Nama kamu siapa?" Nadine masih menunggu.
"Adam."
Nadine tersenyum lebar. "Aku Nadine! Nadine candra Kirana, cantik bukan namaku. Mulai sekarang, kita teman!"
Adam tidak pernah benar-benar meminta Nadine untuk berteman dengannya. Namun, gadis itu terus datang setiap hari, mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan, menyeretnya bermain saat jam istirahat, dan mengoceh tanpa henti tentang hal-hal yang menurutnya menarik.
Awalnya, Adam merasa terganggu. Tapi lama-kelamaan, ia menyadari sesuatu—ia menunggu Nadine setiap hari. Ia menunggu sapaan cerianya, ocehannya yang panjang, dan senyumannya yang seperti matahari di musim hujan.
Seiring waktu berlalu, Adam terbiasa dengan keberadaan Nadine. Bahkan, saat akan memilih SMP, ia diam-diam mengubah pilihannya. Semula, ia ingin masuk sekolah yang lebih dekat dengan rumahnya, tapi saat tahu Nadine memilih SMP lain, ia tanpa ragu memilih sekolah yang sama dengannya. Nadine tidak pernah tahu tentang keputusan itu, dan Adam tidak pernah merasa perlu untuk mengatakannya.
Di SMP, Nadine semakin bersinar. Ia aktif di berbagai kegiatan, berteman dengan banyak orang, dan bahkan terpilih menjadi wakil OSIS. Adam bangga melihatnya berdiri di depan aula sekolah, memegang mikrofon dengan penuh percaya diri. Tapi di balik kebanggaan itu, ada sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Setiap kali Nadine bersama Reza, ketua OSIS mereka, Adam merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Sebuah ketidaknyamanan yang sulit ia jelaskan. Ia tidak ingin menyebutnya sebagai cemburu, karena baginya, Nadine adalah temannya. Namun, setiap kali melihat Nadine tertawa bersama Reza, ada rasa sesak yang tidak bisa ia hilangkan.
Dan ketika tiba waktunya memilih SMA, Adam kembali mengikuti Nadine—meskipun kali ini, ia tahu bahwa Reza juga akan berada di sana.
Mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Mengulang pelajaran di perpustakaan, makan di kantin sekolah, dan berjalan pulang bersama saat hujan turun. Bahkan ketika Nadine semakin dekat dengan Reza, ia tetap mencari Adam. Ia selalu kembali.
Tapi kemudian, semuanya berubah.
Saat kuliah tiba, untuk pertama kalinya Adam tidak bisa memilih tempat yang sama dengan Nadine. Sementara Nadine dan Reza tetap di tempat yang sama. Awalnya, Adam yakin bahwa jarak tidak akan mengubah apapun. Ia percaya bahwa persahabatan mereka akan tetap sama.
Namun, ia terlambat menyadari sesuatu.
Ketika ia akhirnya menyadari perasaannya, semuanya sudah terlambat. Karena Nadine telah memilih Reza.
Dia adalah pria yang datang terlambat menyadari perasaan nya.
Ia ingat saat pertama kali Nadine menangis di pelukannya, menangisi Reza, pria yang memiliki cinta nya. Saat itu, Adam hanya diam, membiarkan Nadine meluapkan isi hatinya. Ia tak tahu pasti penyebab pertengkaran mereka, tapi jauh di lubuk hatinya, ia berharap Nadine akan melepaskan Reza. Namun, harapan itu tetap ia simpan sendiri.
Lalu pertengkaran-pertengkaran kecil mulai sering terjadi.
"Aku tidak mengerti kenapa Reza terus melarangku, seakan-akan dia mencari alasan agar aku tidak dekat denganmu," keluh Nadine suatu malam. "Padahal kita berteman sejak lama, sejak SD. Kamu juga teman dia sejak SMP. Kenapa sekarang jadi seperti ini?"
Adam menatapnya lama sebelum menjawab, "Aku tahu kenapa."
Nadine mengernyit. "Apa maksudmu?"
Adam hanya menggeleng. Ia tidak bisa mengatakannya. Tidak bisa mengakui bahwa ia pun, sama seperti Reza, merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Bedanya, ia memilih memendamnya.
Dan kemudian, malam itu tiba.
Nadine mencarinya dalam keadaan berantakan, air mata mengalir di pipinya. Ia jatuh ke dalam pelukan Adam dan menangis sejadi-jadinya. Kali ini, Adam tidak bisa hanya diam.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Reza..." Nadine terisak. "Dia selingkuh."
Dada Adam terasa sesak. Amarahnya meluap, tapi ia tetap berusaha mengendalikan dirinya.
"Lepaskan dia, Nadine," katanya dengan suara tertahan. "Dia sudah menghancurkanmu. Aku tidak ingin melihatmu terus tersakiti."
Nadine menggeleng lemah. "Tapi aku mencintainya."
Adam terdiam. Kata-kata itu menamparnya lebih keras dari yang ia duga. Napasnya tercekat, dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar tak berdaya.
"Tapi bagaimana dengan hatimu sendiri?" bisiknya, hampir putus asa.
Tak ada jawaban. Karena mereka berdua tahu, jawabannya sudah jelas.
Dan itulah malam di mana Adam akhirnya mengatakan apa yang selama ini ia simpan dalam hatinya.
"Aku mencintaimu, Nadine. Aku selalu mencintaimu. Tidak bisa kah kamu memilih aku? Setidaknya aku tidak akan melukai mu seperti Reza, Nadine."
Nadine menatapnya dengan mata yang masih basah. Hening menyelimuti mereka sejenak sebelum ia menggeleng pelan.
"Aku... Aku... tidak bisa, Adam. Kamu gila.. kamu sahabat ku satu satu nya, dan kamu tau, hatiku masih untuk Reza."
Rasanya seperti seluruh dunianya runtuh seketika.
Namun, meski Nadine tetap memilih Reza, ia terus kembali pada Adam setiap kali merasa sepi, kosong, dan hampa. Ia mencarinya ketika malam terlalu gelap, ketika pikirannya terlalu gaduh, ketika hatinya terlalu lelah.
Dan Adam, bodohnya, selalu ada di sana. Selalu membuka pintu untuknya. Hingga akhirnya, ia lelah dengan ketidakpastian ini.
Maka malam ini, ia memilih untuk pergi lebih dulu.
Di seberang jalan, di bawah lampu jalan yang berkedip samar, Adam melihatnya—Nadine, dengan payung transparan di tangan, berdiri dalam hujan. Tatapan matanya liar, mencari, berharap.
Adam ingin melangkah ke arahnya, ingin menenangkannya seperti biasa, ingin menjadi seseorang yang Nadine butuhkan sekali lagi. Tapi tidak. Tidak kali ini.
Ia menunduk, berbalik, dan mulai melangkah pergi.
Hujan terus turun, membasuh jejaknya di jalanan yang semakin lengang.