Bab 2 : Nadine : Terlambat

1212 Words
Hujan turun tanpa ampun malam itu, membasahi jalanan dengan gemuruh yang seolah menertawakan kebodohannya. Nadine berdiri di tepi trotoar, tubuhnya gemetar bukan karena dingin, tapi karena kenyataan yang menghantamnya tanpa ampun. Ia melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada Adam. Tangannya mencengkeram ponsel dengan erat, layar masih menyala menampilkan pesan yang ia kirim satu jam lalu. "Aku memilih kamu, Adam. Aku akan datang." Tapi ia datang terlambat. Dua tahun lalu “Nadine, kamu yakin?” Reza menatapnya dengan senyum hangat, seperti biasanya. Mereka duduk di dalam mobil, di parkiran sebuah restoran tempat mereka biasa makan malam setiap akhir pekan. Nadine menggigit bibirnya, menatap cincin berlian kecil yang berkilau di jari manisnya. Seharusnya ia merasa bahagia. Seharusnya ini menjadi malam yang sempurna. Tapi saat itu, satu nama lain berbisik di kepalanya. Adam. Adam yang selalu datang di saat yang salah. Adam yang hadir ketika segalanya seharusnya sudah pasti. Adam yang membuat hatinya goyah, meskipun ia tahu itu salah. Namun, malam itu, Nadine mengabaikan bisikan itu. Ia tersenyum pada Reza dan berbisik, “Aku yakin.” Tapi sekarang… Ia tidak yakin. Sekarang Napas Nadine memburu saat ia berjalan tanpa arah di tengah hujan. Beberapa bulan terakhir, ia mulai melihat sesuatu yang selama ini ia abaikan. Setiap tawa yang ia bagi dengan Adam terasa lebih nyata. Setiap percakapan dengannya terasa lebih jujur. Hingga akhirnya, malam ini, ia memutuskan. Ia sudah memilih Adam. Ia ingin Adam. Tapi Adam tidak ada di sini. Tangannya bergetar saat ia menekan nomor Adam. Berharap. Memohon. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tidak ada jawaban. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan isakan. Apa yang ia harapkan? Adam bukan Reza. Adam tidak akan menunggunya selamanya. Adam sudah mengatakan bahwa ia tidak ingin menjadi pilihan kedua. Dan sekarang, mungkin Adam akhirnya benar-benar berhenti memilihnya. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Jantungnya melompat. Ia buru-buru melihat layar, harapan meletup di dadanya. Tapi bukan nama yang ia harapkan. Reza. Panggilan masuk. Nadine menatap nama itu lama, jemarinya membeku. Dulu, ia tidak pernah ragu mengangkat telepon dari Reza. Tapi malam ini, ponselnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia bisa saja mengabaikannya. Bisa saja membiarkannya berdering dan terus berharap Adam meneleponnya balik. Tapi tubuhnya sudah bergerak lebih dulu, seperti kebiasaan yang sudah terlalu melekat di dalam dirinya. Jemarinya menyentuh layar. Klik. “Nadine?” Suara Reza terdengar hangat, familiar, penuh kepastian. Sama seperti dulu. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, Nadine tidak merasakan apa-apa. Hanya kehampaan. Hanya penyesalan. Dan di tempat lain, mungkin Adam sedang menatap ponselnya, melihat namanya yang terpampang di layar, sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak menjawab. Malam ini, Nadine telah memilih Adam. Tapi Adam sudah berhenti memilihnya. Terlambat. --- Nadine duduk di tepi ranjangnya, menatap layar ponsel dengan tangan gemetar. Di sana, deretan pesan yang berminggu-minggu lalu ia kirim untuk Adam masih tertahan tanpa satu pun tanda terbaca. Nadine: Aku memilih kamu, Adam. Aku sadar sekarang. Kumohon, bicaralah denganku. Nadine: Aku menyesal... Aku terlambat, ya? Tidak ada jawaban. Ia mengusap wajahnya, menarik napas dalam-dalam. Beberapa minggu lalu, ia berpikir bahwa memilih Reza adalah jalan yang benar. Hubungan mereka sudah terjalin bertahun-tahun, melewati pasang surut yang tak terhitung. Adam hanya sekadar perasaan samar di sela-sela kebimbangannya. Namun, ketika Reza semakin terasa asing, semakin jauh, Nadine menyadari sesuatu yang seharusnya ia pahami sejak dulu—rasa itu telah pudar. Dan Adam… Adam yang seharusnya menjadi tempatnya pulang, kini sudah pergi. Malam itu, ia seharusnya mengatakan segalanya. Bahwa ia ingin Adam. Bahwa ia ingin melepaskan masa lalu dan memilih pria yang selalu bersamanya dalam diam, dalam dukungan tanpa syarat. Tapi saat ia akhirnya mengetikkan pesan itu, ia tidak pernah tahu—Adam sudah berhenti menunggunya. Nadine menghabiskan hari-harinya mencoba kembali normal. Ia tersenyum saat bersama Reza, ia tertawa saat teman-temannya bercanda, tapi di dalam dadanya, ada kehampaan yang terus tumbuh. Setiap kali ia memeriksa ponselnya, hatinya masih berharap melihat satu pesan dari Adam. Tapi tidak ada. Hanya kesunyian. Hingga suatu sore, saat ia tanpa sengaja melihatnya. Reza. Berdiri di sudut kafe yang pernah mereka datangi, tangannya melingkari pinggang seorang wanita. Wanita yang sama yang pernah menghancurkan hatinya. Beberapa tahun lalu, saat ia dan Reza hampir berpisah karena perselingkuhan yang ia maafkan dengan susah payah. Seharusnya ia marah. Seharusnya ia hancur. Tapi yang ia rasakan hanyalah kekosongan. Nadine berdiri diam di tempatnya, pemandangan itu seakan tak berarti apa-apa. Ia menunggu hatinya berontak, menunggu rasa sakit itu datang, tapi yang ada hanyalah keheningan yang mengerikan. Tidak ada luka. Tidak ada amarah. Namun, air mata mulai menggenang di matanya. Ia menangis. Bukan karena Reza. Bukan karena penghianatan ini. Tapi karena ia menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan—beberapa tahun lalu, saat hatinya hancur pertama kali karena perselingkuhan ini, ada Adam di sisinya. Menenangkan nya, walau sebenarnya ia menyadari, Adam marah untuk nya. Mengusap kepalanya. Memberinya bahu untuk menangis. Membuatnya tertawa di tengah kepedihan. Dan juga, ungkapan cintanya yang ia abaikan karena menganggap Adam hanya sedang emosi saat itu. Sekarang, Adam tidak ada di sini. Tidak akan pernah ada lagi. Ia sendirian dan menyesal. Nadine, meraih ponselnya di saku baju nya. Dan segera menelpon pria yang tidak berada jauh dari nya bersama wanita lain, Reza. Sambil kaki nya melangkah mendekati mereka "Kamu dimana, Za?" "Aku lagi dengan kawan, ada urusan sebentar" ujar Reza tanpa rasa bersalah karena berbohong. Sepertinya ini memang yang biasa ia lakukan setiap kali dia bilang sedang bersama teman nya. Nadine mematikan ponsel nya saat sudah berada di depan mereka. Dia bisa melihat wajah terkejut Reza, juga wajah panik wanita ini yang pernah berjanji akan menjauhi Reza saat itu. "Za, kita putus. Jangan cari aku lagi" Nadine pun melangkah pergi, air mata kembali mengalir di pipinya. Tapi ia tau, airmata ini bukan lagi karena Reza, tapi karena dia sangat merindukan Adam. Namun sekarang ia sendirian. Langkah Nadine terasa berat saat ia meninggalkan kafe itu. Hujan baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah yang bercampur dengan dinginnya angin malam. Tangannya menggenggam ponselnya erat, seolah berharap ada pesan dari Adam yang tiba-tiba masuk. Namun, seperti sebelumnya, layar itu tetap kosong. Tanpa sadar, ia mengarahkan langkahnya ke taman kecil di dekat apartemennya. Tempat yang dulu sering ia datangi bersama Adam. Bangku kayu di bawah pohon besar masih ada di sana, terlihat sedikit basah karena hujan. Nadine duduk perlahan, membiarkan kepalanya bersandar ke belakang. Udara malam menusuk kulitnya, tapi rasa sakit di dadanya jauh lebih dingin. Di sinilah ia pernah tertawa bersama Adam. Pernah berbagi cerita, berbicara tanpa beban. Di sinilah, beberapa bulan lalu, Adam menatapnya dengan mata penuh luka dan berkata, "Gue gak bisa terus begini, Nadine. Lo gak pernah benar-benar memilih gue. Dan gue capek jadi pilihan yang cuma lo sadari pas lo butuh." Nadine menggigit bibirnya. Saat itu, ia marah. Ia tidak ingin kehilangan Adam, tapi ia juga tidak bisa melepas Reza. Ia pikir, Adam akan selalu ada. Akan selalu menunggunya. Tapi kini, ia hanya bisa menyesali segalanya. Ponselnya terasa berat di tangannya. Jemarinya bergerak sendiri, membuka kontak yang sudah terlalu lama ia hindari. Adam. Tombol panggil ada di sana, hanya sejauh satu ketukan. Tapi apa gunanya? Apa Adam akan mengangkatnya? Apa ia masih punya tempat di hati Adam? Atau semua ini memang sudah berakhir? Nadine menarik napas dalam, menutup matanya. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, ia tidak membohongi dirinya sendiri. Ia telah kehilangan Adam. Bukan karena Adam menyerah. Tapi karena ia yang memilih untuk melepaskannya terlalu lama. Terlalu terlambat ---
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD