Hari itu langit tampak mendung, seolah mencerminkan perasaan Nadine yang masih kacau. Ia baru saja ingin berbaring kembali ketika ponselnya bergetar di meja samping tempat tidur.
Reza: Kita bisa ketemu sebentar? Aku cuma ingin menyelesaikan semuanya dengan baik.
Nadine menatap layar ponselnya dengan perasaan bercampur aduk. Sejujurnya, ia tidak ingin pergi. Tubuhnya terasa lelah, kepalanya berat, dan suhu tubuhnya sedikit lebih hangat dari biasanya. Mungkin ia hanya butuh istirahat.
Namun, di sisi lain, Reza ada dalam hidupnya cukup lama. Sebelum menjadi kekasih, mereka adalah teman dekat. Dan meskipun hubungan mereka telah hancur, setidaknya ia ingin mengakhirinya dengan cara yang baik.
Setelah menghela napas panjang, Nadine akhirnya membalas pesan itu.
Nadine: Oke, di mana?
Langit tampak kelabu ketika Nadine melangkah keluar dari taksi. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya efek dari tubuhnya yang sedang tidak sehat. Ia merapatkan jaketnya dan menarik napas dalam-dalam sebelum memasuki kafe.
Sebenarnya, ia tidak ingin datang. Sejak menerima pesan dari Reza pagi ini, Nadine sudah berulang kali mempertimbangkan untuk mengabaikannya. Tubuhnya sedang lemah, dan ia merasa tidak punya energi untuk menghadapi percakapan yang pasti akan melelahkan secara emosional.
Namun, ia akhirnya memutuskan untuk datang.
Bagaimanapun, hubungan mereka dulu dimulai dengan baik. Reza pernah menjadi teman dekatnya sebelum mereka menjadi pasangan. Jika akhirnya mereka harus berpisah, setidaknya ia ingin mengakhirinya dengan baik juga.
Ketika masuk ke dalam kafe, matanya langsung menangkap sosok Reza yang sudah duduk di sudut ruangan, seperti biasa mengaduk kopinya dengan lambat. Wajahnya terlihat lebih tirus, matanya sedikit redup. Nadine tidak tahu apakah itu karena kurang tidur atau karena memikirkan perpisahan ini.
Ia berjalan mendekat dan menarik kursi di hadapan Reza.
"Hai," sapanya pelan.
Reza mengangkat wajahnya, memberikan senyum kecil. "Hai."
Sejenak, mereka hanya diam. Suara mesin kopi dan obrolan pelan di sekitar menjadi satu-satunya yang mengisi keheningan di antara mereka.
"Aku nggak akan banyak bicara," akhirnya Reza membuka suara. "Aku cuma mau minta maaf, Nad. Aku tahu aku banyak salah."
Nadine menghela napas. Ia tidak ingin membahas masa lalu terlalu dalam. Tidak ada gunanya lagi.
"Aku juga nggak sempurna, Reza," jawabnya. "Aku membiarkan semua ini terjadi terlalu lama. Aku terlalu takut untuk pergi."
Reza menatapnya dengan ekspresi sulit diartikan. "Aku benar-benar minta maaf. Aku harap kita bisa mengakhiri ini dengan baik."
Nadine mengangguk pelan. Itu juga yang ia inginkan.
Setelah percakapan itu, Nadine meraih tasnya dan bersiap untuk pergi. Namun, baru saja ia berdiri, kepalanya tiba-tiba berputar hebat.
"Nadine?"
Tubuhnya melemas, dan sebelum ia sadar, semuanya menjadi gelap.
---
Ketika Nadine membuka matanya, langit-langit putih rumah sakit menyambutnya. Cahaya lampu sedikit menyilaukan, membuat kepalanya yang masih berat semakin berdenyut.
"Kamu sadar," suara Reza terdengar lega di sampingnya.
Nadine menoleh lemah ke arahnya. "Apa yang terjadi?"
"Kamu pingsan di kafe. Badanmu panas banget. Aku langsung bawa ke sini," jelas Reza.
Nadine mencoba bangkit, tapi tubuhnya masih terasa lemas. "Aku nggak perlu dirawat, cuma butuh istirahat di rumah."
"Nggak, Nadine," suara Reza tegas. "Aku sudah bicara dengan dokter. Kamu butuh dirawat. Aku juga sudah menghubungi orang tuamu."
Mata Nadine melebar. "Apa?"
"Mereka cemas, Nad. Mereka bilang lebih baik kamu tetap di rumah sakit daripada sendirian di rumah. Aku janji bakal menjagamu di sini."
Nadine menggeleng lemah. "Reza, ini bukan tanggung jawabmu lagi."
"Tapi aku peduli," balas Reza.
Sebelum Nadine bisa berkata apa-apa lagi, ponselnya bergetar. Nama ibunya muncul di layar. Dengan enggan, ia mengangkatnya.
"Iya, Ma?"
"Nadine, dengarkan Mama. Ikuti saran Reza. Kamu sakit, dan di rumah nggak ada siapa-siapa. Mama dan Papa nggak mau kamu sendirian," suara ibunya terdengar penuh kekhawatiran.
Nadine menggigit bibir, akhirnya menyerah. "Baik, Ma..."
Setelah telepon berakhir, ia menatap Reza yang masih duduk di sampingnya. "Baiklah. Aku akan tetap di sini."
Reza tersenyum kecil. "Bagus. Sekarang, istirahatlah."
---
Nadine menghela napas pelan saat akhirnya kembali menginjak lantai apartemennya sendiri. Bau khas ruangannya menyambut, bercampur dengan sedikit aroma kayu manis dari lilin yang belum lama ia nyalakan sebelum jatuh sakit. Semua masih sama, masih seperti terakhir kali ia tinggalkan.
Namun, ada yang berbeda.
Ruangan ini terasa kosong.
Ia duduk perlahan di sofa, membiarkan tubuhnya tenggelam di dalamnya. Jari-jarinya menyentuh lengan kursi, pikirannya melayang. Sudah beberapa hari sejak ia keluar dari rumah sakit. Sudah beberapa hari juga sejak ia berusaha menata kembali hidupnya yang sempat terguncang.
Tapi semuanya tidak semudah yang ia bayangkan.
---
Hari Pertama: Kesepian yang Terasa Lebih Nyata
Saat pagi menyambutnya di apartemen untuk pertama kalinya setelah ia keluar dari rumah sakit, Nadine merasa… kosong.
Selama di rumah sakit, ada suara yang mengisi sekitarnya—suara perawat yang mengecek kondisinya, suara orang tuanya di telepon yang memastikan ia baik-baik saja, bahkan suara Reza yang terkadang berbicara padanya dengan lembut, meskipun ia tahu bahwa hubungan mereka sudah tidak bisa kembali seperti dulu.
Tapi di sini?
Hanya ada sunyi.
Ia meraih ponselnya, melihat daftar pesan yang masuk. Beberapa dari teman-temannya menanyakan keadaannya, memastikan ia sudah lebih baik. Nadine membalas dengan senyum yang ia paksakan, meyakinkan mereka bahwa ia baik-baik saja.
Tapi apakah ia benar-benar baik-baik saja?
Nadine menghela napas. Ia tahu jawaban itu. Tidak.
Ia melirik ke jendela, ke arah bayangan gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh di bawah langit mendung. Ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa hampa.
Sesuatu yang ia coba abaikan.
Seseorang yang ia coba lupakan.
Tapi bahkan setelah berbulan-bulan, ia masih merindukan Adam.
---
Hari Kedua: Mencoba Sibuk, Mencoba Lupa
Nadine memutuskan untuk keluar hari ini.
Ia berangkat ke kafe favoritnya, tempat yang dulu sering ia kunjungi untuk menghabiskan waktu dengan buku dan secangkir kopi hangat.
Namun, bahkan di sini, bayangan Adam masih terasa begitu kuat.
Kursi di sudut ruangan itu… mereka dulu sering duduk di sana. Adam akan dengan santai menyandarkan punggungnya, memainkan ujung cangkirnya sambil sesekali melirik ke arah Nadine yang sibuk membaca.
Dulu, tempat ini terasa nyaman. Sekarang? Terlalu banyak kenangan yang menggantung di udara.
Ia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan membaca buku, mencoba membenamkan diri dalam dunia fiksi yang biasanya bisa membantunya melupakan kenyataan.
Tapi pikirannya tetap berkhianat.
Hingga akhirnya, ia menyerah.
Dengan enggan, ia menutup bukunya, membayar pesanannya, lalu pergi.
Ia berpikir, mungkin kembali ke rumah adalah ide yang lebih baik.
---
Hari Ketiga: Kejutan yang Tidak Terduga
Saat sedang menata kembali barang-barangnya di rumah, Nadine menemukan sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Sebuah jaket.
Jaket milik Adam.
Ia tidak ingat kapan terakhir kali jaket itu ada di sini, mungkin ia tidak pernah menyadarinya selama ini. Tapi melihatnya sekarang, dengan begitu banyak kenangan yang kembali menyerbu pikirannya, membuat dadanya sesak.
Tangannya perlahan menyentuh kain itu. Aroma khas Adam masih tercium samar-samar, meskipun sudah mulai pudar.
Sekuat tenaga, Nadine mencoba menahan air matanya.
Sebuah ingatan tiba-tiba muncul.
Malam itu, ketika hujan turun begitu deras, dan Adam dengan santainya menyerahkan jaketnya untuk melindunginya dari dingin.
"Nggak usah balikin, Nadine. Anggap aja ini jimat keberuntungan dari aku."
Saat itu, Nadine hanya tertawa dan menggoda Adam karena terlalu percaya hal-hal aneh.
Sekarang, hal itu tidak lagi terasa lucu.
Ia meremas jaket itu dalam genggamannya, lalu menghela napas panjang.
"Sudah cukup," gumamnya pelan.
Ia harus mulai melepaskan.
Dengan langkah ragu, ia melipat jaket itu dan menyimpannya di lemari, jauh di bagian belakang.
Mungkin suatu hari nanti, ketika hatinya sudah benar-benar sembuh, ia bisa melihatnya lagi tanpa merasakan sakit.
---
Hari Keempat: Bisikan Rindu yang Masih Bertahan
Di tengah malam, saat seharusnya ia sudah terlelap, Nadine justru terjaga.
Ia menatap langit-langit kamarnya, mendengarkan suara detik jam yang terasa semakin lambat.
Hatinya masih terasa berat.
Satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.
Apakah Adam pernah merindukannya seperti ini?
Ia menutup matanya, mencoba mengusir pikiran itu. Tapi bayangan Adam tetap ada.
Apakah Adam pernah berpikir untuk kembali? Apakah ia pernah menyesal?
Atau mungkin… apakah Adam benar-benar sudah melupakannya?
Pikiran itu menyesakkan.
Nadine tahu, ia tidak seharusnya berharap. Ia yang memilih untuk pergi, ia yang memilih untuk berpisah. Tapi rasa rindu tidak pernah bisa dikendalikan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nadine membiarkan dirinya menangis.
---
Hari Kelima: Sebuah Langkah Maju
Pagi itu, Nadine bangun dengan kepala yang terasa lebih ringan.
Mungkin karena ia akhirnya mengizinkan dirinya untuk menangis. Mungkin karena ia akhirnya menerima kenyataan bahwa tidak apa-apa jika sesekali ia masih merindukan Adam.
Yang penting adalah bagaimana ia melanjutkan hidupnya.
Ia berdiri di depan cermin, melihat bayangannya sendiri. Matanya memang masih sedikit bengkak, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya.
Ia merasa lebih kuat.
Mungkin melupakan Adam tidak akan mudah. Mungkin butuh waktu lebih lama dari yang ia harapkan. Tapi ia tahu, suatu hari nanti, ia akan sampai di titik itu.
Titik di mana Adam hanyalah bagian dari masa lalunya.
Titik di mana rindu tidak lagi menyakitinya.
Dan hari ini, ia memutuskan untuk mengambil langkah kecil ke arah itu.
Dengan senyum tipis, Nadine mengambil ponselnya dan menghapus kontak Adam dari daftar favoritnya.
Bukan karena ia membencinya.
Tapi karena ia akhirnya sadar, ia harus berhenti menunggu sesuatu yang tidak akan pernah kembali
---