Adam tidak tahu bagaimana cara berhenti mencintai seseorang.
Ia pernah membaca di suatu tempat bahwa melupakan seseorang yang telah menjadi bagian besar dalam hidup tidak semudah membalik halaman buku. Tidak bisa hanya menutup bab lama dan berpindah ke halaman berikutnya. Terkadang, bahkan saat lembaran baru sudah terbuka, tinta di halaman sebelumnya masih menodai jari-jari yang mencoba menyentuh masa depan.
Malam itu, ketika ia memilih untuk pergi, hujan turun seperti menangisi sesuatu yang tak terucapkan. Langkahnya menjauh dari Nadine terasa lebih berat daripada yang ia kira.
Hari pertama tanpa Nadine adalah hari yang aneh.
Ia terbangun lebih pagi dari biasanya, bukan karena alarm, tapi karena kebiasaan. Setiap pagi, ia biasanya membuka pesan dari Nadine—kadang hanya sekadar “Pagi, Adam! Hari ini mau makan di mana?” atau “Jangan lupa pakai jaket! Dingin, tahu!”—tapi kali ini, tidak, dia hanya memandang ponselnya namun tidak berniat untuk membuka pesan yang Nadine kirimkan malam itu.
Ia menatap ponselnya lama, dan itu menyakitinya lebih dari yang ia duga.
Ia pergi bekerja seperti biasa, menyusuri jalan yang basah oleh sisa hujan semalam. Langit masih kelabu, seperti menggambarkan isi hatinya. Di halte bus, ia melihat sepasang kekasih berbagi payung, tertawa pelan saat angin dingin berembus.
Itu mengingatkannya pada saat-saat ia dan Nadine pulang bersama di bawah payung yang sama, tertawa karena hujan yang selalu berhasil membuat mereka kebasahan.
Adam menundukkan kepala. Ia harus berhenti mengingat.
Tapi Nadine ada di mana-mana.
Di kafe tempat mereka biasa duduk berdua, di lagu-lagu yang berkumandang di radio, bahkan di udara pagi yang terasa lebih sunyi tanpa suara Nadine yang mengomelinya untuk sarapan lebih dulu.
Hari kedua, ketiga, dan keempat berlalu tanpa banyak perubahan.
Ia mencoba mengisi harinya dengan kesibukan, berharap bahwa tenggelam dalam pekerjaan bisa mengurangi pikirannya tentang Nadine. Tapi nyatanya, setiap kali ia selesai dengan tugasnya, pikirannya tetap kembali ke satu titik yang sama.
Nadine.
Pada hari kelima, ia mencoba berjalan lebih jauh setelah pulang kerja. Ia melewati toko buku tempat mereka biasa mampir, dan tanpa sadar, langkahnya melambat. Di etalase, ada sebuah novel dengan sampul berwarna biru—warna favorit Nadine.
Ia ingat bagaimana Nadine selalu memilih buku dengan sampul biru, bukan karena genrenya, tapi karena ia percaya bahwa warna itu membawa ketenangan.
Senyumnya muncul samar, tapi segera menghilang ketika kenyataan kembali menghantamnya. Nadine tidak ada di sini. Ia tidak bisa lagi mendengar suara Nadine yang bersemangat saat menemukan buku baru atau melihat matanya berbinar saat bercerita tentang hal-hal kecil yang membuatnya bahagia.
Malam itu, Adam duduk di kamarnya, menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia benar-benar bahagia. Bukan bahagia yang dibuat-buat, bukan bahagia yang ia paksakan untuk menutupi rasa sakit, tapi kebahagiaan murni yang datang tanpa usaha.
Jawabannya selalu sama.
Saat ia bersama Nadine.
Hari keenam, ia memutuskan untuk tidak melihat ponselnya sepanjang hari.
Bukan karena ia tidak ingin, tapi karena ia tahu, sekali saja ia membukanya dan melihat nama Nadine di layar, semua tekadnya akan hancur.
Ia tahu, jika ia melihat pesan dari Nadine, ia akan membacanya. Jika ia membacanya, ia akan merindukannya lebih dari yang sudah ia rasakan sekarang. Dan jika ia merindukannya lebih dari ini, ia tidak akan bisa menahan diri untuk mencarinya kembali.
Jadi ia memilih untuk tidak melihatnya sama sekali.
Hari ketujuh, ia terbangun dengan lingkaran hitam di bawah matanya. Tidur bukanlah sesuatu yang mudah ketika kepalanya penuh dengan suara Nadine, tawa Nadine, dan segala kenangan tentangnya.
Ia ingin berhenti merasakan ini. Ia ingin bisa melepaskan.
Tapi bagaimana caranya berhenti mencintai seseorang yang telah menjadi bagian dari duniamu begitu lama?
Minggu-minggu berikutnya, Adam mulai membangun rutinitas baru.
Ia menghindari tempat-tempat yang bisa membangkitkan kenangan. Ia mencoba berbicara lebih banyak dengan teman-temannya, meskipun setiap kali ia tertawa, ada bagian dalam dirinya yang merasa kosong.
Ia mulai membaca buku-buku yang tidak pernah ia sentuh sebelumnya, mencoba menemukan sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya.
Ia pergi ke gym, sesuatu yang selalu ia tunda. Ia ingin merasa lelah secara fisik, berharap kelelahan itu bisa mengalahkan pikirannya yang terus-menerus mengarah ke satu orang yang sama.
Tapi tetap saja, di setiap sudut hidupnya, Nadine selalu ada.
Ia melihat Nadine di seorang gadis yang menyeberang jalan dengan tergesa-gesa, mirip dengan cara Nadine yang selalu terburu-buru saat hujan turun.
Ia mendengar Nadine di tawa sekelompok anak muda di kafe, mengingatkannya pada bagaimana Nadine selalu tertawa lepas, tanpa peduli seberapa kerasnya.
Ia merasakan Nadine di setiap hembusan angin malam yang dingin, karena dulu, Nadine selalu menghangatkannya dengan cerita-ceritanya.
Namun, ada satu hal yang berubah.
Perlahan, rasa sakit itu mulai tidak setajam dulu.
Ia masih merindukan Nadine, itu tidak bisa dihindari. Tapi sekarang, ia mulai belajar bahwa merindukan seseorang bukan berarti harus kembali.
Ia belajar bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memiliki.
Dan ia belajar bahwa melepaskan bukan berarti menghapus seseorang dari hidupmu, tapi menerima bahwa beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk bersama.
Pada hari ke-100 sejak ia memilih untuk pergi, Adam akhirnya membuka ponselnya kembali.
Di antara tumpukan notifikasi yang tidak penting, ada satu pesan yang belum ia sentuh sejak hari itu.
Dari Nadine.
Tangannya berhenti di atas layar, ragu.
Ia bisa membukanya sekarang. Bisa membaca kata-kata yang mungkin akan menghancurkan pertahanannya dalam sekejap. Bisa membiarkan dirinya kembali terjebak dalam lingkaran yang sama.
Tapi tidak.
Adam menghela napas, mengunci ponselnya kembali, lalu meletakkannya jauh dari jangkauan.
Ia tidak butuh membaca pesan itu untuk tahu bahwa ia masih mencintai Nadine. Tapi ia juga tahu, untuk pertama kalinya, ia tidak akan mencari Nadine lagi.
Karena ia memilih untuk berhenti.
Untuk dirinya sendiri.