Nayna terlihat antusias saat masuk ke dalam baby shop, ini baru kali pertama dia datang ke tempat seperti itu, Gibran pun demikian, pria itu memang selalu menghindari tempat ramai, namun kini dia rela datang ke tempat-tempat ramai asal ada Ayra bersamanya. Nayna memang meminta Gibran untuk menemaninya mencari kado untuk bayi Anya. Walaupun, sedari tadi pria itu hanya mengekorinya saja. “Kamu pakai kacamata, emang kamu minus?” tanya Gibran. Nayna berhenti sebelum akhirnya dia menoleh. Dia bingung harus jawab apa, pasalnya itu kacamata hanya sebagai pelengkap penyamarannya saja. Nayna tahu, satu kebohongan akan melahirkan kebohongan baru untuk menutupi kebohongan lainnya. Namun, apa boleh buat, Nayna ... ah sudahlah ... perlahan tapi pasti kepala gadis itu mengangguk. “Kenapa nggak coba

