Unwelcomed Guest

1165 Words
Iselin kembali ke rumah para kurcaci dengan terburu-buru. Begitu sampai di sana sudah ada beberapa dari mereka yang duduk di meja makan dan menatapnya dengan penuh kekesalan. “Hei! Lakukan pekerjaanmu dengan baik! Kau mau diusir dari sini?” kata salah satu dari mereka. “Maaf. Aku akan segera memasak.” Iselin berlari menuju dapur dan segera membuat makan malam. Ia hanya seseorang yang menumpang di sana. Wajar bila para kurcaci itu marah karena ia sudah berjanji untuk melakukan pekerjaan di rumah itu dengan baik. Dengan bahan-bahan yang sudah ia siapkan sejak pagi, ia memasak menu makanan yang sederhana. Tanpa ia sadari semua kurcaci telah siap duduk di meja makan saat ia tengah memasak. Saat makanannya baru selesai dimasak Aslan baru saja tiba dan langsung ikut duduk di meja makan. Penampilannya sudah kembali ke semula. Iselin membawa panci berisi masakannya ke meja makan. Raut wajah para kurcaci itu terlihat begitu sangat menantikan masakannya untuk segera masuk ke mulut mereka. Tatapan mereka memancarkan rasa lapar yang luar biasa seolah ini pertama kalinya mereka makan setelah sekian lama. Ia teringat ucapan Aslan bahwa mereka baru pertama kali memakan makanan yang seenak itu darinya. Selama ini mereka makan apa? Setelah sup yang ia buat ia tuangkan ke semua mangkuk para kurcaci itu, mereka semua langsung memakannya dengan lahap. Meski ia juga lapar, ia tak bisa makan bersama mereka. Setelahnya kebanyakan dari mereka meminta tambahan sup sehingga sup yang tersisa di panci yang seharusnya adalah jatahnya menjadi habis tak tersisa. Setelah selesai makan pun tak ada dari mereka yang mengucapkan terima kasih. Tapi ada satu orang yang mengucapkannya. Ia lebih kecil dari yang lain dan terlihat lebih muda. “Maaf,” ucap Aslan dengan wajah kecewa dan membawa tumpukan mangkuk saudara-saudaranya. “Tak apa. aku masih bisa memasak lagi,” jawab Iselin. “Bia raku cucikan,” katanya meminta mangkuk-mangkuk kotor yang dibawa Aslan. “Biar aku yang melakukannya. Kau segeralah masak untuk dirimu sendiri.” Mendengar hal itu Iselin akhirnya segera membuat makanan untuk dirinya sendiri dengan bahan-bahan yang tersisa. Ia melirik Aslan yang ada di sampingnya yang sedang bersiap mencuci mangkuk. Tapi tempat cuci piringnya terlalu tinggi untuknya. Dalam kedipan mata, Iselin dikejutkan oleh sebuah cahaya menyilaukan yang menyelimuti seluruh tubuh Aslan yang begitu cahaya itu menghilang, penampilan Aslan telah berubah kembali menjadi manusia pria. “Aku ingin bertanya sesuatu. Apakah saudara-saudaramu lebih muda darimu?” tanya Iselin. Meski Aslan terlihat lebih tua, nyatanya saat dalam wujud manusia ia tidaklah setua itu. “Benar. Aku yang paling tua. Sebenarnya umur kami tidak semuda itu karena kami bisa hidup ratusan tahun. Tapi saat dalam wujud manusia, kebanyakan dari mereka berumur dua puluh dan tiga puluh tahunan.” Iselin menatapnya terkejut. “Berapa umur aslimu sekarang?” “Kurasa aku telah hidup selama seratus delapan puluh tahunan.” Iselin mematung untuk sesaat. Itu waktu yang sangat lama. “Kau pasti telah melihat banyak hal untuk bisa hidup selama itu.” “Dunia dua abad lalu dengan sekarang tidaklah berbeda jauh. Yang berganti hanya orang-orangnya. Mereka yang mati akan digantikan oleh yang hidup. Terkadang ada hari seperti itu. Hari di mana aku merasa bosan seolah waktu berhenti untukku.” “Yang kutahu ada banyak orang menginginkan hidup abadi.” Seperti ayahku, pikirnya. Aslan menoleh dan tersenyum. “Dan ada yang tidak menginginkan hidup yang seperti itu. Ada yang berusaha untuk menggerakkan jarum jam hidupnya sekuat tenaga demi bisa merasa normal.” Iselin diam menatap Aslan yang kini kembali menatap mangkuk-mangkuk yang sudah hampir selesai dicuci itu. Rasanya Aslan seperti membicarakan seseorang. Tapi ia yakin Aslan takkan memberitahunya dengan mudah siapa yang dimaksud. Setelah Aslan selesai dengan pekerjaannya ia masuk ke dalam. Hampir semua kurcaci pergi ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat setelah makan malam sehingga Iselin bisa makan sendirian dengan tenang. Setelah itu ia membersihkan meja makan serta dapur sebelum pergi ke kamarnya. Ada banyak yang dipikirkan Iselin. Tetapi terutama soal ke mana ia akan pergi setelah ini. Ia belum tahu seperti apa di luar hutan. Apakah ada desa? Berapa jauh jaraknya. Jika tak ada lalu ke mana ia harus berlindung? Sebagai seorang Putri yang hampir tak pernah keluar istana, ia tak tahu apa-apa dan tak bisa apa-apa. Bagaimana keadaan Seraphine sekarang? Ia belum tahu keadaan ibu tirinya. Terakhir ia meninggalkannya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Andai Seraphine sudah mengajarinya sihir telepati pasti ia sudah bisa mendengar kabarnya sekarang, pikirnya. Iselin menggenggam kalung Rubi di lehernya dengan cemas. Meski sudah berusaha ia abaikan, sejak masuk ke dalam hutan perasaannya sudah buruk soal Seraphine. Karena merasa tak tenang hingga membuatnya sulit untuk tidur, ia memutuskan untuk keluar dari rumah itu. Dibandingkan kesunyian dari kamar lamanya di istana, kesunyian yang ada di hutan itu jauh membuatnya lebih tenang dan hangat. Setiap kali malam tiba, ia pasti akan memasang gembok yang kuat pada pintunya ditambah sihir pelindung dari Seraphine karena para pria kurang ajar selalu mencoba masuk ke kamarnya. Tak hanya malam, bahkan di siang bolong saat keadaan sepi pun mereka selalu mencoba mengambil kesempatan. Sampai saat ini istana adalah tempat terburuk baginya. Ia takkan pernah mau kembali apa pun yang terjadi. Aku memiliki kemampuan untuk mendengar makhluk di sekitarku. Tiba-tiba ia teringat perkataan Aslan. Mungkin ia bisa membantunya memberitahu kondisi Seraphine sekarang, pikirnya. Tetapi itu sudah malam dan ia juga tak tahu lokasi tempat persembunyian Aslan. Lagi-lagi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya ingin menyelamatkan Seraphine dari istana terkutuk itu. Tapi ia bahkan tak memiliki kekuatan dan sekutu untuk membantunya. Wanita tak berguna! Kata-kata yang selalu ia dengar setiap hari di istana terngiang dalam ingatannya. Kini ia mulai bisa melihat alasan kenapa ia dianggap seperti itu. Ia memang tak bisa apa-apa. Terlalu lemah. Akan sulit baginya untuk membangun kekuatan yang bisa melawan Raja. Merasa begitu frustasi, Iselin memutuskan untuk keluar dari halaman rumah dan berjalan-jalan sedikit di hutan sekitar rumah. Ketika kakinya baru melangkah memasuki hutan, ia mendengar suara gemerisik di dekatnya. Pandangannya gusar menatap sekitar yang gelap yang hanya terlihat siluet pepohonan yang menjulang. Tak ada binatang buas! batinnya. Ia yakin karena ia sudah melihat hutan itu beberapa kali melalui mata burung gagaknya. Tapi jika itu adalah binatang yang hanya muncul dan berburu di malam hari, itu lain cerita. Perasaannya sudah tak nyaman. Ia akan melangkahkan kakinya pergi saat hidungnya mencium sesuatu yang tak menyenangkan. Bau amis darah. Baunya begitu dekat. Seolah berada di sampingnya. Tetapi tak ada geraman. Ia khawatir jika ia berlari sekarang menuju rumah binatang apa pun itu akan mengikutinya jauh lebih cepat di belakangnya. Saat satu kakinya melangkah mundur, tak sengaja ia menginjak sesuatu hingga membuatnya menjerit. Iselin jatuh terduduk. Ia melihat apa yang diinjaknya itu dan menatap ngeri rusa jantan yang sudah tergeletak tak bernyawa di dekatnya. Dalam kegelapan itu ia bisa melihat dengan jelas bola mata hitam yang memelotot dengan kekosongan. Tetapi anehnya rusa itu hampir terlihat utuh. Binatang buas mana pun takkan meninggalkan makanannya tergeletak tak tersentuh. Leher rusa itu dipenuhi darah, namun tidak terpotong. Dan di leher itu, ada beberapa lubang seperti bekas gigitan yang begitu dalam. Ada sesuatu di dalam hutan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD