Iselin pernah dengar soal Dwarf. Mereka juga biasa disebut sebagai kurcaci. Mereka adalah makhluk yang berwujud seperti manusia namun memiliki tubuh yang pendek dan telinga yang sedikit lebih runcing. Hanya ini yang ia ketahui soal mereka karena tidak ada catatan lebih jauh tentang Dwarf. Seperti yang pernah dikatakan Aslan, Dwarf tidak suka berkomunikasi dengan manusia sehingga informasi tentang mereka pun sangat terbatas.
“Jadi kalian bisa memakai sihir?” tanya Iselin.
“Kami menggunakannya untuk mengubah wujud kami agar bisa bekerja di antara manusia. Sihir pengubah wujud. Katakanlah seperti itu. Kami juga ahli menambang dan menemukan tempat-tempat yang menyembunyikan harta yang paling diidamkan manusia.”
Jika Aslan benar-benar hidup layaknya manusia biasa, ia mungkin sudah menjadi bangsawan paling kaya sekarang dengan keahliannya itu, pikir Iselin. “Jadi kalian memiliki tambang?”
“Benar. Beberapa tambang. Sebagian telah kami jual pada manusia.”
Itu mengejutkan. Keahlian kurcaci tak pernah tertera dalam buku. Sempat terbesit dalam benaknya untuk menjadi seorang penulis dan mencatat segala yang ia temukan dalam petualangannya. Itu terdengar tidak buruk.
“Iselin, aku ingin bicara denganmu sebentar. Masih ada beberapa saat sebelum makan malam. Aku takkan lama. Kau mau, kan?”
Bicara. Benar. Ia dan Aslan belum sempat berbicara empat mata soal siapa dia sebenarnya, tujuannya kemari dan niatnya yang sebenarnya. Aslan pantas untuk merasa curiga. Bahkan ia sudah siap jika Aslan dan saudara-saudaranya mengusirnya meski ia tak tahu harus pergi ke mana setelahnya.
Mereka berdua berjalan menyusuri hutan yang semakin gelap dengan ujung-ujung pohon yang disinari dengan cahaya jingga. Penampilan Aslan yang sekarang membuat mereka berdua tampak seperti paman dan keponakan jika orang lain melihatnya. Bukannya ia tak nyaman dengan wujud kurcaci. Ia hanya merasa sangat asing kaena merasa paling berbeda.
“Ini soal alasanmu melarikan diri,” kata Aslan membuka percakapan.
Iselin menoleh pada Aslan. “Seseorang mengejarku. Orang yang berniat buruk padaku.”
Ia tak perlu mengatakan secara detail siapa yang mengejarnya atau latar belakangnya.
Aslan terdiam sesaat. Matanya menatap ke depan. Tapi dari tatapan itu, terlihat bahwa ia sedang memikirkan sesuatu. “Aku akan bicara jujur padamu. Aku memiliki kemampuan untuk mendengar kabar apa pun melalui makhluk penjaga tak kasat mata yang ada di sekitar. Aku telah mendengar dari mereka bahkan sebelum aku sampai kemari. Ada wanita yang melarikan diri ke hutan kami.” Ada jeda sesaat. Dari ekspresi Aslan terlihat bahwa ia sedang mempersiapkan diri akan ucapannya berikutnya. “Kau Putri Raja, kan?”
Langkah kaki Iselin terhenti. Ini bukan seperti seluruh rakyat tak mengetahui bahwa Raja memiliki keturunan. Mereka mengetahuinya, namun tak tahu seperti apa rupanya. Mereka hanya berpikir bahwa Raja sangat menyembunyikan keturunan satu-satunya dari publik. Padahal kenyataannya Raja sangat membenci keturunan satu-satunya itu. Hanya mereka yang bekerja di istana yang tahu. Namun meski tidak ada yang memberitahu bahwa Iselin adalah Putri Raja satu-satunya, orang-orang sudah bisa melihat kemiripannya dengan Raja. Mata biru pucat dan kulit yang amat putih.
Dua hal itu merupakan tanda dari keturunan keluarga kerajaan sejak lama.
Jika saja sihir yang dapat mengubah wujud secara permanen ada, itu adalah hal yang paling ia inginkan di dunia. Ia tak pernah bangga dengan darah keluarga kerajaan yang mengalir dalam dirinya. Ia benar-benar berharap ia tak memiliki kemiripan dengan Raja. Meski ia ingin agar Aslan tidak membocorkan identitas aslinya pada yang lain, tetapi melihat dirinya saja orang sudah bisa melihat dia anak dari siapa.
“Begini,” ucap Iselin. “Terlepas dari kebencian kalian terhadap manusia, apa alasan lain kalian membenciku adalah karena aku Putri Raja?”
Iselin pernah mendengar beberapa kali keluhan yang dilontarkan para pelayan bahwa Raja bukanlah orang yang bijak. Masih banyak rakyat yang hidup dalam kemiskinan dan menderita kelaparan namun Raja tak pernah memberikan bantuan pada mereka. Jika itu alasannya, maka wajar para kurcaci itu serta Johan membencinya.
Aslan tersenyum. “Entah apakah alasan itu benar atau tidak, aku tak berhak memberitahu isi hati orang lain. Lagipula, kami dan Johan bukan berasal dari sini.”
“Oh!” ucap Iselin terkejut. “Kalian dari negara mana?”
Ada jeda sesaat dari Aslan sebelum berkata, “Aracel.”
Iselin pernah membaca soal negara itu di buku. Sebuah negara yang lebih kecil dari negaranya namun mampu membuat Raja merasa terintimidasi. Kerajaannya memang memiliki kekuatan militer yang kuat, namun kekuatan yang dimiliki Aracel mampu membuat Raja menggigit jari ketakutan.
“Melihat dari ekspresimu, sepertinya kau tahu sejarah negara kami dan negaramu,” kata Aslan.
“Ah, ya. Sedikit.” Ia hanya tahu dari buku bahwa negaranya tak memiliki hubungan yang begitu baik dengan Aracel. Ia juga mendengar dari percakapan di sekitar bahwa Raja berencana untuk menyerang Aracel. Entah apakah itu benar atau tidak, ia merasa perang akan terjadi tak lama lagi.
“Bukankah seharusnya kau merasa curiga dan waspada bahwa orang-orang dari negara musuh mendatangi negaramu untuk tujuan yang bahkan tak kauketahui?” tanya Aslan.
Ia ingin beranggapan begitu. Tapi apa bahkan sejak awal ia peduli terhadap kerajaannya? Ia bahkan ingin keluar dari istana dan berharap ia bukanlah Putri Raja.
“Aku hanya peduli dengan kebebasanku. Aku ingin mewujudkan itu,” kata Iselin jujur.
“Kau terlihat tak peduli bahkan jika negaramu hancur.”
Iselin berhenti dan terdiam menatap tanah. Meski mungkin yang dikatakan Aslan itu benar, jauh di dalam lubuk hatinya ia benar-benar tak ingin rakyatnya menderita. Ia ingin menolong, namun tak memiliki kuasa penuh meski ia Putri Raja. Jika perang benar-benar terjadi, jika negaranya kalah dan para rakyatnya dibawa untuk dijadikan b***k, ia akan menyalahkan dirinya sendiri seumur hidupnya.
Suara langkah kaki terdengar. Iselin menegakkan pandangannya dan melihat Johan berjalan mendekati mereka.
“Aslan, aku ingin berbicara denganmu. Ikut aku,” katanya.
“Maaf Iselin aku harus pergi. Kembalilah ke rumah lebih dulu,” kata Aslan dan pergi menghampiri Johan.
Iselin masih terdiam di sana menatap punggung Aslan dan Johan yang semakin menjauh. Ia ingin menyendiri lebih lama lagi untuk menjernihkan pikirannya. Namun ia harus kembali untuk memasak makan malam untuk para kurcaci itu. Dilihatnya mereka berdua berhenti berjalan dan Johan menoleh ke belakang menatapnya. Pria itu mengatakan sesuatu ke Aslan dan lalu berjalan menghampirinya.
“Hei,” sapa Johan padanya. Sejak awal Johan memang tak pernah ramah padanya. “Segeralah pergi dari sini.”
“Aku tahu. Tapi tolong beri aku sedikit waktu.”
Johan menundukkan wajah dan mencengkeram keningnya. Ia terlihat seperti sedang menahan kekesalannya. “Kau harus sadar semakin lama kau berada di sini semakin berbahaya.”
Apa karena para kurcaci itu? pikirnya. Meski mereka tak menyukainya, ia tak berpikir para kurcaci akan melakukan sesuatu yang berbahaya padanya. Mereka tak terlihat seperti itu.
“Suatu saat aku akan pergi dengan diam-diam di malam hari tanpa mengganggumu. Hanya ini yang bisa kukatakan. Aku pun tak ingin berada di sini terlalu lama karena suatu alasan.”
Johan memejamkan matanya, lalu membukanya lagi. “Sialan!” umpatnya seraya membalikkan badan dan melangkah menjauh.
Iselin tak tahu apa yang terjadi pada pria itu. Tapi yang jelas Johan terlihat sedang menahan sesuatu. Bukan rasa kesal. Seperti sesuatu yang sulit untuk dikendalikan dan membuatnya menggila. Ia sempat menatap mata Johan. Mata coklat dengan sedikit warna emas itu sempat manatapnya sesaat. Lewat tatapannya, ada sesuatu yang sangat diinginkan Johan darinya.