Adapt

1228 Words
Saat bangun di waktu subuh, Iselin mendapati semua penghuni rumah itu masih terlelap. Cepat-cepat ia membersihkan kamar, keluar dan membersihkan seisi rumah serta memasak. Ia telah terbiasa untuk bangun sebelum matahari terbit dan menyelesaikan semua pekerjaan di istana layaknya ia seorang pelayan rendahan, meski ia adalah satu-satunya Putri Raja. Ia memetik sayur-sayuran yang ditanam di ladang halaman depan rumah dan membuat makanan dengan bahan-bahan yang ada. Saat ia telah selesai memasak, empat dari penghuni rumah terlihat berjalan menuruni tangga dengan wajah bangun tidur. Tidak ada sambutan hangat, tidak ada ucapan selamat pagi. Mereka langsung menuju meja makan tanpa sepatah kata pun seolah memang sudah seharusnya ia melayani mereka sebagai bentuk terima kasih karena telah menampungnya untuk sementara. Mereka menyantap sarapan yang ia buat tanpa ucapan terima kasih. Tidak ada yang menoleh padanya seolah ia hanyalah hantu di sana. Iselin sudah terbiasa dengan sikap seperti itu selama hidup di istana, jadi ia tak ambil pusing dan segera pergi dari ruang makan. Semenjak pelariannya dua hari lalu, pakaiannya menjadi kotor dan tubuhnya terasa tidak nyaman. Ia perlu mandi dan mencuci pakaiannya, namun ia tak bisa menemukan kamar mandi di dalam rumah itu. Mungkin berbeda dengan rumah pria itu, pikirnya. Mengingat pemburu itu juga seorang manusia dan memiliki ukuran badan yang sama. Tapi hubungannya dengan pemburu itu tidaklah baik. “Iselin?” Sebuah panggilan di belakangnya membuatnya menoleh. Aslan datang menghampirinya semenjak ia tak terlihat sejak semalam. “Kau mau ke mana?” tanyanya. “Aku ingin mencari sungai terdekat untuk mandi dan mencuci pakaianku,” jawab Iselin sambil menunjukkan bagian bawah pakaiannya yang kotor. Aslan terdiam sesaat. “Tunggu di sana sebentar.” Ia berbalik dan melangkah menuju rumahnya. Setelah menunggu beberapa saat Aslan kembali lagi dan memberikan dua potong pakaiannya yang seukuran badannya. “Pakai ini.” Itu hanyalah atasan kemeja dengan warna putih kusam dan celana dengan warna coklat gelap. Melihat dari ukurannya, itu adalah pakaian manusia pria. “Ini milik Johan?” “Bukan. Kami juga memiliki persedian pakaian seukuran kalian,” kata Aslan tersenyum. “Ada sebuah danau dengan air yang jernih di sana. Kau bisa menggunakan itu,” katanya menunjuk tempat yang berada tidak jauh di belakang rumah Johan. “Aku dan saudara-saudaraku akan pergi ke luar.” “Ke mana?” “Bekerja. Menambang hingga sore. Selama itu jaga dirimu baik-baik. Aku akan menemuimu lagi nanti,” pamit Aslan dan melangkah pergi. Ia berhenti sesaat dan menoleh. “Dan terima kasih untuk sarapannya. Itu makanan terenak yang pernah kami makan,” ucapnya tersenyum dan kembali berjalan. Iselin tak pernah terpikirkan bahwa Aslan dan saudara-saudaranya akan pergi bekerja. Tapi untunglah bahwa akhirnya ia bisa menikmati waktu sendirian. Ia berjalan menuju danau yang ditunjuk Aslan. Saat mendengar kata danau, ia pikir itu hanya seperti sebuah kolam dengan ukuran yang sangat besar. Ia memang tak pernah keluar dari istana dan hanya mengetahui dunia luar melalui mata burung gagak. Yang ia tahu danau itu seperti itu. Tapi saat melihatnya langsung, danaunya berbeda dengan bayangannya. Ukurannya lebih kecil, berada di lokasi yang sedikit tertutup dan memiliki beberapa air terjun kecil. Untuk sesaat ia mematung karena terpana. Ini pertama kalinya ia melihat tempat seindah itu. Ia memang selalu memiliki bayangan bahwa suatu hari ia akan keluar dari istana dan melihat banyak tempat yang indah. Ia sempat terpikir untuk tinggal di hutan itu saja selamanya. Tidak sampai Ophelia mati. Kenyataan kembali menghantamnya. Ophelia masih memburunya. Untuk beberapa saat ia bisa tenang karena sepertinya Ophelia masih berada di istana karena sesuatu. Jika ia berada di sana terlalu lama, orang-orang yang ada di sana juga akan dalam bahaya. Ophelia adalah penyihir hitam yang berbahaya. Satu persatu Iselin melepas pakaian dari tubuhnya dan masuk ke dalam danau. Airnya terasa segar, tidak dingin seperti air di istana. Tidak ada waktu bagi pelayan istana untuk menghangatkan air mereka sendiri. Terlebih statusnya lebih rendah dari pelayan-pelayan lain, hampir seperti b***k. Tetapi mengejutkan bahwa suasana di dalam hutan itu terasa seperti musim semi. Sambil berendam, Iselin menatap sinar matahari yang masuk melalu celah-celah dedaunan di pohon. Pikirannya kembali pada hari terakhir ia melihat Ophelia. Meski tak tahu kejadian pastinya, ia yakin sesuatu telah terjadi yang membuat Ophelia terburu-buru kembali seperti itu. Ada kemungkinan ada hubungannya dengan Raja. Yang ia tahu, semakin hari kondisi kesehatan Raja semakin buruk. Sebagai selir terdekat, Ophelia selalu berada di sampingnya untuk merawatnya. Wanita itu takkan pergi ke manapun sampai kondisi Raja kembali membaik. Meski terlihat sangat jelas bahwa ia mencoba menjadi istri yang baik agar bisa mendapatkan takhta setelah Raja meninggal, nyatanya tak ada yang berani melawannya. Raja dan Ophelia sama buruknya. Mungkin bahkan selir-selir lain hanya ingin kabur dari istana itu sejauh mungkin tanpa memedulikan hidup nyaman. Jika memang benar itulah yang terjadi, itu akan menguntungkan bagi Iselin. Ia akan punya cukup waktu untuk mengatur rencana dan mencari tempat persembunyian yang aman. Permasalahannya, pengetahuannya tentang dunia luar sangatlah sedikit. Bahkan mungkin perbuatan orang-orang di istana tidak sebanding dengan yang ada di luar sana. Setelah merasa cukup membersihkan tubuhnya, Iselin mencuci pakaiannya. Di tengah-tengah itu ia melihat dari sudut matanya seekor burung kecil hinggap di sebuah dahan pohon terdekat. Burung itu berkicau. Meski tak mengerti secara lisan, entah bagaimana ia dapat memahami kicauan itu. Ada yang sedang mendekat ke arahnya. Ia tidak merasakan adanya sihir hitam jadi bisa dipastikan itu bukan Ophelia. Namun bau amis darah menusuk hidungnya seiring suara langkah kaki itu mendekat. Johan datang dengan membawa seekor anak rusa di salah satu pundaknya. Ada sayatan di lehernya yang membuat darah anak rusa itu bercucuran ke pakaian Johan sehingga menguarkan bau menyengat. Ia tahu Johan membunuh anak rusa itu untuk bertahan hidup. Tetapi melihat binatang tak bernyawa tepat di depan nyawanya membuatnya tak tega dan jijik melihat darah itu. Iselin telah selesai mencuci pakaiannya saat Johan mencuci pakaiannya yang berlumuran darah serta membersihkan darah anak rusa itu di sana. Iselin bergegas pergi. Ia tak tahan melihatnya. “Sebaiknya kau segera pergi dari sini.” Perkataan Johan membuatnya berhenti setelah beberapa langkah. “Aku yakin kau sudah mendengarnya dari Aslan bahwa para kurcaci itu tak suka dengan keberadaan manusia. Aku adalah pengecualian karena telah membuat perjanjian dengan mereka.” Ia menyadari itu bahkan tanpa perlu Johan mengingatkannya lagi. “Tenang saja. Aku akan segera pergi dari sini setelah semua persiapannya selesai. Aku tidak akan pernah mengganggumu sampai hari itu tiba.” Ia tak tahu alasan Johan membencinya. Tapi ia tak perlu repot-repot harus membuat semua yang ada di sana menyukainya. Bisa mendapat tempat beristirahat sementara saja sudah membuatnya sangat bersyukur. Iselin kembali melangkah pergi. Ia menghabiskan waktu dengan berkeliling di sekitar hutan itu dan kembali saat hari sudah sore. Saat ia hampir dekat dengan rumah Aslan dan saudara-saudaranya, ia melihat seorang pria berjalan menuju ke arahnya. Iselin berhenti dan menautkan alis. Ia sangat yakin bahwa yang manusia hanyalah dirinya dan Johan di sana. Pria itu tersenyum mendekat ke arahnya. “Bagaimana hari ini?” tanya pria itu. Iselin tidak menjawab untuk beberapa saat. Di depannya berdiri seorang pria yang berumur sekitar pertengahan empat puluhan. Rambutnya coklat gelap namun sudah ada beberapa helai yang berwarna putih yang menghiasinya. Ia memiliki kumis dan janggut tipis yang menghiasi sekitar rahangnya. Warna matanya coklat gelap. Namun ada sesuatu yang tidak asing pada diri pria itu. Dari mata dan suaranya. “Maaf, anda siapa?” Pria itu terlihat terkejut. “Oh! Kupikir kau akan mengenaliku meski dalam wujud ini. Aku Aslan.” Mata Iselin membelalak. “Apa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD