The Huntsman

1407 Words
Iselin tak tahu apa yang terjadi karena tiba-tiba sudah ada pria yang berdiri di hadapannya dan menghalanginya untuk pergi. Ia hanya ingat bahwa ia hilang kesadaran karena menggunakan mantra refleksi lebih dari sekali dalam sehari. Tetapi melihat dari interiornya, itu adalah rumah terakhir yang dimasukinya sebelumnya. Tiba-tiba pintu masuk rumah terbuka dan memperlihatkan sesosok manusia bertubuh kecil yang berjalan masuk ke dalam seraya membawa sebuah mangkuk. “Johan, hentikan itu. Kau membuatnya takut,” kata manusia bertubuh kecil itu dan meletakkan mangkuknya di meja. Ia menatap Iselin dan tersenyum ramah. “Aku tidak akan bersikap ramah pada penyusup.” Johan menarik kembali kapaknya dan meletakkannya di salah satu bahunya. “Apa yang kau lakukan di sini?” “Sudah, sudah! Hentikan itu!” manusia kecil itu sedikit menjauhkan Johan dan kini ia berdiri di hadapannya. Ia kembali tersenyum. “Maaf untuk sikapnya. Namaku Aslan.” Iselin terdiam sesaat mencoba untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Melihat bahwa kini ia sudah berada di dalam rumah kembali dengan dua orang asing di hadapannya berarti Ophelia belum kembali. “N-namaku Iselin.” “Senang berkenalan denganmu, Iselin.” Aslan berbalik dan mendekati meja. Ia mengambil kembali mangkuk tadi dan membawanya pada Iselin dan menyodorkannya padanya. “Makanlah ini mumpung masih hangat.” Dari baunya, sup itu terlihat sangat lezat dan membuat perutnya langsung keroncongan. Dengan sedikit ragu Iselin menerima makanan itu. “Bukankah kau terlalu baik pada orang tak dikenal yang masuk ke rumah kita dengan sembarangan?” kata Johan. Aslan memutar matanya dan menoleh menatap Johan. “Keluarlah. Tidak ada alasan untuk tidak menolong manusia yang sedang kesulitan.” “Kuharap kau tidak melupakan tujuan awal kita.” Johan melangkah menuju pintu dengan wajah kesal. Ia keluar dan menutup pintunya dengan keras, membuat Iselin terkejut sambil mengernyit. “A-aku sungguh minta maaf.” Ia sadar bahwa ia telah masuk ke rumah orang dengan sembarangan dan kini mereka harus memberinya makan. “Abaikan dia. Dia memang kurang bisa bersikap ramah pada orang lain. Tapi sebenarnya dia orang yang baik. Jadi, apa yang membuatmu kemari?” Apakah ia perlu memberitahunya bahwa ia adalah Putri Raja yang sedang melarikan diri dari ayahnya sendiri yang mencoba untuk mengambil jantungnya? Tidak. Ia belum bisa melakukannya. “Aku hanya mencoba menghindari kejaran seseorang yang ingin mencelakaiku.” “Aku mengerti.” Aslan mengangguk-angguk. “Kau juga sempat memasuki rumah kami dan membersihkannya, kan?” Iselin berhenti saat akan menyendok makanannya ke mulut. “Rumah kalian?” “Ya. Rumahku dan saudara-saudaraku. Ini adalah rumah Johan.” Iselin meletakkan sendoknya kembali ke mangkuk. “Oh! Aku sungguh minta maaf! Aku tidak bermaksud memasuki rumah kalian dengan diam-diam dan berniat jahat. Aku hanya ingin tempat istirahat untuk semalam.” “Tolong tenanglah. Aku mengerti itu. Kami juga sempat pergi dalam waktu yang cukup lama sehingga kami tidak terlalu memerhatikan keadaan rumah kami. Aku terkejut saat mengetahui ada yang masuk ke rumah kami.” “Maaf. Aku akan segera pergi setelah ini.” “Tidak, tidak, tidak. Tidak perlu takut,” Aslan menyentuh tangannya. “Kau bisa di sini untuk sementara waktu. Apakah kau akan berkeliaran di hutan di malam hari seperti ini?” “Aku tak bisa berdiam lebih lama.” Ia takut bahwa orang-orang ini akan menjadi korban dari Ophelia jika ia terus berada di sana. Iselin menoleh ke jendela dan memerhatikan Johan yang berdiri di luar dengan bersedekap. Bahkan dengan hanya melihat punggungnya, ia sudah bisa melihat bahwa pria itu begitu kesal karena kehadirannya. “Apa kau khawatir dengan Johan?” Ia tak bisa mengatakannya namun itu juga menjadi sedikit alasan mengapa ia tak bisa tetap tinggal. Iselin tak menghabiskan sup itu dan meletakkan mangkuknya di sampingnya dan bangkit berdiri. “Maaf. Terima kasih untuk makanannya tapi aku harus segera pergi dari sini.” Iselin melangkah menuju pintu dan mengabaikan Aslan yang memanggil-manggilnya. Ketika ia membuka pintunya ia melihat Johan sudah berdiri tepat di depannya. “Biarkan dia pergi, Aslan.” “Berhentilah bersikap kasar. Aku mengerti perasaanmu tapi ini bukan waktunya mengedepankan ego. Aku tak pernah mengajarimu untuk bersikap tidak sopan.” “Oh, begitukah? Aku pikir kau mengerti beberapa orang tidak pantas diberikan sikap sopan. Dan kau tahu itu siapa.” Aslan menghela napas dan menekan keningnya. “Berhenti sampai di situ saja, Johan. Pergilah berburu. Jangan kembali sampai kau menenangkan pikiranmu.” Johan menatap Aslan dengan ekspresi seolah ia telah selesai dengannya. Ia mengangkat kapaknya dan membawanya di bahunya “Sampai di sini aku tak tahu lagi kau berpihak ke mana.” Ia berbalik dan melangkah pergi dengan rasa kecewa. Aslan menghela napas dan menengadah menatapnya. “Maaf soal itu. Kau bisa menginap di rumah kami saja.” “Sungguh, aku tak ingin kalian dalam masalah,” ucap Iselin khawatir. “Johan hanya sedang banyak pikiran. Kami baru saja kembali dari tempat yang jauh dan di sana ia mendapatkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Dia akan baik-baik saja besok. Jangan terlalu memikirkannya.” Jika Aslan berkata begitu maka tidak ada yang bisa dilakukannya. Ia pergi mengikuti Aslan menuju rumah unik yang ada di bawah. Kini setelah para penghuninya kembali rumah itu terlihat jauh lebih terang dan sangat indah. Iselin melihat dua manusia bertubuh kecil seperti Aslan di halaman. Mereka melihat kedatangannya dan nampak terkejut kemudian berlari masuk. Apa aku menakutkan? hanya itu yang ada di pikiran Iselin saat melihat reaksi mereka. Aslan mengajaknya untuk masuk. Begitu ia sudah berada di dalam ia melihat orang-orang bertubuh kecil itu berada di lantai atas melihatnya sambil bersembunyi. “Ayolah, teman-teman. Apa begitu cara kalian menyambut tamu?” kata Aslan. “Kau tahu kita jarang berkomunikasi dengan para manusia yang ada di sini.” “Mereka jahat,” sahut yang lain. Aslan menatapnya dengan tatapan minta maaf. “Maaf soal mereka. Sebenarnya kami memang jarang sekali berkomunikasi dengan para manusia.” Iselin memperhatikan sambil menghitung di dalam hati. Ada tujuh dari mereka termasuk Aslan. Dan setelah melihat dari dekat, ia menyadari bahwa telinga mereka semua sedikit runcing dari manusia pada umumnya. “Namaku Iselin. Aku akan menginap di sini untuk sementara waktu. Aku akan melakukan apa pun yang kubisa untuk membantu kalian selama di sini.” Terlihat salah satu dari mereka memunculkan diri dari balik pintu. Perempuan. Ia berjalan menuruni tangga. Entah karena memang wajahnya atau karena apa yang dirasakannya sekarang tapi ia terlihat cukup kesal. Ia berjalan mendekatinya dan berhenti lalu bersedekap. “Sebaiknya kau memegang kata-katamu itu,” ucapnya dengan nada mengancam. Iselin nampak sedikit terkejut. Tapi ia mengangguk. Perempuan kecil itu lalu membalikkan badan dan kembali lagi ke atas. “Namanya Popi,” kata Aslan. “Maaf untuk sikapnya.” Ia merasa bahwa orang-orang yang ada di sana tidak begitu menyambutnya kecuali Aslan. Ia memang tak mengharapkan apa pun karena ia hanyalah seseorang yang menumpang tempat tinggal. Ia tak pernah mengharapkan kebaikan karena kebaikan adalah sesuatu yang tak pernah ia dapatkan di istana kecuali dari Seraphine. “Untuk saat ini mari kita ke kamar saja. Kau akan menggunakan tempat tidurku.” “Bagaimana denganmu?” “Aku bisa menumpang di kamar saudara-saudaraku yang lain. Aku bahkan memiliki tempat beristirahat rahasia di luar. Sudahlah, jangan khawatirkan itu,” Aslan terkekeh. Aslan lalu mengajaknya naik ke lantai atas dan menuju kamarnya yang berada di paling ujung sisi kanan. Dibandingkan kamar sebelumnya yang memiliki beberapa dekorasi unik sebagai penghias kamar, kamar Aslan sama sekali tak memiliki dekorasi apa pun. Itu seperti kamar kosong. “Aku jarang menempati kamar ini,” katanya seolah membaca pikirannya. “Aku lebih suka tidur di kamar rahasiaku.” “Kau yakin tak masalah bagiku berada di sini untuk sementara waktu? Saudara-saudaramu terlihat tak menyukaiku.” “Seperti kataku sebelumnya, kami jarang berkomunikasi dengan manusia. Kami beranggapan bahwa mereka jahat. Kuharap kau bisa sedikit memaklumi sikap mereka. Oh, tapi tentu saja aku tidak menganggapmu jahat.” “Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti.” Iselin mengalihkan pandangannya ke depan. “Maksudku, beberapa manusia memang sangat jahat melebihi monster.” Iselin terdiam sesaat dengan pandangan menerawang sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. “Terima kasih banyak untuk kamarnya.” “Baiklah, segeralah beristirahat. Panggil aku jika kau butuh sesuatu.” Aslan melangkah menuju pintu. “Selamat malam, Iselin,” ucapnya tersenyum dan menutup pintunya. Iselin merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit atap. Samar-samar ia mendengar saudara-saudara Aslan sedang mengobrol di luar. Ia memejamkan matanya dan merasakan udara hangat di kamar itu yang menyelimuti tubuhnya. Untuk saat ini ia hanya perlu beristirahat dan memikirkannya lagi besok. Tapi di dalam tidurnya, ia melihat Seraphine disiksa oleh Raja hingga mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD