Hal pertama yang terpikirkan saat ia tersadar adalah, ia tak ingin segera beranjak. Tempat tidurnya sangat nyaman hingga membuatnya tidur begitu nyenyak. Itu pertama kalinya ia bisa tidur sangat nyenyak tanpa merasa waspada. Ia tak perlu bangun pagi-pagi untuk bersih-bersih, memasak dan membersihkan kandang kuda, lalu bersih-bersih kembali sampai matahari tak terlihat. Ia berencana untuk bangun subuh seperti biasanya dan segera pergi dari sana sebelum penghuni rumah tiba. Tapi ia terlalu nyaman hingga sedikit kesiangan. Saat membuka mata mataharinya sudah tinggi. Tetapi untungnya rumah itu masih sepi. Pemiliknya masih belum tiba.
Iselin segera beranjak dari tempat tidur dan merapikannya. Bagaimanapun ia sudah bermalam di rumah itu dengan cara yang tidak sopan. Setidaknya ia perlu membersihkan rumah itu sebagai tanda terima kasih sebelum pergi dari sana.
Selama bersih-bersih ia menemukan beberapa hal di rumah itu. Tidak ada foto pemilik rumah yang terpajang dan meja makannya terlalu rendah untuknya. Tidak seperti halaman depannya yang cantik karena dibuat sebagai kebun yang juga ditanami beberapa bunga, tidak ada apa pun yang menghiasi isi rumah itu. Ada pun sebuah vas kecil di jendela namun bunganya sudah layu dan kering. Entah pemiliknya sengaja mengabaikan bunganya atau memang dia sudah mengosongkan rumahnya cukup lama. Iselin pergi ke luar dan bermaksud untuk mengambil setangkai bunga di luar dan menaruhnya di vas.
Ia melihat ada beberapa sayuran yang sudah siap untuk dipetik dan perutnya keroncongan. Tentu saja ia lapar. Sejak kemarin siang ia belum makan apa pun. Ia perlu mengisi perutnya sebelum pergi.
“Maaf. Aku sungguh minta maaf. Tapi aku sangat lapar,” ucapnya seraya memetik sayur-sayuran itu.
Setelah mengambil semuanya ia masuk ke dalam dan menuju dapur. Ia meletakkan sayur-sayuran itu di meja dan pergi untuk mengambil air yang ada di sungai di dekat sana. Setelahnya ia kembali lagi ke rumah dan mulai memasak.
Setelah masakannya jadi ia segera memakannya dengan lahap. Karena meja makannya terlalu rendah untuknya ia terpaksa makan di kursi tanpa meja. Karena ia memasak cukup banyak ia sengaja menyisakannya barangkali pemilik rumah kembali hari itu juga. Setelah ia membersihkan isi rumah, kebun dan peralatan makan yang ia gunakan, ia pergi dari rumah itu.
Ia agak menyayangkan bahwa ia harus meninggalkan rumah yang nyaman itu. Tapi bagaimanapun itu bukanlah rumahnya. Terlebih Ophelia masih berada di luar sana mengejarnya. Ia tak bisa tetap berdiam saja. Iselin mendaki ke tanah yang tinggi dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Baru beberapa langkah menjauhi rumah itu, Iselin sudah menemukan rumah lain di depan sana. Tidak seperti rumah sebelumnya yang terlihat unik, rumah kali ini seperti rumah di pedesaan pada umumnya. Iselin diam sejenak menimbang-nimbang apakah ia perlu mendatangi rumah itu. Jika penghuninya ada di sana dan dia mengenal penghuni dari rumah sebelumnya, setidaknya ia bisa menitipkan rasa terimakasihnya padanya.
“Halo! Permisi!”
Iselin mengetuk pintunya namun sekali lagi, tidak ada balasan seperti rumah sebelumnya. Ia mencoba menengok melalui jendela namun di dalam sana cukup gelap sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi itu sudah cukup memberikan jawaban bahwa di rumah itu pun tidak ada penghuninya.
Tiba-tiba ia mendengar suara gagak di langit. Iselin mendongak dan melihat seekor gagak turun mendekatinya. Itu adalah gagak miliknya. Jika terjadi sesuatu gagak itu pasti akan datang menghampirinya sambil berkoak seolah ingin mengatakan sesuatu. Seperti sekarang.
“Oh, syukurlah kau menemukanku. Ada apa?”
Gagak itu terdiam, menolehkan kepalanya dan menatapnya dengan satu matanya yang hitam. Itu adalah gerakan bahwa burung itu ingin menunjukkan sesuatu. Iselin merapalkan mantra refleksi padanya dan menerbangkan gagak itu kembali.
Saat melihat melalui mata gagak tersebut, ia melihat sesuatu yang tak ingin ia lihat. Ophelia. Dia berjalan mendekati rumah sebelumnya. Iselin yang merasa begitu takut dan khawatir melihat sekelilingnya dan terpaksa membuka pintu rumah tersebut. Anehnya rumah itu juga tak terkunci sama seperti rumah sebelumnya. Namun itu sebuah keberuntungan untuknya. Begitu ia sudah berada di dalam ia segera mengunci pintu itu.
Dalam penglihatannya Ophelia sudah semakin dekat dengan rumah itu. Ekspresinya terlihat bingung saat melihat rumah itu tapi ia tetap membuka pagarnya dan masuk. Iselin takut jika Ophelia menyadari keberadaannya di sana sebelumnya. Wanita itu bisa melakukan apa saja untuk menemukan musuhnya. Iselin menutup matanya sejenak untuk menghentikan penglihatannya dan membukanya kembali. Lalu ia melihat sekelilingnya dan menemukan beberapa senjata seperti kapak, belati, dan pedang yang terpajang di dinding. Anehnya pemilik rumah ini memiliki lebih banyak kapak dibandingkan senjata yang lain. Ia mengambil belati.
Iselin menutup matanya untuk membuka kembali penglihatannya. Ophelia masih di rumah itu. Ia sudah berada di dalam dan berkeliling.
“Di mana gadis sialan itu!”
Ophelia menggerutu kesal sambil melihat sekelilingnya. Wanita itu lalu menaiki tangga dan melihat ke setiap pintu yang ada di sana. Iselin hampir lupa untuk bernapas ketika Ophelia keluar dari rumah itu dengan ekspresi marah.
Tolong jangan kemari. Tolong jangan kemari.
Dia terus mengucapkan kalimat itu dalam hatinya, berharap Ophelia tak menemukan rumah itu dan memasukinya. Hal terakhir yang ia lihat adalah Ophelia masih berdiri diam di depan rumah sambil melihat sekelilingnya sebelum batas waktu penglihatannya berakhir. Iselin bangkit dari duduk dan mendekati jendela.
Napasnya tercekat saat melihat Ophelia berjalan mendekati rumah tempatnya sekarang.
Iselin segera menyembunyikan diri. Ia menggenggam erat belatinya dengan kedua tangan yang bergetar. Dengan hanya mengandalkan pendengarannya, ia mendengar langkah kaki Ophelia yang bergemerisik menginjak dedaunan mati di tanah semakin dekat.
Lalu pintu bergerak-gerak mencoba untuk dibuka.
“Iselin! Kau di dalam?”
Ia membisu. Apa pun yang terjadi Ophelia tak boleh tahu bahwa dirinya ada di sana.
“Ini semakin menyebalkan!”
Terdengar gerutuan darinya. Iselin mencoba mengintip dari jendela dan melihat bahwa wanita itu sedang merapalkan mantra untuk membuka pintunya. Saat ia akan mengayunkan sihirnya ke pintu, tiba-tiba ia berhenti dan menoleh ke belakang. Ophelia membatalkan sihirnya dan menghadap ke belakang seolah ada sesuatu di sana yang mengganggunya. Kemudian wanita itu berlari menjauh dari rumah itu.
Iselin bangkit dari lantai dan melihat dari jendela. Ophelia benar-benar berlari menjauh. Entah apa yang membuatnya begitu tapi ia benar-benar bersyukur. Iselin mengembuskan napas lega dan bersandar ke dinding. Tak lama terdengar suara gagak di luar.
Iselin keluar dan gagak miliknya terbang mendarat ke tangannya. “Apa dia benar-benar sudah pergi?”
Gagak itu menoleh ke samping menatapnya dengan satu matanya dan menelengkan kepalanya dan berkoak-koak. Ia menganggapnya sebagai ‘iya’.
“Aku ingin tahu apa yang membuatnya berlari seperti itu. Bisakah kau mengikutinya?”
Iselin kembali merapalkan mantra refleksi pada gagak itu sebelum menerbangkannya. Iselin mengenal Ophelia sebagai wanita ambisius yang takkan terpengaruh apa pun sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya. Ophelia tak mungkin pergi begitu saja jika tak ada sesuatu yang begitu darurat. Mungkin Raja memanggilnya, pikirnya. Tapi rasanya itu tak mungkin. Setidaknya ia akan tahu apakah itu musuh yang lebih berbahaya dari Ophelia.
Gagak itu mulai terbang merendah dan melewati ranting-ranting pepohonan. Ophelia masih belum terlihat. Burung itu berhenti di salah satu pohon dan memperhatikan sekitar. Iselin tiba-tiba mengernyit saat merasakan rasa sakit di kepalanya. Ia menghentikan penglihatannya untuk sesaat dan menekan pelipisnya. Inilah risiko saat menggunakan mantra refleksi lebih dari sekali. Tidak ada sihir yang tak terbatas. Semua memiliki batasan dan konsekuensi.
Setelah rasa sakit kepalanya sedikit berkurang, Iselin kembali membuka penglihatannya. Gagak itu sudah terbang kembali, kali ini sudah hampir keluar dari hutan. Di bawah sana ia melihat Ophelia berlari menuju istana. Penglihatannya berputar bukan karena dirinya, tetapi karena gagak itu memang terbang memutar. Ophelia sudah semakin dekat dengan istana. Ketika wanita itu hampir mencapai gerbang pintu masuk, penglihatannya berputar. Bukan karena gagak itu, kali ini benar-benar dari dirinya. Kepalanya berdenyut dengan menyakitkan dan seluruh pandangannya menjadi gelap.
Ketika membuka matanya, ia sudah berada di tempat lain di dalam rumah. Entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri tapi keadaan di luar sudah gelap. Ia segera bangkit dan beranjak dari tempat tidur dan pergi dari sana. Tapi sebelum kedua kakinya bahkan menyentuh tanah, ia dikejutkan oleh sebuah kapak yang diarahkan tepat disampingnya.
“Mau ke mana kau?”
Di hadapannya, berdiri seorang pria yang menatapnya dengan sambutan yang sangat tidak hangat.