PENYESALAN SAM

1340 Words
Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah mewah yang terletak di perumahan elite tersebut. Seorang laki-laki yg mengendarainya terlihat sedang termenung. Sam teringat saat mengantarkan Hana ke kosannya. Hana terlihat sangat terpukul. Tidak ada kata yang terlontar dari mulut Hana. "Aku akan meneleponmu nanti Han."ucap Sam. Hana tidak menggubris apa yang di ucapkan Sam. Dia terus berjalan memasuki kosannya. Sam pun masuk ke rumah mewah tersebut. Dia yang sedang berjalan menaiki tangga terhenti karna teriakkan seorang wanita. "Sam, kok kamu baru pulang?" tanya wanita paruh baya tersebut yang teryata ibu Sam. "Iya ma, tadi malam Sam nginep di rumah Beni."bohong Sam. "Sam ke kamar dulu ya ma."ucap Sam sambil terus berjalan menuju kamarnya. Didalam kamar Sam melemparkan badannya ke kasur. Dia sangat sangat frustasi. Sam teringat tadi malam dia bersama sahabatnya Beni. Sam mencoba mencari orang yang memasukkan obat perangsang ke dalam minumannya. Sam pun mencari handphonenya dan mencoba menghubungi Beni. "Halo Ben, kamu dimana?" tanya Sam "Oke aku segera kesana" Tanpa menunggu waktu lagi Sam pun bergegas ke kamar mandi dan bersih-bersih diri sebelum menemui sahabatnya tersebut. Di tempat lain, Hana terlihat frustasi. Dari semenjak datang dia hanya menggulung dirinya di tempat tidur, Dia mencoba untuk tidur tapi bayang bayang saat Sam menidurinya selalu datang dan itu menyiksa Hana. Tiba-tiba pintu kamar Hana terbuka. "Hana, kamu tadi malam kemana aja sih? Aku cariin kamu dari semalem. Di telfon juga gak aktif nomernya."oceh Vina. "Sorry Vin. Tadi malam aku pulang duluan. Gak enak badan aku."bohong Hana. Untuk saat ini Hana belum bisa menceritakan semuanya pada Vina. Dia belum siap untuk menceritakan apa yang sudah dia alami tadi malam. "Ya paling enggak kasik kabar kek. Gitu pulang gak bilang bilang" ucap Vina kesal "Handphone aku lowbat tadi malam. Nyampek sini aku langsung tidur lupa ngeces. Maaf ya." "Ya udah lain kali bilang ya kalau mau pulang. Aku bingung nyariin kamu tadi malam." ucap Vina sambil berjalan kearah Hana. "Kamu sakit apa Han? kayaknya kemaren malem pas kita berangkat kamu gak kenapa-kenapa." tanya Vina. Memang Hana terlihat pucat dan tampak tidak bersemangat. Berbeda sekali dengan Hana yang biasanya. "Mungkin demam." jawab Hana "Udah minum obat?" tanya Vina "Belum, nanti aja sekalian habis makan." "Kamu belum makan Han? ya udah kamu sini aja aku pesankan gofood dulu." ucap Vina sambil mencoba mencari referensi gofood di handphonenya. "Kamu mau makan apa Han?" tanya Vina "Terserah kamu aja lah Vin. Aku ngikut aja." jawab Hana dengan malas "Ayam bakar mau?" tanya Vina lagi "Iya sudah." "Oke aku pesankan dulu ya."ucap Vina yang mulai berkutat dengan handphonenya. Sam yang sudah selesai mandi dan berganti baju langsung keluar dari kamarnya. Sam berencana untuk pergi ke tempat Beni, sahabatnya. "Ma, Sam pergi dulu ya." pamit Sam pada mamanya. "Mau kemana lagi Sam? Baru juga dateng udah mau pergi lagi. Kamu gak makan dulu apa? Mama sudah masakin kesukaan kamu loh." ucap Mamanya "Aku mau ketempat Beni bentar ma, Nanti aja Sam makannya pulang dari rumah Beni ya ma." jawab Sam "Hmmm.. ya sudah kamu hati-hati di jalan ya Sam. Jangan ngebut-ngebut jalannya." "Iya ma. Sam pamit dulu ya ma." pamit Sam sambil mencium tangan Mamanya. Sam pun keluar dari rumah mewah tersebut. Mobil yang di kendarai sam mulai bergerak keluar dari perumahan tempat tinggalnya. Tidak butuh lama Sam pun tiba di rumah sahabatnya tersebut. Sam pun masuk kedalam rumah itu. Rumah tersebut terlihat sepi karena Beni hanya tinggal sendiri di rumah tersebut.Ke dua orang tua Beni lebih sering tinggal di Bandung dari pada di Jakarta jadi terkadang Sam ikut tidur di rumah Beni kalau dia malas untuk pulang ke rumah. Sebenarnya Sam punya apartemen sendiri hanya saja Sam berencana menempati apartemen tersebut saat dia sudah menikah kelak. "Ben, kamu harus tolongin aku."ucap Sam kepada Beni menonton TV. "Kamu itu Sam dateng dateng langsung minta tolong. Kemana aja kamu tadi malem pakai ngilang gitu aja dari pesta." ucap Beni. Beni dan Sam sudah berteman sejak di bangku SMP. Kedua orang Sam bahkan sudah menganggap Beni seperti anak mereka sendiri begitu pun sebaliknya. "Ada yang masukkan obat ke minuman aku tadi malam." ucap Sam menggebu-gebu. Memang diantara Sam dan Beni tidak pernah ada rahasia.Bahkan urusan perempuan pun tidak ada yang mereka tutup tutupi. "Obat? obat apaan?"tanya Beni keheranan "Obat perangsang" jawab Sam "APA?"ucap Beni kaget. "Kok bisa? siapa yang ngelakuin itu? terus gimana?"tanya Beni. Dia tidak mengira ada yang tega memasukkan obat terlarang tersebut ke minuman sahabatnya. "Aku juga gak tau. Aku juga bingung. Habis aku minum tadi malam kepala aku pusing dan terasa panas. Awalnya aku cuma mau tiduran di kamar tapi aku malah melakukan itu." ucap Sam frustasi. "Melakukan itu? Melakukan apa? Kamu gak per***a cewek kan?" "I..iya, aku udah per***a cewek."ucap Sam dengan penuh penyesalan. "Siapa cewek itu?"tanya Beni lagi "Hana." jawab Sam sambil menunduk lesu "APA? Hana? Hana mantan kamu?" tanya Ben tidak percaya Sam hanya bisa mengangguk. Dia benar-benar bingung bagaimana menghadapi persoalan ini. "Ya Allah Sam. Terus sekarang gimana? Hana gimana?" "Aku gak tau Ben. Aku juga bingung harus bagaimana. Semua terjadi begitu aja. Yang jelas sekarang aku cuma pengen tau sapa yang sudah memasukkan obat ke minuman aku." ucap Sam "Oke sekarang kita ke hotel. Coba kita cek CCTV yang ada di ruang Ballroom." ucap Beni sambil berdiri dan bergegas ganti baju. Mereka pun pergi ke hotel tempat kejadian terkutuk itu terjadi. Sejujurnya Beni merasa kasihan pada sahabatnya tersebut. Beni tau meskipun terkenal playboy Sam sangat tau batasan. Dia tidak pernah tidur dengan wanita manapun. Sam ingin melakukan itu dengan istrinya nanti. Mobil itu berhenti di parkiran hotel tempat reuni SMA itu diadakan. Sam yang merupakan anak pemilik hotel itu langsung menuju ruang HRD untuk menemui kepala supervisor di hotel itu. "Pak Hadi mana?"tanya Sam pada salah satu staff di ruangan tersebut. "Maaf pak. Pak Hadi sedang makan siang sepertinya." jawab staff tersebut. Karna terlalu buru-buru Sam dan Beni tidak sadar mereka datang di saat jam makan siang. "Baik saya tunggu pak Hadi di ruangannya." ucap Sam sembari berjalan keruangan Pah Hadi. 5 Menit kemudian. Pak Hadi datang dengan sedikit tergesa-gesa. "Maaf pak. Saya tadi sedang makan siang. Ada yang bisa saya bantu pak?"ucap Pak Hadi sopan. Dia tau Sam adalah anak dari pemilik hotel tersebut. "Saya mau melihat CCTV yang ada di ruang Ballroom tadi malam"ucap Sam to the point "Sekali lagi saya mohon maaf pak, CCTV di ruang Ballroom sudah 3hari ini rusak pak dan mau di pasang CCTV yang baru hari ini."ucap Pak Hadi sambil membungkuk minta maaf. "Apa? sial. Udah rusak 3 hari kenapa masih mau di pasang yang baru hari ini?"tanya Sam dengan sedikit kesal "Orangnya baru bisa hari ini pak. Sekali lagi saya mohon maaf pak." "Aaarrrgghh. Sialan."ucap Sam frustasi. Beni yang melihat sahabatnya tersebut segera menarik Sam untuk keluar dari ruangan Pak Hadi. Dia tidak ingin sahabatnya itu mengamuk di ruangan itu . "Ya sudah makasi ya pak."ucap Beni. "Kami permisi pergi dulu ya pak" lanjutnya. Di luar ruangan Staff. Sam mulai gelisah. Beni yang melihat itu hanya bisa menepuk pundak sahabatnya itu. "Udah Sam. Semua udah terjadi. Gak ada lagi yang bisa kita lakuin. Kamu denger sendiri CCTV itu rusak. Kita gak bisa tau sapa yang masukkan obat itu ke minuman kamu."ucap Beni mencoba menenangkan Sam. "Aku bingung Ben. Aku gak tau harus bagaimana. Aku cuma kasihan melihat Hana. Dia pasti trauma banget. Kamu gak tau seberapa bejatnya aku tadi malam. Bahkan aku melakukan itu saat dia belum siap." ucap Sam dengan penuh penyesalan. "Yang bisa kamu lakukan saat ini cuma satu. Tanggung jawab. Kamu harus menikah dengan Hana. Apa lagi kalau misal Hana hamil. Secepatnya kamu harus menikahi Hana." ucap Beni. Beni tau tidak ada solusi lagi yang bisa dia berikan kecuali itu. Siap tidak siap Sam harus segera menikahi Hana. Hanya itu yang bisa Sam lakukan sekarang. Seperti halnya gelas yang sudah pecah tidak akan bisa kembali ke wujud aslinya begitupun apa yang sudah Hana dan Sam alami. Apa yang sudah terjadi tidak akan bisa mereka kembalikan. Yang harus mereka lakukan sekarang hanya mencoba berdamai dan menatap ke depan. Entah apa yang akan terjadi nanti tapi buat Sam penyesalan itu akan selalu ada seumur hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD