Hari berganti minggu, sudah hampir satu bulan Hana menghindari Sam. Setiap hari Sam selalu rutin menelfon dan mengunjungi Hana baik di kampus maupun di kostan Hana.
"Kamu balikan sama Sam ya, Han?"tanya Vina penasaran
"Enggak. Ngapain juga aku balikan sama Sam."jawab Hana acuh. Saat ini Hana dan Vina sedang berada di kantin kampus.
Hana dan Sam memang satu kampus tapi beda fakultas. Sam masuk jurusan bisnis sedangkan Hana masuk jurusan Sastra. Meskipun beda fakultas tapi gedung fakultas meraka cukup dekap. Wajah Sam yang tampan dan latar belakang keluarganya membuat Sam cukup di kenal di kampusnya. Sedangkan Hana sendiri semenjak masuk perkuliahan dia tidak terlalu banyak berinteraksi dengan teman-teman kampusnya. Hidupnya hanya berjalan di kampus- kostan kampus -kostan. Hanya Vina satu-satunya teman yang selalu ada untuk Hana.
"Soalnya aku sering banget lihat Sam nyari kamu. Entah di kampus atau di kostan."ucap Vina. "Panjang umur dia baru saja di bicarakan sudah nongol aja." lanjut Vina setelah melihat Sam masuk ke kantin kampus itu. Hana yang melihat kedatangan Sam langsung memalingkan wajah. Setiap kali melihat Sam bayangan saat kejadian itu selalu terngiang dalam kepala Hana.
'Mau apa lagi sih dia kesini'batin Hana
"Hai Han, kamu udah selesai kuliahnya? Aku anterin pulang ya" ajak Sam pada Hana.
"Kok Hana aja sih yang di sapa aku enggak."tegur Vina
"Hehehe,, sorry vin. Habisnya aku salfok terus sama Hana."ucap Sam mencoba mencairkan suasana.
"Vin aku balik dulu ya." ucap Hana yang berdiri dan langsung mengambil tasnya.
Melihat Hana yang hendak pergi Sam pun mengikuti Hana dari belakang. Vina yang melihat itu sedikit curiga pada tingkah laku sahabatnya itu. Dia tau sahabatnya itu sangat membenci Sam setelah putus dengannya.
'Sepertinya ada yang tidak beres nih. Aku harus cari tau.' batin Vina.
Diluar Kantin, Sam yang masih mengikuti Hana pun hampir bertabrakan dengan Hana yang tiba-tiba berhenti dan berbalik padanya
"Kamu ngapain sih Sam ngikutin aku terus?"tanya Hana. Sejujurnya dia merasa lelah melihat Sam mengikutinya terus.
"Aku ingin bicara sama kamu Han tapi kamu selalu menghindar dari aku. Telfon ku tidak pernah kamu angkat. Makanya aku nekat nemuin kamu ke kantin."jawab Sam.
"Apalagi yang mau di bicarakan. Aku lelah Sam."ucap Hana.
"Kita bicara di tempat lain saja."ucap Sam seraya hendak mengandeng tangan Hana. Hana yang melihat tangan Sam mau menyentuhnya reflek menghindar.
"Jangan pernah sentuh aku lagi."ucap Hana dengan penuh penekanan.
"Oke oke maaf aku gak akan gandeng tangan kamu lagi."ucap Sam. Sam tahu Hana sangat sangat terluka atas kejadian itu.
"Jalan saja aku akan mengikuti mu dari belakang."ucap Hana. Sam dan Hana pun pergi dari kampus. Hana tidak tahu Sam akan membawanya kemana.
Dilantai dua sebuah cafe terlihat sepasang laki-laki dan perempuan sedang duduk berhadapan. Cafe yang bernuansa alam tersebut cukup terkenal di i********:. Biasanya banyak muda-mudi yang datang kesini hanya untuk sekedar foto. Dan setau Hana cafe tersebut baru di buka beberapa bulan yang lalu. Mungkin karna saat itu masih siang jadi tidak terlalu banyak pengunjung yang datang.
Tiba-tiba datang seorang pelayan ke meja mereka.
"Pak Sam, ada yang bisa saya bantu pak?" tanya pelayan tersebut.
"Kamu mau pesen apa Han?" tanya Sam pada Hana.
"Aku gak lapar."jawab Hana
"Ice coffe dua ya. Sama sekalian minta tolong jangan ada pengunjung yang naik ke lantai atas ya."ujar Sam kepada pelayan tersebut.
"Baik pak." ucap pelayan tersebut sembari pergi dari dari situ dan menyiapkan pesanan Sam.
Hana yang melihat itu cukup keheranan dengan perintah Sam.
"Cafe ini usaha aku sama Beni." ucap Sam yang seperti tahu apa yang sedang di pikirkan Hana.
"Kamu mau ngomong apa?"tanya Hana to the point
"Aku ingin bertanggung jawab Han. Ijinkan aku untuk menikahi mu."ucap Sam yakin
"Aku gak mau."
"Kenapa?" tanya Sam. Dia cukup kaget karna Hana menolak pertanggung jawabannya.
"Karna bagi aku pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Sekali seumur hidup dan aku tidak mau terjebak dengan pernikahan yang harus diawali seperti ini."ucap Hana.
Sebenarnya Hana ingin meminta pertanggung jawaban Sam tapi mengingat apa yang sudah Sam lakukan dulu pada Hana dan melihat bagaimana status sosial mereka yang berbeda jauh membuat Hana seperti tau diri. Dia bukan siapa-siapa untuk orang seperti Sam. Dia hanya seorang gadis biasa yang harus berjuang sendiri karna ayahnya yang sudah pergi dari rumahnya dan ibunya yang sudah meninggal saat Hana duduk dibangku SMA. Untung saja Hana cukup pintar sehingga dia bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliahnya. Sedangkan untuk sehari-hari Hana biasa berjualan online dan dari uang pensiunan Almarhumah ibunya.
Saat Sam mau menjawab tiba-tiba muncul pelayan yang membawa pesanan mereka.
"Permisi Pak Sam."ujar pelayan tersebut sambil memberikan dua ice coffe pesanan Sam.
"Terima kasih ya."ujar Sam.
Pelayan itu pun pergi meninggalkan Hana dan Sam. Melihat pelayan tersebut sudah tidak terlihat Sam pun melanjutkan apa yang dia bicarakan.
"Aku gak mau di anggap sebagai seorang pengecut yang tidak mau bertanggung jawab sama kamu Han. Aku mohon menikahlah denganku. Biarkan aku bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan sama kamu. Apalagi kalau sampai kamu hamil hasil dari perbuatanku itu akan semakin membuatku menderita Han kalau kamu tidak mau menikah denganku."ujar Sam menyampaikan ketakutannya.
Hana terkejut dengan penuturan Sam. Karna sejujurnya tidak ada sedikitpun bayangan dalam diri Hana kalau dia akan hamil dari hasil perk***an itu.
"Aku gak mungkin hamil. Aku gak mau hamil. Aku belum siap." ucap Hana dengan sedikit emosi.
"Tapi kita tidak bisa tau apa yang akan terjadi kedepannya Han. Karna seingat ku malam itu aku gak pakai pengaman."
Mendengar itu Hana baru ingat kalau dia sudah melewatkan jadwal menstruasinya beberapa hari yang lalu. Hana pun menangis.
"Br****ek kamu Sam. Aku benci banget sama kamu."ucap Hana penuh emosi.
Dada Hana terasa sesak sampai dia merasa dia harus segera pergi dari tempat itu. Hana butuh udara segar. Apa yang di tuturkan Sam dan yang dialami olehnya seketika membuat Hana ketakutan. Hana belum siap untuk hamil. Dan bagaimana dia akan menjelaskannya kepada orang-orang nantinya. Belum sempat Hana pergi dari situ tiba-tiba Hana merasa ruangan tersebut perlahan menjadi gelap dan Hana pun pingsan. Untung saja Sam yang melihat Hana hendak jatuh langsung menahannya dan membawa Hana ke rumah sakit.
'Hidup itu bagai sebuah teka-teki.Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Yang harus kita lakukan sekarang hanya menatap ke depan dan berjalan semampu kita.'