Di rumah sakit, Hana mulai terbangun dari pingsannya.
"Aku dimana Sam?"tanya Hana
"Kamu sudah sadar Han? Tadi kamu pingsan dan aku bawa kamu kesini."jawan Sam
"Aku kenapa?"tanya Hana pada Sam
"Nanti saja ya kamu bisa tanya langsung pada dokternya. Sekarang kita tunggu saja hasil tes darahmu."jawab Sam
"Tes darah? Emang aku kenapa sampai pakai tes darah segala?"tanya Hana
"Lebih baik kita tunggu dokter saja ya."jawab Sam.
Tidak lama kemudian seorang dokter wanita datang dengan seorang perawat.
"Sudah sadar istrinya pak?"tanya dokter wanita itu.
"I..iya dok."jawab Sam kikuk.
"Baik saya periksa dulu ya istrinya pak."ucap dokter tersebut sambil mengecek kondisi Hana.
"Oke bagus. Sus coba saya lihat hasil tes darahnya."
"Ini dok."ucap suster tersebut sambil memberikan hasil tes kepada dokter wanita itu.
"Wah selamat ya pak. Istri bapak sedang hamil. Bagaimana mau kita usg sekalian biar tahu sudah berapa minggu usia kandungan istri bapak." jawab Dokter wanita itu dengan ramah.
Bagai petir disiang bolong. Penuturan dokter wanita itu membuat Hana dan San terkaget.
'Ya Allah. apa lagi ini'batin Hana
"Sa...saya hamil dok?"tanya Hana tak percaya. Hana bingung bagaimana mungkin, mereka hanya melakukannya sekali dan sekarang sudah ada malaikan kecil dalam perut Hana. Hati Hana hancur. Hana tidak tau bagaimana dia akan menghadapi hidupnya nanti. Dia belum siap untuk kehamilan ini.
"Dokter pasti salah kan. Gak dok.. saya gak mungkin hamil."ucap Hana tak percaya.
"Hana tenang han, kita dengarkan dulu penjelasan dokter."ucap Sam.
"Dok bisa siapkan untuk USG nya."ucap Sam
"Baiklah kalau begitu saya rujukan ke dokter spesialis kandungan ya pak."ucap dokter tersebut sembari keluar dari ruangan Hana dan Sam.
Tangis Hana pun pecah. Sam yang melihat Hana menangis pun memeluknya.
"Jangan menangis Han. Please aku gak bisa liad kamu nangis gini."ucap Sam mencoba menenangkan Hana.
"Kamu jahat Sam. Kamu benar-benar jahat."ucap Hana disela-sela tangisannya. Tubuh dan hatinya sudah benar-benar lelah. Hana berharap ini semua hanya mimpi tapi Hana tau itu bukanlah mimpi. Ini adalah kenyataan yang harus di terima oleh Hana.
"Aku janji, aku akan bertanggung jawab Han."ucap Sam penuh penyesalan.
Tok tok tok
Pintu ruangan Hana dan Sam pun terbuka. Muncul perawat yang tadi ikut memeriksa Hana sembari membawa kursi roda untuk Hana
"Permisi pak bu. Ruang USG nya sudah sudah siap. Mari saya antarkan."ucap perawat tersebut.
"Baik sus."ucap Sam. Sam pun mengendong tubuh Hana dan mendudukkannya di kursi roda tersebut.
"Mari pak" ucap perawat itu.
Mereka berdua sudah berada di dalam ruangan dokter kandungan. Hana sudah di tidurkan di kasur pasien. Semenjak dari ruang perawatan sampai ke ruang dokter kandungan Hana hanya bisa terdiam. Pikirannya kosong. Dia tidak tau apa yang akan dia lakukan nantinya.
"Ini ya bu janinnya. Saya perkirakan usia kandungan ibu sudah 10minggu."ucap dokter tersebut yang menyadarkan Hana dari lamunannya.
Bagi Hana dan Sam pengalaman melihat langsung calon anak mereka merupakan hal yang sangat tidak bisa mereka bayangkan. Di monitor terlihat jelas janin tersebut yang ukurannya sudah tampak jelas meskipun usianya masih 10minggu tapi terlihat sudah memiliki bakal tangan dan kakinya.
"Bisa di lihat di sini. Janinnya sehat. Hanya saja saya harap ibunya jangan terlalu stress ya. Karna stress itu bisa mempengaruhi perkembangan janinnya. Nanti saya resep kan obat penguat dan nutrisi untuk calon anak bapak dan ibu ya."ucap dokter panjang lebar.
"Terima kasih ya dok. Untuk makanannya apa ada pantangannya dok?"tanya Sam.
"Untuk makanan tidak ada pantangannya pak hanya saja jangan terlalu berlebih. Kalau hanya untuk mencicipinya saja tidak apa-apa pak."jawab dokter itu.
"Terima kasih sekali lagi ya dok. Kalau begitu kami permisi dulu dok."pamit Sam.
"Iya bapak. Nanti kesini lagi satu bulan lagi ya pak."ucap dokter tersebut sambil memberikan resep untuk di konsumsi Hana.
Merekapun keluar dari ruangan dokter itu. Sam membawa Hana ke parkiran mobil.
"Han, tunggu aku di dalam mobil ya. Aku mau tebus obatnya dulu."ucap Sam.
Hana hanya bisa terdiam. Sam yang melihatnya pun tiba-tiba mengendong Hana dan memasukkannya ke dalam mobil. Sam tau saat ini Hana sedang kalut. Terlihat jelas wajah frustasi Hana. Setelah memasangkan seatbet nya Sam pun pergi ke apotik untuk menebus obat dan vitamin kehamilan itu.
Didalam mobil Hana pun menangis sejadi-jadinya. Dia tidak menyangka Allah secepat itu menitipkan malaikat kecil di dalam perutnya. Hana pun mengusap perutnya yang masih rata. Berkali-kali dalam hatinya dia minta maaf kepada Almarhumah ibunya.
Tidak lama kemudian Sam pun datang dan masuk ke dalam mobil. Hana yang melihatnya segera menghapus air matanya. Dia tidak ingin Sam melihatnya menangis lagi. Sudah sering Hana memperlihatkan tangisannya kepada Sam.
"Maafin aku ya Han. Aku benar-benar minta maaf. Sekarang kamu mau kan menikah denganku? Ijinkan aku bertanggung jawab untuk kamu Han dan menjadi ayah untuk anak kita."ucap Sam yakin. Saat melihat janin yang ada di perut Hana saat itu dia yakin dia harus menikahi Hana. Apapun yang terjadi mereka harus menikah. Sam tidak ingin anaknya tumbuh tanpa kehadirannya.
"Sam, sejujurnya aku belum siap untuk menikah.Dan kehamilan ini benar-benar tidak terduga. Bagaimana kalau kita gugurkan saja."entah setan dari mana yang saat itu ada dalam pikiran Hana.
"Kamu gila ya Han. Gak aku gak setuju. Anak ini gak berdosa Han.Yang dosa itu kita.Jangan harap kamu bisa melakukan itu Hana."ucap Sam dengan nada marah. Dia tidak menyangka Hana bisa memiliki pikiran itu.
"Tapi bagaimana kalau orang-orang tau aku hamil diluar nikah Sam. Aku malu."ratap Hana.
"Aku akan bertanggung jawab.Kalau ada yang menghina kamu aku yang akan berada di depan. Sekarang ikut aku ya. Aku akan bilang pada orang tuaku untuk menikah denganmu."ucap Sam mencoba menyakinkan Hana.
"Bagaimana kalau orang tua kamu gak suka padaku? Pikiran mereka pasti buruk tentang aku Sam."ucap Hana dengan suara yang bergetar.
"Aku yang akan menjelaskan kepada mereka kalau ini salah aku. Kamu gak salah Han. Aku yang b******k dan aku yang salah. Sekarang kita pergi ke rumahku ya."ajak Sam. Dia ingin segera bertanggung jawab pada Hana dan calon anak mereka.
Tanpa menunggu persetujuan Hana, Sam pun segera menyalakan mobilnya dan keluar dari parkiran mobil. Tujuannya hanya satu yaitu rumahnya. Entah apa yang akan ayahnya lakukan pada Sam. Sam tidak perduli yang dia pikirkan ada lah Hana dan janinnya. Dia tidak ingin berbuat dosa lebih besar lagi.
'Pa...Ma... Maafkan anakmu yang b******k ini.'batin Sam.