Hana yang baru sampai kostan segera masuk ke kamarnya dan merebahkan dirinya di tempat tidur. Mungkin karna terlalu banyak berfikir membuat kepala Hana sedikit pusing. Perutnya juga sedikit kram. Dia ingat dia belum meminum vitamin yang di berikan dokter tadi untuk dia. Hana segera mengambil obat itu di dalam tasnya dan meminumnya. Hana mencoba memejamkan kedua matanya agar pusing dan sakit kram perutnya sedikit berkurang.
Tiba-tiba terdengar ada yang membuka pintu kamar Hana.
"Han, kamu kemana saja sih? Seharian ini aku telfon gak di angkat. Kamu kenapa sih Han?"omel Vina. Vina pun mendekati Hana yang masih terbaring di tempat tidurnya dan mengecek suhu tubuh Hana.
"Gak panas kok? kamu kenapa sih Han?"tanya Vina sekali lagi.
Hana yang melihat sahabatnya itu segera bangkit dari tidurnya.
"Aku hamil Vin."jawab Hana jujur.
"Maksud kamu? Hamil? Siapa yang hamil?"tanya Vina seperti tak percaya dengan penuturan sahabatnya itu.
"Aku hamil anak Sam."jawab Hana sekali lagi dengan menahan air matanya.
"Apa? Hamil anak Sam? Kok bisa? Bagaiman ceritanya kamu hamil anak Sam? Bukannya kalian gak pacaran?"cerca Vina. Vina tidak menyangka sahabatnya itu hamil dengan orang yang dia benci.
Hana dengan menahan air matanya akhirnya menceritakan semua kepada sahabatnya itu. Tidak ada yang dia tutup tutupi lagi. Vina yang mendengarkan sampai beberapa kali menutup mulutnya karna tidak percaya dengan apa yang sudah Sam lakukan pada sahabatnya itu.
"b******k Samuel."umpat Vina kesal. Dia tidak menyangka Sam tega memperk**a sahabatnya itu meskipun menurut penuturan Hana saat itu Sam dalam pengaruh obat tetap saja bagi Vina itu tindakan kriminal. Vina pun memeluk sahabatnya itu.
"Kenapa kamu gak pernah cerita sama aku Han. Kenapa kamu harus menanggung ini sendiri Han? Kamu udah gak percaya sama aku?."tanya Vina sambil menangis.
"Aku bukan gak percaya Vin. Hanya aku malu sama kamu. Bahkan aku tidak pernah membayangkan aku akan hamil hasil dari kejadian itu."jawab Hana. Hana tau sahabatnya itu kecewa padanya tapi itu yang Hana rasakan. Hana takut dan malu untuk menceritakan kejadian malam itu. Hana masih trauma kalau mengingat perlakuan Sam saat itu.
"Kenapa kamu harus malu Han? Kamu gak salah tapi si b******k itu yang salah karna sudah perk**a kamu.Kalau aku tau Sam lakuin itu sama kamu aku akan hajar dia."ucap Vina dengan emosi.
Hana yang melihat sahabatnya itu menangis mencoba menghapus air mata Vina yang keluar.
"Jangan nangis Vin. Maafin aku ya karna gak jujur sama kamu."ucap Hana.
"Lalu sekarang bagaimana? Dia mau bertanggung jawab kan?" tanya Vina lagi.
"Sam bilang dia mau nikahin aku. Bahkan tadi dia bawa aku kerumahnya untuk bicara pada orang tuanya Vin."jawab Hana.
"Syukurlah kalau Sam mau nikahin kamu. Kalau sampai dia gak mau tanggung jawab biar aku datengin keluarganya atau aku up ke sosmed biar keluarganya malu sekalian."ucap Vina menggebu-gebu. Dia benar-benar sayang sama sahabatnya ini dan gak ingin sahabatnya ini terluka lagi.
"Makasih ya Vin." Hana bersyukur Vina tidak menghakiminya tapi Vina justru membelanya seperti itu.
Mereka pun berpelukan dan menangis bersama. Persahabatan mereka benar-benar tulus. Meskipun Vina dari keluarga berada berbeda dengan Hana tapi Vina sudah menganggap Hana seperti saudaranya.
"Kamu sudah makan Han?"tanya Vina setelah mereka selesai berpelukan dan menangis bersama.
Hana hanya menggeleng memang tadi dia meminum vitamin tapi makan terlebih dahulu.
"Kamu gimana sih Han. Harusnya kamu makan dulu dong. Gak kasihan apa sama anak kamu. Bagaimanapun ini ponakan aku"ucap Vina sambil memegang perut Hana yang masih rata.
"Tadi aku sedikit pusing Vin. Dan pengen rebahan dulu."
"Sekarang bagaimana? Masih pusing?"
"Udah gak terlalu. Tapi aku lapar.Hehehe."ucap Hana sambil tersenyum.
"Ih dasar. Ya udah mau pesen apa? Nasi goreng atau lalapan?"
"Nasi goreng aja deh."
"Oke, wait aku pesenin dulu ya." Vina pun mulai fokus pada handphonenya.
"Udah."
Sembari menunggu pesanan gofood Hana dan Vina tidur bersebelahan.
"Han, kalau kamu menikah kamu harus ketemu ayah kamu dong buat jadi wali?"tanya Vina. Memang dia tau hubungan Hana dan ayahnya merenggang semenjak kejadian itu. Kejadian yang menghancurkan keluarganya.
"Harusnya sih iya. Tapi aku coba bilang sama om saja. Aku malas kalau harus berurusan sama orang itu."
"Haisss.. kok orang itu sih Han. Ingat bagaimanapun itu ayahmu Han."
"Gak tau lah Vin. Aku masih sakit hati kalau ingat kejadian itu."
Masih teringat jelas dalam ingatan Hana tentang kejadian empat tahun yang lalu itu.
Vina yang melihat sahabatnya itu bersedih lagi langsung mengalihkan pembicaraannya. Dia tidak ingin menambah beban pikiran Hana.
"Eh udah datang makanannya. Bentar ya aku turun dulu ambil makanannya."
Vina pun keluar kamar Hana. Di kamar Hana yang menunggu sabatnya itu di kagetkan oleh dering handphonenya. Teryata Sam yang menelponnya. Sam mengabarkan kalau orang tuanya sudah setuju dia menikahi Hana. Orang tuanya meminta dia segera bertanggung jawab pada Hana.
"Besok aku ke tempatmu ya."ucap orang di seberang telfon.
"Iya."
"Ya sudah. Have a nice dream ya."
"Hmmm,,"
Tepat saat Hana mematikan telfonnya Vina pun datang dengan membawa dua nasi goreng pesanan mereka. Hana dan Vina pun memakannya dengan lahap sambil bercanda gurau.
Sam terlihat lebih tenang setelah menceritakan semua masalahnya kepada orang tuanya. Hatinya sedikit lega karna beban yang ada di pundaknya sedikit terangkat setelah orang tuanya memberi ijin dia menikahi Hana. Sam berjalan kearah meja belajarnya dan membuka laci kedua meja itu. Sam mengambil sebuah foto seorang gadis sedang tersenyum kearah yang mengambil foto itu. Gadis yang ada di foto itu ada lah Hana. Sama ingat foto itu di ambil saat mereka kencan untuk ke dua kalinya.
Flasback
Dua orang anak muda sedang duduk berhadapan di kantin sekolah.
"Sam nanti jadikan kita pulang sekolah ke taman hiburan."tanya Hana disela makannya.
"Iya. Nanti habis pulang sekolah kita langsung kesana."
Hana pun tersenyum senang. Karna banyak sekali masalah di keluarganya Hana ingin sekali saja dia tersenyum bahagia saat itu.Bagi Hana saat itu dia hanya ingin menjalani hidup seperti gadis umumnya tanpa memikirkan hal lain.
Mereka pun berangkat ke taman hiburan. Di sana mereka bermain selayaknya orang pacaran biasa. Mereka main rollercoaster, mobil-mobilan, masuk rumah hantu. Semua mereka coba. Sampai waktu mulai berganti malam. Saat ini Hana sedang makan malam di sebuah warung tenda pinggir jalan dengan Sam.
"Nanti anterin aku ke rumah Vina aja ya"
"Kenapa?"
"Aku malas pulang aja."
"Kamu berantem sama orang tuamu?"
"Enggak. Cuma malas aja pulang." jawab Hana tersenyum.
Bagi Sam senyum Hana sangat menenangkan. Entah kenapa hatinya selalu melunak saat melihat Hana tersenyum. Tanpa Sam sadari dibalik senyuman Hana itu ada luka yang cukup dalam.
Flash end
Sam melihat foto itu. Dia tidak menyangka dia akan menikah dengan Hana. Perempuan yang pernah dia sakiti dulu. Saat itu Sam benar-benar menyesali perbuatannya yang menjadikan Hana bahan taruhan. Tanpa Sam sadari dulu dia tulus menyayangi Hana. Bahkan setelah putus dengan Hana dia tidak pernah pacaran. Baru pacaran lagi setelah bertemu Tari. Tapi hubungan mereka juga kandas karna Tari hanya menjadikan dia pelarian saja. Saat itu Sam menyadari sakit hati yang Hana rasakan saat dia mempermainkan hubungan mereka dulu.
'Aku janji Han. Kali ini aku gk akan sia-siakan kamu lagi. Aku akan buat kamu mencintai aku lagi' batin Sam.