Huek... huekkk...
Vina terbangun dari tidurnya saat mendengar muntahan Hana di kamar mandi. Dia pun menghampiri Hana dan mengusap punggungnya.
"Tiap pagi kamu sering gini Han?"
"Iya, aku baca-baca itu sangat umum untuk awal-awal kehamilan."
Hana membasuh mulutnya dan keluar dari kamar mandi setelah membersihkan muntahannya. Hana merebahkan badannya di tempat tidur. Tubuhnya terasa lemas sekali. Mungkin ini yang di namakan morning sickness.
"Aku beli makan dulu ya. Kamu harus makan biar ada tenaga dan lagi kasihan ponakan aku."ucap Vina sambil pergi dari kamar Hana.
Baru saja keluar dari kostan Hana bertepatan dengan kedatangan Sam yang baru keluar dari mobilnya.
"Vin, aku disini juga."
Melihat wajah Sam yang begitu tenang membuat darah Vina mendidih. Dia teringat akan cerita sahabatnya itu.
"b******k kamu Sam. Tega-teganya kamu melakukan itu pada Hana. Apa salah Hana sampai-sampai kamu tega melakukan itu sama dia. Kalau sampai kamu gak bertanggung jawab aku akan kejar kamu kemanapun kamu pergi. Ingat itu ya."ancam Vina sambil menunjuk-nunjuk wajah Sam.
Melihat Vina yang emosi, Sam tau sepertinya Hana sudah menceritakan semua pada Vina.
"Aku akan tanggung jawab, aku akan menikahi Hana. Kamu tenang saja. Aku sudah mendapatkan ijin orang tuaku untuk menikahi Hana, secepatnya aku akan menikahi Hana."
"Janji?"
"Aku janji."
"Baiklah, kali ini aku percaya sama kamu. Sekarang mau apa kamu datang kesini."
"Aku mau antarkan makanan untuk Hana."ucap Sam sambil memberikan bungkusan makanan itu."Sekalian ada yang ingin aku bahas sama Hana soal pernikahan ini."
"Baiklah, tunggu disini. Aku akan panggilkan Hana."
Vina yang tadinya berniat mencari makan akhirnya balik lagi ke dalam kost Hana.
Tidak lama kemudian Hana pun keluar dengan menggunakan jaket hoodie. Hana terlihat sedikit pucat. Sam yang melihatnya langsung menghampiri Hana.
"Kamu gak apa-apa Han?"
"Enggak apa-apa kok cuma sedikit lemas aja."
"Ya sudah kamu makan dulu ya, aku bawakan kamu makanan."
Mereka pun duduk di teras kostan Hana. Kostan Hana hanya terdiri dari lima kamar. Kostan Hana membentuk huruf U yang bagian depan sendiri terdapat teras untuk tamu lalu sebelah ruang tamu ada pintu masuk ke area kamar kostan. Tiga kamar di sebelah kiri dan dua sebelah kanan dipojok sebelah kanan ada toilet umum dan bagian tengah bagian dapur. Sebenarnya tiap kamar sudah tersedia toilet tapi ibu kost menambahkan lagi toilet di luar kamar biar di gunakan kalau ada teman penghuni kostan yang hendak ke toilet.
Hana memakan makanan itu dengan lahap. Untung saja nafsu makan Hana tidak berkurang hanya lebih sering mual di pagi hari terkadang sesekali mual di sore atau malam hari tapi itu tidak selalu. Melihat Hana yang makan dengan lahap membuat Sam tersenyum. Dia bahagia melihat wajah tenang Hana pagi ini berbeda dengan wajah Hana sebelumnya yang terkadang muram dan sedih. Sekarang Hana terlihat seperti Hana yang Sam kenal dulu.
"Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?"tanya Hana yang heran melihat Sam menatapnya terus.
Sam yang ketahuan mencuri pandang pun sedikit gelagapan. "Enggak gak apa-apa kok."
"Ada yang aneh apa di wajahku?"
"Enggak ada Han. Cuma seneng aja lihat kamu makan lahap gini. Makan yang banyak ya biar dedeknya tambah sehat."jawab Sam sambil mengelus perut Hana yang masih rata.
Hana langsung menepis tangan Sam dari perutnya."Gak usah sentuh-sentuh aku Sam. Aku mau nikah sama kamu bukan berarti kamu bisa sentuh aku seenaknya ya."
"Iya maaf. Maaf ya. Oh iya, kapan aku bisa menemui orang tua mu Han?"tanya Sam mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ada satu hal yang harus kamu tau Sam. Mamaku sudah meninggal empat tahun yang lalu sedangkan papaku...Aku gak tau dimana keberadaan dia sekarang."
"Kenapa?"
Hana pun menceritakan masa lalunya dan keluarganya. Hana merasa sudah semestinya Sam tau tentang keadaan keluarganya dulu karna bagaimanapun Sam akan menjadi suaminya.
Flash back
Empat tahun yang lalu seorang gadis berseragam SMA masuk ke rumah yang terlihat sangat asri. Dihalaman rumah itu terdapat pohon mangga yang sangat lebat buahnya. Ada juga beberapa tanaman hias baik yang menggantung maupun yang ada di bawah. Terlihat tanaman itu di rawat sangat baik oleh pemiliknya.
"Assalamualaikum,,"ucap gadis itu sambil melepas sepatu sekolah miliknya. Terdengar suara gaduh dari dalam rumah tersebut.
'Sepertinya papa sama mama berantem lagi'batin gadis itu.
Rasanya dia sedih kalau melihat orang tuanya berantem terus. Awalnya keluarga mereka rukun dan baik-baik saja tapi sudah satu tahun ini papa dan mamanya sering berantem dan itu karna ulah papanya sendiri. Meskipun saat itu Hana belum tau apa yang mereka ributkan tapi beberapa kali Hana mendengar kalau papanya punya wanita lain. Hana pun masuk ke dalam rumah itu. Awalnya Hana hanya ingin mengambil baju lalu pergi ke rumah Vina karna kalau di rumah itu hatinya sakit mendengar orang tuanya bertengkar terus.
"Mas aku mohon mas jangan pergi. Mas gak kasihan sama Hana." ucap mama Hana sambil menangis dan berusaha menghentikan suaminya pergi dari rumah itu.
"Aku udah gak bisa sama kamu lagi ris. Kamu tau dari awal hubungan kita sudah salah."ucap papa Hana sambil membawa koper tapi ditahan oleh istrinya.
"Papa, papa mau kemana? Kenapa papa bawa koper?"
"Maafkan papa Hana. Tapi papa gak bisa terus ada disini."
"Jadi papa lebih memilih perempuan itu dari pada mama dan Hana."
"Maafkan papa sayang. Tapi saat ini tante rita sedang hamil adik kamu dan papa gak bisa terus-terusan membiarkan mereka berjuang sendiri."
"Kalau papa pergi dari sini. Mulai sekarang aku gak akan anggap papa lagi."ucap Hana emosi. Dia tidak menyangka papanya lebih memilih wanita selingkuhannya itu dari pada istri sahnya.
"Maafkan papa sayang."
Papa Hana pun pergi membawa kopernya. Mama Hana yang melihat suaminya keluar dari rumah langsung pingsan.
"Mama..."
"Tolong... tolong..." Hana panik sekali melihat mamanya pingsan. Hana pun keluar berharap papanya belum pergi jauh. Tapi telat papanya sudah pergi menggunakan mobilnya.
"Tolong...tolong..."teriak Hana. Untung saja saat itu ada beberapa warga yang mendengar teriakan Hana dan bergegas menghampirinya.
"Ada apa neng?"tanya salah satu warga yang datang.
"Tolong mama saya pingsan pak."ucap Hana yang panik.
Para warga pun langsung masuk ke rumah Hana dan membawa mamanya ke klinik dekat rumah.
"Ma Hana mohon sadar ma. Jangan tinggalin Hana ma." ucap Hana sedih. Dia berharap mamanya baik-baik saja.
Setelah mereka sampai di klinik dokter dan perawat pun langsung menangani mamanya. Hana pun tak lupa menyampaikan terima kasih kepada para warga yang sudah membantu Hana membawa mamanya ke klinik.
"Mama saya kenapa dok?"
"Untuk saat ini beliau hanya pingsan saja. Tapi sepertinya kita harus melakukan cek darah untuk mengetahui penyebab pastinya."
"Baik dok. Lakukan yang terbaik untuk mama saya ya dok."ucap Hana sambil menggenggam tangan mamanya. Dia sangat takut kehilangan mamanya. Cukup sudah papanya pergi dia gak ingin mamanya juga pergi dari hidupnya.
Setelah pengambilan hasil darah dan check up sana-sini teryata mama Hana mengidap kanker darah. Hati Hana hancur mendengar kabar tersebut. Baru saja papanya pergi dengan selingkuhannya sekarang mamanya di vonis kanker darah. Saat itu Hana hanya bisa menangis sejadi-jadinya.
Hana pun menelfon papanya. Hana berharap setelah mengetahui kondisi mamanya papa Hana mau kembali pada mereka.
"Halo"ucap sebuah suara wanita di seberang telfon
"Bisa saya bicara dengan papa saya?"tanya Hana. Hana tau yang mengangkat telfon ini adalah wanita selingkuhan papanya.
"Oh ini Hana ya. Tunggu ya papamu masih keluar sebentar. Apa nanti tante minta papa kamu buat telfon kamu balik ya? Soalnya tante takutnya papamu lama baliknya."
"Baiklah. Terima kasih."
"Iya sama-sama." sambungan telfon itu pun terputus.
"Hana,,"ucap mamanya yang mulai sadar
"Mama.. mama sudah sadar?"
"Iya."
"Mama mau makan? Tadi om danu sama tante lia kesini antar makanan sambil liad kondisi mama."ucap Hana sambil mengambil nasi dan lauk yang ada di meja kamar.
"Enggak usah. Mama masih kenyang."
"Kenyang apanya orang mama baru sadar"
"Mama gak nafsu makan sayang. Hana aja kalau mau makan."
"Aku maunya makan sama mama bukan makan sendiri."
"Ya sudah mama mau makan dah tapi sedikit saja ya."
Mereka pun menghabiskan waktu bersama sambil Hana bercerita banyak hal. Hana berusaha untuk tidak menangis di depan mamanya.
Pemakaman itu terlihat sedang ramai orang. Banyak orang memakan pakaian serba hitam menangis semua. Seorang gadis remaja terlihat lebih memprihatinkan. Dia tidak henti-hentinya menangis dan terlihat beberapa kali nyaris pingsan. Gadis itu adalah Hana.
Flash End
"Setelah kepergian mama hanya sekali papa pernah ke rumah dengan meminta aku tinggal bersama mereka. Tapi aku gak mau. Aku lebih baik tetap tinggal di rumah mama dari pada ikut sama mereka."
Sam yang mendengar keseluruhan cerita Hana merasa prihatin dan salut. Dia tidak bisa membayangkan apa sakit yang harus Hana jalani.
"Tapi nanti aku coba tanya sama om ku. Sepertinya om ku tau dimana rumah papaku yang sekarang."
"Baiklah, kabari aku ya kalau sudah dapat alamatnya. Nanti kita pergi bareng."
"Tapi sebelum itu kita ke makam mama dulu ya. Udah beberapa bulan ini aku belum ke makam mama."
"Iya. Nanti kita ke makam mama kamu dulu baru ke rumah papamu."ucap Sam sambil tersenyum
Hana yang melihat Sam tersenyum pun ikut tersenyum. "Makasih ya Sam."
"Iya. Udah sekarang kamu lanjut makan ya."
"Udah aku kenyang."
"Ya gimana gak kenyang orang udah habis makanannya."
"Hehehehhe.. habis ya? Aku pikir masih ada."ucap Hana tersenyum
Sam pun yang mendengar jawaban Hana seketika tertawa. Pagi itu mereka terlihat bahagia. Paling tidak sekarang hanya tinggal menunggu restu dari papa Hana.