DLE-7

944 Words
° ° "Apa pernah kamu menyukaiku? Mencintaiku?" ulangku, menatap lekat ke maniknya yang tajam. Seperti beberapa waktu lalu, sempat kutanyakan hal yang sama, saat dia begitu sempurnanya memberiku hadiah. Sebuah cincin. Elegan walau sederhana. Dan manis. Dan saat itu, dia pun sama saja, tak bisa menjawab satu pertanyaanku. Kini pun begitu. Kedua hazelnya bergulir, mencoba menghindari tatapku. Seolah ada yang dia sembunyikan. Seolah aku tak boleh tahu apa pun, gimana pun perasaannya padaku. "Menyukai, mencintai atau pun menyayangi, nggak ada bedanya buatku," sahutnya kemudian, terdengar gamang walau kentara aura dinginnya. Aku mengangguk paham. Andes tak akan pernah suka atau pun sayang bahkan cinta padaku. Percuma aku melakukan manuver apa pun juga agar Andes tertarik. Ya, bukan ketertarikan secara fisik atau seksual, tapi lebih dalam dari itu semua. "Nggak ada niat sedikit pun buat mencoba?" tawarku. "Mencoba? Ini soal perasaan, bukan buat coba-coba. Taruhannya, hati dan nyawamu," kilahnya. "Ya, tapi kamu lupa setelah fisik berinteraksi, perasaan akan mengikuti. Itu naluriah, alami Des," sergahku. Andes mengusap wajahnya. Bibir tipisnya semakin terlihat tipis saat dia menarik kedua sudut bibirnya. "Apa nggak mungkin buat kita untuk tetap kayak gini? Kenapa harus ada embel-embel cinta didalamnya? Disaat kita saling membutuhkan dan sama-sama nyaman dengan semua ini..." argumen Andes mengambang. Begitulah. Andes jago bernegosiasi. Beradu argumen sepertinya jadi salah satu hobi dan kepiawaiannya. Aku kalah telak. Aku tak bisa lagi menyahut, menyuarakan protesku. Sadar sesadar-sadarnya, aku dan Andes serupa tapi tak sama. Aku dan Andes sama-sama pernah terluka. Mungkin. Trauma dengan yang namanya, CINTA. Aku dipaksa untuk mengakui bahwa CINTA bisa diatur begitu rupa. Bahwa CINTA bisa di setting sesuai mau kita. Bahwa tak ada CINTA sesempurna itu. CINTA yang bisa di-deal-kan, di doktrin mesti selevel, sesuai bibit, bebet dan bobotnya. Ugh! Sedang Andes? Entahlah. Suamiku tak pernah sekalipun mau terbuka padaku, tentang dirinya, hidupnya. Mungkin, karena aku pun tak pernah bertanya bahkan tertarik ingin tahu pun tidak. Minim sekali info yang kutahu tentangnya. Itu pun kalau aku bertemu adiknya, Zen. Atau, dulu saat Gea belum cuti. Andes sepertinya sengaja meminimalisir pertemuanku dengan anggota keluarganya yang lain. Bahkan dengan Bunda, mamanya Andes, sekalipun. Dia benar-benar menjauhkanku dari orang-orang. ° Menikah. Tak ada dalam kamusku aku akan menikahi seorang Andes. Seorang sakit jiwa model Andes, yang kadang panas-dingin seperti suhu cuaca. Yang cerewet dan pelitnya lebih dari Tuan Crab. Satu lagi, cowok yang punya kelainan seksual. Walau tidak separah yang lainnya. Ihh! Begini-begini juga, aku termasuk normal. Aku tak ngeces kalau liat paha aduhai para model cantik nun jauh disana. Aku suka cowok tulen bukan modelan Andes begitu! Cantik. Bibirnya tipis dan merah. Kulitnya halus. Jemarinya lentik, seolah tak pernah menjamah pekerjaan berat dan kasar. Ponselku berdering. Andes. Mau apa lagi dia? "Shy, aku udah reservasi tempat di spa Bougenville. Kamu tinggal dateng, terserah mau ngapain, ngoprek semua badan kamu. Dipijit kek, luluran atau maskeran. Di situ komplit. Oke?" katanya. Spa Bougenville yang itu? Yang famous banget dikalangan kaum hi-jet set? Nggak salah kan? "Shylo?" "Eh, iya...iya. Nanti aku kesana," "Gunain fasilitas yang udah aku kasih. Oya, nanti habis dari spa, sopirku jemput. Sekalian ke butik buat fitting. Kita ketemu disana," sambungnya. "Hm," "Shylo..." "Iya," "Good girl," Pip! Kutepuk kedua pipiku. Ini beneran kan? Boleh dong, aku ajak Becky? Tak mungkin aku sendirian kesana. Aku harus bawa temen kan? Makanya kukirim pesan pada Andes. Me |Des, boleh aku ajak Becky? Andes |Becky kan? Ok. Just Becky. Tuh kan? Pelit dia. Tak lama Becky sampai dan kami pergi ke Spa Bougenville. Kami disana banyak ditanya-tanya. Iyalah, kami ini kan cuma kaum dhuafa... Aku tak pernah melakukan meni-pedi begitu. Paling lulur dan maskeran. Itupun kalau pas ada uang. Aku tak pernah memaksakan untuk hal yang tak perlu. Tubuhku rileks setelah dipijat. Rasanya plong! Seolah beban luntur semua seiring kotoran daki yang ikut meluruh. Waduh! Setelah itu kami berendam. Becky masih saja cekikikan menggodaku. Sahabatku itu masih belum percaya aku akan menikah. "Shy, you got a jackpot! Liat aja, Andes kemaren-kemaren nggak inget sama aku. Eh, giliran kamu yang ingetin, dia pun inget. Emang dasar pengen ditabok tuh, laki lo!" Iya, Andes bener-bener tak ingat katanya kalau dia punya temen sekelas waktu SMP. Tapi saat kuingat kan ini-itunya, barulah dia ngeuh. "Kok, kamu kayak yang nggak seneng gitu sih mau merit sama tuh anak? Jangan bilang lo kepaksa, Shy!" Becky menatapku. Aku tak segera menjawab, malah memilih keluar dari bathtub dan memakai bathrobe. Meninggaljan Becky yang masih asyik berendam. Terserah dia. Saat keluar dari kamar spa, aku menubruk seseorang. "Maaf," cicitku. Aku mendongak, netraku memaku memandangi wajah yang sulit kuenyahkan sejak bertahun lalu. "Shylo ya? Pangling. Apa kabar?" Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya. Setengah sadar aku tersenyum dengan terus memandangnya. Ini beneran dia kan? Sandy? "Oh, b-baik. Kamu?" aku tergagap. Owh! Dia masih memiliki senyum terindah itu. Sandy dengan inner beauty yang dia miliki menambah aura kegantengannya. Ya, ya, aku cukup jeli menilai satu kelebihan itu. Dia menjabat tanganku. "Baik. Aku masuk AKABRI. Trus masuk AL," katanya. "AL? Wahh...cita-citamu terwujud juga ya? Ayahmu pasti bangga!" seruku. Dia mengangguk,"Kamu belum tau ya, Ayah meninggal enam bulan lalu." Kumenutup mulutku,"Ma-maaf, San." "Nggak apa. Waktu reuni kenapa nggak datang?" Reuni. Jujur, aku memang menghindari momen seperti itu. Aku terlalu takut bertemu mereka yang pernah kusakiti secara tak sengaja. Para Adam yang harus kutolak keras karena ancaman Ayah. Tidak secara eksplisit sebenarnya. Tapi aku tahu Ayahku itu seperti apa dengan segala kuasanya. "Aku waktu itu kebetulan sedang di luar, San. Emh, kamu nganter seseorang atau--" "San, aku udah--SHYLO?!" "ELSA?!" Sandy dan Elsa? Mereka... °° Hi, readers! Kasian banget ya jadi Shylo.. Iya gak sih? Sama Andes dicuekin Sama Wisnu dikhianatinya Sama Sandy di apain ya? Pantengin terus DLE sampe end ya gengs? So Gomaweo & Saranghae tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD