°
°
"SHYLO,"
"Ya?" aku berbalik.
PLAK!
"Tania?!" Andes menarik tangan Tania menjauh.
"Apa-apaan?!"
"Kalian, kalian dibelakangku, menusukku. Tega kamu Des!" Isak Tania.
"Tan, aku--" aku mendekat.
"Shut up, your mouth! b***h!"
"Tania!" kembali Andes menyeru.
Kedua tangannya mengepal. Rahangnya mengatup rapat. Menatap tajam perempuan yang menamparku.
"Jangan pernah menyentuh Shylo sekasar itu, Tan. Atau--"
"Atau apa?!" Kedua manik Tania membola dan basah.
Andes mendengkus,"Tak pernah ada kita, cuma kamu dan aku. Kamu salah paham."
"Salah paham? Yang kemarin-kemarin itu semua salah paham? Iya Des?" Tania menatap Andes.
"Aku memang b******k. Cacilah aku sepuasnya."
"Oh, ya... kamu memang b******k, Des. Dan jalang itu pastinya udah merayumu kan? Shy, apa begini penampakanmu sebenarnya? Kenapa kamu nggak bilang kalo kamu juga suka Andes? Kenapa malah menusukku kayak gini?!" Tania mengguncang bahuku.
"Tan, a-aku nggak pernah suka Andes!" kilahku.
"Cih! Nggak pernah suka? Lalu apa tadi? Ciuman panas kalian, cuma akting? Emang aku bodoh?"
Oh, mana tahu Tania kalau tadi itu bukan keinginanku. Andes yang maksa. Andes yang biasa kuintimidasi sekarang berbalik, aku yang selalu kena.
"Tan--" kusentuh lengannya dan dia menepisnya.
"Aku dan kamu yang cuma akting, Tan. Aku sengaja mendekatimu agar aku bisa dekat dengan Shylo. Aku mencari perhatiannya. Maaf,"
"Apa?!"
°
Andes menatapi layar monitor tanpa berkedip. Aku hanya bisa memejamkan mata.
Habislah aku. Tamat riwayatmu 'Nak...
"Kondisinya bagus. Anda hanya kelelahan. Jaga istrinya ya, Pak? Jangan terlalu diporsir. Apalagi ini kehamilan pertama. Ibu ada riwayat darah rendah, asupan gizi sangat penting. Usianya baru menginjak enam minggu. Masih cukup rentan," papar dokter.
"Jenis kelaminnya?"
Itu suara Andes. Terdengar antusias. Aku tak salah dengar kan?
"Belum Pak. Sabar saja."
Dan kini, Andes cuma menatapi gambar ditangannya. Foto hasil USG tadi.
"Sekecil ini?" tanyanya sambil menunjuk gambar tersebut.

"Ya di foto emang ukurannya kecil. Kan tadi kamu liat sendiri waktu dilayar, masih kurang keliatan?" sahutku.
Lalu tatapannya jatuh ke perutku yang masih rata. Tangannya terulur, mengelus di sana.
"Dia anakku kan?"
Kurotasi kedua mataku. Aku ikut mengelus perutku. Amit-amit bapakmu, 'Nak...
"Emang gue p***n? Lagian kalo gue p***n, emang ada yang mampu bayar? Huh!" kuhentakkan tangan Andes dari perutku.
Aku kesal. Bisa-bisanya dia masih mempertanyakannya. Dia anakku kan? Gila aja!
"Tes DNA aja kalo nggak percaya. Kalo kamu nggak menginginkannya, baiklah. Boleh aku minta cerai?"
Andes mendesah gusar. Tampaknya bersiap dengan segala amukannya.
"Apa? Bilang sekali lagi!"
"Kamu nggak mau anak ini kan? Daripada kamu membunuhnya malah nambah dosa, mending aku pelihara dan biarkan aku melahirkannya. Kita cerai," aku makin menantangnya.
Kepalang. Andes menatapku. Lalu wajahnya mendekat. Kubiarkan dia memindai wajahku dengan sorotnya yang tajam.
"Lucu. Kamu pikir aku bakal cerein kamu? Never, okay? Bisa kita nggak bahas ini?"
"Ck, I think you're clever. Aku bakal terus bahas ini kecuali kamu janji nggak buang dia," sengitku.
Andes meremas rambutnya,"Dari tadi kamu tuduh kalo aku mau buang bayi itu. Siapa bilang, hah? Aku nggak sebejat itu!"
"Jadi?"
Tangannya terulur mengelus pipiku, lalu wajahnya maju beberapa centi, dan mendaratkan kecupan di keningku.
Sebentar...
Nyess!
Sepertinya ada yang tiba-tiba menyalakan AC atau membuka pintu kulkas, hingga terasa adem!
"Aku senang dia anakku. Ini berkah. Dan point kebahagiaanku bertambah karena kamu yang mengandungnya," ujarnya, saat dagunya ditopang di kepalaku.
Ini beneran Andes kan? Bukan Andes abal-abal?
Aku jelas terharu dan terbawa suasana saat Andes memperlakukanku begitu istimewa dan lembut.
"Ndes..."
"Hm..?"
"Ini ... I-ni beneran kamu, kan?"
"Maksudnya?" dia memundurkan wajahnya, sorotnya menatap lekat.
"Kamu aneh." sahutku.
"Aneh?"
Aku mengangguk,"Jangan marah. Bukannya kamu nggak mau punya anak?"
Andes diam dalam tatapnya. Lalu melepas pelukannya. Aku kecewa drastis. Ah, mulutku ini selalu salah bicara.
"Kalo udah jadi, mau diapain? Dibunuh? Emang aku Fir'aun? Atau aku psyco?"
"Bisa kita ngobrol secara dewasa? Serius dan tanpa embel-embel emosi?" aku balas menatapnya.
"Oke, itu gampang!"
"Jangan bikin aku bingung, Ndes."
"Aku kayak gitu? Bingung gimana?"
"Boleh kusuarakan isi hati? Kamu nggak hitam, trus kamu juga nggak putih."
"Eoh? Abu-abu, maksudnya?"
"Karena kamu abu-abu, aku jadi bingung. Terkadang manis sampai bikin aku diabetes. Tapi terkadang kamu begitu jauh, begitu membenciku. Kenapa? Aku merasa aku dibutuhkan cuma saat kamu butuh pelepasan. Yang lainnya? No!"
"Bukannya kamu juga gitu? Lagian kenapa kita bahas ini sih?" Andes nampak tak nyaman.
"Ndes, apa pernah kamu menyukaiku? Mencintaiku?"
Mulutnya sedikit menganga. Tak menyangka mungkin aku menanyakan hal 'tabu' tersebut.
°
Berkali aku menghindar, membuat Andes sampai tak berkutik dan frustasi. Sama sekali aku menolak untuk bertemu dengannya. Buat apa?
Meladeni mulut pedasnya atau sikap arogannya bukan hal yang sulit kali ini. Aku bisa memproteksi diri.
Tapi aku malas harus berhubungan dengannya. Mendengarkan omong kosong!
Mendapati Andes tengah bercengkrama dengan Ayah, yang sulit didekati oleh teman lelakiku manapun membuatku harus memilih untuk tak meremehkannya. Heran, Pak Tua itu bisa luluh oleh Andes. Bahkan, Papa dibuatnya tergelak kesenangan.
Bahaya...
"Oh, itu Shylo. Sini, duduk disini." Ayah melambaikan tangannya.
Aku turun dari tangga dengan langkah berat.
"Kenapa bukannya sejak dulu kamu kenalin Ayah sama Andes, Shy?" sambutnya saat aku duduk diseberang Andes.
Atensiku teralihkan.
"Emang kenapa Andes, Yah?"
"Yaa, Ayah suka aja. Dan, tentunya sederajat," jawab Ayah gamblang.
Kusunggingkan senyum miring sambil melirik Andes yang ternyata tengah menatapku.
"Ayah berencana menikahkanmu dengan Andes."
"Yah!"
"Loh? Kenapa?"
"Aku nggak akan nikah sama dia!" tolakku.
"Apa? Sekali lagi bilang,"
"Aku nggak akan nikah sama orang yang bernama Andes ini!" tegasku.
"Apa yang kurang?"
"Ansos!"
Ayah mendelik lalu menatapku tajam,"Jangan cari-cari alasan, Shylo."
"Ayah kok kolot banget sih? Aku bisa milih sendiri, apa itu pacar atau calon suami. Kasih aku kebebasan, Yah!" bantahku.
"Kalo ada yang lebih dari Andes, boleh. Ayah hampir jantungan saat Wisnu memperlakukanmu seenaknya. Chef apaan? Nggak ada tanggung-jawabnya!" dengusnya tak kalah emosi.
Kuhentakkan kakiku ke lantai. Tanda protes dengan segala bentuk perlakuan Ayah.
"Liat Andes. Dia mapan, berjiwa besar, memulai usahanya sejak sekolah bahkan dari nol. Hingga sekarang dia memiliki studio, PH dan kantor manajemen terkemuka. Bahkan artis yang dibawah naungan manajemen Andes, selalu mendapat penghargaan."
Ah, Ayah. Dia lagi promosi, apa?!
"Om, saya pinjem Shylo-nya sebentar ya?" Andes menarikku sebelum Ayah memberi persetujuannya.
Dia menarikku keluar, duduk di bangku taman. Tangannya masih mencengkram dipergelanganku.
"Jangan coba-coba," bisiknya mengintimidasi.
"Apa? Kamu pikir aku mau sama kamu? Manusia nggak jelas jenis kelaminnya? Huh?" ejekku.
Matanya melotot menyala, menatapku. Ya! Kusesali rangkaian kalimat yang teruar barusan.
"Apa kamu bilang? Manusia nggak jelas? Oke," matanya menyipit.
Dan, GREB..
Kedua bahuku dicengkeramnya. Wajahnya mendekat. Lalu dikecup, dilumatnya bibirku dengan kasar. Aku tetap mengunci mulut, nggak kubiarkan akses untuk lidahnya seenaknya masuk tanpa ijin.
"Dwesh.." balik kucengkram bahunya.
"Jadilah milikku." bisiknya lagi.
°°
Hi, readers!
Yang tulisannya miring itu artinya flashback ya gaes...
Loncat-loncat ya?
Disini, ceritanya 'aku' alias Shylo yang jadi main castnya.
Btw, semoga paham aja deh
Bacanya harus dari awal..
Kalo bacanya di tengah-tengah, ntar nggak paham.
Apalagi bacanya dari belakang..
Krik, krik, krik...
Garinggg!!
So
Gomaweo & Saranghae
tbc