DLE-5

906 Words
° ° KEDUA sejoli itu tertawa-tawa sumringah. Aih! Padahal aku belum pernah melihatnya tertawa selepas itu. Kami satu kampus hanya beda fakultas. Dia anak Cinematography. Sedang aku Teater. Sore itu aku baru pulang latihan dan asistensi dengan kating. Sebentar lagi kami akan mengadakan pentas jadi kami giat berlatih. Aku tak terlalu ambil pusing tentang kedekatan Tania dan Andes. Mas Wisnu yang harus kuperhatikan, bukan? Sayangnya dia tengah sibuk tes. Belum lagi Minggu depan dia mulai KKN. Pacarku itu bercita-cita jadi chef terkenal. Makanya dia gencar dan giat belajar, berusaha mendapat beasiswa agar bisa pergi ke Itali. Makanya yang menjemputku, Vello, kakakku. "Udah ganti lagi? Kayak ban serep ya?" Situ nyindir, Mas?! Aku mendelik tak suka. Dipikir-pikir kok malah aku yang ditindas Andes?  Aku kan punya rahasia besar Andes Mulya Arkananta itu... "Atau jangan-jangan kamu suka kakakku, Vello." balasku sinis. Andes melotot, rahangnya mengatup. Matanya tajam mengarahku. Tania ikut memandangiku heran. "Yuk Kak, pulang." Vello menatap sekilas cowok yang masih berdiri memandangiku. Tangannya posesif merangkulku. "Lo, jangan macem-macem sama adek gue." ujarnya sebelum pergi. Sejak itu kalau kami bertemu pastilah ada aura tak enak menguar. Andes dengan tatapan tajamnya. Sedang aku dengan sindiran halus namun ngena dihati. JLEB! MEMATIKAN! Semakin hari kulihat intensitas kedekatan Tania dan Andes makin terlihat. Tania malah sudah berani menggelayutkan tangannya dilengan Andes. Dan cowok jutek itu seolah sengaja wara-wiri ke kelasku hanya demi bertemu Tania. Yang membuatku kesal, mereka sengaja pula ngobrol lama-lama di kelasku. Aku lebih banyak ngobrol dengan Becky. Hanya saja cewek itu terlalu pedas mulutnya. Sekali dapat hal yang tak enak, dia akan terus berkoar. "Kalian pacaran?" Ini Becky yang buka suara. Aku tetap stay cool sambil menghapal dialog. "Yup!" Percaya diri sekali. Sungguh hal yang tak pernah kudapati saat bersama Tania. Biasanya gadis itu akan selalu merasa rendah hati dan antisipasi. Tapi tidak kali ini. Perubahan yang cukup besar. "Syukur deh," sahut Becky. "Shylo, ntar pas scene yang ini, kita harus dapet kemistri-nya ya?" Agung tiba-tiba menghampiri. "Hah? Scene yang itu?" Aku ragu. Bagaimana aku bisa beradegan mesra dengan Agung? "Nggak bisa di-skip ya? Ini terlalu eksplisit kalo buat teater mah, Gung. Ini kan teater musikal bukan film. Terlalu riskan," sahutku kemudian. Iyalah, masa ada adegan kiss-nya? Memang di luar negeri sana, teater sejenis yang kesemua adegan bisa terasa real, kecuali adegan ranjang. Itu langsung di cut! "Kita ganti aja adegan itu dengan penggambaran secara abstrak, misalnya. Pake penggambaran lagu kek, atau tarian gitu. Kan bisa, Gung." lanjutku. Dia mengangguk,"Terserah sutradara aja ya kalo gitu." Aku mendengus. Ya kalau terserah sutradara, yang ada adegan itu malah di ACC. Aku tahu seberapa dekat Agung dengan Kak Sofyan. "Terserah situ. Pokoknya gue nggak pake adegan itu. Mau pake gue syukur, nggak juga nggak apa-apa. Gue mending jadi cameo kalo gini," sungutku sembari keluar dari kelas. "Shylo," Aku menoleh. Andes? "Kamu kenapa?" "Nggak. Emang kenapa?" aku balik tanya. "Kenapa emangnya dengan adegan ciuman itu? Keberatan? Atau nggak bisa?" Aku mendecih, what?? Kepalaku makin pening dengar kata-kata ambigu dan terdengar meremehkan dari mulut songongnya. "Sori aja, aku bukan penganut liberalis." ketusku. "Yang liberalis itu yang begini," Dia tiba-tiba menerjangku, menghimpitku diantara dinding menuju toilet. Menciumku, melumatku tanpa ampun. Andes sialan!! ° Wangi kayu putih yang semriwing membuatku segar dari kepeningan. Rupanya Andes tengah menggosok punggung dan perutku dengan minyak itu. "Udah enakan? Masih pusing? Apanya yang sakit?" tanyanya beruntun. "Udah. Nggak. Nggak ada," jawabku. Andes mendengus. Telapak tangannya melekat dikening ku. "Agak demam," "Hm..." "Aku curiga, nanti kita ke dokter kandungan." ujarnya. Mataku membelalak. Dokter kandungan... "Tapi seminggu lalu aku dapet, Ndes. Lagian kamu kan selalu pake kondom," cicitku. "Itu nggak berarti berhasil. Pokoknya periksa dulu. Aku pengen mastiin," Andes keukeuh. "Trus kalo udah pasti, dan ternyata aku isi, kamu mau buang dia?" Andes mengernyit,"Tau dari mana kamu kalo aku mau buang dia?" Mataku mengerjap, liquid bening membasah disana. Kuusap pipiku kasar. "Baik, kamu mau buang dia? Ceraikan aku!" Kata keramat yang sesuai perjanjian kami tak akan kuumbar lagi, ternyata tak mampu kutahan. Cerai! Andes memijit pelipisnya. Sedetik kemudian dia menggendongku dan membawaku keluar, ke garasi dan memasukanku ke mobil. "Ndes! Egois kamu!" "Kamu yang egois!" Dadaku naik-turun, ada yang mau meledak dari dalam sana. "Aku sudah bilang, nggak pernah ada kamus cerai dalam hidupku. Camkan itu!" katanya begitu dingin dan datar. Entah kemana Andes membawaku. Ya, ke rumah sakit. Dia pasti akan menyuruh dokter menggugurkannya kan? Apa yang tak bisa Andes lakukan? "Ayo turun, apa perlu kugendong ala pengantin kayak tadi?" dia mendelik ku dengan sorot tajam. Mau tak mau, daripada malu diperhatikan orang yang lalu-lalang, aku memilih menurut. Turun, walau dengan tertatih, karena sungguh, kepalaku pusing. "Aish! Nyusahin aja," dengusnya sambil merangkul tubuhku. "Ck, nyusahin kan? Ya lepas, bego! Nggak usah pake rangkul-rangkul segala." sengitku sambil menepis lengannya. Akhirnya keluar juga aura macan betinaku. Andes menatapku tak kalah tajam. Dia tak peduli dan mendadak tuli, dia tetap merangkulku hingga masuk ke lobby rumah sakit dan langsung membawaku ke IGD. "Ini urgen, dok. Suhunya tinggi, dan saya pikir dia hamil." kata Andes begitu berhadapan dengan dokter jaga. "Ah... Baiklah, Anda tolong isi data pasien di loket pendaftaran. Ibu akan saya periksa urine nya." Andes berlalu. Aku bernafas lega. "Dok, tolong saya. Kalo hasilnya positif, bisa diganti jadi negatif?" "A-apa? Anda menyuruh saya memanipulasi keterangan sesungguhnya? Bisa dicabut ijin saya, Bu." tolak dokter muda itu. "Saya mohon. Kalo positif, suami saya akan menggugurkan kandungan saya.  Dokter tega? Dokter lebih memilih mana? Memanipulasi keterangan atau membiarkan bayi ini dibunuh? Itupun kalo saya hamil, kalo nggak, ya nggak apa-apa." ujarku. "Ibu!" Aku meringis. Ya, permintaanku sudah keterlaluan memang. Tapi daripada Andes membunuhnya? Apa aku akan bertahan? "Dok, bisa ketauan nggak kalo pake USG?" tiba-tiba Andes muncul. Wajahku memucat. Jangan-jangan tadi Andes menguping. Gawat! °° Hi, readers! Maaf, kependekan Soalnya idenya stuck sampe sini Yaaa...☹️ So Gomaweo & Saranghae tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD