°
°
"KAMU kenal Andes? Waaa ... Kok bisa? Padahal dia selain pendiam, orangnya seperti penakut gitu. Ansos lagi! Beneran, kamu kenal dia? Andes yang kukenal waktu di SMP adalah Andes yang cupu," sela Becky, teman sebangkuku.
Pasalnya kemarin dia ketemu aku sama Andes barengan di Sanggar. Padahal ceritanya bukan seperti itu. Itu kebetulan.
"Penakut? Ansos? Ck, yang kulihat dia nggak gitu. Dia cowok terjutek yang pernah ada dimuka bumi. Cowok tersongong dan lebay. Huh!"
"Apa mungkin teman SMP ku bukan Andes yang itu?"
"Bisa aja. Tapi bisa juga iya. Nggak ada yang tau kan apa yang terjadi dalam hidup ini, khususnya dalam hidup seorang Andes," ujarku.
Hari itu aku harus menjalani asistensi bersama beberapa kating dan teman sekelas. Anak-anak kelas sore memang tergolong sedikit. Jadi kami tak terlalu ribet. Bisa sedikit santai. Sampai hampir Maghrib kelas baru dibubarkan.
Tania temen sekelasku yang ikut asistensi memanggilku. Dia minta tolong padaku menemaninya ke perpustakaan.
"Sore-sore gini ke perpus, auranya beda Shy."
"Dasar aja lo penakut," cetus ku.
Tania terkekeh. Perpus ternyata sepi. Hanya beberapa orang yang tengah duduk khusyuk membaca. Dan ada pula yang sibuk mengetik di laptop nya. Lagi nugas mungkin.
"Tan, aku kesana dulu ya. Baru inget mau nyari novel,"
Tania mengangguk. Lalu aku menyusuri lorong di antara rak-rak buku. Tapi runguku menangkap suara-suara aneh. Suara orang melenguh. Lenguhan yang aneh. Ah, dimana aku pernah mendengar lenguhan serupa?
Langkahku mendekat ke arah suara itu. Dan ...
Mataku melotot. Mulutku menganga. Apa itu? Sepasang. Oh, bukan. Aku menggeleng. Dua cowok! Mereka lagi ngapain ?!
Tunggu, rasanya aku mengenal salah satu cowok yang tengah bergulat di sana. Namun apa benar dia? Kucermati lebih dekat lagi, dekat lagi.
Aku tersedak ludahku sendiri. Reflek aku menutup mulutku.
"An-andes?"
°
Wangi aromaterapi bunga camomile menguar di ruangan empat kali empat persegi ini. Aku masih menikmati acara mandiku di bathtub. Pegal-pegalku rasanya hilang sudah setelah sebelumnya aku dipijat relaksasi.
"Ijinnya ke Spa, aku cari di tempat biasa, nggak ada. Malah spa-nya dirumah," tiba-tiba seseorang ikut masuk ke dalam bathtub.
"Ndes! Sempit tau?!"
"Tau." Andes mengambil posisi ternyamannya.
Bersandar ke dinding lalu menarikku ke pelukannya.
"Jangan marah," ucapnya.
"Dia cuma aktris yang numpang beken di agensiku."
"Aku nggak marah. Apa hakku?"
Aku berbalik, tapi dia memelukku dari belakang. Mengecup tengkuk dan area belakang telingaku. Seketika bulu romaku meremang. Selalu saja Andes memberiku sensasi lebih.
"Ndesh ... Udah,"
"No. Kita main dulu ya? Hm?"
Bibir dan tangannya sudah bergerilya kemana-mana. Benar-benar munafik! Bibirku bicara tidak tapi tubuhku terus merapat menginginkan lebih. s**t!
Kedua tanganku sudah melingkar di lehernya. Sikap memimpinku yang menjadi favorit Andes.
Oh, Shylo kau bahkan sudah tahu apa yang jadi kesukaan Andes!
Ranjang kami jadi saksi bisu atas malam-malam panjang panas kami. Oh bukan. Seisi rumah ini. Andes kadang tak tahu tempat. Di dapur, di ruang keluarga, di kamar mandi seperti sekarang ini entah untuk ke berapa kalinya. Tak tahu lagi, apa ini layak untuk dikatakan cinta? Kami saling membutuhkan. Dan sedapat mungkin kami tak saling mengganggu kebebasan masing-masing.
Selama dua tahun pernikahan kami, baik aku maupun Andes belum pernah mencoba untuk mencari yang lain. Andes tak pernah berbohong selama ini. Tapi, di masa lalu, ya ... terlalu banyak kebohongan yang dia ciptakan.
Dan dia pun tak pernah menceritakan siapa saja mantannya. Walau aku pernah memergokinya dulu saat dia pergi bersama beberapa cowok dan terakhir sama Tania. Bayangan gadis manis itu membuat moodku turun.
"Kenapa, hm?" Andes masih setia menopangkan dagunya di bahuku.
"Nggak."
"Kamu udah lama nggak pernah cerita tentang apapun," tukasnya.
"Oya?"
"Hm,"
"Nggak ada yang harus kuceritain," sahutku cepat.
"Tetaplah begini, jadi Shylo yang manis..." bisiknya.
"Hm... Ndes, udahan yuk?"
"Apa?!" Dia menyentakku.
"Udahan, dingin." kulepaskan kungkungan tangannya.
Andes diam. Dia pikir aku mengajak udahan apa? Cerai, maksudnya? Tapi kenapa reaksinya begitu?
"Kalo ngomong tuh yang jelas." ketusnya.
"Kamu kira aku minta cerai? Maybe right, next chance."
"Coba aja!" dia mencengkram bahuku.
"Sakit Ndes!" pekikku.
"Bodo!" dia menghimpitku diantara dinding kamar mandi.
"Sekali lagi kamu bahas cerai, awas aja." ancamnya.
Aku mendongak, menatap tajam menantangnya.
"Daripada suatu saat kamu tiba-tiba cerein aku? Mending aku siap-siap kan?"
"Kamu kenapa? Masih mikirin soal Erika?!" bentaknya.
"Ya! Emang ada produser dan aktrisnya pelukan? Kecuali ada hubungan spesial."
Sebelah alisnya terangkat dengan tatapan yang masih mengintimidasi. Tersenyum, mungkin suka dengan jawabanku barusan. Atau, kebalikannya?
Kedua tangannya mengungkungku, wajahnya mendekat. Hembusan nafas beraroma mint menerpa kulit leherku.
Bbrrrr...
"Kamu cemburu," desisnya.
"Aku suka,"
Kini dia menjilat di sana-di sini. Tubuhku mulai mendingin. Aku merasakan bumi berputar. Gempakah? Dan aku merasakan gejolak di perutku, mual.
Kudorong tubuh Andes, lalu aku menggapai wastafel.
Hoekk... Hoekk...
Aku pun rubuh.
°
"Kamu ngedeketin aku agar aku tutup mulut kan?" sarkasku.
"Ya,"
"Aku bukan biang gosip. Itu hakmu mau bermain dengan siapa."
"Enyahkan pikiran negatifmu padaku." bantahnya.
"Ck, emang kamu pembaca pikiran? Lalu yang kulihat waktu itu apa? Ploncoan? Walaupun aku nggak suka gay, bukan berarti aku membencinya. Kalian juga manusia. Aku hanya berdoa semoga Tuhan memberi kalian hidayah biar tau jalan pulang," tandasku.
"Oke, jadi apapun yang kamu liat tentangku di masa lalu, lupakan. Bisa?" Andes menatapku lekat.
"Bisa. Why not?"
Aku pun melenggang pergi. Gila. Orang se-cool Andes takut juga rahasianya terbongkar. Takut ketahuan dia seorang penyuka sejenis. Cih!
Aku bergidik sebelum masuk kelas. Tania menyambutku dengan senyumnya yang manis.
"Becky nggak masuk hari ini. Biasa, lagi dapet," ujarnya saat aku duduk.
"Kenapa nggak periksa? Biasanya sakit saat haid kemungkinan ada miom," sahutku sok tahu.
Tapi bukan sok tahu juga. Aku pernah membaca artikel tentang kesehatan alat reproduksi pada wanita. Dan itu penting untuk kita tahu.
"Mungkin di pap smear, ya Shy?"
"Jangan di paps, USG aja dulu. Becky kan masih gadis," celotehku.
"Eoh? Iya? Kupikir bisa pap smear,"
Aku menggeleng,"Nggak gitu Tan. Makanya kita jadi cewek harus ngebekali ilmu biar minimalnya tau tentang diri dan tubuh kita."
Tania mengangguk, memberikan seulas senyum.
"Oya, Shy. Tadi aku kenalan sama cowok, ganteng banget! Emang nggak berotot kayak Ji Chang Wook Oppa, atau sekeren Keanu Reeves. Tapi cowok ini, pas. Aku juga nggak tau apa yang menarik dari dirinya. Begitu liat, begitu jatuh hati," papar Tania heboh.
"Waa ... selamat ya? Akhirnya ada juga yang mau kenalan sama kamu," kekehku.
Tania menyenggol bahuku sambil tersipu. Bucin mah tetap aja...
"Namanya Andes. Eh, mungkin kamu kenal?"
Eh, Andes?
"Nggak. Nggak kenal. Nanti kenalin ya?"
"Ogah. Ntar dia suka sama kamu,"
"Dih!" cebikku.
Tania terkikik,"Iya. Tenang aja nanti kukenalin,"
Andes, maksudmu apa ini?
°°
Hi, readers!
Andes punya gangguan jiwakah?
Ada apa ya dengan pasangan ini?
Penasaran?
Pantengin terus Di Luar Ekspektasi ya gaes...
Happy reading
So
Gomaweo & Saranghae
tbc