°
°
Aku kenal Andes cukup lama. Hanya sebatas kenal begitu saja. Hampir sama dengan waktu aku dan Mas Wisnu jadian, empat tahun lalu kurang lebih.
Bagiku cukup tahu saja, gimana sosok Andes itu. Cowok terjutek dan ansos di angkatanku. Dia akan memasang raut jutek dan malasnya cuma sama makhluk yang namanya : PEREMPUAN.
Selain juteknya yang keterlaluan, juga wajah cantiknya itu loh...
Saat ini lelaki yang kusebut suami itu tengah memilah-milah berkas proposal dan beberapa script bakal dibawanya ke agensi. Gurat serius dan datar selalu nampak diwajahnya. Aku malah kuatir, suatu saat wajahnya kram dan kaku. Kanebo kering kalah kakunya! Heol!
Bibir tipisnya itu sesekali digigit bahkan dijilat lidahnya sendiri. Ternyata, dia bisa seseksi itu ya?
"Kamu ganggu, gih sana ke kantin aja." cetusnya tiba-tiba tanpa melihat ke arahku.
Aku cemberut. Selalu. Dianya sendiri yang minta ditemani di kantornya. Sekarang, cuma diliatin doang, sudah diusir ke kantin.
Aku masih betah duduk di sofa sambil menatap suamiku. Tentu saja dia merasakan hunjaman tatapanku. Yang akhirnya mempengaruhi atensinya. Dia menggeleng.
"Shyloo..."
"Iya."
Kalau nada seperti putus asa penuh penekanan itu sudah keluar dari mulutnya, aku akan patuh. Karena kalau seorang Andes marah, punah lo! Aku menghentakkan kakiku seraya keluar dari ruangan si jutek Andes Mulya Arkananta. Sepertinya dia butuh siraman rohani.
Tiba di kantin aku malah bingung sendiri. Biasanya ada Gea, asisten Andes, yang menemani. Tapi Gea masih cuti menikah. Ah, akhirnya gadis itu menikah juga. Tiga hari lalu aku dan Andes datang ke pesta pernikahannya. Tadinya Andes menolak. Tapi kupaksa. Jadi atasan tak ada rasa empatinya sama sekali sama bawahan. Itulah Andes.
Aku juga kurang bahkan gagal paham, kenapa orang sedingin dan sedatar Andes bisa kunikahi dan bisa-bisanya kami bercinta. Cih!
°
PLAK!
Merah tergambar di pipi chef muda itu. Beberapa hari ini Wisnu terus mengejar ku meminta kembali. Aku merasa terintimidasi dengan kelakuannya. Aku merasa terganggu dan tak nyaman. Kenapa tak cukup pahami kalau aku dan dia end?
"Dia udah nampar lo. Apa perlu gue tambah pake bogem mentah?"
Sekali lagi orang sinting itu muncul tiba-tiba dan memperkeruh suasana.
"Kami belum berakhir," Wisnu masih bertahan dengan argumennya.
"Ck, belum berakhir? Yakin?"
Kedua tangannya yang sedari tadi berada disaku jeans-nya, perlahan telah berpindah posisi merangkul pinggangku dengan posesifnya.
"Ndes, jangan macam-macam..." gumamku.
"Mauku cuma satu macam kok," sahutnya.
Dia mengikis jarak diantara kami. Semakin merapatkan tubuhnya. Lalu,
Chup
Benda kenyal itu menempel sempurna dibibirku. Hanya menempel. Bukan yang lainnya. Saat ini pikiranku kacau! Seorang Andes menciumku di area umum? Sudah sintingkah dia?
Andes lalu menatapku, sedangkan aku yakin mataku membola karena syok. Aku tak tahu apa arti tatapannya. Yang pasti gelenyar aneh merambatiku sejak itu.
"Kamu gila!" desisku.
Sebuah smirk yang cukup menciutkan nyali tercipta dilengkungan bibir tipisnya. Tiba-tiba Wisnu menarik bahu Andes.
BUGH!
Aku ikut meringis saat tinju Wisnu mendarat di rahang Andes.
Anehnya cowok itu malah nyengir begitu mendapat pukulan cukup telak. Seraya meludah, Andes berusaha memperkokoh pertahanannya. Aku malah tak yakin Andes mampu menahan gempuran Wisnu.
"Gimana? Baru liat cewek lo gue sosor, lo udah kayak gini. Bayangin Shylo yang liat lo half naked di dapur cafe lo, b******n!"
Wisnu tercekat. Dia berbalik menatapku penuh rasa bersalah.
"So, mulai detik ini, hari ini Shylo milik gue. Dia cewek gue. Gue bakal nikahin dia. Paham?"
Aku melotot. Apa? Nikah? Pacaran aja nggak! Dekat pun jauh. Yang ada kami selalu beradu argumen, kami layaknya anjing dan kucing, bagaikan air dan api. Tom & Jerry versi kekinian.
"Shy...?" Wisnu bertanya dengan tatapnya.
"Why not?" yakinku.
"Ini nggak bener. Kita yang bakal nikah, Shy." sergahnya.
"Udah aku batalin. Cincinnya udah ada di kamu kan? Ya udah,"
"Shy, aku nggak main-main." Wisnu berusaha meraih lenganku.
"Cewek pantry itu mana?"
"Shylo!"
"Aku akan nikahin Andes, Mas."
Aku menghadap Andes, kupandangi wajahnya. Dia mengernyit heran. Aku mendekat.
Kini, giliranku yang menciumnya. Kedua tanganku melingkar dilehernya. Aku yang mengintimidasinya. Aku yang memimpin. Kueksplor bibir tipis itu. Dan tanpa sadar Wisnu serta orang-orang yang sejak tadi menonton kami pun telah bubar.
Kuputus tautan kami. Nafas kami masih saling memburu. Nggak tahu malu! Pastilah cercaan itu yang esok lusa akan kudengar. Karena kami melakukan hal privat ditempat umum.
"Apapun niatmu, btw... Makasih, untuk mengembalikan harga diriku." ujarku.
GREB.
Andes menarik lenganku ke tempat parkir. Menyuruhku masuk ke dalam mobilnya.
"Ap--mmphh!"
Bibir Andes kembali meraup disana. Lumatan panjang dan dalam. Lembut. Andes memperlakukanku begitu lembut. Cowok cantik ini ternyata piawai dalam hal berciuman.
"Salah sendiri, main-main sama macan tidur..." ucapnya ditengah ciuman kami.
°
Merasa bosan sendiri di kantin, aku memilih kembali ke ruangan Andes.
Cklek.
Andes tengah berpelukan. Ada rasa asing dan itu menyakitkan. Mataku memanas. Kenapa harus aku alami lagi kesakitan serupa?
Kuurungkan untuk masuk walau terlambat. Andes dan perempuan itu sudah melihatku.
"Shylo!" Andes menarikku keluar.
"Apa yang kamu liat?"
"Kalian pelukan."
Andes mendengus.
"Dia Erika, aktris yang tengah naik daun itu. Dia jadi aktrisku udah lama,"
Aku masih diam.
"Kamu nggak salah paham kan?"
"Nggak. Dan itu nggak perlu kan? Ya udah, aku pulang naik grab aja." ujarku.
"Aku anter,"
"Nggak perlu, abis ini aku mau ke spa. Boleh ya?"
Andes menatapku,"Kamu ngehindar. Kamu marah. Kamu cemburu."
Aku menggeleng,"Nggak. Trust me, okay?"
"Nggaknya cewek, berarti ada yang nggak beres."
"Aku nggak perlu cemburu. Aku tadi cuma bosen dikantin sendirian, nggak ada Gea. Aku pergi dulu ya," ujarku sambil melenggang pergi menuju lift.
Sebenarnya perasaan apa ini? Kami berdua sadar kami telah mempermainkan pernikahan yang seharusnya kami jaga baik-baik. Tapi ini? Kedua pihak jelas-jelas tak punya rasa ketertarikan satu sama lain. Hanya karena satu kebutuhan dan kebetulan takdir mendorong kami terjebak lebih dalam lagi. Ini seperti maze, labirin dari perasaan kami yang tak pernah menemukan titik temu.
Aku sudah merasa sakit, apa hal ini terjadi juga pada hatinya? Aku menggeleng. Nggak mungkin.
Andes tak mungkin punya perasaan yang sama. Andes tak mungkin merasakan kesakitan ku. Dia tak mungkin merasa cemburu.
Ahh...sudah lama sekali masa itu. Masa dimana Andes begitu berbeda. Dimana dia sering memberiku perhatian. Kapan itu terjadi lagi?
°°
Hi, readers!
Cinta macem apa yg mereka punya?
Ada yang bisa nebak?
So
Gomaweo & Saranghae
tbc