°
°
"Mmpph--"
Pagutan itu makin liar dan dalam. Aku terengah-engah dibuatnya.
"Ndeshh..."
"Hm.."
Netra kami bertautan. Sekejap dia melepaskan pagutannya. Menyentuh bibirku dengan ibu jarinya.
"Sekali lagi," bisiknya seraya menyesap di ceruk leherku.
Aku tak keberatan sama sekali saat dia memasuki teritorialku. Toh aku juga butuh, aku juga menginginkannya. Sampai tiba di akhir pelepasan kami, Andes benar-benar membenamkannya dikedua garbaku. Lonjakan kenikmatan yang Andes beri tidak cukup disitu, dia mengecup disana-sini. Aku sangat suka saat Andes begini, dia akan memperlakukanku lebih manusiawi dan peka.
"Jadi kamu ganti alkonnya?" tanyanya begitu selesai dengan hajatnya.
Nafasnya masih menderu. Tubuhnya yang basah terlentang disampingku. Kurapatkan selimutku sampai sebatas d**a. Kuserak rambutku yang mulai panjang. Aku mendengus begitu mendapati rontokan rambut dijemari. Hal biasa yang terjadi setiap sesi panas kami. Rambutku rontok!
Lama-lama bisa botak gue!
"Hm, pake IUD. Boleh?"
"Aman? Kenapa nggak suntik aja?"
"Dokter bilangnya aman sih. IUD kan masa pakenya 3-5 tahun. Kalo suntik, itu hubungannya sama hormon, aku nggak bisa pake itu. Nggak apa-apa?"
Andes menoleh lalu merubah posisi berbaringnya menyamping, menghadap padaku. Alisnya bertaut, keningnya mengerut.
"Yaaa...siapa tau kamu pengen cepet-cepet punya anak," imbuhku.
Dia diam, masih dengan tatapan yang tak pernah bisa kumengerti. Sejak awal pernikahan, Andes udah wanti-wanti, kalau dia tak inginkan anak.
Dia mendengus, lalu duduk dan masih menatapku.
"Ada apa?" tanyaku.
"Aku udah bilang--"
"Iya. Tau. Ngerti." potongku cepat.
Aku suka kesal kalau dia selalu mengatakan hal yang sama. Dikira aku pikun atau bego. Huh!
"Bukan apa-apa, kita nggak punya cinta. Emangnya anak bisa kenyang cuma dikasih t***k sama makan doang? Nggaklah! Mereka butuh kasih sayang & cinta. Dan kita nggak punya itu!"
Aku mengernyit. Disini seolah aku yang salah. Seolah aku yang menolak hamil, punya anak. Oh, heol!
"Ya udah, santai aja kali. Nggak usah ngegas juga," aku terlanjur kesal yang akhirnya aku turun dari ranjang masih selimutan.
Andes diam. Aku sudah berada dibawah shower. Mengguyur kepalaku, semoga aja dengan dihujani air dingin, emosiku mereda. Kenapa sih harus ada makhluk seegois Andes?!
°
"Mas Wis, anniv kita kali ini kita rayain didapurmu ya?"
Kak Wisnu ingin dipanggil Mas, katanya, saat kami resmi pacaran, empat tahun lalu. Jadilah aku memanggilnya 'Mas Wis'.
"Hm? Dapurku? Kurang romantis dong," sanggahnya.
"Nggak, malah sebaliknya. Quality time nya pas banget disitu." kekehku.
Mas Wisnu menjawil pipiku,"Di dapur, kayak drakornya Jo Jung Seok sama Park Boyoung dong? Plagiat, dasar..."
"Eh? Aku bukan mau ciuman ala mereka ya. Sori. Dari pada dinner di taman, ada lampu tumbler, wine, nggak cocok buat aku. Sekali-kali Mas yang anti mainstream, kenapa?" sergahku.
Mas Wisnu ikut terkekeh,"Yeu ... tuh kan yang Omes disini itu siapa?"
"Nggak mau ngaku." kupoutkan bibirku.
Mas Wisnu kembali terkekeh, lengannya mengulur dibahuku. Menatapku lembut.
Emh ... Mas Wisnu selain ganteng, dia juga seorang chef handal. Sejak sekolah dulu, dia tenar dengan masakannya yang bercita rasa wah!
"Besok lusa aku ada tes. Doain ya?"
"Of course atuhhh ... Tes apaan? Dessert? Main course?"
"Nggak tau juga. Nggak dikasih bocoran. Kalo aku lulus kali ini... Aku bakal ngambil pantry di Itali," sahutnya.
Glek.
"Kok Itali? LDR-an dong kita? Kenapa nggak ambil di Indonesia aja? Biar aku bisa nyusul kalo kangen." protesku cepat.
Mas Wisnu senyum. Mengelus rambutku.
"Itu impianku. Kamu tau sendiri kan? Aku kepengen banget jadi chef terkenal. Ide-ide udah bermunculan tiap kali liat makanan."
Aku diam. Tapi LDR? Demi apa?
"Kenapa, Shy?"
"Aku seneng kamu punya cita-cita setinggi langit kayak gitu. Tapi--"
Chup
"Kuatir aku selingkuh?" tanyanya setelah mengecupku.
Sungguh tak bertanggung-jawab!
"Nggak. Aku nggak akan selingkuh, aku nggak suka bule." cebiknya.
Kurotasi kedua mataku. Emang selingkuh itu bisa sama bule aja? Lokalan juga bisa.
"Hm, sekarang aja bilang nggak suka kalo ketemu beneran yang bibirnya tebel kayak Angelina Jolie atau Demi Levato, gimana?"
Mas Wisnu makin terkekeh. Kucubit pinggangnya, dia mengelak.
"Ampun nggak?"
"Ampun, sayang..."
"Ih, jijay! Kemanisan, Mas."
"Kamu nih, dipanggil sayang ogah."
"Ntar aku diabet," kikikku.
Esoknya, aku sudah siap dengan cake yang kubuat sendiri. Memang tak seenak cake buatan Mas Wisnu. Tapi lumayanlah...
Aku berdiri mematung didepan pintu cafe miliknya. Closed?
Serta-merta kupukul jidatku, ck. Bisa-bisanya aku lupa. Bukannya Mas Wisnu bilang hendak pulang dulu ke Yogya?
Sejak pagi ponselnya tak aktif. Kupikir mungkin sudah dipesawat. Dia bilang pengen cepat-cepat ke Yogya dan kembali di hari yang sama agar bisa merayakan hari jadi kami.
Tak apa, toh aku masih punya kunci duplikat cafe Mas Wisnu. Aku ingin memberinya surprise begitu dia kembali.
Setelah masuk kuedarkan pandanganku dan melangkah masuk ke pantry cafe.
Mataku membelalak, demi melihat pemandangan diatas meja pantry. Mas Wisnu yang setengah telanjang dan dibawahnya seorang wanita yang tengah mengerang kenikmatan.
Aku sudah membayangkan malam perayaan hari jadi kami yang romantis, dan erotis bahkan! Bukankah, harusnya aku yang disana, aku yang diposisi wanita itu?
Aku menggeleng keras. Tidak! Aku tak semurah itu! Aku bukan jalang!
Tapi tetap saja hatiku sakit.
Tubuhku limbung hingga menubruk pintu. Sontak saja kegiatan penuh nikmat itu terhenti. Mas Wisnu begitu terkejut. Cepat dia memungut boxernya.
"S-shy... A-aku--" dia menghampiriku.
Aku mengangguk, kuhirup udara sebanyak-banyaknya. Agar lega, agar lepas emosiku.
"Aku bisa jelasin,"
"Ya?"
Kulirik perempuan gatal tadi yang mengerang kenikmatan. Memang Wisnu senikmat itu? Kami saja tak pernah melakukan lebih dari sekedar berciuman.
"Aku mencintaimu, Shy."
"Hm, lalu?"
"Aku ingin kita menikah,"
Aku mengangguk-angguk.
"Kamu setuju, Shy?"
"Mas?! Gimana sih? Trus aku?"
Ternyata perempuan gatal itu nggak terima dengan pernyataan Mas Wisnu.
"Shy," dia menggenggam jemari ku.
Aku menatapnya sekian detik, lalu kutepis genggamannya. Aku menyeringai meremehkan.
"Cinta bikin aku bego. Mikir nggak sih, orang kalo udah bikin salah, harusnya minta maaf, bukan ngajak kawin! Kamu enak-enak sama dia tapi nikah ngajak aku. Kamu pikir aku i***t, apa?!"
"Maafkan --"
"Putus! Kita putus! Aku benci perselingkuhan. Aku benci kebohongan. Aku benci kamu, Mas! Makasih, udah buka topeng mu dan kulihat sebenarnya apa dirimu."
PLOK!
Kulempar cake ke wajahnya, yang kubuat penuh cinta. Aku tersenyum miris.
"Bikin anak di dapur pantry? Wow!"
Aku menoleh. Eh? Sejak kapan si songong ini ada disini.
"Andes?"
"Aku laper. Kebetulan lewat sini dan tadinya pengen nyapa temen lama. Eh, ternyata lagi ada drama. Drama recehan pula!"
"Perutku mulai mual. Anterin aku nyari tempat makan yang oke, yuk!" ajaknya sambil menarik tanganku.
"Shy! Shylo!" kejar Mas Wisnu.
Andes berbalik dan mendorong tubuh Mas Wisnu.
"Jangan mendekat. Haram uaran nafasmu disekelilingnya. Bersikaplah layaknya laki-laki. Oke?"
"Oya, dan..." Andes meraih jari manis ku.
Dia melepas cincin yang tersemat disana lalu melemparnya.
"Dia nggak butuh itu!"
°°
Hi, readers!
Waa...gimana?
Di storyku ini, pasti kalian akan nemuin part2 flashback
Entahlah ini plot macem apa...
Aku juga kurang ngerti
Btw, Vomment-nya ya gaes...
So
Gomaweo & Saranghae
tbc