10. Fitting

1884 Words
"Kamu sama mama aja ya fitting bajunya," ucap Nick seraya bangkit dari sofa. Setelah kepulagan Grace, mereka segera bersiap untuk pergi ke sebuah butik yang pemiliknya ditugaskan untuk merancang gaun pernikahan mereka. Jenna sudah sangat tertarik melihat lembaran desain gaun yang Mia berikan beberapa saat yang lalu. Matanya berbinar. Benaknya mulai membayangkan bagaimana rasanya mencoba gaun secantik ini. Ada rasa tidak sabar. Apalagi saat melihat setelan jas hitam yang berada di lembar selanjutnya. Pernikahan ini memang atas dasar perjanjian semata, namun Jenna sudah merasa tersipu saat otaknya melukiskan adegan dirinya mamakai gaun putih dengan ekor menjuntai panjang sambil menggangdeng lengan Nick yang dibalut jas dengan aura gagah. Jenna sedang asik berangan-angan. Semua nampak indah. Namun segalanya langsung luluh lantak begitu Nick berucap bahwa ia menyuruh Jenna pergi berdua hanya dengan Diana saja. Tanpa dirinya. Jenna seperti tak menyangka kalimat itu hinggap di telinga hingga dia harus memastikan ulang jangan-jangan Jenna hanya salah dalam mendengar. "Gimana Nick?" tanya Jenna. "Kamu sama mama, aku mau ke kantor," jawab Nick. Kedua tangan dan wajah Nick masih fokus pada layar ponsel. Dia bahkan sepertinya tidak mendengar bahwa Jenna sempat bertanya tentang gaun mana yang menjadi seleranya. Alih-alih menjawab dan ikut melihat ke arah lembar berisi potret gaun putih itu, Nick justru lupa dengan pertanyaan Jenna dan perhatiannya terus teralih pada layar ponselnya. "What?" "Aku ada meeting penting. Kamu tau sendiri bentar lagi aku harus cuti nikah, abis itu kita ke Jerman. Jadi kerjaan disini harus aku selesein dulu," terang Nick. "I see. Ok kalo gitu, take care," jawab Jenna seraya melepas kepergian calon suaminya. Jenna masih bisa mengagguk dan tersenyum tipis saat Nick berlalu menggunakan mobilnya. Namun tidak dengan Diana. Dari arah ruang tengah, ia sudah berteriak marah memanggil anak lelakinya namun semua sudah terlambat. Mobil Nick sudah menghilang dibalik gerbang rumah. "Oh Mein Gott," pekik Diana. Dia beralih menatap Jenna sambil bertanya mengapa ia begitu saja membiarkan Nick pergi. Jenna lantas menjelaskan bahwa Nick tidak turut mengantar mereka karena urusan pekerjaan yang cukup mendesak. Walau begitu, Diana tetap saja tidak terima. Baginya, urusan pernikahan adalah sebuah momentum yang tidak terulang. Seharusnya Nick memprioritaskan hal ini dibandingkan dengan meeting yang seharusnya bisa dihandle oleh Theo. "It's ok," ucap Jenna. Beberapa kali Jenna memberi Diana pemahaman bahwa dirinya tak masalah jika harus pergi tanpa Nick. Tidak ada Nick bukan berarti acara fitting baju akan gagal. Ada atau tidak ada dirinya, semua akan tetap berjalan normal. Setelah Jenna membujuk Diana agar segera bersiap dan beralasan sudah ditunggu oleh pihak butik, barulah Diana berhenti mengomel. Dia segera masuk mengambil sebuah tas kecil keluaran brand Prancis, kemudian mengajak Jenna masuk ke salah satu mobil yang berjejer di depan pintu. Jenna pikir telinganya sudah aman dengan curahan kekecewaan Diana, namun ternyata tidak. Diana masih terus menggerutu sepanjang jalan hingga mereka tiba di sebuah bangunan bernuansa kaca yang memamerkan sederet gaun berwarna serba putih. Hampir semua pekerja sibuk dengan pelanggan mereka. Bulan ini, kelihatannya memang banyak dilangsungkan perayaan pernikahan. Ini adalah pertengahan tahun yang bertepatan dengan libur musim panas di Jerman. Jenna terus memperhatikan sekeliling. Semua calon mempelai wanita datang bersama calon suaminya. Tentu mereka datang dengan raut bahagia. Namun sayang, hal itu berbanding terbalik dengan situasi yang Jenna jalani kali ini. Nick tidak ada. Hatinya tergores sedikit, namun tak apa. Lagipula pernikahan ini bukan pernikahan sebenarnya. "Atas nama keluarga Schneider?" tanya seorang pegawai berseragam merah muda dengan nametag bertuliskan Liana. "Iya," jawab Jenna canggung. Dia sedikit tidak nyaman dengan panggilan itu. Akan menyandang nama belakang Nick masih terasa cukup aneh. Jenna mulai mengeja jika namanya nanti berubah menjadi Jenna Schneider. Apakah perpaduan dua nama itu terdengar cocok di telinga? "Senang sekali mendapati anda berkenan datang kesini. Mari silakan naik," tuntun Liana. Setelah mendengar nama Schneider, hampir seluruh karyawan disini memang berubah sikap menjadi lebih ramah. Entah hanya perasaan Jenna saja atau memang begitu adanya. Nyatanya, terkadang uang dan kekuasaan memang bisa membeli segalanya termasuk sebuah pelayanan yang lebih baik. "Ini jas untuk Nick Schneider," ucap seorang lelaki yang datang menyusul ke lantai dua. "Ok, makasih," jawab Liana yang lantas beralih menatap Jenna, "Kami harap, ini bisa sekalian dicoba biar kalau ada yang kurang sesuai, bisa segera kami perbaiki." "Dia lagi meeting dulu, coba nanti saya hubungi," jawab Jenna basa basi. Nyatanya, Jenna tidak mungkin mengganggu Nick yang tengah memimpin rapat perusahaan. Dan sebisa mungkin, Jenna memilah kata agar tidak terkesan Nick memang sengaja tidak turut serta. Selain tak ingin membuat nama Nick terkesan buruk karena tidak datang saat fitting baju pengantin, Jenna juga sedang menjaga hati dan juga menjaga harga diri. Di sebelah Jenna, Diana memberi isyarat dengan dua alis yang terangkat. Bertanya tentang apa yang sedang Jenna dan Liana bicarakan. Seolah merangkap sebagai menerjemah, Jenna lantas menjelaskan bahwa ketidak hadiran Nick adalah apa yang saat ini menjadi topik. Sesuai dugaan, Diana kembali menggerutu walau nadanya sudah berubah rendah. Raut wajahnya juga disetting mode normal. Mungkin dia sadar bahwa mereka sedang ada di tempat umum. Tidak seharusnya bersikap terlalu menarik perhatian. Tidak sampai membuatnya menunggu, Jenna langsung disuguhkan pada tiga pilihan gaun. Semuanya cantik dan jujur saja Jenna kesulitan menjatuhkan pilihan. Jenna tidak bisa tidak tersenyum senang saat mengamati detail gaun yang dibuat dengan sangat menawan. Berada di sisi yang lain, Jenna tak sengaja melihat seorang wanita yang juga berwajah sama bahagianya. Ia pun sedang memilih gaun untuk hari bahagia mereka. Bedanya, wanita itu bisa dengan leluasa meminta pendapat dari sang kekasih hati, sedangkan Jenna hanya bisa membatin sambil merasa iri. Diana ikut memberikan suara dengan memaparkan pendapat versi dirinya. Menilai berbagai sisi mulai dari model, bahan, hingga payet mutiara yang masing-masing memiliki ciri khas yang berbeda. Dia menjelma seorang ibu yang bisa dijadikan teman saat Jenna dilanda bimbang. Sangat menyenangkan, memang. Namun entah mengapa, Jenna masih saja berharap Nick ada disini. Udahlah. Aku kan cuma mau jadi istri pura-pura, tegas Jenna dalam hati. Mengingat bahwa pernikahan ini hanya sandiwara, semakin menambah luka yang semula hanya sebuah goresan kecil menjadi sayatan yang menganga. Jenna merutuki dirinya sendiri, mengapa dia sempat berharap bahwa dia akan merasakan bagaimana menyenangkannya mencoba gaun pengantin di hadapan calon suaminya. Nyatanya, Nick saja seolah tidak menganggap momen ini penting. Seperti hanya formalitas saja. "Mau coba yang ini dulu?" tawar Liana seraya menunjuk pada pilihan gaun pertama. "Boleh. Tapi bisa pinjem kamar mandi dulu nggak mbak?" tanya Jenna. "Silakan, ada di sebelah sana," tunjuk Liana pada pintu berwarna putih. Jenna bergegas menuju toilet dengan pintu bergambar orang-orangan yang memakai rok berbetuk segitiga. Bukan untuk buang air kecil. Jenna hanya ingin bernapas. Rasanya dadanya sesak sekali sejak tadi. Sambil berdiri di depan cermin, Jenna menunduk dan mengatur napas. Dia berhasil membuat dirinya merasa lega. Namun ternyata, syaratnya adalah dengan mengeluarkan air mata. "Aku kenapa sih," gumam Jenna seorang diri. Dia sudah mencoba menyangkal berkali-kali. Membohongi diri tentang alasan rasa perih di hatinya adalah bukan karena Nick. Namun sayangnya tidak berhasil. Wajah acuh serta keputusan Nick untuk tidak ikut kesini terus membayangi benak Jenna. Hatinya berteriak bahwa luka yang ada padanya adalah karena lelaki itu lebih memilih meeting daripada fitting. Nick ternyata menganggap hal ini bukanlah prioritas, pernikahan bukanlah prioritas, dan Jenna pun bukanlah prioritas. "Dasar bodoh," rutuk Jenna seraya menepuk kedua sisi kepalanya. Sebenarnya Jenna masih ragu tentang bagaimana perasaannya terhadap Nick. Kesal dan benci yang sejak dulu tumbuh subur seolah justru mengkhianati dirinya dengan menampakkan bunga. Ada rasa suka namun Jenna tidak tahu bagaimana cara menafsirkannya. Satu yang Jenna yakini, ia memiliki rasa ingin dibersamai. Jenna akui, dirinya mulai menulis nama Nick dalam tiap rencana yang akan ia lakukan. Seolah Nick sudah tercipta untuk ada dalam setiap hari-harinya. "It's ok. I'm ok," sugesti Jenna pada dirinya sendiri. Setelah puas mengikis habis rasa kecewa dan juga sedih, salah satu tangan Jenna lantas bergerak menghidupkan kran. Jenna membasuh kedua telapak tangan, memutar lagi kran ke arah yang berlawanan, kemudian kembali menatap diri. Hanya diperlukan waktu sekitar dua detik hingga Jenna bisa memunculkan lagi senyumannya. Langkah penuh percaya diri kembali terayun menuju tempat dimana Liana dan Diana menunggunya. Keduanya sama-sama tersenyum begitu melihat Jenna mendekat. Diana yang semula berdiri kemudian memutuskan untuk duduk di sofa seraya berkata bahwa Jenna harus segera berganti, karena dirinya sudah tak sabar ingin melihat hasil dari rancangan desainer kepercayaan keluarga Schneider. Ruang ganti ada di sisi kiri. Disana ada dua ruang. Jenna berjalan mendekat ke arah pintu yang terbuka karena sepertinya ada seseorang yang tengah menggunakan ruang yang satunya. Saat Jenna baru akan masuk, dia dikejutkan dengan sosok lelaki yang ia kenal keluar dari ruang di sebelahnya. "Bagus nggak?" tanya lelaki itu seraya merapikan letak kerah jas. "Nick!" "Kenapa? Kok kaget gitu?" tanya Nick yang masih sibuk menatap bayangan dirinya di balik cermin yang ukurannya setinggi dinding. Jenna sempat menghentikan napasnya. Ia mencerna segala situasi dan suasana yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. "Bagus nggak?" tanya Nick lagi. "Kamu ngapain disini?" balas Jenna yang memilih menjawab pertanyaan Nick dengan pertanyaan yang lain. "Fitting baju. Masak iya aku kesini demi liat kamu nyobain gaun pengantin," jawab Nick disertai sebuah kerlingan di sebelah matanya. Jenna tersenyum lebar sambil sedikit menggelengkan kepala. Terkadang dia menyesal mengapa hatinya yang biasanya keras kini menjadi begitu mudah meleleh. "Meetingnya gimana?" "Tadi aku minta tolong Theo. Abis kesana ngasih materi, terus langsung kesini. Aku nggak mau liat kamu nangis gara-gara aku nggak dateng," terang Nick. Mata Jenna yang sudah bulat kini semakin membulat. Ia cukup terkejut dengan kalimat terakhir yang baru saja Nick ucapkan. "Atau jangan-jangan kamu udah nangis?" tanya Nick saat melihat respon Jenna. Jenna segera mengubah ekspresi wajahnya, kemudian berbalik memasuki ruang ganti. "Nggak! Ngapain nangis." Nick seketika melepas tawa begitu melihat reaksi Jenna. Dia yakin dugaan dan ucapannya benar. Tak sampai satu menit berlalu, Liana datang mendekat dan masuk ke ruang ganti untuk membantu Jenna di dalam sana. Sepertinya memang cukup repot memakai gaun itu tanpa bantuan seseorang. Jenna, Nick, dan Diana ternyata memiliki selera yang sama. Ketiganya memilih sebuah gaun tanpa lengan dengan lace yang menjuntai dari pundak hingga batas kaki. Potongan d**a berbentuk V menampakkan kulit putih dari leher hingga batas atas perut. Tubuh Jenna yang tergolong tinggi terlihat ramping. Bagian pinggang ke bawah memiliki potongan yang sangat menunjang lekuk badan. Selanjutnya, di bagian luarnya terdapat lapisan lace transparan yang dibentuk menjadi sedikit mengembang dan menjuntai menyapu lantai. "Kamu cantik," puji Nick begitu melihat Jenna berdiri di depan cermin. "I know," jawab Jenna singkat. Ia sedang mendoktrin dirinya sendiri agar jangan sampai terhanyut oleh Nick lagi. Sambil tersenyum separuh, Nick berjalan mendekat dan berhenti tepat di belakang Jenna. Matanya menatap cermin yang memantulkan manik gelap milik wanita berambut biru itu. Kedua telapak tangan sudah ia simpan di dalam saku celana. Selanjutnya, Nick mendaratkan sebuah kecupan di bahu dan leher Jenna yang memang dibiarkan terbuka. Ada desir yang tiba-tiba membuat bulu roma Jenna berdiri. Nick hanya mendaratkan sebuah ciuman singkat, namun titik yang ia serang ternyata cukup sensitif. Tanpa mengatakan apa-apa, Nick menaruh kepalanya di atas pundak Jenna. Membiarkan dagu yang ditumbuhi bulu tipis menempel pada kulit yang selembut sutera. Kedua mata mereka masih saling mengunci. Namun tak berlangsung lama, karena Jenna memilih menunduk dan pura-pura membetulkan posisi lace bagian bawah yang sebenarnya tidak perlu dibetulkan. "Ntar balik ke apartemen aku aja ya," ucap Nick dengan senyum menggoda. "Nggak. Aku mau pulang dulu. Please, Nick. Aku pengen pulang, lama nggak pulang." "Ok," jawab Nick dengan anggukan kepala. "Tapi aku ikut."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD