Jenna mencium aroma segar sekaligus maskulin. Ini adalah bebauan yang tentu saja bukan berasal dari tubuhnya, namun ia tidak merasa asing. Jenna lumayan familiar dengan wangi yang satu ini.
Saat Jenna mencoba menyadarkan diri dari tidurnya, barulah ia ingat bahwa pemilik parfum itu adalah Nick. Dia sontak membuka matanya lebar. Dan betapa memalukan mengetahui bahwa tangannya masih mendekap tubuh lelaki itu. Bahkan kepalanya sudah menumpang selama sekian jam pada sebagian bahu dan lengannya.
Jika dilogika, tidur dalam posisi seperti ini, bisa saja membuat seluruh sendinya kram. Namun anehnya tidak. Ia justru mendapat waktu tidur yang berkualitas, dan mungkin Nick juga sama nyenyaknya. Terbukti, ia sama sekali tidak terganggu saat Jenna beringsut mundur dari tubuhnya.
Setelah mengubah posisi menjadi duduk, Jenna menepuk dahinya menggunakan telapak tangan. Ia memaksa otaknya bekerja cepat dan berusaha mengumpulkan memori tentang apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Sungguh Jenna seperti orang yang mabuk walau tidak meminum apapun.
"Ya Tuhan," gumam Jenna.
Dia masih sempat menggumamkan nama Tuhan sebelum ia mengumpat berkali-kali saat mengingat bahwa ia sempat terlalu terbawa suasana. Tidur di dalam pelukan lelaki satu ini tidak pernah ada dalam kamus hidupnya. Dan sialnya, kali ini Jenna melakukannya.
Jujur rasa nyaman, damai, dan tenang memang Jenna rasakan selama berada di sisi Nick hingga pagi ini. Tapi tetap saja ini masih terasa seperti mimpi. Mimpi indah memang. Namun seindah apapun mimpi itu, pada akhirnya Jenna tetap harus bangun juga.
Sambil mengacak rambut, Jenna akhirnya menyibak selimut dan beranjak dari tempat tidur. Guyuran air hangat sedikit membuat badannya menjadi lebih baik. Tak hanya membuat tubuhnya lebih segar, tapi sekaligus menghilangkan rasa pegal. Pun dengan suasana hati Jenna yang ikut membaik sedikit.
Bermain gelembung sabun sambil berbicara pada diri sendiri saat mandi adalah hal yang sering Jenna lakukan. Saat dirinya mulai hanyut dalam pikirannya sendiri, Jenna tiba-tiba mengingat tentang ucapan Nick tadi malam.
'Cemburu juga nggak papa. But, wait. Kamu udah mulai suka sama aku?'
"Nggak," ucap Jenna seraya menggelengkan kepala. "Nggak mungkin."
Jenna mengguyur sisa busa sabun dan terus mencoba mengenyahkan bayangan Nick dan segala hal tentangnya yang dengan ajaib bisa membuat hatinya berdebar. Berdebar kencang. Jenna masih ingat bagaimana jantungnya bekerja lebih cepat seperti saat seseorang melakukan olahraga berat.
Begitu Jenna merasa tubuhnya sudah bersih, ia segera memakai bathrobe dan meraih handuk untuk menyeka sisa air di wajahnya. Sambil berdiri di depan kaca, lagi-lagi ia terbawa lamunan tentang momen kedekatan mereka sebelum Jenna pada akhirnya terlelap.
'That's the point. Kalo kamu cinta sama orangnya, semua akan jadi lebih mudah kan?'
'Aku bisa membuat semua jadi lebih mudah.'
Ucapan Nick kembali menggema di benaknya. Pun dengan sentuhan dan pelukannya yang seolah kembali terasa. Jenna bahkan tanpa sadar menggerakkan dua tangannya ke bagian perut seperti posisi sedang memeluk diri sendiri. Ia masih ingat betul saat dimana tangan Nick menyusup di balik selimut dan sukses membuat sebuah desiran di dalam hati. Apakah Jenna sedang merindukan dekapan itu lagi?
"Nein! Oh Mein Gott," pekik Jenna tiba-tiba seraya menepuk kedua pipinya.
Jenna dengan cepat menarik khayalan dan lamunan yang sempat terbang. Memaksa dirinya agar sadar bahwa tidak seharusnya ia seperti ini. Sepertinya isi kepalanya memang sudah tidak beres lagi.
"Jangan lama-lama ngelamunnya, Jenna, sebelum kamu jadi makin gila," ucap Jenna kepada dirinya sendiri.
Begitu keluar dari kamar mandi, Jenna sudah menarik napas panjang. Bersiap menghadapi Nick yang mungkin masih tidur dan harus segera ia bangunkan. Namun, saat ia sampai di area kamar tidur, Jenna justru dikejutkan dengan kondisi ranjang yang sudah rapi.
Kedua mata Jenna lantas memindai seisi ruang. Mencari sosok lelaki yang sempat menempati sisi ranjang sebelah kiri. Hasilnya, tak ada siapapun disana. Bahkan jendela dan pintu ke arah balkon sudah terbuka.
Jenna sudah mondar-mandir hingga dua kali. Keluar ke area balkon, lalu masuk lagi. Mencoba meyakinkan diri bahwa Nick sudah tidak ada disini. Saat Jenna mencoba meraih ponsel untuk menghubunginya, pintu kamar seketika terbuka. Dan orang yang sedari tadi ia cari memunculkan diri disana.
"Kamu dari mana?"
Nick mengernyitkan dahinya sedikit. Cukup aneh mendengar pertanyaan seperti itu sementara ia tidak kemana-mana. Dia hanya pergi ke ruang yang berbeda, dan mereka masih berada di bawah atap rumah yang sama.
"Kangen?" tanya Nick yang hanya dibalas decihan kecil dari mulut Jenna.
Nick sempat tersenyum tipis, namun ia segera melenyapkannya dengan cepat. Sambil berdiri di depan cermin, ia meraih sisir untuk merapikan rambutnya. Sepertinya Nick juga baru selesai mandi. Terlihat dari rambutnya yang masih basah dengan setelan baju yang sudah rapi.
"Baju gantimu di yang sebelah kiri. Nggak banyak, tapi ada beberapa pilihan," ucap Nick seraya menunjukkan salah satu sisi lemari di walk in closet.
Jenna mengambil sebuah dress berwarna cokelat muda. Dia berganti dengan cepat, kemudian duduk di depan cermin untuk mengeringkan rambut.
"Masih lama nggak?" tanya Nick yang tengah duduk mengamati dari tepi ranjang.
"Enggak. Keringin rambut bentar, terus make up," jawab Jenna.
"Itu namanya masih lama," balas Nick yang segera berdiri meraih hair dryer dari tangan Jenna. "Aku bantu keringin, kamu buruan make up."
Nick lantas mengarahkan angin dari hair dryer tepat di atas kepala Jenna. Menyisir helai demi helai sambil menata rambut agar tidak kusut. Sesekali ia berpindah ke sisi samping, belakang, juga tak lupa menempatkan posisi hair dryer dari arah bawah.
"Lemes banget tangannya. Kayak yang udah biasa ngeringin rambut cewek," ucap Jenna.
"Emang."
Jenna hanya ber-oh ria sambil mengaplikasikan maskara pada bulu matanya. Walau sebisa mungkin Jenna bersikap tak peduli, namun otaknya terus bekerja keras menyusun praduga tentang wanita mana yang pernah mendapat perlakuan seperti ini dari Nick. Lelaki satu ini memang pernah dekat dengan banyak wanita sebelumnya. Namun, Jenna tak pernah mengenal satupun dari sederet wanita itu.
Ah, sial. Mengapa Jenna jadi ingin tahu sebanyak ini? Dia sangat penasaran tentang wanita mana dan wanita seperti apa yang pernah ada di posisinya. Diam-diam, Jenna tak suka mengetahui fakta bahwa ada wanita lain yang pernah merasakan belaian lembut jemari Nick saat ia menata rambut. Dan Jenna lebih tidak suka, mengapa ia bisa memiliki perasaan yang sedemikian possessive? Sungguh, ini bukan Jenna sekali. Lagipula, mereka tidak memiliki hubungan apa-apa selain didasari perjanjian pernikahan. Jenna tidak berhak memupuk rasa cemburu dan ingin memiliki.
"Mia," ucap Nick singkat.
"Mia kenapa?" tanya Jenna bingung.
"Aku sering bantu keringin rambut Mia. Selain dia, nggak ada wanita lain," papar Nick.
Tenggorokan Jenna sempat tercekat. Dia berpikir, jangan-jangan Nick bisa membaca pikiran dan perasaan seseorang.
"Aku nggak tanya," ucap Jenna asal.
"Tapi ekspresi kamu bertanya-tanya," timpal Nick dengan wajah yang masih datar.
Jenna mengerjap sebentar, kemudian kembali fokus pada sebuah pewarna bibir di tangan kanannya. Mencoba bersikap biasa saja walau hatinya bergemuruh gaduh. Lelaki satu ini selalu diluar prediksi.
Setelah sekian menit, Nick mematikan pengering rambut kemudian meraih sisir yang tergeletak di atas meja. Ia menyisir perlahan surai berwarna biru yang menjuntai lurus sampai batas punggung dan sedikit bergelombang di bagian ujung.
"Kenapa dicat biru?" tanya Nick.
"Suka aja. Lagian birunya cuma dikit, cuma buat highlight. Nggak suka?" tanya Jenna.
"Kalo aku bilang nggak suka, bakal kamu ganti jadi item lagi nggak?"
"Nggak juga, tetep biru sampe aku bosen," jawab Jenna.
Nick sempat terkekeh pelan kemudian menyudahi gerak tangan. Ia mengembalikan sisir pada tempatnya, lalu berbalik.
"Nick, nanti aku ganti item lagi," putus Jenna saat Nick mulai berjalan menjauh darinya.
Nick menghentikan langkahnya, kemudian menoleh. "Kalo cuma demi aku, nggak perlu. Aku bakal suka apa yang kamu suka."
Jenna selalu gagal menyembunyikan senyum saat mendengar ungkapan sederhana namun berdampak luar biasa bagi hatinya. Dia merasa terlalu bodoh dan polos karena selalu tersipu saat mendengar ungkapan Nick yang bernada merayu.
Setelah memastikan penampilannya sempurna, Jenna berdiri dari meja rias kemudian menyusul Nick ke arah pintu keluar. Keduanya berjalan bersisian saat menuruni anak tangga. Sepintas, Jenna menatap Nick dengan pandangan mata bertanya-tanya saat ia mendengar suara ramai dari lantai bawah. Sepertinya bukan hanya Diana, rumah ini juga sedang kedatangan tamu yang lain.
Begitu sampai di ruang utama, dugaan Jenna benar. John dan Peter tengah duduk di sofa bersama Nora. Theo sedang bermain dengan anak lelakinya. Sementara Mia dan Revan memilih duduk berhadapan di meja terpisah namun masih satu area. Dan yang menjadi spotlight saat ini adalah keberadaan wanita paruh baya yang kini tengah berbicara dengan seorang wanita muda.
Jenna mengamati sekilas. Mereka berbicara dengan bahasa Jerman yang cukup kental. Walau belum pernah bertemu, namun Jenna yakin bahwa wanita paruh baya di hadapannya adalah ibu kandung Nick. Mereka memiliki warna mata yang sama, dan garis wajah yang cukup serupa.
Sementara wanita satunya adalah seseorang yang mereka panggil dengan nama Grace. Tentu Jenna ingat nama itu. Dia adalah seseorang yang dijodohkan dengan Nick tepat sebelum dirinya muncul di keluarga ini. Dia juga wanita pemilik coat mahal yang semalam masih tergantung di kamar Nick. Namun, Jenna tidak pernah menyangka bahwa Grace yang dimaksud adalah Grace yang merupakan model papan atas sekaligus pemain film layar lebar. Grace Meyer.
"Hai, Nick," sapa Grace kepada Nick yang hanya dibalas angguka kepala.
Grace lantas beralih menatap Jenna. Menguliti setiap inci tubuhnya dari atas hingga bawah, kemudian kembali ke atas lagi dan ke bawah lagi.
"Dan hai juga kamu. Kenalin, aku Grace," ucap Grace seraya mengulurkan tangan kanan.
"Jenna," jawab Jenna singkat namun ia menyertai dengan sebuah senyum ramah.
Sebenarnya Jenna sudah cukup percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang indah, pun dengan wajahnya yang terpahat sempurna. Namun saat berhadapan dengan seorang Grace si artis terkenal ini, rasanya dia menjadi ciut. Jenna mengakui, bahwa Grace yang asli jauh lebih cantik dibandingkan dengan Grace yang ada di majalah dan layar televisi.
Grace berdarah campuran, Indonesia - Jerman. Selian sudah berkiprah di dunia hiburan selama bertahun-tahun, Grace juga cukup terkenal karena ayahnya merupakan pemilik hotel berbintang yang cabangnya ada di hampir seluruh kota besar di Indonesia juga mancanegara. Aroma uang sudah menguar hanya dengan melihat sekilas ke arahnya.
"Mutti, sie ist Jenna," ucap Nick kepada ibunya.
Jenna yang semula masih menatap silau ke arah Grace, seketika teralih setelah Nick mengenalkan dirinya kepada Diana. Pandangan matanya bertemu dengan manik abu-abu yang warnanya benar-benar sama persis dengan milik Nick. Dan dalam hitungan detik, Diana sudah meraih tubuhnya untuk dipeluk singkat seraya mencium pipi kanan dan kiri.
Diana sama sekali tidak bisa bicara bahasa Indonesia. Jadi, Jenna harus menyesuaikan diri agar satu bahasa dengannya. Mereka terlibat obrolan singkat yang cukup hangat, namun sayangnya teinterupsi begitu saja dengan ucapan Grace yang volumenya seolah sengaja dinaikkan menjadi lebih kencang.
"Nick, aku mau ambil baju di kamar kamu. Bisa minta tolong anterin?"
Jenna spontan menoleh ke sumber suara. Hanya sesaat, ia lantas berpindah menatap Nick yang juga sedang melihat ke arahnya. Semua obrolan dengan Diana seketika menguap. Bahkan Jenna membiarkan ucapan terakhirnya menggantung dan keluar tanpa makna.
Saat ini, fokusnya benar-benar dirampas oleh wanita bernama Grace. Jenna sadar, di posisinya sekarang, ia memang tidak berhak mengatur Nick untuk bertemu dan bersama wanita mana saja selain dirinya. Namun sayangnya, hatinya tidak bisa diajak kerja sama. Menyaksikan hal kecil seperti ini di depan matanya saja ia sudah merasa seperti terbakar.
"Ambil sendiri aja," jawab Nick kepada Grace namun matanya tidak lepas dari manik hitam milik Jenna.
"Ah, c'mon, Nick. Aku lupa kamarmu yang mana," desak Grace.
"Ada di kamar Nora," jawab Nick seraya memberi isyarat agar Nora saja yang mengantar, jangan dirinya.
Raut kecewa di wajah Grace cukup terbaca saat permintaannya ditolak Nick begitu saja. Berbanding terbalik dengan Jenna yang bisa bernapas lega. Entah mengapa, hatinya menghangat saat Nick lebih memilih mendekat ke arahnya daripada menuruti kemauan Grace.
Grace mengamati setiap laku yang Nick tujukan pada Jenna. Sebuah tindakan yang tidak pernah ia dapatkan sejak Grace mengenal Nick dan menjalani masa pendekatan dengannya. Apalagi saat Nick menuntun pinggang Jenna kemudian menarik lembut tangannya agar mereka bisa duduk bersisian. Gerak-gerik sederhana itu cukup bisa membuat hati Grace meradang.
Begitu Grace kembali dari lantai atas, ia masih sanggup membaur di tengah perbincangan keluarga yang sedang membahas tentang fitting baju pengantin. Hebatnya, ia terlihat sangat kooperatif sebagai pihak yang sempat ditolak. Grace tetap bisa tersenyum ramah dan bersikap baik seolah keputusan Nick menikahi Jenna bukanlah masalah besar baginya. Bahkan dia sesekali ikut terlibat dalam obrolan santai tentang model rambut seperti apa yang cocok untuk Jenna.
"Semua model rambut pasti cocok, tapi menurut aku, paling bagus yang kayak gini," ucap Grace seraya menunjukkan sebuah foto di layar ponselnya.
Sangat cantik memang. Berpengalaman di bidang hiburan membuat selera Grace tidak diragukan lagi.
"Makasih Grace," ucah John setelah wanita itu memberikan kontak rekomendasi penata rambut terbaik versi dirinya.
"Anytime. But, I have to go, Opa. Ada meeting sama brand abis ini," pamit Grace kepada John.
"Have a good day kalo gitu. Sekali lagi makasih. Dan …. maaf," ucap John.
Kalimat yang John ucapkan terkesan menggantung. Namun semua orang paham bahwa maksudnya adalah tentang gagalnya perjodohan antara dirinya dengan Nick.
"It's ok. Lagian memang rencana aku pengen nunda nikah. Mau fokus karir dulu," jawab Grace diplomatis.
Grace lantas mengucapkan salam perpisahan kepada satu per satu dari mereka. Dia sepertinya memang selalu terlihat anggun dan bersinar. Tidak ada yang tidak terpukau, termasuk Jenna. Sayangnya rasa kagumnya kepada Grace sedikit berkurang saat wanita itu mencengkram kasar jemarinya saat mereka bersalaman.
Jenna tidak pandai membaca ekspresi seseorang. Namun dia tidak bodoh untuk bisa mengartikan raut benci yang Grace tampilkan hanya saat berada di hadapannya. Walau tidak mengatakan apa-apa, namun Grace menatapnya dengan sorot penuh ancaman.
Begitu Grace menjauhkan diri dari wajah Jenna, dengan cepat pula ia mengubah warna wajahnya menjadi cerah dan kembali ramah. Sungguh, dia tidak hanya bisa bersandiwara di balik layar. Di dunia nyata pun ia piawai mengubah ekspresi wajah.