8. Pilihan Pertama

1458 Words
Jenna masih duduk di balkon kamar saat jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Matanya tetap enggan memejam walau tubuhnya sudah teramat lelah. Dan lagi, otaknya juga menolak beristirahat. Di antara kesendirian dan keterdiaman, isi kepala Jenna saat ini justru sedang sangat berisik. Dua jam yang lalu, setelah menyelesaikan pekerjaannya, Nick memutuskan ke bandara untuk menjemput Diana. Alhasil, di ruangan asing ini Jenna benar-benar sendiri. Jadi, akan sah-sah saja jika seandainya sebentar lagi ada sesuatu yang tertumpah dari kedua mata. Setelah ini, hidup kamu pasti akan terus bahagia. Kalimat terakhir dari ibunya sebelum beliau pergi untuk selamanya kembali terngiang di kepala Jenna. Kejadian itu tepat satu minggu sebelum Jenna terbang ke Jerman untuk menjalani program ausbildung. Jenna yakin bahwa ucapan dari seorang ibu bisa menjelma serupa sebuah mantra yang membuat semua menjadi nyata. Awalnya, dia percaya bahwa kehadiran Nick untuk menolongnya di awal pertemuan mereka adalah sebuah keberuntungan yang merupakan campur tangan dari doa ibunya. Namun semua Jenna tepis saat ternyata bukan kebahagiaan yang dia dapat dari lelaki itu, melainkan sebaliknya. Bahkan hingga detik ini, tak ada satu alasanpun yang membuat Jenna merasa bahagia atas pernikahan yang hanya berusia satu tahun ke depan. "Maafin Jenna, Ma, Pa," gumam Jenna sambil menutup kedua wajahnya menggunakan telapak tangan. Dulu, ia pernah berjanji untuk menjadi wanita sukses dan memiliki jenjang karir yang tinggi. Mempunyai rumah sendiri di pinggiran kota Bandung, kemudian hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Impiannya ini sangat sederhana sebenarnya. Tidak muluk-muluk. Namun sial, dia kini justru memiliki pekerjaan yang sudah pasti akan membuat kedua orang tuanya kecewa jika sampai mereka tahu. Menjadi istri pura-pura akan terkesan seperti Jenna menjual diri. Namun kini ia dihadapkan pada situasi dimana Jenna tidak bisa mundur lagi. Mama sama papa sayang kamu. Lagi-lagi gambaran ayah ibunya tengah tergolek lemas di ranjang rumah sakit kembali berputar di kepala. Mereka berucap berbagai kalimat serupa seolah sebentar lagi mereka akan pergi. Dan memang benar. Di hari yang sama, mereka meninggalkan dunia setelah berjuang melewati masa kritis karena kecelakaan beruntun. Ayahnya pergi terlebih dahulu, kemudian selang dua jam, ibunya menyusul. Akan ada yang menggantikan mama sama papa buat jaga kamu. Lagian ada om sama tante yang juga sayang sama kamu. Jadi jangan sedih. Harus terus bahagia. Sederet kata yang mampu mengiris perih hati Jenna kembali berdengung di telinga. Jenna seperti ingin marah, namun entah kepada siapa. Kenyataan yang Jenna hadapi berbanding terbalik dengan sugesti ayah ibunya yang selama ini Jenna tanamkan pada dirinya. Jenna juga kecewa, namun lagi-lagi entah harus kecewa pada siapa. Bukankah tidak mungkin menyalahkan ucapan ayah ibunya tentang harapan mereka yang ternyata melenceng jauh? Om dan tantenya kini sudah menampakkan wajah asli. Bukan hanya tidak menyayangi Jenna seperti ayah ibunya, mereka juga ternyata membenci Jenna. Dan lagi, Jenna kini memang sudah bertemu dengan seorang lelaki yang akan menjadikannya istri. Namun pernikahan ini pasti bukan pernikahan yang didambakan oleh kedua orang tuanya. Calon suaminya bukan lelaki yang akan menjaga Jenna menggantikan posisi mereka, melainkan lelaki yang justru membuat hidup Jenna akan menjadi lebih sulit. Beberapa tetes air sudah jatuh tanpa bisa Jenna cegah. Jika dia terus bergelung pada ingatan pahit sekaligus tenggelam dalam impian dan harapan yang terancam karam, Jenna pasti akan menghabiskan hari dan malam hanya untuk menangis. Jena terus mencoba menguatkan diri dan berusaha menyadarkan diri bahwa ia tak boleh berlama-lama terpuruk seperti ini. Nick akan pulang sebentar lagi, dan Jenna tidak akan membiarkan lelaki itu tahu sisi rapuh yang sedang ia sembunyikan. Saat Jenna sibuk menyeka air mata sambil berjalan ke arah ranjang, pintu kamar seketika terbuka menampakkan wajah Nick yang dahinya langsung mengernyit. Kedua matanya tertuju pada mata Jenna yang sembab dan hidung yang masih memerah. "Bukannya tidur istirahat, malah nangis," celetuk Nick seraya menanggalkan jaket hitamnya. Jenna memilih tidak menanggapi. Ia segera berbaring sambil mengeratkan selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga batas leher. Nick menyempatkan diri untuk sedikit membasuh wajah dan berganti pakaian. Tidak lebih dari lima menit, ia sudah selesai dengan aktivitasnya. Nick kemudian berjalan ke arah ranjang. Setelahnya, ia bergabung bersama Jenna di balik selimut yang sama. "Apa rasanya semenyiksa itu nikah sama aku?" tanya Nick kepada Jenna yang memilih posisi tidur membelakanginya. "Iya," jawab Jenna singkat dan jujur "Kalo kamu mau, aku bisa bikin semua jadi lebih mudah." Jenna langsung berbalik sembari menyibak selimut kemudian terduduk. "Beneran? Artinya kita nggak jadi nikah?" tanya Jenna dengan seringai gembira di wajahnya. Nick sontak tertawa. "Nein. Kita tetep nikah." Suara desah berat menyertai kekecewaan Jenna atas jawaban Nick. Dia lantas kembali berbaring dan lagi-lagi tidur menyamping membelakangi lelaki di sebelahnya. "Jenna, aku belum selesai ngomong." "Ya udah tinggal ngomong, aku denger kok." Jenna merasakan pergerakan badan Nick seperti mendekat ke arahnya. Tidak sampai membuat badan mereka bersentuhan, namun sudah cukup membuat sekujur tubuh Jenna meremang. Ya Tuhan, Jenna benci respon tubuhnya yang lemah seperti ini. "Sekarang aku tanya dulu, apa yang buat kamu nggak suka nikah sama aku?" tanya Nick. Masih berada di posisi yang sama, Jenna memutar bola matanya malas, "Semua. Semua yang ada di diri kamu, dan semua yang terjadi di antara kita." "Ok, aku balik pertanyaannya. Apa yang bikin kamu seneng dan dengan rela menikahi seorang lelaki? Satu aja alesan utama," tanya Nick lagi. "Ya pasti karena aku mencintai lelaki itu," jawab Jenna. "That's the point. Kalo kamu cinta sama orangnya, semua akan jadi lebih mudah kan?" Sederet kata yang keluar dari mulut Nick, dibiarkan menggantung tanpa jawaban. Jenna terdiam hingga beberapa saat demi bisa mencerna ucapan Nick. "Maksudnya?" tanya Jenna. "Aku bisa membuat semua jadi lebih mudah." Setelah mengatakan itu, Nick semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Jenna. Dadanya yang bidang terasa menempel di punggung bagian atas. Embusan napas menggelitik tengkuk hingga leher bagian samping. Suhu tubuh Jenna yang semula hangat, entah mengapa seketika terasa dingin sekaligus merinding. Apalagi ia masih mendapat serangan selanjutnya berupa pelukan lembut dari arah belakang hingga jemari besar milik Nick berhasil menangkup kedua telapak tangan Jenna yang mengepal di depan d**a. "Tapi resikonya, kamu bakal kesulitan buat menghadapi perpisahan kita satu tahun lagi. Jadi, kamu pilih aja, mau awal yang mudah dengan akhir yang sulit, atau awal yang sulit tapi berakhir mudah. Aku bisa atur, kamu mau yang mana," ucap Nick sambil semakin mengeratkan lagi peluknya yang sudah erat. "Apa buatmu perasaanku sebercanda itu?" "Aku serius. Aku nawarin kamu sebuah negosiasi di bisnis kita," jawab Nick. Entah mengapa seketika Jenna merasa ada sebuah sayatan perih mendengar ungkapan dari Nick. Bisnis. Ya. Pernikahan ini hanyalah sebuah bisnis. Jenna bekerja untuk Nick agar semua hutangnya lunas dan ia mendapat bayaran, sedangkan Nick mengambil untung dari status pernikahan yang sudah lama diinginkan oleh pihak keluarganya. "Jadi pilih yang mana?" tanya Nick setelah Jenna berlama-lama membiarkan mulutnya tertutup rapat. "Nggak tau. Aku mau tidur," jawab Jenna. Nick masih menunggu barangkali ada kalimat lain dari wanita yang masih ia peluk. Namun hingga detik ke sekian, Jenna masih terdiam. Hingga tak lama setelahnya, Nick merasakan sebuah genggaman kecil di jemarinya. Entah sadar atau tidak, Jenna membalas pelukan Nick dengan mendekap tangannya dan membuat posisi tangan Nick kini berada di balik kedua tangan Jenna. "Aku anggap kamu memilih opsi pertama," ucap Nick setelah tangannya benar-benar tenggelam di antara d**a dan kedua tangan Jenna. "Sini deh. Tidur dulu, bentar lagi harus bangun buat fitting baju kan?" lanjut Nick lagi. Lengannya yang kokoh dengan mudah memutar tubuh Jenna untuk menghadap ke arahnya. Walau sedikit kaku, Jenna tetap menurut dan membiarkan kepalanya bersandar di lengan atas Nick. Rasanya memang sangat aneh, namun entah mengapa seluruh anggota tubuh Jenna seolah pasrah. Nick meraih pinggangnya hingga jarak di antara mereka terkikis habis. Setelahnya, Nick menuntun tangan kanan Jenna agar melilit bagian perut Nick yang saat diraba terasa sangat liat. Jenna tidak yakin dengan penawaran Nick beberapa saat yang lalu. Baginya, dua pilihan itu sama-sama tidak masuk akal. Namun Nick seperti sudah mulai memberinya bukti bahwa pilihan pertama akan berhasil ia wujudkan dengan sangat baik. Upaya Nick untuk membuat semua menjadi lebih mudah sepertinya sudah dimulai sejak detik ini. Pada satu waktu dimana Jenna kesulitan untuk tidur, Nick mampu membuatnya terlelap dalam sekejap. Jenna bisa terpejam nyaman dalam pelukannya. Mungkin semua akan benar-benar menjadi lebih mudah mulai sekarang, batin Jenna. Sebelum benar-benar tertidur, Jenna masih sempat merutuk dalam hati. Heran dengan dirinya sendiri, mengapa ia jadi seperti ini. Selama tiga tahun ia mampu membangun benteng pertahanan dan memupuk kebencian atas diri Nick, namun mengapa hari ini dia menjadi sedemikian lemah? Hati dan jiwanya seolah sudah menyerah. Rasanya hati Jenna benar-benar terombang-ambing. Sebentar benci, sebentar nyaman. Semula sakit, setelahnya mendapat penawar. Dia sungguh gagal memahami dirinya sendiri yang perasaanya terus berubah-ubah. Jadi, ya sudahlah. Kalaupun pilihan ini salah, kalaupun pada akhirnya hati ini luluh, kalaupun perpisahan satu tahun ke depan akan sulit ditempuh, biar saja. Menikah denganmu adalah sebuah kesakitan yang sejak awal sukarela kuderita, batin Jenna sebelum ia pergi ke alam mimpi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD