"Nanti kita nginep disini, ya," ucap Nick begitu mereka berhenti di depan gerbang hitam setinggi lebih dari lima meter.
"Nggak, anterin aku pulang aja. Aku kangen sama apartemen aku. Santai aja, aku nggak bakal kabur," jawab Jenna.
"Mama landing dini hari nanti. Ini pertama kali dia ke Indonesia buat ke nikahan kita. Buat ketemu kamu juga. Kamu tega mau pulang gitu aja?" jawab Nick dengan senyum smirk.
Jenna melirik tanpa menjawab. Napasnya ia embuskan berat seolah sedang memberi tahu bahwa keputusan untuk tetap tinggal disini juga merupakan sesuatu yang sama berat.
Setelah melewati gerbang yang dijaga beberapa orang berbaju hitam, mobil mereka masih harus melewati halaman yang sangat luas dengan d******i rumput hijau. Lampu berwarna orange berhamburan menyorot pepohonan rindang yang ada di sela semak boxwood. Ada beberapa kursi taman dan satu gazebo di sisi paling ujung. Sementara di dekat pintu masuk, terlihat sebuah air mancur dengan patung Neptunus.
Walaupun sejak awal Jenna sudah tahu bahwa Nick adalah seorang oldmoney, namun dia masih saja tercengang saat kedua matanya menangkap betapa megah rumah di hadapannya saat ini. Rumah putih dua lantai bergaya eropa klasik dengan pilar besar dan tinggi terlihat begitu berwibawa. Persis seperti para penghuninya.
Ini memang salah satu rumah impian Jenna. Berhalaman luas, rapi dan indah, klasik dan mewah, namun tetap ada sedikit sentuhan modern. Tentu selama ini Jenna hanya berani bermimpi. Dia tidak menyangka hal ini akan benar-benar terjadi, apalagi semua terwujud dengan sebuah syarat pernikahan.
Tapi jika dipikir lagi, Jenna akan lebih nyaman tinggal di rumah yang mungil dan homey. Tidak perlu asisten rumah tangga untuk membantu membersihkan rumah, juga tak perlu berjalan jauh hanya karena jarak kamar tidur dan dapur seperti jarak dari lobby mall menuju foodcourt.
"Bengongnya udah?" tanya Nick saat Jenna terlihat masih sibuk mengamati pintu besar dengan ukiran rumit di bagian atasnya.
Jenna terkesiap. Matanya mengerjap beberapa kali dengan bibir yang ditarik kesamping menampilkan deretan gigi putih yang berjejer rapi.
"Masuk sekarang?" tanya Nick lagi.
Jenna mengangguk seraya melepas sabuk pengaman dari tubuhnya. "Iya, ok."
Dua orang maid sudah menyambut di ruang depan. Ternyata tidak hanya bagian luarnya yang memukau, seisi ruang bagian dalam juga cukup mampu membungkam. Tiap detail meneriakkan kemewahan. Apalagi saat Jenna melangkah menuju ruang selanjutnya yang luasnya sama seperti aula. Tubuhnya seolah mengecil seketika.
Saat maid berucap bahwa seluruh anggota keluarga sudah menunggu di ruang makan, Nick segera melangkah ke arah kanan. Jenna mengikuti sambil sebisa mungkin menutupi rasa gugup. Hingga tanpa sadar, tangan kanannya meraih lengan Nick untuk mencari pegangan. Pun juga mencari kekuatan.
Merasa ada lilitan lembut di tangan kirinya, Nick sontak menoleh kemudian mendaratkan sebuah kecupan panjang di ujung kepala Jenna.
"Nick!" desis Jenna pelan, namun sorot matanya galak menunjukkan ketidaksukaan.
"Be nice, Jenna. Mereka lagi ngeliatin kita," jawab Nick dengan senyum kemenangan.
Bibir yang semula bersiap mengumpat akhirnya Jenna urungkan, berganti dengan senyum manis yang ditujukan kepada beberapa orang yang kini sedang melingkari meja makan.
Sapaan ringan saling bersahutan. Keseluruhan dari mereka turut bersuara, terutama John yang memang saat ini cenderung paling banyak bicara. Jenna cukup lega karena Nick memiliki keluarga yang hangat dan cukup humoris. Walaupun Peter berwajah sedikit antagonis, namun tak apa. Semua tersamarkan karena Nick memiliki sepasang adik kembar yang sangat manis. Nora dan Mia. Walau mereka satu ayah beda ibu dengan Nick, namun kedekatan di antara ketiganya terbilang sangat erat.
"Finally Nick menentukan pilihannya sendiri," ucap John setelah ia bercerita tentang permintaannya untuk Nick agar segera menikah, namun baru sekarang bisa dikabulkan.
Jenna tersenyum tipis seraya menganggukkan kepala. Entah harus berbangga diri atau justru merasa tersindir. Dia bisa dibilang merupakan pemenang dari deretan wanita yang pernah ada di hidup Nick, namun sayangnya, semua ini bukan nyata.
"Nick, aku nggak nyangka kamu bisa nemu cewek secepet ini. Kamu kan nyebelin." Kali ini Nora yang bicara sambil sedikit tertawa.
"Secepet ini? No. Aku kenal Jenna udah lebih dari tiga tahun," jawab Nick.
Nora sontak ternganga diikuti dengan raut keterkejutan yang juga dinampakkan oleh semua orang.
"Kak Jenna, dia bohong nggak si?" tanya Nora kepada Jenna.
Jenna menggeleng kemudian menjawab, "Kita emang kenal sejak tiga tahun lalu. Aku kerja di Jerman tiga tahun belakangan."
"See?" ucap Nick dengan senyum mengembang. "Kita tinggal di penthouse aku yang di Hamburg."
Kali ini giliran Jenna yang membulatkan matanya. Berbanding terbalik dengan Nick yang masih bisa menyendok hidangan penutup dengan sangat santai.
"Kita?" tanya Mia dengan nada menggoda.
"Ja. We live together," jawab Nick sambil mengangguk.
"Nick," desis Jenna sambil meremas paha Nick dari bawah meja.
"Kenapa?" tanya Nick kepada Jenna. Ia lantas mengalihkan pandang kepada John, Peter, dan dua adik kembar beserta suami-suami mereka. "Is that normal?"
Mia dan Nora bersahutan mengucapkan berbagai kalimat bernada menggoda, namun Nick sama sekali tidak terpengaruh. Justru Jenna yang merasa pipinya memerah karena apa yang terjadi di antara dirinya dan Nick sudah pasti berbeda dengan apa yang kedua wanita itu pikirkan.
"Cantik gini kok diumpetin sampe 3 tahun," sahut Theo, suami Nora.
"Biar kamu nggak naksir."
"Kenapa baru dinikahin sekarang? Opa udah nyuruh dari dulu," ucap John setelah itu.
"Dia maunya baru sekarang. Padahal cintanya udah dari dulu, iya kan?" timpal Nick sambil melirik ke samping kiri tempat dimana Jenna duduk.
Melihat wajah Jenna memerah dengan raut canggung, John dan cucu-cucunya hanya bisa tertawa. Peter bahkan ikut mengeluarkan ekspresi geli melalui senyumnya yang tertarik lebar.
"Udah ah, kasian anak orang digodain mulu. Jadi gimana soal persiapan pesta?" tanya John.
Mia lantas menceritakan tentang segala sesuatu yang sore tadi dipaparkan oleh pihak wedding planner. Di Indonesia, mereka akan mengadakan intimate wedding. Hanya beberapa orang saja yang diundang. Pesta besar akan dilangsungkan di Jerman.
Jenna melihat lembaran kertas yang merupakan gambaran konsep pernikahan mereka. Walau hanya intimate wedding, namun bagi Jenna ini sudah lebih dari cukup. Namun begitu, John masih memberinya kebebasan jika saja Jenna ingin mengubah hal tertentu sesuai dengan seleranya.
Selagi masih ada waktu, memang sah-sah saja jika konsep pernikahan diubah sedikit. Namun tentu tidak Jenna lakukan. Dia memang merasa sangat berarti sudah dibiarkan andil dalam masalah ini. Tapi sepertinya, satu-satunya hal yang harus ia ubah adalah ukuran gaun.
Diana - ibu kandung Nick, akan segera mendarat di Indonesia. Rencananya, besok fitting akan kembali dilakukan sekalian menunggu kedatangannya. Selebihnya, tidak ada hal lain lagi yang perlu dilakukan. Semua sudah diatur, dan Jenna dengan sadar diri tidak mau mengubah apapun.
"Ya udah, Jenna istirahat dulu sana. Kamar kalian di atas," ucap John setelah ia lebih dulu berdiri dari meja makan.
Jenna mengangguk namun sedikit gentar dengan kata 'kamar kalian'. Nasib berasal dari keluarga Indonesia yang cukup kolot, dipertemukan dengan keluarga berdarah Jerman yang sepertinya memiliki budaya yang bebas layaknya Las Vegas.
***
Kamar Nick berada di paling ujung lantai dua. Warna putih dan abu-abu muda mendominasi ruangan yang terbilang sangat besar ini. Tidak ada hiasan dinding dan juga tanpa ada perabotan klasik yang biasanya tersebar di hampir seluruh ruangan.
Disini, Jenna merasa berada di tempat yang sangat berbeda. Konsep kamar Nick didesain seratus delapan puluh derajat. Semua serba modern dan minimalis. Hampir tak ada warna mencolok di dalam sana kecuali lampu tidur yang berwarna jingga. Dan, … tunggu.
"Ini punya siapa?" tanya Jenna seraya meraih sebuah coat berwarna merah muda pucat.
Nick melirik sekilas. Wajahnya masih datar dan tidak terlihat terkejut sama sekali dengan pertanyaan Jenna tentang pakaian wanita yang berada di kamarnya.
"Grace."
"Grace?"
"Iya. Cewek yang dijodohin sama aku sebelum aku milih kamu," terang Nick.
"Grace dari sini juga?" tanya Jenna.
"Iya. Kan Opa yang bawa dia, terus dikenalin ke aku."
"Maksud aku, dia kesini? Ke kamarmu? Kalian tidur berdua?"
Nick lantas tertawa mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari Jenna. "Dia cuma numpang ganti baju sebelum ke pesta pernikahan yang kemarin."
Tak mau menunggu lebih lama sebelum Jenna melayangkan pertanyaan selanjutnya, Nick meraih coat itu kemudian keluar dari kamar. Dari posisi Jenna berdiri, ia masih mendengar Nick mengetuk pintu kamar Nora sambil berkata, "Titip nih, punya Grace. Jangan taruh di kamarku, calon istri aku cemburu."
Jenna berdecih kesal saat Nick muncul dari balik pintu. "Aku nggak cemburu, cuma tanya."
"Cemburu juga nggak papa. But, wait. Kamu udah mulai suka sama aku?" tanya Nick terang-terangan.
"Nggak!"
Nick mendekat dengan raut datar dan wajah yang cukup serius. Dia mengenyahkan semua gurat canda yang semula ada, berganti dengan ekspresi tak terbaca.
"Good. Jangan ya," balas Nick singkat namun seolah bernada ancaman.
"Never," jawab Jenna.
"Good."
Jenna terlebih dulu memutus pandang dari mata abu-abu milik Nick. Dia beralih menuju kamar mandi, membersihkan diri, kemudian mendekat ke arah tempat tidur walaupun sama sekali belum mengantuk. Tak ada hal lain yang bisa ia lakukan.
Sambil berusaha memejam, Jenna masih bisa melihat sosok Nick dari kedua matanya yang hanya sedikit ia buka. Lelaki itu sedang sibuk dengan laptopnya di sofa dekat balkon. Mungkin ada hal serius yang sedang ia kerjakan. Terbukti dari matanya yang menatap fokus layar dengan perhatian yang seolah tak terbagi dengan hal lain.
Merasa tatapan matanya tidak diketahui, Jenna lantas mulai membuka kelopak matanya lebih lebar. Ia mengamati lebih lama lelaki yang jemarinya terus menari di atas keyboard.
"Ngapain liatin terus? Nggak tidur?" tanya Nick yang tiba-tiba menoleh dan mengunci kedua mata Jenna yang kedapatan sedang memperhatikan.
Jenna mengumpat dalam hati. Nick seperti memiliki indera ke enam atau semacamnya. Sepengamatan Jenna, Nick terlihat sangat serius tadi. Jenna pikir, sedari tadi Nick tidak sadar bahwa dirinya sedang diamati.
"Ni mau tidur. Aku harus punya jam tidur yang banyak biar cantik," jawab Jenna yang kemudian membalikkan badan ke arah berlawanan.
"Tambah," ucap Nick singkat.
"Hah?" tanya Jenna.
"Biar tambah cantik. Kan kamu udah cantik."
Jenna menggeram kesal. Sudah dari tadi ia kesusahan tidur, kini upayanya untuk terlelap harus lebih susah lagi. Dan alasannya hanyalah karena mendengar kalimat sederhana yang kemungkinan besar keluar hanya dari mulut, bukan dari hati.