Matahari sudah terbit. Ada seberkas cahaya yang mengintip dari celah tirai yang masih menutupi jendela. Cukup menyilaukan mata. Tapi tentu saja tidak berlaku untuk kedua mata Jenna yang masih tertutup rapat.
"Jenna," bisik Nick perlahan.
Wanita yang sedang tidur meringkuk sambil memeluk guling itu masih tidak bergeming. Tidurnya masih sangat lelap. Jenna bahkan tidak terbangun saat Nick meraih ujung selimut dan ikut bergelung di dalam sana.
Tidak puas hanya dengan tidur dengan selimut yang sama, Nick beringsut mendekat dan menaruh kepalanya di atas bantal yang dipakai Jenna. Jarak wajah mereka sudah sangat dekat. Napas hangatnya terasa di sebelah pipi. Namun Jenna masih belum menyadari bahwa tidurnya sedang diusik.
"Peluk aku aja, daripada peluk guling," ucap Nick seraya menarik bantal panjang yang menjadi sekat di antara tubuh mereka.
Jenna menggeram rendah. Dia sempat benar-benar merengkuh tubuh Nick sesaat sebelum ia sadar bahwa teman tidurnya tiba-tiba berubah menjadi manusia.
Mata yang semula rapat seketika membola bulat. Tangannya ia tarik menjauh dari tubuh Nick. Sementara kedua kakinya mencoba mendorong sosok menyebalkan yang tiba-tiba sudah muncul saat Jenna membuka mata.
"Nick! Jauh-jauh deh sana," pekik Jenna.
"Nggak," jawab Nick singkat.
Alih-alih beranjak dari ranjang, Nick justru menyamankan posisi tidurnya sambil merapatkan selimut. Matanya ia tutup, dan tangannya mencoba meraih tubuh Jenna untuk ia peluk.
"Nggak," ucap Jenna seraya menepis tangan Nick. "Bangun, Nick. Masak CEO perusahaan Schneider jam segini mau tidur lagi."
Nick membuka matanya untuk menatap wajah Jenna yang rambutnya masih sedikit berantakan. "Masak calon istri CEO perusahaan Schneider jam segini baru bangun."
"Iyaa, ini kan aku udah bangun, mau mandi," jawab Jenna.
Nick menyeringai puas. "Good."
"Kenapa senyum-senyum?"
"Jadi kamu udah mengakui kalo kamu itu calon istri aku? Jadi gemes pengen peluk beneran, sini deh bobok dulu," goda Nick seraya menepuk bantal yang ada di sisi kepalanya.
Jenna berdecih kesal. Ia beranjak dari ranjang, melempar wajah Nick menggunakan guling yang ia pegang, kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Nick memanggilnya berkali-kali, namun Jenna enggan berbalik. Ingin rasanya melempar wajah Nick menggunakan guci kecil yang bertengger di atas meja. Sayangnya, otak Jenna masih bekerja dengan baik. Guci itu pasti mahal. Dia tak ingin hutangnya bertambah banyak.
Setelah sekitar empat puluh menit Jenna berada di kamar mandi, ia pun keluar menggunakan bathrobe. Otaknya mulai berpikir baju mana lagi yang akan ia pakai hari ini. Begitu sampai di walk in closet, sosok lelaki menyebalkan sudah berdiri di salah satu lemari baju.
"Baju kamu udah aku siapin disini. Bilang aja kalo ada yang kurang," ucap Nick.
Jenna mendekat. Mengamati satu demi satu deretan dress selutut yang berada di gantungan. Di sebelah kiri, ada beberapa gaun malam, dan di bagian bawah terdapat puluhan setelan baju casual.
Di sisi yang berbeda, Nick juga menunjukkan letak dimana puluhan tas dan sepatu hak tinggi berjejer rapi. Untungnya ada pula beberapa flat shoes dan sneakers walaupun jumlahnya tidak lebih dari lima. Dua pilihan itu bisa Jenna jadikan opsi saat kakinya pegal karena terlalu lama menggunakan alas kaki berjinjit.
"Buruan pake baju. Nggak usah norak gitu mukanya," ucap Nick lagi setelah mengamati wajah Jenna yang terlihat begitu kagum melihat isi lemarinya.
"Dih! Sana, kamu minggir dulu," sahut Jenna.
"Aku tunggu di ruang depan. Kita perlu bicara," ucap Nick tegas tak terbantah.
Jenna hanya bergumam sambil menatap punggung Nick yang mulai menjauh. Lelaki itu sedang berubah ke mode galak dan serius. Sedikit mengerikan. Namun ada untungnya juga. Jenna jadi tidak perlu memperdebatkan masalah tidak penting seperti yang sudah sudah.
Tak lebih dari lima menit, Jenna sudah menyusul. Dia sedikit terkesiap karena ternyata Nick tidak duduk seorang diri. Dia sedang bercengkerama bersama seorang lelaki dengan perhatian yang terfokus pada lembaran kertas yang ia pegang.
Jenna mengira itu masalah pekerjaan. Nick dan lelaki muda di depannya terlihat serius sekali. Jenna tak berniat bergabung dan ada dalam pembicaraan yang tidak ia mengerti. Jadi, Jenna berinisiatif untuk mengendap-endap ke arah ruang makan.
Saat dia berusaha menghindar dan hampir sampai di dapur, Nick memanggil. Dia juga memberi isyarat lambaian tangan meminta Jenna untuk segera datang.
"Bentar, Nick. Mau aku bikinin minum dulu?" tawar Jenna.
"Boleh, aku haus." Lelaki di hadapan Nick yang justru menyahut.
Tak lama, Jenna datang membawa tiga cangkir teh. Dia menaruh salah satunya ke hadapan tamu mereka, satu untuk Nick, dan satu untuk dirinya sendiri.
"Temen aku, Matteo," ucap Nick begitu Jenna duduk.
"Hai, panggil aja Matt," sahut Matteo seraya mengulurkan tangan kanannya.
"Aku Jenna."
"I know. Cantik banget namanya. Persis kayak orangnya," jawab Matt sambil melirik ke arah Nick.
Nick sedang memutar bola matanya malas. Matt selalu mengatakan hal yang sama saat berkenalan dengan wanita. Dan untungnya Jenna sama sekali tidak tersipu saat dipuji. Jika ia mendapati pipi Jenna merona, mungkin Nick tidak segan untuk memukul kepala sahabatnya.
Sejenak, Matt menyesap tehnya perlahan. Setelah kembali menaruh cangkir di atas saucer, Matt berbalik ke arah Jenna duduk. "Teh buatan kamu juga enak banget. Satu yang terbaik yang pernah aku minum."
Jenna tersenyum kaku mendengar pujian Matt yang dia anggap terlalu berlebihan. Itu hanyalah teh celup instan yang rasanya sebelas dua belas dengan teh kemasan yang harganya lima ribuan.
Di sebelahnya, Nick memilih melempar sahabatnya itu menggunakan pena yang semula tersemat di saku kemeja. Malas sekali mendengar basa-basi Matt yang di telinganya sudah sangat basi.
"Ok, sorry Nick," ucap Matt.
Matt lantas beralih kepada selembar kertas di tangannya. Sejenak ia sedikit mengangkatnya ke udara seraya berkata, "So, kamu yakin cuma satu tahun? Kalo aku jadi kamu mungkin aku bakal bikin kontrak seumur hidup."
"Please, serius, Matt."
"Kamu pikir aku bercanda?" sahut Matt.
Jenna berdehem melerai perdebatan yang tidak ia paham.
"Ok, sorry Je. Jadi gini. Aku temen Nick. Dia kemarin bilang kalo kalian mau nikah, tapi cuma satu tahun. Ada perjanjian yang perlu dilakukan di atas kertas, dan karena Nick nggak mau ada yang tau soal ini, jadi dia minta aku jadi saksi. By the way, kakak aku orang hukum. Jadi kalo perjanjian kalian mau diperkuat secara hukum, aku bisa bantu. Dan kerahasiaan kalian akan terjamin."
Jenna mendengar baik-baik semua yang Matt ucapkan. Dia tidak menjawab. Hanya mengalihkan pandang pada Nick yang juga tengah menatapnya.
"Nick," lirih Jenna.
Jenna tidak mengatakan apa-apa, namun Nick bisa membaca raut keraguan, tatapan penuh tanda tanya, juga seberkas rasa marah.
"Kamu maunya gimana?" tanya Nick.
"Bisa kita obrolin berdua aja?"
"Sure." Nick beralih ke arah sahabatnya. "Matt, I'll call you soon."
"Ok." Matt bangkit dari tempat ia duduk kemudian berbalik ke arah Jenna. "Sorry kalo kedatangan aku bikin kamu nggak nyaman, Je."
"Nein, bukan itu. Aku cuma perlu ngobrol berdua sama Nick."
"Ok then, bis bald," ucap Matt sebelum ia menghilang di balik pintu.
Jenna mendesahkan napas beratnya begitu bayang Matt menghilang. Sedetik kemudian, ia berbalik ke arah Nick untuk meminta penjelasan.
"Aku udah bilang kemarin, kan? Aku undang dia kesini karena pengen kamu lebih yakin kalo aku nggak bakal ingkar janji. Aku nggak bakal main-main sama perjanjian kita. Jadi kamu nggak perlu takut. Aku bakal lepasin kamu, dan aku nggak akan ganggu kamu lagi setelah kontrak kita berakhir."
"Kenapa harus ada orang lain yang tau?" tanya Jenna.
"Aku liat kamu kemarin sempet ragu. Kamu kayak yang nggak percaya sama aku. Jadi aku libatin pihak ke tiga biar fair aja. Aku nggak mau kamu ngira aku doang yang ambil keuntungan. Jadi sekarang, kamu bisa minta syarat apapun yang menurutmu akan menguntungkan. Dan satu lagi, dia bisa dipercaya, Jenna. Jangan takut ada orang lain lagi bakal tau soal rencana kita."
Jenna mengusap wajahnya gusar. Sepertinya harapan untuk mundur dari pernikahan ini sudah menginjak nol persen. Ini akan berat, namun Jenna akan berusaha kuat. Hanya satu tahun. Pasti bisa. Lagi pula Jenna sudah mengenal Nick cukup baik. Walaupun dia menyebalkan dan terkesan jahat, Nick tidak pernah sekalipun berbuat hal yang di luar batas.
Sambil menarik napas dan menghembuskannya pelan, Jenna akhirnya menjawab, "Ok."
"Tapi Nick, menurutku soal perjanjian cukup di antara kita berdua aja ya. Kan nggak enak kalo ada hal yang menyangkut privacy," lanjut Jenna.
Nick sempat tersenyum. "Ok."
Nick lantas mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam. Di bagian depan terdapat deretan angka berwarna emas. Tepat di bawah angka itu, tertulis sebuah nama, Jenna Davinia.
"Udah aku bikinin atas nama kamu. Ini unlimited. Kamu bisa pake berapapun yang kamu mau," terang Nick seraya menyerahkan sebuah black card.
"Setelah kontrak kita selesai, selain hutang kamu lunas, kamu juga boleh tulis nominal berapapun yang kamu mau. Ini bisa dicairin setelah satu tahun pernikahan," lanjut Nick seraya menyerahkan selembar cek.
"Aku nikah sama kamu bukan buat jual diri," tolak Jenna seraya berdiri dengan mata yang tiba-tiba berkaca.
Nick seketika menyadari satu kesalahan. Dia bangkit kemudian meraih tangan Jenna. Menariknya lembut, kemudian meminta Jenna kembali duduk.
"Sorry, aku nggak maksud nyinggung kamu."
Jenna mengangkat tangan. Memberi isyarat agar Nick tidak menyentuhnya.
"Maaf, Jenna. Kamu maunya gimana?" ucap Nick lagi.
"Di antara kita selesai. Aku nggak mau berurusan lagi sama kamu setelah kita pisah. Cukup itu aja," jawab Jenna.
"Ok. Tapi seenggaknya terima ini. Anggep aja ini pemberian seorang suami," balas Nick seraya menyerahkan lagi black card yang tergeletak di atas meja.
Jenna tidak menanggapi dan memilih kembali berbalik menuju kamar. Dan kali ini, Nick tidak berusaha menghalangi. Jenna mungkin sedang butuh ruang untuk sendiri.
***
Setelah matahari mulai merangkak ke atas, Jenna keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Awalnya, ia beralasan akan pergi menemui Ivy, sahabatnya. Namun Nick memohon agar Jenna mengatur ulang jadwal temu dengan Ivy untuk lain waktu.
"Please," pinta Nick.
"Emang hari ini mau ada apa?" tanya Jenna.
"Kita ke Bandung, gimana? Okay?" ucap Nick.
"Ngapain?"
"Ketemu keluarga kamu."
Jenna menundukkan kepala dalam-dalam. Dia cukup ragu dengan ajakan Nick. Sejak kedua orang tuanya meninggal semasa Jenna SMA, dia sudah sangat jarang bertemu keluarganya. Hampir tidak pernah ada komunikasi. Bahkan mungkin di antara mereka sudah tak ada lagi rasa peduli.
Dulu Jenna masih rutin mengirim pesan kepada om dan tantenya. Namun semenjak mereka jarang membalas, Jenna jadi sungkan. Mereka terkesan memutus persaudaraan. Apalagi saat Jenna pada akhirnya pergi ke Jerman. Mereka sama sekali enggan menjawab pesan Jenna saat berpamitan. Bahkan beberapa hari sebelumnya, mereka beralasan pergi ke luar kota saat Jenna berniat berkunjung ke Bandung.
"Hubungan kalian nggak baik?" tanya Nick.
Jenna mengangguk pelan, "Iya. Kurang lebih gitu."
"Tapi aku tetep harus kesana karena gimanapun aku harus minta izin ke keluarga kamu buat nikahin kamu," jawab Nick.
Nick betul. Walau hanya menjadi istri pura-pura, namun Jenna juga ingin dinikahi dengan cara yang baik. Dia ingin merasakan lamaran resmi seorang lelaki dan meminta restu atas pernikahan mereka yang tinggal sebentar lagi.
"Ok. Nggak masalah. Mau sekarang?" tanya Jenna.
"Kalo kamu nggak keberatan."
"Aku siap-siap dulu," putus Jenna yang Nick tanggapi dengan anggukan kepala.
***
Gerimis kecil turun membasahi tanah Jawa Barat saat mobil yang Nick kendarai berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar. Kali ini mereka memutuskan untuk mengunjungi rumah saudara tertua ayahnya. Katanya, keluarga besar Jenna akan berkumpul disana.
Jenna berasal dari keluarga yang cukup berada dan mempunyai nama. Ayah ibunya sama-sama dikenal sebagai tuan tanah yang memiliki banyak usaha perkebunan. Walaupun kekayaan yang mereka miliki masih sangat jauh dibandingkan dengan milik keluarga Schneider, namun mereka termasuk keluarga yang berkecukupan di wilayah mereka.
Rumah om dan tante yang saat ini mereka datangi terbilang cukup besar. Nick bahkan terlihat kagum dengan luasnya halaman yang disertai dengan beberapa kolam ikan. Rumah ini berbentuk memanjang dengan d******i kayu. Bukan termasuk rumah modern, namun bangunan ini terkesan mahal walau banyak aksen tradisional.
"Nunggu mobil belakang dulu ya," ucap Nick kepada Jenna.
Mereka datang bersama Peter, ayah Nick. Peter berada satu mobil dengan John dan beberapa orang suruhan. Sementara ibunya, kini tengah berada di Jerman. Tentu saja kali ini dia tidak bisa ikut serta.
Nick juga mengajak dua adik kembarnya yang masing-masing sudah bersuami. Walau mendadak, sebisa mungkin Nick tetap membawa seluruh anggota keluarganya untuk berkenalan secara resmi. Dia ingin menjaga nama mereka agar tetap baik di mata keluarga Jenna.
Tak lama, tiga mobil mewah menyusul dari belakang. Satu demi satu keluarga Nick turun dari mobil bersama beberapa orang suruhan yang diminta untuk membawa berbagai macam hantaran.
"Selamat datang, mari masuk, udah ditunggu," sapa Om Asep yang merupakan kakak pertama mendiang ayahnya.
Jenna disambut seolah dirinya adalah tamu istimewa. Baginya, ini justru sangat terasa aneh. Tidak biasanya dia diperlakukan sebaik ini. Om dan tantenya tersenyum ramah seraya menepuk pelan bahunya, sementara para sepupu bergantian meraih tubuh Jenna untuk diberi pelukan.
Setelah perkenalan singkat di antara dua pihak keluarga, mereka pun mulai terlibat perbincangan serius tentang pernikahan Jenna yang akan diselenggarakan dua minggu lagi.
"Kok mendadak ya, kan kita juga belum persiapan apa-apa. Jujur, soal biaya cukup memberatkan. Ekonomi disini lagi susah," ucap perwakilan keluarga Jenna.
Jenna mendelik kesal. Dia cukup terkejut dengan ucapan yang terdengar sangat tidak tahu diri itu. Walau Jenna sudah tidak pernah tahu bagaimana bisnis keluarga mereka berlangsung, namun Jenna yakin bahwa keluarganya tidak mungkin kekurangan. Terdengar sangat memalukan saat pihaknya memberi isyarat halus agar Nick yang membiayai semua pesta pernikahan mereka.
"Soal itu, kami bisa atur, Pak," jawab Nick enteng.
Jenna sontak menggenggam tangan Nick kencang. Ia menggeleng sedikit seraya berbisik suatu hal, namun tidak terdengar jelas dari telinga Nick.
"It's ok, sayang," jawab Nick sambil mengusap pelan rambut Jenna.
Menyaksikan Nick yang terlihat sama sekali tidak keberatan, salah seorang keluarga Jenna yang lain lantas dengan muka tebal mulai menyinggung tentang pesta yang akan diadakan di Jerman. Pihak keluarga Jenna pasti akan datang, namun lagi-lagi memberi isyarat tentang keberatan mereka soal biaya.
"Kamu tahu sendiri tiket Indonesia-Jerman kan nggak murah," timpal salah seorang wanita paruh baya yang duduk satu deret dengan Om Asep.
"Nggak dateng nggak papa, Tante. Lagian urus paspor sama visa kan harus jauh-jauh hari. Ini waktunya udah mepet. Yang penting acara disini selese, nggak papa nggak usah repot-repot ke Jerman," sela Jenna buru-buru.
Jenna sungguh tidak ingin keluarganya mencari kesempatan di tengah kesempitan. Sebelum Nick dengan mudah menyanggupi, lebih baik Jenna lebih dulu menolak secara halus.
"Kita udah banyak yang punya paspor kok, iya kan?" jawabnya seraya meminta persetujuan kepada beberapa saudara yang lain. "Lagian sebenernya nggak repot juga. Apalagi, kamu anak tunggal. Udah seharusnya kami dateng mewakili keluarga."
"Dateng aja, Tante. Nanti saya suruh orang kesini buat ngurus siapa yang mau berangkat," pungkas Nick.
Jujur saja Nick sudah jengah dengan pembicaraan yang intinya adalah soal uang. Dia sendiri tidak menyangka bahwa keluarga Jenna seperti ini. Setahu Nick, Jenna bukan tipe wanita matrealistis. Dia sudah cukup lama mengenal Jenna.
Memang ada rasa kecewa saat Nick tahu bahwa keluarga Jenna sedikit tidak sesuai dengan ekspektasinya. Namun bukannya marah, Nick justru merasa iba kepada Jenna. Pantas saja Jenna tidak memiliki hubungan baik dengan mereka. Mereka saja … ah, sudahlah.
Sebenarnya Nick sempat berpikir dua kali untuk mewujudkan permintaan mereka. Namun selain demi Jenna, ia melakukan ini juga atas dasar menjunjung harga diri keluarganya sendiri. Dia tidak ingin Schneider dicap sebagai pihak yang menolak mengeluarkan uang yang sebenarnya bagi Nick jumlahnya tidak seberapa.
Jenna menunduk lesu mendengar keputusan kedua belah pihak yang tak bisa ia ganggu gugat. Hatinya sesak. Dia berharap kedua orang tuanya masih ada. Jika saja yang mewakili keluarganya adalah ayahnya sendiri, Jenna pasti tidak perlu menghadapi hal memalukan seperti ini.
Air mata yang sudah tertahan di pelupuk sudah meminta untuk segera ditumpahkan. Namun begitu, Jenna sekuat hati menahan. Dia sebisa mungkin tetap tersenyum kepada pasang mata yang menatapnya. Terlebih lagi kepada John. Kakek Nick itu justru terlihat sangat bahagia melihat cucunya akan benar-benar menikahinya.
"Jenna ini cantik, dulu sekolahnya juga pinter. Pokoknya dia mah serba bisa," puji salah seorang kerabat dari pihak Jenna.
Pujian lain yang tak kalah memuakkan bersahutan datang dari mulut para saudara yang baru Jenna sadari bahwa semuanya adalah penjilat. Dulu Jenna sebisa mungkin bersikap baik walau terkadang mereka berlaku sebaliknya. Namun sejak detik ini, Jenna membulatkan tekad untuk tak lagi peduli jika saja sikapnya berubah buruk.
Sejak pagi tadi, Jenna sudah berdebat dengan Nick. Dia sekuat tenaga mempertahankan harga dirinya agar tidak ditakar dengan nominal uang. Namun ternyata hal itu tidak berlaku untuk keluarganya.
Kali ini, Jenna merasa benar-benar sedang dijual.
Saat sesi makan bersama dimulai, Jenna memilih duduk menjauh ke arah kolam ikan yang ada di samping bangunan paling ujung. Dua sepupu terdekat Jenna sedang berada di sana juga. Niat hati ingin bergabung, namun Jenna justru mendengar mereka berbincang sambil beberapa menyebut namanya.
"Kayaknya dia hamil duluan deh. Kalo nggak, kenapa coba nikahnya buru-buru."
"Dia kan udah lama kumpul kebo sama g***n bulenya itu. Baru sekarang aja dinikahin."
"Tapi kok mau ya sama Jenna. Cantik sih, tapi kayak nggak ada cewek lain aja yang lebih pricey."
Air mata yang semula tertahan di pelupuk, kini jatuh tanpa bisa Jenna cegah. Dua telinganya mendengar dengan jelas setiap gunjingan yang keluar dari mulut sepupu yang sudah Jenna anggap layaknya kakak kandung.
Sejauh ini, mereka tidak pernah berkata buruk kepada Jenna. Baru kali ini Jenna mendengar bahwa mulut mereka ternyata busuk. Terlebih lagi, mereka hanya berani mengutarakan kalimat pedas itu dari belakang.
Menolak menjadi lemah, Jenna akhirnya menepis air matanya cepat-cepat. Dengan santai ia berjalan mendekat ke arah mereka sambil melempar senyum yang mengembang.
"Eh, Jenna. Udah lama berdiri disitu? Duduk deh sini," ajakn salah seorang wanita berbaju biru.
"Udah. Udah denger juga obrolan kalian tadi. Seru banget ya ngomongin aku," sahut Jenna yang ia lanjutkan dengan tawa hambar.
"Mmm, bukan gitu. Kita mah maksudnya baik. Pengen kamu jadi wanita baik-baik."
"Berarti aku bukan wanita baik-baik dong," jawab Jenna.
"Ya nggak gitu juga, maksudnya —."
"Udah nggak usah dibahas. Nomor rekening kalian masih sama kan? Aku udah transfer ya, buat beli baju baru," pungkas Jenna seraya menunjukkan layar ponselnya.
"Eh, Jenna kok repot-repot. Makasih banyak ya. By the way, selamat ya, nggak kerasa mau nikah bentar lagi. Aku turut bahagia," ucap.
"Iya, aku juga seneng banget kamu akhirnya nikah. Kamu sekarang cantik banget, calon juga cakep. Pokoknya cocok banget deh kalian. Best couple of the year," lanjut wanita di sebelahnya.
Jenna hanya tersenyum separuh. Ingin muntah rasanya mendengar kicauan berbisa dari dua ular di hadapannya. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Jenna segera undur diri dari hadapan mereka tanpa mau menjawab pujian yang keluar setelah mereka mendapatkan uang.
Ternyata mulut mereka bisa dibeli, batin Jenna.
Tujuan kaki Jenna saat ini adalah tempat yang sekiranya sepi. Ia ingin menumpahkan sekali lagi bulir bening dari kedua matanya yang sudah mulai basah.
Saat Jenna sedang duduk meringkuk di balik pohon yang berada di taman samping, tiba-tiba ia merasa bahunya diraih dari belakang.
"Kamu kenapa?" tanya Nick seraya menundukkan kepala menatap mata sembab milik Jenna.
"Nick, bawa aku pergi," lirih Jenna yang tanpa sadar segera berhambur ke pelukan Nick.
Jenna mendaratkan kepala pada tubuh lelaki di depannya. Tangisnya pecah. Kedua tangannya mengerat ke belakang tubuh Nick.
Untuk kali pertama, entah mengapa Jenna merasa nyaman berada dalam dekapan Nick. Entah mengapa ada rasa tenang dan aman. Entah mengapa ia merasa Nick adalah satu-satunya yang ia punya. Entah mengapa diam-diam ia berharap bahwa Nick adalah lelaki yang bisa ia ajak untuk berbagi kebahagiaan. Entah mengapa.