Prolog
"mysterious old man"
***
"Ibu kenapa ibu pekerjakan dia di rumah kita? Ibu tak tau dia itu pembunuh. Dia yang membunuh bibi Laurent." Protesku pada ibu.
" kau bicara apa sih nak, sudah cepat bantuin ibu. Jangan bicara yang aneh-aneh!" tegur ibuku.
"Ibu kenapa sih tidak mau percaya padaku, aku kemaren lihat dia membawa cangkul keluar dari rumah bibi Laurent. Pasti dia yang membunuh bibi Laurent dan menguburnya di belakang rumah. Percayalah padaku bu." Aku masih mengutarakan pikiranku kepada ibuku agar dia parcaya padaku.
"Rhein sudah diam dan kembali ke kamar mu sana. Ibu pusing! Setiap hari bilangnya begitu begitu terus, ibu capek dengerin kamu. Kamu itu tidak boleh menuduh orang sembarangan. Kalau bicara itu pakai bukti." Ibu masih saja tak mau percaya denganku. Tentu saja buktinya sudah jelas yaitu cangkul yang dibawa pak tua itu.
"Buktinya sudah ada kan Bu! Cangkul yang selalu dia bawa itu adalah buktinya. Dia menggunakan cangkul miliknya untuk membunuh korbannya dan untuk mengubur korbannya juga. Dia pandai menggunakan cangkul ternyata. Ibu percaya kan?" jelasku pada ibu.
"Sudah ngomongnya?" tanya ibuku yang terlihat kesal padaku karena aku tak berhenti mengganggunya dengan perkataan tentang pak tua itu.
"Hah..?" jawabku bengong.
"Kenapa hah?" Tanya ibuku mengintimidasiku, aku langsung bertanya kembali. "Kenapa emang?"
"Rhein dengar ya, jangan omong kosong lagi, ibu tidak suka. Pak Darius itu dia orang baik dia selalu membantu orang-orang di sekitar sini, kamu jangan asal menuduh orang sembarangan. Dia membawa cangkul memang pekerjaannya yang dulu adalah penggali kubur jadi wajar kalau dia bawa cangkul. Dan dia juga sudah di periksa pak polisi dan dia bukan tersangka dia hanya membantu menanam bunga di taman belakang rumah ibu Laurent sebelum dia meninggal, mengerti!" jelas ibuku panjang lebar. Sepertinya dia sudah kesal denganku.
"Ibu, ku mohon percayalah padaku. Pak tua itu adalah pembunuhnya. Aku pasti akan membuktikannya. Ya ya ya...?" seruku. Aku hanya ingin ibuku percaya kalau dia pembunuh yang tak pantas bekerja di rumah ini. Kalau dia membunuh keluargaku bagaimana. Dia mungkin terlihat baik hanya sebagai kedok saja, itu mungkin saja terjadi kan.
"Hahhh. Rhein, cukup! Ibu tidak mau denger apa-apa lagi tentang pak Darius dari kamu. Sekarang kamu lebih baik masuk kamarmu sekarang, tidak usah bantuin ibu lagi, sana pergi!" Usir ibuku. Hah kenapa susah sekali menyakinkan ibuku kalau dia itu pembunuh berantai.
" Ibu, ibu, ibu kenapa sih tak mau percaya sedikit saja padaku."
"Rhein! Sudah ibu katakan kamu jangan buat masalah lagi. Sudah sana masuk!"
Aku kesal sekali kenapa ibu tak mau mendengarkan ku sedikitpun. Tentu saja dia, si laki-laki tua itu pembunuh bibi Laurent. Kemaren aku lihat sendiri dengan mata kepalaku kalau pria itu keluar dari rumah bibi Laurent membawa cangkul. Bibi Laurent di temukan meninggal dalam keadaan di kubur dengan kepala keluar dari tanah. Mayatnya ditemukan di belakang rumah oleh suaminya malanya. Pasti dia pelakunya.
Mungkin aku belum ada bukti untuk menunjukkan kalau si pak tua itu adalah pembunuhannya, tapi akan ku cari bukti sebanyak-banyaknya kalau perlu akan masuk diam-diam ke rumahnya. Pria tua itu sungguh misterius, melihatnya saja aku ketakutan. Wajahnya yang mengerikan itu mempunyai aura yang mencekam. Tapi kenapa semua orang baik dan percaya padanya. Apakah seperti kata pepatah Jangan menilai orang dari covernya. Untuk pria itu menurutku dari luar dan dalam sama saja, menakutkan dan menyeramkan.
"Aku harus mulai dari mana ya? Apa aku buntutin diak ketika pulang? Lebih baik cari rencana yang sederhana dan mudah dulu." Aku mengambil buku dan bolpen, rencana pertama adalah membuat judulnya terlebih dahulu.
Judul yang bagus apa ya, pembunuh yang misterius, ah bukan. Pak tua pembunuhan, kurang bagus. Pembunuhan berantai, terlalu umum. Tukang kebun ku adalah pembunuh, terlalu terang-terangan. pembunuhan berbahaya ada disini, kok kayak novel horor. Ah mikir judul aja susah, apa lagi rencananya.
Di kerjakan nanti saja. Aku lapar sekali, ibu sudah selesai belum ya yang masak.
.
.
.
.
Next----->