Plan 1

1459 Words
*** Sekarang mari kita buat rencananya. Judulnya yang bagus seperti apa ya, oh ya aku tau. "Pak tua yang misterius." Nah bagus kan judulnya, apa aku memantau kegiatannya di rumah ini dulu dan menjadwalkannya, ini seperti detektif saja. Lalu aku baru mencatat hal-hal yang mencurigakan yang dia lakukan selama bekerja disini, ide yang bagus. Ok, rencana pertama sudah jadi mulai besok aku harus menyelidikinya, atau bisa di bilang menguntitnya. . . . . Pagi-pagi begini aku udah mengintip di depan jendela kamarku namun itu pak tua tidak muncul-muncul. Kata ibu dia jam 7 sudah datang, tapi kok sekarang tidak kelihatan, dimana dia? Apa dia di gudang?. Mending aku cari dia di gudang. Aku hendak berjalan keluar dari kamarku dan mencari pak tua itu, namun sebuah suara menghentikan ku. "Rhein? Kamu sudah bangun? Tolong bantuin aku sebentar, cepat ke kamarku ya." Itu nenek sihir kenapa sih mengganggu rencana orang, aku kan baru mau mulai memata-matai pak tua itu. Jadi gagal deh. "Rhein? Buruan dong!" teriak kakak perempuanku yang bernama Everyna Dengan kencangnya, dia kalau ngomong nadanya tinggi-tinggi mulu, apa mau jadi penyanyi. Perasaan ibu suaranya tidak sekeras itu kalau bicara, benar-benar nenek sihir ternyata. "Iya bentar!" jawabku tak kalah kerasnya. Aku buru-buru keluar kamar dan masuk ke kamar Everyna tanpa mengetuk pintu langsung nyelonong. "Udah dateng. Sebelum berangkat sekolah tolong bantuin aku rapikan kertas-kertas ini berdasarkan babnya ya. Aku harus berangkat pagi hari ini, banyak tugas yang menumpuk." Suruhnya tak tau malu, itu pekerjaan siapa kenapa malah aku yang di suruh melakukanya. "Ihh ogah! Aku punya urusan sendiri. Kerjakan sendiri enggak usah nyuruh-nyuruh." Tolakku yang sudah kesal sama dia. Kesal gara-gara mengganggu rencanaku. "Cepat dong kakak banyak tugas nih. Itu materi buat mahasiswa baru, aku lupa merapikannya. Bantuin bentar, nanti kamu minta apa aku kasih deh." Hahh, aku bantuin aja deh sudah telanjur kehilangan pak tua. Nanti aku mata-matain dia setelah pulang sekolah saja. Lagi pula aku bakalan dapat imbalan yang aku mau. "Hadehhh, ya udah deh!" jawabku malas. "Gitu dong! Itu ada 5 BAB, setiap BAB ada 24 lembar. Pastikan jangan sampai salah, mengerti!" serunya mengingatkanku agar tak salah mengerjakannya. Walaupun salah aku juga tak perduli toh nanti yang bakal disalahkan juga dia. "Iya!" jawabku kepada nenek sihir yang bawel itu dengan enggan. . . . . Sekarang aku sudah di sekolahan, aku masih sibuk mengkhawatirkan pak tua itu. Aku takut kalau dia tiba-tiba membunuh ibuku yang ada di rumah sekarang. Aku terus khawatir dan berharap sekolah cepat selesai, namun itu sangat mustahil. Ini masih pagi, jangan mengkhayal terlalu tinggi. "Rheina kamu lagi mikirin apa?" tanya teman sebangku yang bernama Art dengan nada menggoda. Dia mengganggu dengan selembar kertas yang di kibas-kibaskan di depan mataku, sontak membuat mataku sedikit kelilipan udara. Mataku sedikit perih tertiup angin mungkin itu bisa di bilang keliling ya hahaha. "Apa sih, sana pergi mengganggu saja!" Usirku sambil memasukan wajahku ke dalam lipatan tanganku di meja. "Hei hei hei. Tidak biasanya kamu begini. Ada masalah apa? Coba kasih tahu aku dong." Seru Art sambil menggoyang-goyangkan pundakku sampai aku hampir terjungkal kebelakang. "Hahhh, kamu berisik sekali. Tolong bisa tidak, berhenti menggangguku hari ini saja!" jawabku malas meladeni itu anak. "Oh tidak bisa, aku kan teman sebangku sekaligus pacar eh sahabatmu. Jadi kamu bisa cerita apapun kalau kamu sedang memiliki masalah. Itulah gunanya seorang sahabat." Godanya menamakan dirinya sahabatku. Sejak kapan kita jadi sahabat, tidak pernah tu. "Oh gitu ya, tapi aku lagi tidak mau cerita. Mengerti!" Elakku yang tak mau bisara tentang masalah pak tua itu. Itu misi rahasia, hanya aku yang tahu tak boleh ada orang lain yang boleh ikut campur. Jika nanti ada masalah biar aku saja yang kena jangan teman-temanku. "Ah, kau ini. Apa ada hubungannya dengan Steffan, sampai kamu terlihat murung seperti ini." Apa yang dia katakan? Kenapa malah membahas Steffan. "Apa yang kau katakan, bagaimana kalau dia dengar. Dasar bodoh!" seruku mengingatkan Art kalau bicara soal Steffan jangan keras-keras, kalau dia dengar bagaimana. Mau ditaruh mana mukaku. "Emang kenapa kalau dia dengar hahh!" Tantang Art sambil menggerak-gerakkan matanya ingin tahu. Seperti ini di bilang sahabat, lebih baik bersahabat dengan monyet dari pada dia. "Ish, jangan keras-keras. Kalau dia dengar kita bagaimana, aku malu tau!" Aku benci sekaligus malu sama Steffan, kami tak pernah bicara setelah kejadian itu. Kenapa dia malah membawa-bawa nama Steffan untuk memojokkanku. Dasar monyet, batinku. "Wah berarti ini tentang Steffan ya, sampai kau murung begini. Apa dia menolak mu hah?" Menolak apa, monyet memang monyet. Ingin aku tampar wajahnya dengan p****t ayam. "Kau bicara apa, dasar bego! Ini tidak ada hubungannya dengan dia. Tidak ada sama sekali, jadi jangan bahas soal dia. Mengerti!" perintahku, aku sudah malas meladeninya. "Lalu tentang apa, makanya cerita!" Apa ini jurusnya agar aku mau cerita kepadanya. Hah memakai Steffan untuk mengorek rahasiaku, dasar monyet. Dia selalu saja membuatku emosi tingkat dewa. "Iya iya, aku akan cerita! Aku memiliki tukang kebun yang baru." Aku beranikan diri bercerita tentang masalah pak tua kepadanya mungkin saja dia bisa membantu. "Iya terus masalahnya apa?" Tanyanya lagi. "Suuutt. Jangan keras-keras, janji saat aku cerita kau tak boleh ceritakan ke orang lain. Ini rahasia kita berdua. Paham!" pintaku kepadanya agar menjaga rahasia tentang pak tua. "Ya aku mengerti, terus apa?" tanyanya penasaran. "Aku aku aku...." Aku masih ragu untuk cerita tentang pak tua, bagaimana kalau rencanaku tersebar karena Art yang ember cerita kemana-mana. "Kau kenapa, kau suka padanya. Apa dia lebih tampan dari Steffan atau lebih six pac dari Steffan?" Nih anak malah bicaranya ngelantur kemana-mana, otaknya ke mana coba. "Dasar bego! Mana mungkin aku suka sama dia. Aku cowok normal bukan gay. Aku itu mencurigai tukang kebun ku yang baru sebagai pembunuh berantai." Bisikku kesal sama Art yang kerjanya menguras emosiku. "Hah apa? pembunuh berantai! Kamu yakin? Atau kamu malah suka sama yang kasar-kasar dan dewasa seperti itu." Seru Art yang makin menyimpang topiknya, padahal aku udah cerita sama dia kok malah ngelantur kemana-mana. "t***l. Kamu malah nyimpang begini sih. Aku udah cerita tapi kamu malah bahas yang beda." kataku terus terang, dia mau dengar cerita ku atau tidak, atau jangan-jangan nanti seperti ibuku yang tak percaya padaku juga. "Itu kan kemungkinan yang bisa terjadi." Kemungkinan apa, dasar bego kalau ngomong itu pakai otak bukan pakai mulut jadinya asal nyrocos aja. "Apa yang bisa terjadi, apa aku akan suka padanya gitu? Enggak mungkin, yang pertama dia cowok dan yang kedua dia sudah tua seumuran dengan ayahku. Lalu yang ketiga aku sedang mencurigainya sebagai pembunuh. Mana mungkin aku bisa jatuh cinta dengan orang seperti itu, dasar bego!" Jelasku sambil menonyol-nonyol kepalanya biar dia bisa paham dan tidak ngelantur lagi. "Oh jadi dia tua ya..?" Nih anak hehh, pengen ku tampar wajahnya pakai p****t ayam. "Iya tentu saja. Aku binggung bagaimana mengungkap identitas pak tua itu. Kau ada solusinya?" Tanyaku meminta solusi, mungkin itu anak ada ide brilian yang bisa membantu. "Ah solusi, mungkin kau ikuti dia ketika pulang. Lalu kau geledah semua barang-barang yang ada di rumahnya mungkin kamu akan mendapat petunjuk dari itu." Hah ternyata otaknya sama denganku, hanya sampai seperti itu rencananya. "Tak ada rencana yang lebih simpel lagi?" Tanyaku lagi, biar dia mau berfikir tentang rencana yang lebih sederhana dan beda dari rencanaku. "Mungkin kamu mata-matain dia saat bekerja di rumahmu." Benar kan, ujung-ujungnya juga menguntiti pak tua. "Aku sudah akan melakukan itu namun selalu ada halangan. Dia terlalu menakutkan dan susah ditebak. Menyebalkan sekali!" Seruku kesal. " Mungkin memang dia bukan pembunuh. Kau hanya salah sangka Rheina!" Aku meminta saran padamu bukan menceramahiku seperti ibuku. "Apa yang kau katakan, tentu saja dia seorang pembunuh aku yakin itu. Dan berhentilah memanggilku Rheina, panggilah namaku seperti biasanya. Geli aku jika mendengarnya." Perintahku, aku tak suka nama panggilanku dirubah-rubah. "Aku pikir nama itu cocok untukmu." Bisiknya menggodaku dengan meniup telingaku pelan. "Ah sudah pergi sana!" Bentakku mengusirnya karena jahil menggodaku terus. "Hahaha marah ya." Gida art lagi. Siapa yang enggak marah kalau dijahili terus, dasar bego! "Enggak! Sana jangan ganggu aku." Kataku mengusir. Pak guru sudah datang dan kami sudah bersiap-siap mengeluarkan buku dan belajar seperti biasa. Aku sesekali melihat ke tempat duduk Steffan yang ada di depan nomor dua setelah Marlin. Dia seperti murid biasa, semoga dia melupakan kejadian saat MOS kemaren. Itu sudah lama, namun sampai sekarang aku canggung kalau berbicara dengannya. Aku membencinya karena dia sombong sekali menolak wanita yang dulu aku suka. Yang membuat aku malu adalah taruhannya yang membuatku kalah dan harus menanggung malu. Dan untungnya Tuhan tidak pernah memberikan kita kesempatan untuk bertemu saat dikantin maupun belajar kelompok. Kejadian itu sangat memalukan, aku tak ingin mengingatnya. "Hei Rheina? Jika kau melototi dia terus, bisa-bisa kau menakutinya dengan bola matamu yang keluar dari matamu itu." Bisik Art di telingaku seperti nyamuk yang mengiang-ngiang di kepalaku. Dia memang nyamuk pengganggu. "Ah berisik deh." Jawabku sambil memalingkan wajahku ke jendela. . . . . Next----->
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD