Plan 2

2136 Words
*** Tak kusangka waktu berlalu dengan cepat, sekarang sudah waktu istirahat. Saatnya mengisi perutku yang kosong ini agar bisa berfikir bagaimana menyusun rencana untuk menguak kalau pak tua itu seorang pembunuh. "Rhein, Art ayo makan?" Ajak teman sekelasku yang bernama Edi, dia juga dekat dengan aku dan Art dia tipe orang yang suka mengganggu sama seperti Art, mereka berdua sama-sama jahil. "Rhein! Itu Steffan yang kamu cium itu, kemaren aku lihat dia pergi bersama Leana. Kau tidak cemburu denganya, hah?" Ini nih temanku yang satu ini dia suka kepoan. Suka mencari gosip-gosip terbaru. Jika ingin mencari informasi bisa datang ke temanku ini namanya Crystin. Dia wanita yang cantik, rambutnya sebahu dengan poni Dora. "Jangan ngomong seperti itu. Aku tak ada apa-apa dengan Steffan. Terserah dia mau melakukan apapun aku tak perduli, toh aku tak ada hubungan dengannya. Ayo ke kantin!" Sangkalku, memang kami tak ada hubungan apapun, jadi kenapa harus cemburu lagi pula aku tak mencintainya. Kita kan musuh. "Kenapa?bukankah kalian pacaran!" Seru Crystin to the poin, ngomong enggak pernah diajari guru main asal nyeracos saja. "Apaan sih, bukan pacaran tapi musuh. Mengerti!" Kataku menekankan kata musuh. "Jadi benar kalau kalian tidak ada hubungan lain selain musuh. Kalau begitu ya sudah deh." Serunya kecewa dengan jawabanku. Akhirnya kamu kalah juga kan. "Rhein aku baru punya gantungan kunci Hatsune Miku, nah bagus enggak. Lucu kan!" Seru temanku, dia bernama Gwen yang menyela percakapan aku dengan Crystin. Dia wanita yang suka sekali dengan yang berbau Jepang. Seperti anime dan cosplay. Aku suka sama dia karena dia baik dan perhatian serta tidak suka membully aku. Namun dia akan jadi berbeda kalau dunianya diganggu. "Ah iya bagus, kamu dapat dari mana?" Tanyaku yang mengakrabkan diri dengan dunianya. "Kau tahu aku susah sekali mendapatkan gantungan kunci ini. Aku harus mengikuti beribu-ribu kuis dari lagu Hatsune Miku padahal hadiahnya cama 10. Aku dapat juara 9 aku seneng banget tau, Rhein. Oh ya Rhein kakakmu kan kuliah di sana, suruh dia bawakan suvenir Hatsune Miku ya?" Nah ini ujung-ujungnya pasti kayak gitu. Pasti ada maunya. "Ah, itu kan langka mana bisa. Kasihan dia kalau harus repot-repot cari barang begituan, hahaha." Tolakku. Aku tak akan merepotkannya dengan mencari-cari barang tak penting seperti itu. "Ku mohon Rhein! Di sana kan asalnya anime, pasti ada banyak, disini beda, kalau di negara kita kan tidak ada!" Kata Gwen menawar lagi. Kalau anime langka seperti itu di mana pun susah. Aku pernah ke sana, cuma mau makan ramen saja harus antri berjam-jam, males banget. "Ah iya nanti aku tanyakan dulu bisa tidak. Nanti akan aku hubungi kamu kalau ada." Jawabku agar dia bisa lega, walaupun nanti aku bakal lupa sama apa yang dia minta. Itung-itung biar dia senang dulu dan aku bisa bebas untuk waktu ini. "Ah benar? pasti ada kok!" Serunya pasti. Terserah kau saja, hahaha. "Mau sampai kapan kalian mau bermesraan begitu, aku sudah lapar menunggu kalian." Seru Edi yang sedang menunggu obrolan kami. Tidak seperti biasanya Edi diam dan tak mengganggu kami dengan kejahilannya. Terserah saja yang penting aku aman-aman saja. "Ah iya ayo!" Jawab kita berdua langsung mengikuti mereka berjalan ke luar kelas. Jujur teman yang dekat dengan kami lumayan banyak walau aku bukan orang yang terbilang ganteng dan populer. Siapa bilang orang jelek tidak memiliki teman atau sahabat. Cukup menjadi diri sendiri saja sudah sebuah kekuatan yang lebih. Aku juga punya teman diluar kelas dan kami juga sering bertemu dan ngobrol di kantin maupun di luar kelas. Jika aku mau menyebutkan temanku satu per satu mungkin bisa jadi list warga satu desa. Jadi mungkin kalian bisa berkenalan bersama mereka dengan seiring waktu. Sekarang kami berjalan ke kantin dan berpapasan dengan teman-teman kami yang beda kelas. Di sekolahku memang ada beberapa kelompok yang suka sok kuat sok berkuasa dan aku tak mau berurusan dengan mereka, jadi kami terima diam kalau ada anak yang dibuli asalkan kami tidak mengenalnya. Itu memang kejam, lalu mau bagaimana lagi kami bukan pahlawan maupun superhero, jadi jangan salahkan kami. Kami hanya orang biasa. "Hai Rhein. Hai Art. Mau ke kantin?" sapa Embery pada kami berdua ketika melewati kelasnya. "Tentu saja perutku sudah lapar nih, minta di isi. Hahahaha!" Seru Art tak tau malu. Tak usah banyak gaya kalau sedang lapar, malah bikin muntah saja. Hahahaa. "Hai Phillips, Hai Embery, mau ke kantin bareng?" Sapaku mengajak mereka ke kantin bareng. "Ah tidak, kami sedang ada urusan kalian duluan saja." Tolak Phillips lalu menggandeng tangan Embery. "Urusan apa, mau pacaran ya, ayo ngaku hahaha." Seperti biasa Art mau mengorek urusan orang lain. Tak baik mengganggu privasi orang. "Kau ini bisa saja ayo pergi Embery." seru Phillips menyangkal, kemudian menggandeng Embery pergi menjauh dari kita berdua. Akhirnya mereka pergi duluan meninggalkan kami. " Hai Gwen, Hai Edi. Kalian serasi seperti biasanya! Hahahaha. Tetep langganan ya!" aku mendengar Jhon mengucapkan itu. Tentu saja aku menoleh dan menunggu percakapan mereka. Aku pikir mereka memang cocok jadi kekasih. Aku pengen lihat mereka berdua sebagai kekasih. "Apa yang kau katakan, mau ku tampar mulutmu itu. Mana mungkin aku pacaran dengan anak wibu seperti dia. Mending pacaran sama kambing deh lebih bermanfaat." Timpal Edi, salah tingkah. Duh lucunya. Aku melihat mereka sangat serasi. Gwen yang kalem dan baik, berpasangan dengan Edi yang ganteng dan malu-malu kucing. Betapa serasinya mereka, andai aku dan Faira bisa seperti mereka, aku akan sangat bahagia sekali. Tapi gara-gara Steffan semua kacau, perjuanganku sia-sia. Aku tanpa sadar menggigit bibir bawahku, karena mengigat kejadian memilukan itu, rasanya aku ingin menangis. "Ekhem, Rheina kamu kelihatan seperti menahan sembelit, kau mau ku antar ke kamar mandi ?" Tanya Art membuliku. Dasar bego, mengganggu saja. "Sial!". Seruku sambil memalingkan wajah menjauh darinya agar dia tak menggangguku lagi. Aku alihkan perhatianku pada Crystin yang sudah di seret beberapa siswi lainya. "Hai Crystin, bagaimana hari ini ada kabar terbaru tidak!" tanya wanita yang berambut panjang dan ikal itu semangat. "Mau tau berita terbaru? Berani bayar berapa!?" Kata Crystin yang bikin aku melongo. Dia menggunakan informasi yang dia miliki untuk mencari uang. Wah benar-benar hebat dalam memeras orang. "Aku punya 1$ kamu mau!?" tanya wanita itu lagi, yang lain hanya mendengar negosiasi mereka. "Kenapa kere sekali, bagaimana 1$ satu orang, nah kalian kan ada lima orang. Sekarang kumpulkan dulu uangnya, mana-mana?" Tagihnya memeras orang, dia pasti banyak akal untuk mendapatkan uang. "Baiklah, ayo kumpulkan. Ini, jangan bohong ya." Seru wanita itu lagi sambil memberikan uang 5$ pada Crystin. Berita apa sih yang di inginkan para wanita itu sampai rela mengeluarkan uang. Andai saja aku bisa mencari informasi semudah itu tentang pak tua pasti bakal beres urusanku. "Tidak akan. Percaya deh sama sumber informasi. Uangnya sudah terkumpul, kalian mau tanya apa?" Tanya Crystin sombong. "Ahhhh, kami mau tanya soal Mike, bagaimana apakah sudah punya pacar belum, beritahu kami!" tanya mereka kompak dan antusias sekali sambil cengar-cengir tak sabar menunggu informasi yang keluar dari mulut Crystin. "Kak Mike ya, setahu ku itu... Dia sudah punya pacar namanya kalau tidak salah itu Amanda." Jawab Crystin menerawang, entah benar atau tidak siapa yang tahu kalau Crystin bohong. "Wah benarkah dia sudah punya pacar." Jawab mereka kecewa. "Orang ganteng dan populer pasti banyak pacar." Seru Crystin yang membuat hati mereka hancur seketika. "Lalu apa lagi?" Tagih mereka lagi. "Satu pertanyaan lima dolar ya." Enak sekali dia ngomong seperti itu. "Yah kok pelit banget sih." Capek ya kalau bicara sama cewek yang mata duitan. "Kalau mau informasi lagi ya tambah lagi dong uangnya!" Tagih Crystin lagi. "Aku enggak punya uang, kemaren baru beli tas baru, jadi enggak punya uang lagi." Seru siswi yang bertanya tadi. "Oh ya Crystin sekarang aku yang mau tanya. Ini aku beri 1$ lagi beri satu informasi lagi, bisa?" Tanya siswi berambut panjang diikat kebelakang. "Ok, kamu mau tanya apa? Buruan temanku sudah lama menungguku." Tanya Crystin sambil mengambil uang satu dolar dari wanita yang berambut lurus di kucir sebelah yang ingin bertanya tadi. "Kalau kak Victor sudah punya pacar belum?" tanyanya malu-malu. "Dia murid yang pintar dan rajin kurasa belum, tapi akhir-akhir ini dia mulai terbuka dengan banyak orang jadi mungkin saja kamu punya kesempatan mendekatinya." "Ah benarkah!" Serunya sambil senyam-senyum sendiri. Terlihat dia begitu bahagia. "Tentu saja. Nah tak ada yang bertanya lagi, sekarang aku pergi dulu temanku sudah menungguku. Jangan lupa cari aku kalau butuh informasi terbaru. Daaaa...!"seru Crystin berlalu pergi meninggalkan mereka dan menghampiri kami. "Hai Glyn. Hay semua" sapa Crystin senang, dasar sangking senangnya semua orang disapa padahal tidak kenal. "Kau lama sekali!" tanyaku. "Biasa, cari uang dulu buat makan." Jawabnya sambil mengibaskan uang 6$ yang baru dia dapat. "Aku tak kan mau menyia-nyiakan uangku hanya untuk informasi bodoh seperti itu." Seru Edi meremehkan. "Terserah, aku tak perduli wkwkwk" jawab Crystin meremehkan. "Hahahaha" tawa kami bersama. .... "Hallo Rheina cantik! Hahaha." Aku mendengar suara perempuan seperti memanggilku dengan nada menggoda. "Wah dia benar-benar cantik ya, jangan-jangan dia wanita hahaha." "Apakah aku harus saingan dengan orang seperti itu. Iyuh nggak level.'' "Hahaha lihat itu pakaiannya jadul banget." Apa mereka sedang menghina pakaianku. Padahal aku membelinya dari brand terkenal teman ayahku. Walaupun aku miskin tapi aku modis kok. Dan penampilan ku juga tak seculun itu. "Dasar jalang! Dia suka sekali tebar-tebar pesona, apa lagi dengan Steffan. Dasar transgender." Apa mereka menghina ku transgender. Emosiku langsung mencuat. Kalian boleh menghina ku apapun yang kalian suka asalkan bukan transgender, itu sama saja melawan takdir Tuhan. "Hei kalian bilang apa? Aku laki-laki tulen ya, bukan transgender. Dan kalian para wanita sukanya gosip-gosip mulu. Sana cari gosip yang lain jangan ganggu aku." Marahku pada ketiga perempuan yang sudah menghinaku sebagai jalang. Sejak kapan aku suka menggoda orang apa lagi cowok jijik banget. "Wah dia marah, ayo pergi!" Teriak mereka keras dan lantang agar semua anak-anak mendengar dan berusaha agar aku terlihat jelek di mata semua orang. Itu tidak akan mempan sama sekali, aku tidak pernah punya musuh hanya kalian bertiga yang berusaha menjadi musuhku. Aku tidak level musuhan dengan perempuan seperti mereka. Oya ngomong-ngomong nama mereka Silvia dia adalah ketua gengnya sekaligus fens fanatik Steffan, kalau Monika dia suka banyak gaya dan sering mengganti warna rambutnya, sementara Nesta dia berambut pendek dan suka menggoleksi benda-benda imut dan lucu. Kenapa aku bisa tau semua tentang mereka tentu saja dari temanku Crystin sang informan, itulah gunanya teman. Dan aku tak perlu membayar 1$ hanya untuk mendapatkan informasi mereka. "Rhein kau juga terkenal ternyata hahaha." Ejek Art. "Apa maksudmu?" tanyaku sambil menajamkan mataku menatapnya agar dia takut. "Tak ada, ayo pergi, hahaha!" jawabnya sambil tertawa. "Malah ketawa lagi. Tidak mau bantuin malah ketawa." Semua temanku malah tertawa entak karena apa aku tak tau. "Maaf kami tidak mau berurusan dengan mereka!" Seru Art mengejek aku yang berurusan dengan murid perempuan seperti mereka. "Mereka itu singa betina, sekali terkam habis sudah, Hahaha!" Sindir Gwen tak suka dengan mereka. "Hei bagaimana jika aku dibuli mereka. Apa kalian tidak akan membantuku?" Tanyaku takut. "Tentu saja tidak. Aku tak akan mau berurusan dengan urusan wanita." "Art kau pikir aku wanita?" Tanyaku marah. "Kau emang wanita, buktinya mereka iri denganmu, kau sangat cantik sekali jika pakai rok." Art sekali lagi kamu ngomong begitu aku bunuh kau. "Mati saja kau...!" seruku telah. "Hahaha." Semua temanku malah ketawa tak jelas, puas mereka telah menghinaku. ........ Kami sudah sampai dikantin dan telah mengambil makanan kami masing-masing. Kami ngumpul di meja tempat kami biasa nongkrong. Kami di sini berlima yaitu aku yang paling pojok, disampingku ada Crystin di samping Crystin ada Edy, dan di depan kami ada Art dan Gwen. Kami asik makam sambil ngobrol bersama. " Hai semua, boleh gabung? Di tempat teman-temanku penuh!" Sapa seorang lelaki yang tinggi dan tampan. Dia adalah Victor kakak kelas kami. Hanya karena tidak ada tempat dia mau bergabung kemari. Aneh sekali, apa karena ada dua wanita ini, yaitu Crystin dan Gwen. Victor termasuk orang yang terkenal pandai dan tampan. Atau mungkin ini yang dikatakan oleh Crystin tadi kalau dia sedang melakukan pendekatan dengan banyak orang, mungkin termasuk mereka. "Boleh, tentu saja boleh. Duduklah di sini!" Jawab Gwen dan Victor pun langsung duduk disebelahnya. Kami hanya mengangguk setuju saja. Kami makan dengan diam dan canggung. Tak ada yang berani bercanda seperti biasanya, mungkin karena orang asing ini, hahaha. "Oya kenalin namaku Viktor, Kelas sebelas A. Kalian?" Victor memperkenalkan dirinya, mungkin dia berusaha akrab dengan kami. "Hahaha kami sudah tau tentang kamu. Kamu kan terkenal pinter dan tampan. Semua orang juga pasti tahu tentang kak Victor." jawab Crystin antusias. "Benarkah? Kurasa aku bukan artis, hahaha!" Jawabnya menyangkal. "Itu benar, kakak itu pinter selalu dipuji guru ketika dikelas, benarkan Crystin?" Tanya Gwen meminta pendapat Crystin tentang Victor. "Iya betul!" Jawab Crystin sependapat. "Hahaha itu terlalu berlebihan. Oya aku mau kenal sama kalian juga dong. Mungkin kita bisa jadi teman dekan, hahaha." Seru Victor ingin berkenalan dengan kami. Apakah ini yang dikatakan Crystin kalau Victor lagi mendekati banyak orang, tetapi kenapa kami. Mungkin mereka berdua (Crystin dan Gwen) para wanita cantik menurutku, hahaha. "Ah iya aku Crystin, yang disampingmu itu Gwen dan..." "Aku bisa mengenalkan diriku sendiri. Oh ya aku Gwen Priscilla Chan biasa dipanggil Gwen, aku suka menyanyi, mau dengar?" "Ah nanti saja hahaha. Nama yang bagus Gwen" "Terima kasih." Seru Gwen senang. "Ihh, ada maunya!" sindir Crystin sambil memanyunkan bibirnya. Gwen hanya senyum-senyum saja. Lalu Victor memberi isyarat yang menunju-nunjuk dengan dagunya kepada yang lain. Sontak Edi mengenalkan dirinya dan di ikuti Art dan terakhir aku. "Oh ya, aku Edi, salam kenal." Seru Edi enggan mungkin terganggu karena Gwen menyukai Viktor. "Ya, kamu terlihat pinter." "Ah biasa saja!" Jawab Edi dengan tatapannya yang semakin tajam dan tak suka. " Lalu?" Tanya Victor sambil melihatku. Aku enggak perduli dengannya. Aku lihat dia seperti ada maksud tersembunyi dengan mendekati kami. "Aku Art, pacarnya Rheina!" Kata Art sontak membuat semua kaget. Aku langsung memukul kepalanya dengan keras. "Kalau ngomong itu dijaga, dasar bego!" Kataku kesel sama dia kalau ngomong itu enggak pernah pakai otak pasti pakai mulut, ya emang pakai mulut. "Ah, kamu orangnya terus terang ya, hahaha." Seru Viktor sambil tertawa. "Ah kenalin aku Rhein teman sebangku Art yang bego ini, hahaha." aku mengenalkan diri dengan nada canggung. "Oh, kamu Rhein yang itu ya?!" "Hahh?!" Jawabku cengoh tidak mengerti maksudnya apa. Apa dia sudah mengenalku? "Ah tidak ada apa-apa kok, lupakan saja ayo makan!" Entah mengapa Victor sudah bisa membaur dengan kami bahkan sesekali bercanda dan membuat kami tertawa kecuali Art yang terlihat kaku dan sedang melihatnya dengan tatapan tajam. Aku pikir dia iri dengan Victor yang mengambil alih kerjanya yang suka membuat suasana jadi ramai. Perduli amat sama dia. Kenapa pas keadaan seperti ini aku malah kepikiran dengan pak tua itu. Apa yang sedang dia lakukan ya dirumah. Apa dia sedang menyusun rencana untuk membunuh keluargaku. Ah aku jadi tidak nafsu makan lagi. Kenapa wajah menyeramkan pak tua itu selalu memenuhi mataku. Apalagi saat pertama kali berpapasan dengannya. Ada yang aneh dengan diriku saat itu, entah apa itu aku tak tahu. "Rhein? Hei, Rhein? Kamu dengar tidak." Seru Crystin sambil menyenggolkan bahunya ke bahuku yang sontak membuatku terbangun dari lamunanku. "Ah iya apa? Hahaha." Jawabku kaget. "Kamu ngelamun ya, enggak biasanya kamu diem begini. Betul enggak hahah." Serunya yang membuat yang lain ikut melihat dan menertawakanku. "Ahh nggak ada, ayo makan, hahaha." Seruku mengalihkan perhatian mereka. Aku rasa Art tahu apa yang aku pikirkan, dia kan orang pertama yang aku beritahu tentang pak tua itu, biarkan saja. Asal dia diam aku bisa tenang. . . . . Next - - - - - >
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD