Plan 3

2410 Words
*** Kami sudah selesai makan dan kembali ke kelas lagi. Seperti biasa kami selalu bercanda dan bermain khas anak SMA sebelum pelajaran dimulai. "Crystin ternyata dia toh yang namanya Victor!" Tanyaku penasaran dengan Victor itu. "Iya! Emang kenapa?" Tanyanya sambil menyipitkan mata. Kurasa dia ingin tahu apa yang aku pikirkan. Emang apa yang aku pikirkan? tak ada, aku hanya penasaran sama Victor yang ditanyakan oleh wanita itu. "Tak ada, aku cuma tanya. Orang yang bernama Victor yang di tanya wanita berkucir itu ternyata dia!" Seruku menjelaskan maksudku. "Ku pikir ada apa, ternyata kamu cuma penasaran." Kata Crystin yang terlihat kecewa dengan jawabanku, emang kenapa? Emang itu kenyataanya. "Siapa yang penasaran. Aku cuma tanya, hahahaha." Jawabku sambil tertawa, menertawakan tingkah Crystin yang kelihatan sedih karena candaanku, hahaha. "Itu sama saja penasaran. Tak ada yang ingin di tanyakan lagi?" Tagihnya lagi. Aku masih berfikir keras apa yang ingin aku tanyakan lagi tentang Victor, tapi tak ada yang terlintas di benakku. Aku rasa mengetahui tentang Victor tak penting bagiku, yang terpenting sekarang ini adalah tentang pak tua. "Oh iya kamu tadi bilang kalau dia sedang mendekati banyak orang. Apa tadi dia ingin mendekatiku, Crystin! Kalau benar betapa bahagianya diriku, hihihi!" tanya Gwen senang. Gwen asik dengan dunia yang di bayangkan, mungkin menyenangkan untuknya. "Mungkin saja!" Jawabnya tak menyakinkan. Nih anak kenapa malah lesuh, dan malah sibuk dengan pikirannya sendiri. "Dari mana kau tahu isi hati orang. Aku pikir Crystin hanya mengarang saja. Jangan di percaya!" Seruku membantah perkataan Crystin. Aku pikir kalau yang di katakan Crystin itu bohong, dia hanya mengarang saja. Pertama aku pikir dia sedang mendekati mereka berdua, tapi setelah aku lihat tak ada tanda-tanda kalau dia menyukai salah satu diantara mereka. Katanya dia salah satu murid yang terkenal, tapi kok aku tak pernah mendengar namanya disebut-sebut para siswi yang lainnya. Dan apa yang dia katakan, mendekati semua orang, apa dia tak laku dan menjajakan diri ke semua orang. Aku pikir dia orang yang paling buruk di dunia, eh bukan yang paling buruk nomer dua, yang nomer satu tentu saja pak tua si pembunuh berantai itu. "Eh apa yang aku katakan itu benar, dia sendiri yang bilang kalau dia sedang ingin mendekati seseorang." Seru Crystin ngotot. "Emang kau dekat dengan dia, sampai dia bilang begitu sama kamu." Tanya Edi yang langsung aku setujui. Walau Crystin suka mencari informasi atau gosip sebanyak-banyaknya tapi tak sampai sedekat itu kan sama orang yang digosipkan. "Tentu saja!" Jawab Crystin tenang dan membanggakan dirinya. Tak mungkin, pasti bohong. Dia kan ke mana-mana selalu bareng kita, kapan dia punya waktu dengan Viktor. "Pasti bohong lagi, sudah jangan di percaya. Kalau mendekati seseorang berarti satu orang bukan semuanya kan. Kenapa kau memberikan harapan palsu pada mereka yang bertanya." Seruku menyangkal apa yang dikatakan Crystin bahwa yang di katakan Victor itu tak benar. Kasihan Gwen yang terlalu berharap tapi langsung jatuh karena harapan yang di berikan itu cuma palsu. "Aku serius dia bilang kalau dia ingin mendekati seseorang, tapi ketika aku tanya dia hanya bilang kau tak perlu tahu, begitu. Lihat, dia mendekati kita semua mungkin salah satu diantara kita mungkin yang dia suka." "Mana mungkin, ngaco kamu kalau ngomong. Hahahaha." Sangkal Art yang masih asyik dengan bola kertas yang dia lembar ke Edi dan sebaliknya. Mereka sedang main lempar-lempar bola kertas. Kami menertawakan Crystin yang mungkin saja tertipu dengan omongannya Victor. "Kalau yang dia suka bukan aku tapi kamu Crystin, bagaimana?" Seru Gwen sedih. "Itu tak kan terjadi. Yang dia suka pasti selain aku diantara kita." Jawab Crystin percaya diri. "Kok bisa?" Tanyaku dan Edi bersamaan. Kita kompak sekali, hahaha. "Hei hei hei. Yang boleh ngomong barengan sama Rheina itu cuma aku ya. Edi! berani ngomong bareng sama dia, awas ya kamu?" Sela Art yang mengganggu saja. Kadang-kadang aku sebel banget sama dia yang suka ikut-ikutan ke dalam masalah orang. "Eh, ekor ayam bisa diam tidak. Mengganggu saja." Cibirku padanya agar dia diam dan tak usah ikutan ngomong. "Iya." Jawabnya melas, langsung menunduk dan pura-pura takut seperti anak kecil. Menggelikan, dasar bego siapa yang akan perduli padanya, paling juga induk ayam. "Crystin jangan pedulikan mereka ayo katakan kenapa kamu tak bisa bersama dengan Victor. Lalu kenapa kamu bisa tahu yang dikatakannya itu benar!" Seru Gwen memaksa. "Tentu saja benar, dia kan sepupuku. Kita juga dekat kok walau tidak di sekolah. Kita tidak bisa bersama karena kita itu keluarga. Dia anak dari adik ayahku. Kami sering main bareng kok, dia baik, perhatian, cuma kalau di sekolah dia sedikit cuek. Tapi karena aku terus menyemangati dia untuk berubah, jadi dia selalu aku bantu untuk pendekatan biar banyak teman dan mendapatkan pacar, begitu." Cerita Crystin yang membuat aku melongo, karena apa yang aku pikirkan salah. Tapi tetap saja caranya itu salah, malah bisa merugikan dirinya sendiri. Apa perduli ku dengan dia. Jangan dipikirkan lagi Rheinallt. "Ah kamu tau karena kamu sepupunya toh." Seru Edi yang tak perduli dengan apa yang dikatakan Crystin. Aku memilih diam biar tak barengan dengan Edi, nanti timbul masalah besar dengan Art lagi. Pusing deh kalau harus mikirin anak ayam itu. "Tentu saja!" Jawab Crystin bangga. Jadi sepupu Victor saja bangga. "Apakah aku masih punya harapan?'' Tanya Gwen antusias, ku rasa harapannya tidak sia-sia. "Tentu saja tidak, dia takkan mau dengan wanita wibu sepertimu." Cibir Edi yang sepertinya tak terima kalau Gwen menyukai Victor. "Heh emang kenapa, apa aku kurang cantik. Crystin lihat aku! cantik kan?" Seru Gwen panik, lalu mengambil bedak yang ada di tasnya. Melihat wajahnya sendiri dari cermin kecil di dalam bedak itu kemudian melumuri wajahnya dengan bedak agar terlihat semakin putih dan mengomentari wajahnya sendiri. Aku dan Cristyn yang melihat tingkahnya hanya tersenyum miring dan geleng-geleng kepala heran. Duh kasihan aku dengannya yang selalu telat mikir seperti itu. Mudah banget dibohongi. Tapi dalam hati aku rasanya juga ingin tertawa. "Iya cantik!" Jawab Crystin yang terkesan bohong itu, Gwen malah menanggapinya dengan senang. Kok mudah banget percayanya. "Cantik darimana. Cewek aneh tak ada yang suka!" Timpal Edi lagi, duh kalau orang yang cemburu seperti itu ternyata, beda denganku yang ... Yang relain dia bersama dengan orang yang dia cintai, huwaaa. "Aku enggak aneh. Rhein aku enggak aneh kan?" Tanya Gwen yang menghentikan lamunanku tentang dirinya dan Edi. "Iya!" Jawabku sontak, sambil tersenyum terpaksa. Hahahaha. "Cewek aneh, jelek, lemot, baper, dan wibu. aku pikir dia tidak akan tertarik sama kamu. Mungkin saja dia tertarik dengan Rhein. Benarkan!" Seru Edi yang langsung membuat mataku melotot sempurna. Kenapa bawa-bawa namaku. Kalau marah ya marah saja, jangan bawa-bawa aku juga dong. Aku lihat wajah Gwen langsung sedih. "Edi kamu jahat sekali! Hahaha." Seru Crystin sambil tertawa lebar. Plakkkkk. "dasar bego berani bilang begitu lagi ku tampar mulutmu dengan p****t ayam!" Seruku marah. "Takkan aku biarkan Rheina bersama dia." Seru Art yang ikutan marah. Nih anak suka banget ikut-ikutan saja. "Wah wah malah jadi ribut begini. Lebih baik kita lupakan masalah ini. Mungkin saja dia hanya bersikap baik pada kita karena kalian temanku. Hahaha. Ayo main saja jangan bahas masalah yang enggak penting seperti ini." Seru Crystin menengahi kami agar adu mulut kami tak keluar. "Harapanku pupus!" Ucap Gwen lirih, mungkin hanya aku yang bisa mendengarnya karena berada di sampingnya. Aku harus menyemangatinya terus. "Tenang saja masih ada Edi. Jangan sedih, hahaha." Olokku. Mungkin saja jodohnya bukan Victor tapi Edi. "Jangan begitu Rhein. Aku lebih suka kamu dari pada Edi." Tukas Gwen yang mungkin saja kalau Edi dengar dia bisa langsung sakit hati dan memusuhiku karena telah merebut perhatian Gwen. "Hahaha, iya iya...!" Seruku mengiyakan sambil tertawa. "Berani suka padanya. Berhadapan denganku dulu!" seru Art membusungkan d**a menantang. Ku tatap Art dengan malas, suka sekali mengganggu. "Tidak kok." Jawab Gwen menciut takut. Berani sekali dia menakut-nakuti teman sendiri, perempuan lagi. Dasar ekor ayam, yang bego, jelek, bau lagi. "Kau bicara apa Art, dasar bego. Hahaha." Tawa temanku semakin pecah dengan candaan Art. Dia pintar sekali melawak, namun juga pintar membuat emosiku naik pita. . . . . . Entah mengapa pak Jhonatan juga belum datang, padahal ini sudah lewat jam masuk. pak Jonathan dia kan guru yang tepat waktu dan dia adalah guru matematika yang paling tidak aku suka. kenapa aku tak suka, karena setiap kali pelajarannya, dia selalu menyuruhku ke depan mengerjakan soal matematika yang tak pernah aku mengerti. tentu saja kadang Art membantuku dengan menuliskan rumus di belakang, jadi aku tidak mendapat semprot dari pak Jhonatan. Siapa perduli kalau dia tak hadir di kelas. aku malah bebas menyusun rencana untuk membongkar rahasia pak tua. Gwen dan Crystin sedang asik berdandan dan bergosip seperti ciri khas seorang perempuan yang suka bergosip ria. Sedangkan aku Art dan Edi asih main adu panco dan yang kalah selalu mendapat kucir rambut yang menandakan berapa kali kami kalah. Semakin banyak rambut yang dikucir semakin banyak kami kalah. Saat kami asyik main tiba-tiba Steffan datang, sontak membuat kami kaget, dia termasuk orang yang tak berteman dengan kami di kelas ini. Maklum aku benci padanya. Dia juga anak yang pandai dan disenangi guru seperti kak Victor. "Kenapa?" Tanya Steffan binggung dengan tingkah dan tatapan kami yang aneh kepadanya. Kami langsung bersikap normal kembali. "Ah hahaha tidak ada apa-apa, hahaha!" Jawab kami kikuk. "Oh ya, Rhein bantu aku membawa tugas matematika kemarin ke ruang pak Jhonatan!" Apa! dia mengajakku membantunya? Tidak biasanya dia mau mengajakku, biasanya dia dan Kendall yang bawa. Kenapa aku? Aku tak mau punya masalah lagi denganya. "Oh ah itu, aku lagi sibuk! Kamu cari yang lain saja, hahahaa maaf ya." Seruku menolak. Aku tak ingin terjadi sesuatu nanti kalau aku bersamanya, mungkin aku akan digoreng sama fens beratnya, hahaha. Aku juga tak mau berjalan beriringan bersama musuh sendiri. "Tapi kata pak Jhonatan, dia ingin bicara denganmu. Makanya aku mengajakmu." Katanya menjelaskan kalau aku juga dipanggil pak Jonathan. Kenapa pak Jhonatan itu begitu menyebalkan, tidak hadir di kelas saja menyusahkan orang. "Hah apa? Pak Jhonatan ingin bicara denganku, emang ada apa?" Tanyaku heran kenapa pak matematika itu memanggilku apa nilaiku sejelek itu. Hah apa boleh buat. Aku malas sekali melihat wajahnya, karena melihat wajahnya sama saja melihat rumus matematika yang rumit, bikin pusing. "Entah lah!" Jawabnya mengangkat dua bahunya bertanda dia tak tahu. "Ada apa Rheina, ada masalah?" Tanya Art sambil menatap tak suka dengan Steffan. Entah kenapa dia tidak menyukai Steffan, aku juga tak tau. "Tak ada, aku pergi dulu, daaa..." Jawabku sambil berlalu pergi. Aku lalu mengambil setengah buku tugas matematika yang dikumpulkan tapi kemudian Steffan menghentikanku secara tiba-tiba. Apa yang sedang dia lakukan katanya suruh bantuin membawa buku tugasnya. Kenapa tidak boleh membawanya, dasar aneh. "Kamu bawa segini saja cukup. Yang lain biar aku yang bawa!" Serunya padaku sambil tersenyum tipis. Aku enggak salah denger, buku tugas yang dia berikan cuma lima, dia pikir aku tak kuat membawa semuanya. Dasar sombong, cih. "Kamu kan hanya dipanggil pak Jonathan, bukan membantuku membawa buku tugas ini. Jadi biar aku saja yang membawanya." Serunya tak ku perdulikan. Aku langsung mengambil buku tugas itu dan membawanya keluar kelas tanpa memperdulikanya. Kami berjalan menelusuri loros sekolah yang sepi, maklum ini di jam pelajaran, jadi jarang ada murid yang keluar kecuali murid yang nakal. Steffan yang berjalan di belakangku langsung menyusul langkahku, jadi kini kami berjalan beriringan. "Rhein tadi pak Jhonatan bilang padaku bahwa nanti dia tidak akan datang ke kelas!" Serunya membuka percakapan diantara kami. Siapa perduli kalau dia tak datang, aku malah senang tuh. "Benarkah?! Hahaha syukurlah aku jadi tak usah belajar." Hahaha mungkin aku bisa menyusun rencana menguntit pak tua, yes. Itu rencanaku, semoga sukses. "Iya benar. Dan sebagai gantinya tugas rumah yang harus dikumpulkan Minggu depan." Serunya menghancurkan impianku. Tugas dikerjakan di rumah, pak matematika itu sungguh menyebalkan sekali PR yang dia berika saja aku susah mengerjakannya apalagi tugas untuk mengganti kelas pasti lebih banyak dan lebih susah dari PR. Gagal deh rencanaku, huhuhu. Aku hampir menangis. "Sial, kenapa harus tugas sih. Menyebalkan!" Seru ku kesal sekali. "Kenapa? bukanya kamu bisa bebas bermain sama temen-temenmu ketika pelajaran kan. Seperti biasanya yang kamu lakukan." Sindirnya padaku. Kalau tak suka denganku bilang saja, kita bisa bertengkar disini sekarang juga. Aku tau kamu murid paling pintar di kelas dan paling di sayangi guru-guru, tapi aku tak perduli dengan statusnya itu. Walau anak Mentri, anak orang kaya, anak pembunuh pun akan aku beri pelajaran kalau berani mencari masalah denganku. "Apa kamu mau menyindirku." Seruku memulai perang, lihat apa reaksinya setelah itu, apa dia akan marah. "Ahhahahaha tidak, bukanya biasanya kamu seperti itu. Lucu lho kalau lihat kamu main seperti itu, kamu kelihatan bahagia sekali." Apa itu, kenapa jawabanya tidak seperti yang aku harapkan. Bagaimana aku harus memancing emosinya. Tapi biarkan saja. "Dari mana kamu tau! Itu bukan urusamu!" seruku marah. Berani sekali dia memperhatikan perilakuku di kelas. Atau jangan-jangan nanti perilakuku yang tidak baik dia catat dan dilaporkan ke guru lagi. Ah bisa mati aku kalau ayah tahu aku banyak membuat masalah di sekolah. Ku lihat Steffan masih diam dan sesekali melihatku, sedangkan aku masih asyik dengan pikiranku sendiri. Tiba-tiba terdengar suara yang menggelegar, merusak pendengaran ku. Suara para wanita singa yang suka sekali mengganggu itu datang menemui fans beratnya yaitu Steffan. "Hahhhhh, steff....!" Teriak mereka menggebu-gebu melihat idolanya datang. Aku langsung berputar kebelakang menghilang, jika tidak aku akan terkena serbuan singa-singa garang nanti. "Itu steff.... Aaaa!" Teriak mereka lagi. "Hai Steffan, kamu mau ke mana?" Tanya itu nenek tua (Olivia) sok akrab, menunjukan kecantikannya di depan Steffan. Seperti biasa dia akan dikrubungi mereka bertiga. Sebenarnya dari mana asal mereka sih, tiba-tiba muncul tak terduga bikin jantungan saja. Lebih baik aku diam dan menghindar daripada kena semprot mulut wanita singa seperti mereka. Singa apa macan ya, ah sama aja menakutkan. "Hai Steffan mau ke mana? Pasti ke ruang guru ya, Steff kan anak pinter, hahahaha iya kan!" Seru Monika memuji Steffan yang berlebihan. Cih, aku juga pinter kok, tapi tak ada yang memujiku sampai sebegitunya. Lagi pula aku juga tak mau di puji oleh mereka. "Biarkan aku membantumu." Seru Olivia menawarkan bantuan dengan nada lembut dan sok-sok cantik di depan Steffan. "Ah tidak usah, aku bisa sendiri kok!" Tolak Steffan ramah. Dia sok-sokan ramah padahal hatinya busuk. Mendingan aku yang baik hati dan tampan, huh. "Wah benar-benar pria yang jantan tidak butuh bantuan wanita, wah hebat aku makin cinta sama kamu." Seru Olivia memuji, pujian apa itu! Cuma membawa buku segitu saja aku kuat tak butuh bantuan siapa pun, tak butuh pujian! "Iya, hahaha. Dia benar-benar tampan dan baik, aku jadi menyukainya." Puji Monika, Olivia mulai sadar dengan apa yang dikatakan Monika dan merasa tak nyaman. Sepertinya dia mendapat saingan baru yaitu sahabatnya sendiri. Hahaha bagus lah, maka dari itu aku bisa bebas dari mereka. "Hei apa yang kau katakan? Steff hanya milikku, hanya aku yang boleh pacaran dengannya." Sanggah Olivia tak terima sahabatnya sendiri juga menyukai orang yang dia sukai. Aku harus memutar bola mataku biar bisa paham. Emang dia siapa sampai overprotektif begitu. "Emang steff mau denganmu, belum kan!" Wah Jawaban yang menyakitkan hati, langsung kena deh. Wah Olivia makin tersulut emosi tuh, kulihat wajahnya sudah merah. Aku cukup mengamati mereka saja dari jauh biar tak kena semprotan mereka saat bertengkar nanti. "Sudahlah kenapa malah kalian yang bertengkar." Seru Nesta binggung kenapa sahabatnya malah ribut bertengkar. Dia berusaha melerai mereka berdua namun masih ragu karena takut siapa yang harus di belanya. "Dia yang mulai duluan, kenapa ikut-ikutan menyukai Steff." Tuding Olivia menyalahkan Monika yang pertama kali membuat masalah, wah sepertinya semakin parah nih, sepertinya akan benar-benar terjadi perang. Aku harus siap-siap kabur agar terhindar dari serangan mereka. "Emang kenapa, orang ganteng banyak yang suka bukan cuma kamu doang yang suka." Sanggah Monika yang sepertinya dia juga sudah menyukai Steffan sudah lama, mungkin baru kali ini dia bisa mengungkapkannya walah harus berhadapan dengan sahabatnya sendiri. "Enak aja ngomong apa kamu, hah." Tantang Olivia tak terima kalau Steffan di sukai Monika. Emang dia siapanya Steffan sampai sebegitunya. "Apa? apa? hah?" Monika juga menyulutkan emosinya sambil membusungkan d**a dan melotot kepada Olivia. Aku pikir mereka bakalan pecah karena merebut satu cowok yang belum tentu suka sama mereka. Itu Steffan malah diam dan tak bereaksi sama sekali, padahal wajahnya sudah capek mendengarkan debat mereka. Peduli amat sama dia, yang penting aku tak ikut-ikutan dengan masalah mereka. "Sudah-sudah ayolah jangan bertengkar kita kan satu geng." Seru Nesta bingung karena kedua temanya malah bertengar sendiri. Mereka adu mulut dan saling menarik rambut satu sama lain. Aduh ngurusin cewek seperti mereka itu susah. Cowok manapun enggak bakalan ada yang suka. Capek aku nunggu debat mereka yang enggak kelar-kelar. Hari ini kenapa sial banget. Gagal nguntiti pak tua, telat berangkat gara-gara bantuin nenek sihir, kena semprot cewek-cewek singa, sekarang di panggil guru, entah apa lagi kesialan yang bakal aku dapat nanti. "Sudah lah, guru kalian sudah datang! Kalian tidak masuk?" Tanya Steffan yang sepertinya lelah mendengar celotehan mereka. Lagi pula Pak Jeremy itu guru yang galak sekali, galaknya melebihi pak Jhonatan. "Apa yang kalian lakukan diluar, cepat masuk!" bentak pak Jeremy tegas dan garang. Tapi aku tak takut dengannya, dia guru yang galak juga mudah dibohongi, hahaha. Walau aku tak pernah membolos dan tak pernah mengerjakan tugas yang diberikan dia tetap saja tak bisa marah padaku. Aku selalu punya cara untuk mengelak dari amukannya. "Ah iya pak, maaf." Jawab mereka takut sambil melirik Steffan dan mengedipkan mata. "Bukanya kamu di suruh keruanganya pak Jhonatan, beliau sudah lama menunggu, kenapa kalian lama sekali. Ayo cepat pergi." Bentak pak Jeremy, kami langsung pamit permisi. Lagi pula kami juga tak mau punya masalah dengannya. "Baik pak! Permisi." jawab Steff lalu menggandeng tanganku agar mengikuti langkah kakinya berjalan menuju ruangan guru. Aku mengikutinya dengan tak nafsu. Segitunya Steffan takut dengan pak Jeremy, sampai sesopan itu. Aku saja tak perduli dengan pak Jeremy. "Hey berhenti kalian berdua!" Teriaknya menghentikan langkah kami yang sudah jauh darinya. Ada apa lagi sih menyebalkan sekali, kalau mau ngomong kenapa tidak dari tadi saja, kenapa baru sekarang, kami harus putar balik dan menghampirinya. Menyusahkan saja. "Iya pak ada apa, ada yang bisa saya bantu?" Tanya steffan menawarkan bantuan. Seperti biasa mukanya itu, selalu cari muka di depan guru. Apa yang dia dapat dari cari perhatian guru dengan ramah padanya, paling juga nilainya di tambah sedikit. "Tidak bukan kamu, tapi Rheinallt. Kemari kamu!" Perintahnya dan langsung aku turuti. Sekarang aku sedang berhadapan denganya dan menunggu apa yang akan dia katakan lagi, paling juga soal tugas lagi. Ku rasa Steffan binggung kenapa pak Jeremy memanggilku bukan dia. "Ada apa sih pak!" Seruku malas dan tak memandangnya, bersikap acuh tak acuh. "Tugas Minggu kemarin mana? Kamu belum mengumpulkan kan! Kumpulkan sekarang, taruh di meja saya, saya tunggu sampai pulang sekolah. Awas kalau tidak mau mengumpulkan lagi, tak akan aku beri nilai. Mengerti!" Serunya yang selalu menekankan kata tugas dan tugas. Cara apa lagi yang bisa aku lakukan untuk menghindari mengumpulkan tugasnya. Apa aku pura-pura enggak ngerti aja, cocok. "Enggak!" Seruku berlagak binggung, nah reaksi apa yang aku dapat agar bisa aku jadikan alasan. "Eh apa yang kamu katakan?" Tanyanya balik. Mungkin dia tak tahu apa yang aku katakan, bagus. "Bapak ngomongnya kecepatan aku tidak bisa mendengar dengan baik, coba diulangi." Pancingku agar dia capek dengan apa yang aku katakan, semakin emosi semakin mudah di bohongi. "Tugas Minggu kemarin mana? Kamu belum mengumpulkan kan! Kumpulkan sekarang, taruh di meja saya, saya tunggu sampai pulang sekolah. Awas kalau tidak mau mengumpulkan lagi, tak akan aku beri nilai." Serunya dengan nada yang sedikit tinggi, dia pikir aku budeg. Ah budeg, bisa aku jadikan alasan. "Ngomong apa sih pak, tak jelas, tolong di ulangi lagi!" Suruhku dengan nada melas, dan ku buat wajahku seperti anak anak yang tak tahu apa-apa ketika diberi nasehat oleh orang tua. "Tugas Minggu kemarin manaaaa? Kamu belum mengumpulkan kannn! Kumpulkan sekaranggg, taruh di meja sayaaaa, saya tunggu sampai pulang sekolah. Kamu jangan pura-pura budeg!" Serunya lagi hahahaha, kali ini dengan nada tinggi dan membentak kesal. Hahahaha, aku ladenin "Apa Minggu depan kencan, sama siapa pak, beli ikan? Mau makan kentang!" Kataku pura-pura tak dengar dan mendekatkan telingaku ke wajah pak Jeremy. Kulihat wajahnya sudah merah tomat emosi. Nafasnya sudah mulai memburu kesal. "Eh kamu sekarang budek ya, aku sudah ngomong tiga kali tapi kamu tidak paham-paham juga. Jangan pura-pura budeg ya, awas kamu!" Tukasnya tak percaya padaku, mungkin dia sudah sadar kalau aku bohongi mengingat dia selalu aku bohongi, mungkin saja dia belajar dari situ. "Ah ah apa apa, budeg! Paman Paman siapa yang budeng." Pancingku lagi, aku juga tak mau menyerah, hahahaha. Aku lirik Stefan, dia masih asik mematung di sana. Awas saja kalau dia ikut campur dan menggagalkan rencanaku. "Kamu yang budeg." Serunya marah, sepertinya dia sudah tak tahan lagi dengan omonganku. "Ah saya. Saya memang budeg. Eh iya saya lupa membawa alat bantu pendengaranya. Akhir-akhir ini pendengar saya lemah jadi tidak kedengaran apa pun yang orang bilang. Pantas tak dengar apa yang pak guru bilang, maaf ya pak." Seruku pura-pura sedih dan meminta maaf. "Ah lupakan saja. Sana pergi!" Serunya menggelengkan kepala sambil membenahkan kacamatanya yang tak miring, karena pusing dengan omonganku. Biarkan saja aku senang memancing emosinya, bhahahaha. Setidaknya aku bisa bebas dari mengumpulkan tugasnya. Aku langsung mengajak Stefan yang dari tadi setia mendengarkan debatku dengan pak Jeremy. Kita langsung pergi sebelum terlambat. Takut kalau pak Jeremy akan sadar kalau aku sedang membohonginya soal tugasku kemaren yang tak ku kumpulan karena belum aku kerjakan. Sudah malas mengerjakan tugasnya yang banyak itu. . . . . Next - - - - - >
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD