Nenden masih terpana dengan ucapan Lutfhi. Ia melihat Alin yang begitu senang bertemu kembali dengan ayahnya. "Bagaimana?" tanya Lutfhi. "Oh, ya, Nit, tolong ambilkan semua bingkisan kita untuk Alin!" perintah Lutfhi pada Nita. Nita mematuhi ucapan Lutfhi lalu keluar. "Rumah kita sekarang terlihat lengkap, banyak furniture mewah di sini." Lutfhi kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. "Rumah kita? Hei, ini rumah warisan orang tuaku! Seenaknya kau bilang rumah kita!" sergah Nenden. "Tapi kita pernah bersama di rumah ini!" tukas Lutfhi. Nenden mendelik tak suka dengan ucapan Lutfhi. "Pasti kau dekat dengan seseorang yang banyak uang, ya? Hingga kau mampu membeli semua ini?" "Apa pedulimu?" sahut Nenden pendek. Lutfhi tersenyum, ia menatap Nenden lekat. "Kau, tampak berbe

