62. Enam Puluh Dua

1175 Words

Jarum jam sudah menunjukkan angka setengah enam. Halimah masih betah terlelap di paha Ruslan. Ruslan berinisiatif menggendong Halimah ke atas tempat tidur. Saat Ruslan hendak menggendongnya, Halimah terbangun dan terperanjat. "Astaghfirullah, Bang! Sudah siang, kenapa nyaman sekali tidur di paha Abang, ya?" ujar Halimah seraya membuka mukena lalu melipatnya. "Semua anggota tubuh Abang memang selalu lebih nyaman daripada bantal, bukan?" jawab Ruslan melipat sajadah lalu melepas kopiah. "Abang mau sarapan apa? Nasi kuningnya Bu Sinta saja, ya?" tawar Halimah. "Iya, apa saja terserah. Apapun yang dimasak dan dibeli Halimah pasti Abang makan," sahut Ruslan. Halimah gegas ke luar kamar hendak membeli sarapan untuk Ruslan.  Sementara Ruslan ke dapur dan menyeduh kopi. Ia tersenyum melihat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD