#krring #krring #krring
Suara telepon rumah berdering, dan sepertinya sudah ada yang mengangkat telepon nya.. Mungkin mama atau kak Lista, karena ini masih pagi, jelas orang-orang rumah masih lengkap..
Aku masih malas di atas kasur, kepala ku penuh drama Kalau kalau aku tidak lulus ujian skripsi atau harus revisi dan lain lain..
"Aarghh ruwwet" batin ku, sambil mengacak ngacak rambut.
#gedubrak
"Mama mama, bangun Ma" suara kak Lista terdengar kencang di telinga ku.
Seketika aku melesat dari kasur keluar kamar.
"Mama kenapa Kak Lista?" tanya ku dan Kak Lisya berbarengan.
"Kakak juga ga tau, bantu Kakak angkat Mama donk." pinta kak Lista.
Dengan sigap aku memegang kaki Mama, dan tangan Kak Lisya di bawah punggung Mama, sedang Kak Lista mengangkat bagian pundak sampai kepala Mama, dengan aba aba kak Lista Kami bertiga berhasil mengangkat Mama dan membaring kan Mama di atas ranjang dalam kamar.
"Lisya, tolong kamu cari minyak kayu putih.,
Liza, kamu ambil air minum buat Mama, biar Kakak yang Mijit Mama sampai sadar.." perintah kak Lista.
"Siap Kak!" sahut ku dan kak Lisya bersama.
"Ini kak minyak nya" kak Lisya menyodorkan minyak kayu putih pada kak Lista.
Kak Lista membalurkan minyak kayu putih didada Mama, dan memberi sedikit di cuping hidung Mama.
Wajah kami bertiga tampak khawatir.
Mama belum juga sadar, jam dinding menunjukkan pukul 6.35, biasanya kak Lista sudah berangkat ke kantor di 5 menit yang lalu.
Kak Lista bangkit berdiri, menelepon atasan nya, meminta izin tidak bekerja hari ini,tampak ke gusaran dalam nada suara kak Lista.
Kak Lisya tidak melepas kan genggaman tangan nya pada tangan Mama, raut wajah nya menjelaskan betapa khawatir dirinya dengan keadaan Mama.
Aku pun terus mengelus kepala Mama sambil berdoa, agar Mama cepat sadar dari pingsan nya.
Kami semua ingin tau apa yang terjadi, dan kenapa Mama sampai pingsan..
Pikiran ku tambah ribet, berpikir kemana-mana..
belum juga tau masalah ujian skripsi kelar apa nggak, sekarang Mama terlihat lemah begini bikin tambah sedih.
" Li..za.. Liza.." suara Mama lemah.
"Mama sudah sadar, Ma?" tanya kak Lista.
"Mama kenapa Ma?" Kak Lisya tak kuasa meneteskan air mata..
"Liza, cuma kamu yang bisa tolong Papa.., bukan, tapi menolong keluarga kita.." air mata Mama mengalir sampai menangis sesenggukan.
"Maafin Mama Papa ya sayang, kami mengandalkan mu.." ucap Mama sambil memeluk ku.
Yang akhirnya..
Membuat ku terbangun dari tidur lelap ku..
Mata ku terbuka lebar, kaget karena rasanya air mata dan pelukan Mama tadi terasa nyata..
Namun rupanya hanya mimpi..
***
Di kampus, semua teman-teman heboh, karena ada yang lulus dengan mulus dan ada yg masih harus susah susah revisi dulu..
Aku masuk dalam kategori yang lulus dengan mulus, tinggal nunggu wisuda aja.
Tapi kenapa aku malah ga ngerasa bahagia atau minimal seneng lah..
Aku kepikiran mimpi tadi.
Arti atau maksud mimpi itu apa.
Apakah Papa kenapa kenapa di Jepang sana,atau ada hal lain nya.. Firasat ku ga enak..
"Woii.. Bengong aja lu.. Aah, pasti lu mesti revisi dulu ya, jadi manyun begini.." Tara menanyai ku.
"Aku lulus, mulus lus lusss"
"Tapi kok lu manyun gitu Liz?"
"Aku kepikiran sama mimpi ku, Firasat ku ga enak Tara.. Aku takut Papa ada apa apa di sana" jawab ku sedih.
"Hey, kalo lu khawatir, calling your Papa donk.. Jangan bengong begini.." sahut Tara.
"Ah iya, bener.. Kok Aku kayak orang ling lung ya.."
"Yaudah, gue pergi dulu ya, gue harus revisi nih, sukur aja dikit,. Biar kita bisa wisuda bareng bareng.." kata Tara menepuk bahu ku, lalu pergi menghilang.
Rupanya aku belum fokus,
Coba ikuti saran Tara aja deh, Video Call Papa..
Sekarang disini jam setengah dua belas siang, berarti di Papa jam setengah dua siang.
Semoga aku ga ganggu Papa kerja.
Akhirnya kami bertatapan secara Virtual, aku merasa ada yang Papa sembunyi kan dari ku, Papa jelas terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi di urungkan nya.
Ya sudah lah, tak mengapa, yang penting Papa ku terkonfirmasi sehat dan baik-baik aja udah lumayan melonggar kan tekanan di kepala.
***