18 🦋

1188 Words

Pompa ASI yang Anin bawa terlepas karena Anin menggunakan kedua tangannya untuk menutup mulut yang ternganga. Sayang, tangan tak bisa menyentuh batinnya yang terluka. Teriris hati Anin, menghasilkan air mata. Hadid membuang ASI itu ke mangkuk lagi, lalu mengusap mulut dan lidahnya. Melihat Anin yang terpaku, Hadid menunjuknya. “Kamu ke mana aja, Nin?!” “Kamu ngapain, Mas?!” tanya Anin tergugu. Tak ada raut bersalah di wajah Hadid atau malu dari sejenis dosa yang dibuatnya. Yang Anin dapat dari suaminya itu kesal, bukan menikmati atau apa pun yang tadi Anin prasangka pertama. “Kamu tau dia hampir aja meninggal karena---“ “Did,” panggil Mutia, suaranya lemah bukan sakit atau lelah, tetapi berisi desakan hasrat yang menggebu. “Aku beneran butuh di sana.” Tunjuknya dengan mata pada celah p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD