"Aku minta maaf tentang tadi." Sambutan yang membuat Salwa semakin lelah saja. "Tak apa. Aku tidak marah." Salwa bersikap biasa. "Jadi apa yang kalian bahas selama 2 jam? Kenapa baru pulang?" "Aku bertemu dia, perempuan yang pernah mengandung anakku." "Hm." Ada perasaan nyeri bagi Salwa. Tentu Salwa pernah dalam posisi tersebut bersama Zian, tapi kini hati Salwa utuh hanya untuk suaminya. Salwa paham Zian tidak berarti apapun lagi, tidak benci, tidak juga cinta tapi Salwa muak dengan lelaki itu. "Hari yang berat untukmu." "Memang. Dia bersama seorang bayi," ceritanya sedih. "Dia memang, katamu sudah menikah. Sepertinya hidupnya bahagia." "Katanya itu anakku." "Apa?!" Suara Salwa memekik. Athan tetap duduk di sofa, hanya sekilas memandang Salwa yang berdiri jauh darinya. Athan menu

