BAB 41

1613 Words

Sepertiga malam, sepi jelas terasa dengan suara jangkirk yang berteriak nyaring. Seperti biasa, Athan mengimami Salwa untuk tahajjud, dan setelah itu mereka sahur. Berbeda, perasaan Salwa merasa tenang, tapi juga rindu. "Tahun kemarin Meta menyiapkan meja, Mama memasak, biasanya Papa menonton," kata Salwa tak semangat dengan makanannya. "Kamu, apa yang kamu lakukan?" "Aku? Sholat." Salwa tersenyum pada makanannya, masakan Athan tetap enak seperti biasa. "Aku selalu melakukan segala hal yang kuinginkan secara bebas." "Apa kamu tertekan bersamaku?" Salwa menggeleng, tidak mungkin seperti itu. Salwa senang dan beruntung menikah dengan lelaki seperti suaminya tersebut. Meski Athan kadang aneh, Salwa tetap tidak bisa berhenti menyukai segala tentang Athan. "Rasanya seperti punya sahabat de

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD