“Kamu, jadilah yang paling diam di antara semua, biar aku juga tak banyak bicara.”
***
Desau angin malam itu menerobos lewat jendela kamar kost yang terbuka sejak pagi, sampai pukul sepuluh lewat masih saja terbuka saat pemiliknya tak kunjung pulang, untung saja isi kamar hanyalah barang-barang sederhana—yang kemungkinan tak membuat pencuri tertarik untuk sekadar melongok, toh teman kost sebelah pun tak berani melongok kamar Lintang saat petang menjelang. Di tempat kost Bu Dimar desas-desus perihal hantu pohon mangga di samping jendela kamar kost Lintang sudah menjadi mitos sejak lama, entah benar atau tidak—selama ini Lintang belum pernah menjumpai mereka yang tak kasat mata, ia sering pulang tengah malam, tapi hanya suara hewan yang terdengar. Toh, Lintang tinggal di kost Bu Dimar sudah hampir setahun lamanya sejak ia memutuskan pindah dari tempat kost yang lama, pasalnga kost Bu Dimar miliki jarak yang lebih dekat dengan kampus, jadi Lintang tak perlu repot-repot naik angkutan.
Ada untungnya juga mitos setan di pohon mangga itu tetap dipercaya, kamar Lintang akan selalu aman meski ia tak menutup jendelanya sampai esok pagi lagi. Lintang sendiri masih duduk di belakang pengemudi ojek online yang mengantarnya pulang malam ini, sedari tadi gadis itu dibuat kesal oleh panggilan dari nomor yang sama—bahkan lebih dari dua puluh kali—padahal Lintang sudah tak memedulikannya dengan senang hati, persetan jika pemilik nomor akan marah padanya.
Motor matic menepi di depan gerbang rendah kost Bu Dimar, Lintang lantas turun dan melepas helm sebelum menyerahkannya pada si pemilik, ia tak lupa mengulurkan uang sebesar lima belas ribu pada pengemudi ojek online. "Makasih, ya, Bang."
Lintang menghampiri gerbang, membuka kunci dengan mudah sebelum ia masuk dan menutup lagi, untungnya tak ada aturan yang terlalu mengikat di sana, Lintang bebas pulang kapan saja selagi hal yang ia lakukan terbilang positif, toh Lintang cukup kesulitan membagi waktu kuliah dan kerja jika ia tak mengambil pekerjaan paruh waktu. Gadis itu melangkah menghampiri lorong, deretan kamar kost sisi kiri yang jumlahnya sekitar sepuluh itu ditelusurinya hingga Lintang tiba di depan pintu nomor delapan, hampir berada di ujung, di seberangnya juga ada sederet kamar kost dengan jumlah sama. Keseluruhan tempat itu hanya diisi oleh perempuan.
"Dia ini setan apa manusia, sih? Udah jam segini masih aja gangguin gue," gerutu Lintang saat nomor yang sama masih saja menghubunginya, alhasil Lintang sengaja matikan ponsel sebelum mengeluarkan kunci dari ransel. "Gue mau istirahat, gue nggak akan dengar ceramah panjang lebar lo malam ini." Ia baru saja hendak membuka pintu setelah memutar kunci pada lubangnya, tapi ia menoleh dan hampir menjerit begitu mendapati penghuni kost sebelah berdiri di depan pintu kamar miliknya, bukan hal yang aneh memang, tapi mengerikan saat tengah malam ia mengenakan masker putih di wajahnya. "Pahit, pahit, pahit." Lintang mengusap d**a, untung ia tak pipis di celana.
"Kaget lo, ya?" Celin terkekeh menanggapi ekspresi Lintang tadi, ia memang langganan pakai masker tiap tiga hari sekali, katanya agar wajah glowing bak porcelain. "Baru pulang?"
"Iya, sejak kapan lo di situ." Lintang masih rasakan ngeri jika menatap wajah Celin.
"Tadi pas elo lagi ngomong sama hape. Oh ya, kayaknya lima belas menit tadi ada cowok bolak-balik di depan gerbang, cowok yang biasa ke sini itu lho, Lin. Pacar lo, kan, ya?"
Pacar? Gue aja nggak suka sama dia. Lintang terkekeh dalam hati, tapi sekaligus miris mengasihani diri sendiri yang terjebak dalam romansa kisah kasih percintaan dengan sosok yang bahkan tak pernah ia cintai.
"Oh, dia. Biarin aja," sahut Lintang begitu mudahnya seolah tak memedulikan adalah sikap terbaik yang bisa ia tunjukan, padahal mereka berpacaran sudah hampir setahun lamanya—sejak awal Lintang pindah ke kost Bu Dimar.
"Gue nggak ngerti sama elo, Lin. Cowok itu keren banget, anak orang kaya, tapi sikap lo kayak nggak anggap dia pacar. Kenapa, sih? Kalau bosan gue juga siap menampung bekas lo."
Lintang manggut-manggut, ia sudah sering mendengar ocehan itu dari teman-teman di area kost sampai telinga terasa panas. "Gue juga maunya gitu sih, Cel. Tapi coba lo yang negosiasi sama dia, mana tahu dia mau dengerin saran orang lain. Gue masuk dulu, ya." Lintang melanjutkan urusannya, ia sudah menguap sejak masih di jalan, jika membahas sosok sang kekasih jelas takkan ada habisnya—terutama jika teman bergibah adalah anak area kost, sampai mulut berbusa pun akan tetap berlanjut.
"Eh, tapi—" Celin mendengkus kesal, temannya itu sudah masuk kamar kost lebih dulu. "Ya kayak gitu dia, sikapnya selalu kayak gitu, heran sendiri gue, sukanya sama cowok yang model gimana," cerocos Celin tiada henti sampai suaranya tak terdengar lagi setelah ia menghilang di balik pintu kamar.
***
Nasi uduk menjadi sarapan sehari-hari bagi Lintang, ia menjadi pelanggan sebuah warung nasi uduk yang letaknya tak jauh dari area kampus sejak Lintang masuk sebagai mahasiswi di universitas swasta tersebut, hemat budget selalu Lintang tekan setiap waktu meski ia hidup untuknya sendiri setelah sang ayah menikah lagi dua tahun silam, jika seringnya tiap dua minggu sekali Lintang pulang ke Bandung, sekarang sudah sangat jarang, ia bisa pulang jika benar-benar ingin pulang. Lintang tak memiliki alasan mengapa ia harus pulang menemui sang ayah dan ibu tirinya, toh tanpa Lintang pun mereka selalu baik-baik saja.
Teh tawar hangat berhasil meluncur ke lambung Lintang, ia bersendawa tanpa canggung meski beberapa mahasiswa lain juga berada di dalam warung. Sebagian orang pasti risi melihat tingkah gadis yang sama sekali tak pernah menunjukan sisi anggunnya itu, ia lebih tampak tomboi dan masa bodo pada sekitar. Elo-elo, gue-gue, katanya.
"Makasih, ya, Teh." Lintang meletakan selembar sepuluh ribuan di bawah piring kosongnya sebelum meninggalkan tempat itu, ia baru menghidupkan lagi ponsel setelah bangun tidur. Ia masih aman sejak pagi tanpa chat atau panggilan masuk dari sosok itu, sungguh dunia terasa indah hari ini. "Kalau bisa jangan hubungi gue lagi sampai selamanya, ya? Pahala lo bakal banyak." Lagi-lagi ia mengoceh seraya menatap ponselnya, ada kebahagiaan tersendiri yang Lintang perlihatkan jika ponsel sunyi tanpa kabar dari seseorang.
Langkah gadis itu sudah memasuki area kampus setelah ia melenggang sendiri di trotoar, Lintang semakin jauh usai kakinya menapak selasar koridor utama, tujuan Lintang adalah gedung utara—tempat kelasnya berada, sekarang baru pukul setengah sembilan, sedangkan kelas baru dimulai pukul sembilan.
"Kenapa gue baru inget kalau punya lolipop di tas, dasar gue!" Lintang menyentil keningnya sendiri, ia terhenti sejenak saat mengeluarkan lolipop rasa karamel dari ranselnya, makanan manis itu kini menyumpal bibirnya.
"Fotonya Segara sama Rara semalam keren banget, tapi Rara baru post tadi, lo udah like belum?"
"Serius? Semoga mereka langgeng sampai ke pelampinan, cocok banget mereka."
"Amin," sahut Lintang saat dua orang mahasiswi berbicara seraya melewatinya, dua mahasiswi tadi menoleh menatap tak suka pada Lintang yang justru memamerkan love finger gesture. "Gue juga senang kalau mereka naik ke pelaminan." Senyum sumringah menghiasi rupa kuarsa gadis itu.
"Apaan sih, lo. Ngomong sama lo aja enggak, asal nabrak aja," cibir salah satu dari mereka sebelum melanjutkan langkah.
Lintang berkacak pinggang, bulatan lolipop yang ia tampung di pipi sisi kiri membuat bagian wajah itu tampak mengembung. "Astaga, manusia. Gue kan doa yang baik-baik, malah nggak terima. Ya, terserah deh, jadi orang baik emang susah." Baru saja Lintang hendak pergi, dering ponsel membuat rencananya gagal. Ia menatap chat masuk dari nomor yang tak pernah diharapkannya.
Ke kolam di belakang gedung fakultas hukum sekarang, kalau enggak lo tahu akibatnya.
Lintang berdecih setelahnya. "Ngapain gue harus ke sana? Apa gue bakal dia tenggelamkan di kolam sampai mati gitu? Lo nggak penting sama sekali, pergi aja sana ke laut." Ia memasukan ponsel ke saku celana, saat bola matanya melirik ke sisi kanan ia menemukan sepasang kekasih tengah menatapnya. Jika ekspresi si perempuan seperti kebingungan, ekspresi si laki-laki justru flat dan dingin.
"Lo ngomong sama siapa, sih? Lo masih waras, kan?" Rara baru saja berkomentar, ia gandeng lengan Segara tanpa ingin melepasnya, hampir setiap hari mereka mirip seperti pasangan prangko serta amplop.
Lintang tarik keluar lolipopnya dari bibir. "Ya jelas gue waraslah, emangnya kenapa kalau gue ngomong sama hape, nggak akan jadi pelaku kriminal, kan?"
Rara mulai kesal. "Gue heran sama lo, kok ada ya makhluk aneh kayak lo di kampus ini. Cocok sih kalau nggak ada cowok yang mau dekat sama lo, bar-bar. Pasti mereka nyesel sebelum kenal lebih jauh."
Sikap yang Lintang tunjukan justru berbeda, ia sama sekali tak marah mendengar cibiran Rara, ia justru terkekeh mendengarnya. "Lo benar banget, siapa juga cowok yang mau dekat sama gue, orang bego kali yang mau jadi pacar gue."
"Sumpah kepala gue mulai panas kalau udah debat sama lo." Rara menarik Segara pergi dari sana.
"Lagian cowok bego itu kenapa masih mau aja bertahan sama cewek aneh kayak gue, diputusin nggak pernah mau, kayak nggak ada cewek lain aja, dasar b***k cinta! Gue cuma punya micin," lirih Lintang seraya menatap kepergian Rara dan Segara, ia tersenyum miring. "Gue aja nggak tahu kenapa dia tertarik, kenapa mau jadiin cewek aneh yang nggak disukai banyak orang ini—buat jadi pacarnya, kan masih banyak cewek yang jauh lebih menarik. Lucu nggak, sih? Semoga penyesalan nggak akan datang terlambat, mana tahu bisa, dasar gue." Lintang kembali merogoh ponsel sebelum membaca chat masuk.
Lo beneran bakal habis setelah ini, pulang gue tunggu, lo nggak akan bisa ke mana-mana.
Apa malaikat pencabut nyawa tengah mengincar Lintang?
Ia masih berhutang SPP bulan ini.
***