3. Aku di sini, Lintang.

1578 Words
“Jarak lintang dan segara memang jauh, antara darat serta langit, lantas bagaimana cara menyatukan?” *** Ia bukan pelaku penjambretan, bukan juga teroris yang menjadi incaran polisi, tapi sikap Lintang terlalu mencerminkan jika ia seperti tengah diburu-buru seseorang, padahal tak ada siapa-siapa di sekitarnya. Gadis itu merasakan was-was setelah membaca chat terakhir kali, ia juga tak konsen saat mengikuti kelas hingga akhir, alhasil tak ada ilmu yang bisa diserap otak imut Lintang. Kali ini langkahnya mengendap-endap saat menghampiri gerbang yang terbuka lebar, dua orang satpam sibuk bercerita di dalam pos. Gadis itu terus memperhatikan sekitar takut-takut jika sosok itu muncul usai jatuh dari langit atau keluar dari kerak bumi, ah bisa gila jika Lintang merasakan parno terus-terusan. "Selamatin nyawa gue, selamatin nyawa gue," lirih Lintang seraya melangkah cepat menapaki trotoar, sekitar lima belas meter jarak dari tempat kost hingga kampus, kini ia tak sekadar melangkah, tapi lari pontang-panting seperti dikejar penculik. Lama-lama Lintang bisa menderita rasa khawatir berlebih alias anxiety jika ia terus menghindari kekasihnya. Marathon masih berlangsung di siang bolong hingga Lintang mencapai tempat kost. Untungnya tak ada siapa-siapa di sana, tapi saat Lintang hendak mendorong gerbang yang tak dikunci itu—seseorang menarik kerah kemejanya dari belakang—sebelum sebuah sapu tangan yang sudah ditetesi obat bius akhirnya membuat pelarian Lintang berakhir, ia menyerah meski tak sudi mengalah. *** Lintang tak mirip seperti sosok yang pingsan oleh obat bius, ia justru seperti sosok yang terlelap begitu tenangnya sampai merenggangkan otot saat beranjak usai tersadar. Gadis itu menatap sekitar, kasur empuk tempatnya terbaring tadi serta ruangan yang tak lagi asing di mata, ia mendengkus seraya mengacak rambutnya. Tiba-tiba Lintang berada di sana lagi setelah absen dua mingguan dengan berbagai alasan. "Kenapa, nggak senang ya ada di sini terus ketemu sama cowok t***l yang mau jadi pacar lo," cibir suara seseorang yang berdiri di dekat pintu, segelas orange juice baru saja ia seruput hingga habis, ekspresi dingin yang biasa ia perlihatkan langsung berubah dalam sekejap jika hanya menghadapi Lintang atau saat mereka berdua saja. Gadis itu menggaruk bagian belakang kepala tanpa sudi menatap kekasihnya, mungkin malaikat maut yang Lintang maskud tengah berubah wujud menjadi manusia, mau bagaimana juga Lintang pasti akan menghadapinya, ia tak bisa terus-terusan mengulur waktu. "Lo emang tipikal cewek yang suka olok-olok pacar sendiri di depan orang, pantas aja nggak pernah punya pacar," cibir laki-laki yang hanya mengenakan kaus oblong serta ripped jeans seraya mendekati Lintang. "Terus, lo ngapain masih jadi pacar gue? Diusir kasar aja nggak mau, apalagi diusir cantik. Capek tenaga gue." Gadis itu tak memiliki sisi lembut sama sekali jika harus menanggapi ocehan kekasihnya. "Gue mau pulang, gue masih ada kerjaan nanti malam." Ia turun dari ranjang, menghampiri pintu, tapi tangan laki-laki itu kembali menarik bagian belakang kerah kemeja Lintang. "Bisa nggak lo turutin keinginan gue sekali aja, berhenti dari pekerjaan itu, gue bisa cariin kerjaan yang lebih baik buat lo." Ia mendudukan Lintang di tepi ranjang sebelum berlutut di depannya, tangan-tangan kekar yang memperlihatkan otot atletisnya sibuk merapikan rambut berantakan Lintang. "Lo nggak mau kan gue pukulin om-om lagi kayak semalam? Lo nggak mikirin perasaan gue sama sekali." "Jadi, itu lo? Gue udah duga." Lintang mengalihkan pandang. "Bisa nggak jangan bikin keributan di mana-mana, nggak malu sama pacar lo?" "Lo udah ngerasa malu?" Lintang berdecih. "Maksudnya bukan gue, tapi pacar lo yang bukan rahasia, paham?" "Kalau lo juga malu itu nggak masalah, gue ngerasa ada peningkatan setelah hampir setahun kita pacaran." Matanya memperlihatkan sebuah keyakinan. "Lo belum makan siang, kan? Gue mau masak." "Nggak usah, gue mau pulang." Lintang beranjak, tapi tangan laki-laki itu kembali menariknya agar duduk. "Segara! Gue serius ada kerjaan, jadi biarin gue pergi, oke? Lo udah senang dong bisa culik gue sampai di sini. Udah puas, kan?" Segara menggeleng. "Gue mau lo di sini aja, tidur di kamar atas nanti malam." "Nggak mau!" Lintang menolak mentah-mentah. "Emang gaji lo dari kerja di hotel itu berapa, sih? Gue bisa kasih semua yang lo mau, lo itu pacarnya Segara, anak dekan kampus, mahasiswa yang statusnya sebagai ketua BEM." "Terus? Hubungannya sama gue apa?" Lintang terkekeh hambar. "Kasta, posisi, atau apa pun yang lo punya nggak penting buat gue, Gar. Kecuali sama cewek-cewek itu, lagian bodo amat juga sih, gue lebih senang jadi Lintang si jomlo yang aneh." Ia beranjak seraya menendang lutut Segara tanpa ragu hingga kekasihnya itu terbaring di selasar, Lintang bergerak cepat menghampiri pintu, tapi Segara lebih gesit beranjak dan menarik gadis itu—sebelum berakhir mengunci pintu kamar. "Gue nggak ngerti sekalipun lo kasar, bar-bar dan aneh, tapi gue nggak pernah mau putus dari lo." Segara melangkah di depan Lintang yang kini mundur perlahan. "Kenapa gue nggak pernah boleh memublikasikan hubungan kita, Lin? Biar cewek-cewek itu nggak kejar gue terus." "Gue nggak pernah minta, nggak pernah maksa juga, lo yang datang sendiri, lo yang minta sekeras itu." Punggung Lintang menubruk tembok di belakangnya, saat itu juga lengan kekar Segara mengungkung Lintang, tak ingin membiarkannya lolos lagi. "Gue masih yakin suatu hari pasti lo bakal cinta sama gue." "Kalau gue nggak akan pernah cinta sama lo sampai gue dibungkus tanah, gimana?" "Gue nggak percaya, lo pasti bakal cinta sama gue, kapan pun itu gue bakal nunggu." "Lo nggak akan nyerah?" Segara menggeleng. "Semoga lo nggak menyesal nungguin cewek aneh kayak gue, udah setahun pun lo masih bertahan, sekuat apa lo ini, Gara." Tangan kanan Segara terangkat mengusap lembut pipi Lintang, ia mendekat seraya miringkan wajah, tanpa perlu izin Segara berhasil mereguknya dengan lembut meski tanggapan yang Lintang beri akan tetap sama; diam saja tanpa membalas gerakan Segara. Jika Segara adalah laki-laki lain pasti hubungannya dengan Lintang telah usai, gadis itu tak pernah membiarkan Segara menerobosnya lebih jauh, sebuah kecupan tak berarti apa-apa. Jika Lintang adalah gadis lain pasti sudah terbang saat dipagut dengan lembut penuh perasaan, pasti bisa memberi Segara hal yang lebih dari sekadar ciuman. Sayangnya, mereka sama-sama bukan orang lain, mereka tetap Adilta Lintang dan Banyu Segara. Ciuman itu berakhir setelah Lintang mendorong d**a Segara agar menjauh, laki-laki itu mengalah, kedua tangannya masuk ke saku celana. "Lo tetap di sini sampai besok, gue benar-benar nggak izinkan lo kerja, apalagi kalau sampai kayak semalam." "Lo yang pukulin orang, kenapa gue yang repot?" "Lo alasan yang bikin gue pukulin dia, Lintang! Pokoknya lo di sini aja, mau berantakin ini kamar, jungkir balik di kasur atau nyalain televisi sampai meledak pun gue nggak akan marah, asal jangan lompat dari jendela—nanti gue ikut nyusul. Sekarang gue mau masak." Ia melenggang meninggalkan Lintang tanpa lupa menguncinya dari luar, sekarang gadis itu benar-benar tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti keinginan Segara. "Dasar playboy bisanya maksa doang, awas aja kalau gue udah punya ilmu pelet, gue santet lo," ancam Lintang seraya menatap pintu yang sudah tertutup rapat. *** Dua porsi pasta bolognese terhidang di meja ruang tamu, jika bersama Segara pasti kenyamanan Lintang selalu terjamin, ia juga bisa makan enak apa pun menu yang diinginkannya, tapi bukan berarti Lintang tak pernah makan enak sebelum menjadi kekasih Segara. Sejak ia memutuskan untuk membiayai kuliahnya sendiri—segala hal harus Lintang hemat pengeluarannya, alhasil makanan sederhana seperti nasi uduk kini ramah di bibir—padahal rumah ayahnya di Bandung begitu megah. Tak ada yang benar-benar tahu latar belakang Lintang selain Segara, sebab ia yang selalu hilir-mudik mengantar Lintang jika pulang ke Bandung. Lintang duduk bersila di sofa seraya memangku nampan berisikan sepiring pasta miliknya, bola mata gadis itu menatap televisi yang menampilkan acara tinju luar negeri, tangan kanan Lintang terlihat sibuk mengumpulkan pasta menggunakan garpu meski matanya menatap ke arah berbeda. Segara mengernyit memperhatikan tingkah kekasihnya, ia rebut begitu saja piring milik Lintang, lantas menyuapkannya meski gadis itu keukeuh menolak. "Ini biar lo nyaman nonton televisinya, nanti kalau masuknya ke telinga siapa yang salah?" Lintang mengalah untuk buka mulut, ia membiarkan Segara menyuapinya hingga habis saat Lintang tetap fokus pada layar televisi. "Lo nggak ada niat pulang ke Bandung minggu ini? Udah dua bulanan lo nggak pulang." "Nggak ada," sahut Lintang tanpa beralih dari televisi. "Lo nggak kangen sama bokap lo?" "Zaman udah canggih kok, video call lewat w******p juga udah cukup, nggak usah dibuat pusing." "Tapi, bokap lo bilang kalau dia pengin anaknya pulang." Perkataan Segara membuat Lintang menoleh, ia sudah yakin jika gadis itu pasti tertarik. "Gue kan udah dekat sama bokap lo, jadi kalau ada apa-apa langsung kasih kabar ke dia." "Lo nggak perlu repot-repot ngelakuin itu lagi, gue bisa jaga diri." Lintang menekan perkataannya. "Lo serius bisa jaga diri? Kapan?" Segara mengernyit. "Waktu lo dikeroyok beberapa cewek di bar karena nggak sengaja numpahin alkohol di baju mereka, siapa yang tolong? Waktu lo digodain om-om, siapa yang tolong? Waktu lo nggak ada duit buat bayar SPP, siapa yang tolong? Waktu—" "Cukup, Gar! Gue bakal ganti hutang gue, nggak usah sebut lagi satu-satu." "Ini bukan soal hutang, tapi soal lo yang juga butuh orang lain, lo nggak akan bisa ngelakuin semua sendiri. Gue cowok lo, gue janji ada buat lo." "Gue ngantuk, mau tidur." Lintang beranjak begitu saja tanpa ingin mendengarkan ocehan Segara lagi, ia harus mulai sadar jika setahun belakangan Segara-lah yang selalu ada untuknya, menjaga Lintang di mana pun gadis itu berada, berpura-pura bersikap dingin saat Segara bersama pacarnya yang lain meski sangat tersiksa, meski inginnya memaki siapa pun yang mengolok Lintang. Gadis itu tak seharusnya memikirkan diri sendiri saja, ada Segara yang juga butuh perhatian meski entah kapan Lintang mengabulkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD