4. Seluruh dunia.

1621 Words
Lintang menarik selimutnya hingga sebatas d**a, ia menatap langit-langit kamar dari ranjang tempat berbaringnya sekarang, tapi bukan ranjang single bed yang ada di kamar kostnya—melainkan single bad di lantai dua apartemen Segara. Laki-laki itu berhasil membuat Lintang tak bisa berkutik ke mana pun, jika saja melompat dari balkon lantai empat puluh tidak sakit—maka Lintang sudah melakukannya berkali-kali, sebab Segara seringkali mendesaknya agar terlelap di sana—bersamanya, satu flat tanpa hubungan plus-plus. Jika Lintang adalah gadis lain, mungkin saja Segara adalah top scorer sebagai penjebol gawang terbaik. Jika Lintang adalah perempuan lain, ia pasti miliki banyak uang setelah memuaskan para kadal buntung di luar sana, tapi dia Adilta Lintang—cewek wonderwoman aneh yang entah kapan bisa mencintai Segara. Kali ini ia teringat perkataan Segara di ruang tamu tadi—saat memintanya pulang ke Bandung, sudah dua bulanan Lintang tak pulang, ayahnya juga telah memohon lewat video call, tapi gadis itu menolak halus dengan segala macam alasan. Ia mungkin tampak santai, tapi Segara-lah yang paling tahu banyak tentang Lintang, Segara seperti diary bernyawa dalam hidup Lintang. "ENGGAK! ENGGAK! LEPASIN GUE! LO NGGAK BISA BERLAKU SEBEJAT INI SAMA GUE, JAKA!" Lintang terus saja meronta meski suaranya hampir habis, tenaga gadis itu juga semakin terkikis saat tiga laki-laki mengepungnya di sudut sebuah gang sempit tak jauh dari kost lama tempat tinggalnya dulu. Ada Jaka—salah satu teman kost Lintang—yang rupanya sudah tergila-gila dengan gadis itu sejak lama, tapi sikap tak acuh Lintang serta dialog sarkas yang sering ia lontarkan untuk menolak Jaka membuat laki-laki itu hilang akal, ia kalap dan meminta bantuan kedua temannya untuk menyeret Lintang saat ia baru pulang dari pekerjaan paruh waktunya sekitar pukul sebelas malam. Lintang diseret Jaka dan dua temannya ke tempat sepi, lantas mereka mulai melakukan aksi brutal merobek paksa pakaian yang melekat di tubuh gadis itu, meski Lintang mungkin saja menangis darah, tapi Jaka benar-benar tak memiliki rasa iba, ia sudah dikuasai dendam. Teriakan Lintang sama sekali tak dipedulikan ketiga laki-laki bengis itu, mereka tak segan memukul Lintang jika terus memberontak. Malam sunyi yang begitu tragis. Suara deru motor samar-samar terdengar mendekat, Lintang sudah pasrah saat ketiga laki-laki itu berjongkok mengitarinya, Jaka tengah menarik kausnya hingga melewati leher, gadis itu terbaring tak berdaya dengan pakaian robek di mana-mana, wajah Lintang sudah dipenuhi lebam. Saat Jaka hendak melepaskan ritsleting celana Lintang, sebuah tongkat baseball menyentuh bagian tengkuknya dengan keras hingga mengucurkan darah. "b*****h! Siapa yang udah lempar gue!" Jaka dan ketiga temannya beranjak, mereka menatap sosok yang berdiri di dekat motor, sendirian tanpa siapa pun. "Lo mau mati, monyet!" Saat itulah sosok pelempar tongkat berkelahi melawan Jaka dan temannya, sedangkan Lintang berusaha duduk meski tubuhnya terasa ngilu di segala tempat, ia menarik kakinya menjauh dari sana, melangkah pontang-panting sebelum jatuh pingsan di sisi jalan. Tok-tok-tok! Lintang langsung terpejam begitu mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar, ia membiarkan sosok di luar sana mengetuk pintu hingga bosan, sayangnya Segara nekat masuk meski si penghuni kamar tak membukakan pintu. Ia mendekati gadisnya, berdiri di dekat ranjang seraya menatap wajah tenang Lintang. "Ini baru jam delapan, tapi lo udah tidur, lo pasti capek, kan? Kenapa masih keukeuh buat kerja lagi? Lo baiknya istirahat." Segara duduk di tepian ranjang, ingin lebih dekat menatap tentramnya rupa kuarsa itu. "Gue minta maaf. Gue nggak akan ngekang atau maksa kalau lo mau dengerin sekali aja buat nggak kerja di tempat-tempat itu lagi, gue nggak mau lo kenapa-kenapa, Lin. Udah cukup sama yang dulu-dulu." Segara membungkuk menyejajarkan wajahnya dengan Lintang, mereka bertukar embusan napas nan hangat. Ia mengecup kening Lintang penuh kasih sayang, Segara akan selalu bersikap hangat dan lembut jika bersama Lintang, tapi berputar 360° jika ia menghadapi gadis lain. "Lintang, bagi gue—lo itu seluruh dunia. Nggak ada tandingannya, lo terlalu luas buat dipahami seluruhnya, lo bisa sembunyi di mana pun lo mau, tapi lo bakal tetap ketemu—karena kalau lo dunia, gue jadi mataharinya." Segara beranjak, ia menatap sekali lagi rupa kekasihnya sebelum keluar meninggalkan kamar itu, intinya apa pun yang Lintang inginkan pasti Segara turuti meski salah satunya ... pacaran dengan perempuan lain, sekonyol-konyolnya permintaan Lintang akan tetap Segara turuti meski akhir-akhir ini Segara rajin mengekang untuk hal yang menurutnya merugikan Lintang. Saat pintu kembali ditutup, seketika kelopak mata Lintang terbuka, ia melirik pintu seraya menarik napas pelan, tapi Lintang kembali terpejam—berharap jika mimpi indah menjenguknya malam ini, membawa lelah Lintang pada lelap nan nyaman. Lintang mengerjapkan mata perlahan, ia merasa asing dengan ruangan di sekitarnya—yang dominan dengan warna putih, kepala Lintang terasa pening, sebuah jarum infus menancap di punggung tangan kanan, kini Lintang mengerti di mana ia berada. Saat pintu ruangan terbuka, seseorang muncul seraya tersenyum hangat, rupa asing yang pertama Lintang lihat. Sosok itu terus saja tersenyum seraya mendekat, sebuah buket bunga berada dalam dekapannya sebelum ia meletakan di dekat kaki Lintang. Sosok tadi mengajaknya berbicara, tapi Lintang diam tanpa ekspresi, lantas tiba-tiba berteriak histeris saat sosok itu membahas tentang Jaka serta ketiga temannya. Dokter menegaskan Lintang mengalami syok berat, hari-hari berikutnya sang penolong tetap datang seraya membawa senyum hangat serta buket bunga, ia masih terus mengajak Lintang berinteraksi tanpa peduli jika gadis itu takkan menanggapi perkataannya. Saat ia mendapatkan alamat rumah Lintang dan gadis itu diperbolehkan keluar dari rumah sakit, sosok si penolong memutuskan ikut mengantar Lintang pulang meski mereka sama-sama asing. Lintang yang dingin mencoba ditaklukan oleh si penolong yang hangat meski bersusah payah. Lintang diantar pulang ke rumahnya, si penolong menceritakan kronologi kejadian pada orangtua Lintang serta alasan mengapa gadis ceria itu jadi pendiam, rasa trauma membuatnya bisu sampai Lintang tak masuk kuliah beberapa waktu, lucunya si penolong tetap saja menjenguk Lintang meski rumah mereka terpaut jarak cukup jauh. Waktu membawa sebuah perubahan, sikap si penolong yang begitu perhatian dan sering mengajak Lintang berbicara membuat gadis itu sudi buka suara, jika saja malam itu Lintang tak bertemu dengannya—mungkin ia sudah tewas gantung diri, mungkin tak ada kisah ini. "Apa yang bisa gue lakukan buat balas budi sama lo, kayaknya lo punya semua, jadi gue nggak tahu harus ngapain buat balas budi." "Gampang kok, jadi cewek gue." Dia, cinta pertama yang datang ke hidup Lintang, sosok penuh juang tanpa kenal jarak-waktu, tanpa peduli kata menyerah. Namanya, Banyu Segara. *** "Eh lo dapat undangan online buat acara ulang tahun si Rara, nggak?" "Dapat dong, tapi dia kan selektif, pasti nggak semua orang di kampus ini bakal Rara undang." "Anak sultan mah bebas." Sejak Lintang melangkah dari koridor hingga masuk ke kelasnya, hanya pembahasan perihal ulang tahun Rara yang terus ia dengar, setiap tahun acar ulang tahun gadis itu selalu menjadi trending topic di kampus dari ujung ke ujung, jadi pembicaraan di tiap-tiap fakultas. Maklumlah jika Rara sendiri cukup terkenal di kampus, seperti primadona—gadis itu anak seorang pengacara terkenal yang desas-desusnya selalu mendapatkan ratusan juta tiap kali menyelesaikan satu kasus. Hanya saja Lintang membenci profesi sebagai seorang pengacara, yang salah tetap dibela mati-matian, kan? Terserah pada urusan ulang tahun Rara, Lintang sama sekali tak tertarik, ia memutuskan menikmati kesibukannya dengan urusan game online di kelas daripada menikmati euforia di luar sana. Basi, Lintang jelas lebih tertarik pada ondel-ondel di sekitaran Jakarta. "Wah, gue cari-cari lo di sini ternyata." Suara itu membuat Lintang mengalihkan pandang dari ponsel, ia mendapati Rara serta kedua temannya memasuki kelas—padahal mereka beda fakultas, tapi mungkin Rara memang terlalu niat mencari Lintang sampai memasuki kelasnya. "Apa," sahut Lintang datar, ia tetap duduk seraya menatap satu per satu dari ketiga gadis yang kini berdiri di dekat mejanya. "Lo tahu kan kalau lusa acara ulang tahun gue yang spektakuler? Nggak mungkin lo nggak dengar." Rara selalu merasa bangga atas dirinya. "Tadinya gue nggak niat undang lo, tapi sekarang berubah pikiran." Rara mengeluarkan ponsel dari tas branded merek LV miliknya—seolah kampus adalah tempat memamerkan kekayaan, ia tampak melakukan sesuatu sebelum mengangguk menatap kedua temannya. "Done, gue udah invite lo ke ulang tahun gue, jangan lupa cek email ya. Gue ini cantik, baik hati dan sempurna banget. Gue undang lo bukan tanpa sebab ya, kan lo bisa bantu-bantu cuci piring di sana." Seketika tawa Rara dan dua temannya mengudara memenuhi ruangan itu, tapi ekspresi Lintang datar saja seolah tak tertohok oleh perkataan Rara yang menghinanya. "Lo tamu spesial di acara Rara, lho," tutur Keira—teman Rara yang paling tinggi di antara lainnya. "Spesial banget, kerjaan lo di hotel jadi nggak sia-sia, kan? Gue emang yang terbaik." Rara mengajak tos pada dua temannya seraya tertawa. "Oke, kita keluar sekarang. Gue masih banyak urusan." Ketiga gadis itu pun keluar setelah puas mengolok-olok Lintang, tapi tak ada sedikit pun kekesalan yang Lintang perlihatkan, ia makin tak acuh tanpa melihat email seperti pesan Rara tadi, Lintang justru melanjutkan urusan game online. "Sst!" Baru saja Lintang merasa tenang, ia kembali terusik saat seseorang menginterupsi, gadis itu berdecak seraya menoleh mendapati Malik—teman sekelasnya—baru datang seraya membawa sebuah paper bag, laki-laki itu menarik kursi lain ke dekat Lintang sebelum duduk di sana, ia meletakan paper bag cokelat tadi di permukaan meja Lintang. "Buat lo." "Apa." "Aksesoris, kemarin gue sempatin beli pas di Bali. Cewek harusnya suka pakai aksesoris, tapi kalau lo emang enggak, gue tetap pengin beliin." Malik mengeluarkan sesuatu dari paper bag, beberapa gelang tridatu serta japit rambut, tanpa meminta izin Malik memasangkan japit rambut putih itu di kepala Lintang, merapikan sedikit mahkotanya yang tergerai bebas. Tatapan mereka bertemu dalam radius beberapa centi saja, jika Malik mungkin ingin salto, beda halnya Lintang yang tetap tak tersentuh. "Cocok banget sama elo, dipakai, ya?" Lintang tak menyahut, ia mengalihkan pandang saat ekor matanya menemukan seseorang di balik jendela, menatapnya dingin. Segara, di sana Segara berdiri melihat semuanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD