5. Love at the first sight.

1746 Words
"Senang kan lo disentuh-sentuh orang lain, sedangkan gue? Gue pengin gandeng elo di depan semua orang aja nggak bisa." Lagi-lagi ocehan Segara mengudara setelah kesal melihat adegan romantis di kelas Lintang pagi tadi, ia telah menahannya cukup lama—hingga siang menjelang saat mereka bisa bertemu di belakang gedung utara—membuat Segara refleks melontarkan kekesalan dalam d**a, sesak juga ditahan lebih lama. Lintang seperti tak mendengarkan, ia sibuk menjilati es krim stroberi dalam bentuk corong di tangannya, makanan itu adalah syarat agar Lintang sudi menemui kekasihnya di belakang kampus. Lintang memang konyol, bisa-bisanya ia membuat Segara kesusahan jika mereka harus bertemu sembunyi-sembunyi di kampus, dan Segara sudah melakukan hal itu selama setahun lamanya. Bukankah Lintang terlalu kejam? "Bisa nggak lo jaga perasaan gue, Lin?" Segara yang mulai hilang sabar menarik dagu Lintang agar menatapnya, ia menekan kedua pipi Lintang seraya membiarkan gadis itu dibatasi saat menikmati es krim, sebab bibir mengerucut oleh perbuatan Segara. Keduanya bersila di permukaan rumput, di bawah pohon mangga yang begitu rindang. Lintang melirik Segara saat tekanan di kedua pipinya tak kunjung berhenti, ia tepis kasar tangan Segara seraya memutar bola mata. "Biasa aja kali, gue tiap hari lihat lo jalan sama semua cewek juga biasa aja," sahutnya santai—seolah semua itu mudah, iya bagi Lintang, tidak untuk Segara. "Itu beda, Lin. Lo nggak pernah cemburu kalau gue jalan sama semua cewek, tapi lo ngobrol sama satpam aja gue bakal cemburu, gue bisa bunuh semua laki-laki yang coba deketin elo." Segara menggebu. "Lo tahu kan kalau gue nggak akan lepasin lo untuk segala alasan atau untuk siapa pun, lo ingat, kan?" Ia menekan kalimatnya seraya menatap lekat manik Lintang, ekspresi gadis itu benar-benar tenang, ia akan selalu memperlihatkan tanggapan sama jika menghadapi kekesalan Segara, saling memamerkan seberapa batu keinginan masing-masing. "Iyalah, Segara kan jagonya berantem, semua orang pasti kalah." Entah pujian atau cibiran, mereka sama saja bagi Lintang. "Oh ya, lusa gue nggak akan datang ke acaranya Rara. Jangan tanya alasan, gue punya seribu soalnya." "Kenapa nggak datang?" "Kenapa gue harus datang?" "Lo jangan ambil enaknya aja dong, Lin. Kalau lo nggak di sana—gimana gue mau awasin elo, kalau lo di luar sendirian—siapa yang jagain? Jangan bikin gue khawatir plus parno, Lin." Segara bersungguh-sungguh, sedetik pun ia tak pernah mengosongkan pikirannya dari Lintang, kejadian setahun lalu sudah cukup membuat Segara ketakutan. Masalahnya adalah ... Segara sudah cukup menunggu, ia mendapatkannya penuh usaha, bolak-balik menjenguk Lintang dari Jakarta ke Bandung saat gadis itu masih syok berat sebab menjadi korban pelecehan meski tak benar-benar tersentuh oleh Jaka, tapi perlakuan kasar nan bengis yang Lintang terima sendirian malam itu tak mampu ia singkirkan bulat-bulat dalam pikirnya, semua butuh waktu. Segara sudah mendapatkan, jika setelahnya ia harus menunggu seseorang membuka hati pun ia akan tetap menunggu dengan setia di sampingnya, menjadikan bahunya sandaran paling nyaman, menjadikan d**a sebagai dekapan terhangat. "Tapi, Gar—" "Lo harus datang! Oke?" Binar harap muncul di mata Segara, ia sungguh memohon sampai menyatupkan telapak tangannya di depan Lintang, hal yang takkan pernah Segara perlihatkan pada gadis lain, tapi untuk Lintang ia bisa memohon seribu kali sehari. "Gue nggak ada baju, Gar. Lagian nanti pasti sama Rara bakal disuruh cuci piring." Lintang mulai menggigiti cone berisi sisa-sisa es krim. "Pacar lo yang satu itu kan kayak angin ribut, orang lagi anteng diem tiba-tiba dia recokin." "Nanti gue kirim baju ke tempat kost lo, yang penting harus datang, ya? Jangan pikirin soal Rara, selama ada gue—dia nggak akan macam-macam." Lintang terkekeh seraya menepuk lengan Segara beberapa kali. "Lo pikir gue serius mikirin dia? Ya enggaklah, emang dia siapa harus gue pikirin." Segara sudah kena prank, ia tak menyadari jika gadisnya itu adalah makhluk Tuhan yang bodo amatan. Segara ikut terkekeh hambar, ia yang konyol saat baru menyadarinya. Tangan laki-laki itu merangkul lengan Lintang seraya menariknya hingga gadis itu bisa Segara dekap erat sekarang, tersenyum sumringah usai mengecup puncak kepala Lintang. Ia mengusap lembut pipi Lintang menggunakan ibu jarinya tanpa ingin melepas dekapan itu, sedangkan si gadis tampak biasa aja menerima perlakuan Segara. *** "Mbak, tunggu dulu, Mbak!" Seorang kurir menghentikan motornya di depan gerbang tempat kost Bu Dimar, kebetulan Lintang baru pulang dan hendak membuka gerbang. Kurir tadi memegang sebuah kotak warna biru muda dengan sebuah pita warna senada menjadi bingkai yang cantik di atasnya. "Saya mau titip ini buat Mbak Lintang, penghuni kost di sini kan, ya?" "Lintang? Gue sendiri." "Oh gitu, tanda tangan dulu, Mbak." Ia mengulurkan sebuah resi terlebih dahulu sebelum memberikan kotak tadi. "Makasih, ya, Mbak." "Sama-sama." Saat kurir itu membawa motornya pergi dari hadpaan Lintang—ia masih berdiri di depan gerbang seraya menatap kotak biru muda yang dipegangnya, ia memutuskan membuka gerbang sebelum menyusuri halaman hingga tiba di lorong, kini Lintang akan membawa lelahnya pada ranjang kamar kost, bukankah hal sederhana itu sangat nikmat. Lintang memasuki kamar setelah ia membuka pintu yang dikuncinya sejak kemarin, ia rindu ranjang kecilnya saat harus terlelap di apartemen Segara kemarin malam, sekarang ia bisa bermanja-manja ria di sana, merebahkan tubuh sesuka hati seperti tak tidur berhari-hari. Lintang duduk di tepi ranjang, menatap kotak tadi sebelum membuka bagian atasnya, secarik kertas tergeletak di permukaan sebuah kain merah maroon. Lintang meraih benda itu, membacanya dalam hati. Dear, Adilta Lintang. You're perfect all the time, it's not even as pretty as you, but wear it when i think you're shinier than ever. Love, Segara. Bukannya tersenyum usai membaca isi kertas itu, Lintang justru mengerucut dan meletakannya di permukaan ranjang. Lintang mengangkat kain merah maroon tadi, saat ia bisa mengangkatnya tinggi agar semua tampak jelas—senyum kecilnya terbit, Segara membelikannya sebuah dress seperti janjinya tadi, ia memang selalu menepati janji. Satu hal yang menyenangkan adalah saat Segara begitu memahami karakter dress yang ia berikan pada Lintang, dari bentuk yang begitu anggun, bagian atas tampak terbuka meski sekadar memperlihatkan tulang selangka si pemakai tanpa memamerkan bagian d**a. Lintang suka sekali pakaian seperti itu. Baru saja ia hendak meletakan dress tadi di kotaknya, tapi Lintang beralih meletakannya di permukaan ranjang saat ia menemukan kotak kecil yang terselip di sudut kotak biru muda tadi. Lintang meraihnya, kali ini kedua sudut bibirnya ditarik semakin lebar begitu menemukan sepasang anting dengan bentuk yang cukup cantik. Anting warna gold berbentuk ring dengan bagian tengahnya memperlihatkan lingkaran warna biru laut serta sebuah bintang, biru laut seperti mengartikan nama Banyu Segara itu sendiri, sedangkan sang bintang adalah nama lain Lintang. Di bagian bawahnya masih menggantung sebuah planet kecil serta bintang warna senada, bukankah aksesoris itu mengartikan tentang keduanya? Mengapa sikap Segara begitu manis? Lintang beranjak membawa serta kotak kecil itu, ia berdiri di depan cermin lemari sebelum memasangkan anting-anting pada telinga yang selalu kosong, senyum sumringah Lintang kembali muncul setelah sepasang anting tadi menghiasi telinganya. Ia tahu, ia cantik. Ponsel Lintang berdering, ia mengeluarkan benda pipihnya dari ransel dan menatap nomor tanpa nama yang sudah dihafalnya di luar kepala, jika biasanya Lintang pasti tak acuh pada nomor itu—kali ini ia mengangkatnya penuh semangat, rona merah muda terpancar jelas di sepasang pipinya. "Hallo, Lin. Lo udah dapat kotaknya, kan?" Suara Segara mengawalinya. "Ya, gue udah dapat." Ada jeda sesaat ketika Lintang menatap lagi pantulan wajahnya di cermin. "Ngomong-ngomong makasih." "Iya, jangan lupa dipakai ya, sekarang gue mau futsal sama teman-teman, lo jangan main jauh-jauh." "Iya." "I love you, Lin." Panggilan berakhir sepihak saat Lintang menekannya lebih dulu tanpa membalas perkataan terakhir Segara, ia memang selalu seperti itu—menghindari kata-kata manis yang bisa terlontar dari bibirnya untuk Segara. Seorang gadis berlari tergesa usai keluar dari sebuah taksi, rambut panjang yang ia ikat menjadi dua bagian terus saja bergerak saat sepasang kakinya masih sibuk berlari menyusuri koridor kampus pagi ini, ia menemukan begitu banyak mahasiswi yang mengenakan kostum sama dengannya—sebuah kemeja putih serta rok lipit hitam selutut—berbaris di lapangan kampus, hari ini adalah OSPEK terakhir, tapi ia baru datang karena hari-hari sebelumnya disibukan mencari tempat kost baru—tanpa rencana matang lebih dulu, alhasil ia benar-benar telat melakoni kegiatan wajib di kampusnya. Begitu banyak senior OSPEK berdiri di sudut-sudut lapangan, mereka kentara dengan almameter biru navy yang dipakai, suara toa memenuhi lapangan, euforia keramaian terlalu signifikan. Sebuah potongan kardus dengan tali rafia biru melingkari leher gadis itu. Ia kebingungan saat ini, sudah telat datang, telat ikut OSPEK juga, bukankah sama saja kesialan? "BARIS YANG RAPI, KAKAK HITUNG SAMPAI SEPULUH—KALAU NGGAK SELESAI—KALIAN SEMUA KENA HUKUM!!!" Suara dari speaker menggelegar bak petir di langit, gadis itu mendelik usai mendengarnya, ia bahkan tak berada di lapangan. Buru-buru ia berlari memasuki lapangan—sebelum salah satu kaki senior perempuan yang hendak ia lewati seperti sengaja membuat gadis itu tersungkur usai kakinya tersandung sesuatu. Beberapa orang tertawa termasuk senior tadi—seolah puas mengerjai juniornya itu. "DELAPAN, SEMBILAN, SEPULUH!!!" Hitungan telah berakhir, tapi ia baru saja bangkit dan terlambat melakukan tugas pertamanya. Gadis itu mendelik mendapati beberapa senior menatapnya penuh seringaian mengerikan, saat itu ia tahu hukuman yang jelas menanti di hari pertama datang mengikuti OSPEK terakhir, mungkin hukumannya bisa berlipat ganda. "Lo nggak apa-apa?" Suara seseorang mengalihkan rasa ngerinya dari tatapan para senior, gadis itu menoleh menemukan senior laki-laki tersenyum menatapnya. "Aku nggak baik-baik aja, telat masuk ke barisan, baru bisa ikut OSPEK karena kemarin-kemarin cari tempat kost yang cocok di Jakarta. Pasti hukumannya berat, kan?" Wajahnya kentara cemas didominasi rasa bersalah. "Aku benar-benar minta maaf, please jangan kasih hukuman yang terlalu berat." Ia menyatukan telapak tangannya, memohon. Senior berambut mohawk potongan baru itu tersenyum kecil, ia menunjuk salah satu barisan. "Masuk aja langsung ke sana, gue yang jamin lo nggak akan kena hukuman." "Ini serius?" Ekspresinya berubah ceria dalam hitungan detik saja. "Iya, serius. Langsung aja ke sana, nanti gue yang tanggung hukuman." "Serius? Makasih banyak." Gadis itu tersenyum sumringah, segera ia berlari memasuki barisan yang ditunjuk tadi. Namun, semua yang dijanjikan seniornya tadi memang benar, ia mendapat teguran dari senior lain di depan barisan para junior, meski mendapat hukuman berjalan dengan posisi jongkok di sepanjang barisan junior, tapi senyumnya tetap diperlihatkan—seolah menegaskan jika ia baik-baik saja meski menanggung kesalahan juniornya. Tatapan mereka kembali bertemu saat gadis itu memiringkan tubuh memperhatikan sang senior yang sibuk menjalankan hukumannya, ia berdiri di barisan paling belakang, tapi masih bisa melihat—terutama saat senior tadi menghentikan langkah jongkoknya sejenak, menatap gadis tadi seraya tersenyum, sebuah nama diingatnya saat ia menatap potongan kardus di depan d**a gadis itu tadi. Adilta Lintang, mungkin sang senior merasakan love at the first sight. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD