6. Di balik jendela.

1524 Words
Tirai kamar terus saja bergerak saat angin malam sibuk menggoyangkannya, membuat gadis yang bersila di ranjang seraya memangku laptop akhirnya mengalah, sebenarnya tak terlalu dingin juga jika ia mengenakan pakaian yang lebih panjang semacam piyama, tapi Lintang hanya mengenakan tank top serta celana pendek, awalnya memang gerah, tapi lama-lama dingin menusuk tulang—seperti mengulitinya hingga telanjang. Ia turun dari single bed berseprai tokoh salah satu kartun walt disney, terlihat seperti anak-anak memang, tapi apa pun yang bisa Lintang gunakan—pasti ia gunakan—termasuk seprai yang didapatnya sebagai kado ulang tahun semasa SMP, ia sengaja turut membawa benda itu move on ke Jakarta, sebab si pemberi adalah sahabat dekat Lintang yang kini tak melangsungkan pendidikannya di Indonesia. Lintang tak lantas menutup jendela, ia memperhatikan lebih dulu keadaan di luar sana, ada pagar besi memanjang sampai gerbang di balik pohon mangga, lantas satu meter di sisi trotoar adalah jalan besar, jadi Lintang masih bisa melihat seramai apa keadaan di luar sana di balik jendelanya. Posisi jendela dengan pagar besi tak kurang dari satu meter, gadis itu menatap ke arah pohon mangga, bahkan setiap hari Lintang memperhatikannya selang beberapa menit—sekadar mengharapkan sesuatu muncul di sana, tapi tak pernah ada. Omong kosong apa yang dibuat orang-orang dengan sebutan mitos? Lintang menatap pohon itu hingga menengadah memperhatikan setiap bagiannya, tapi hanya ada beberapa mangga muda bergelantung di tangkai, tak ada yang mereka sebut setan. Lagipula, setan sudah ada sejak lama di tiap-tiap manusia, kan? Setan siapa yang berkeliaran malam-malam. Lintang jadi ingin tertawa memikirkannya. "Jangan-jangan setan dalam diri gue yang udah keliaran ke mana-mana," gumamnya, ia menarik jendela swing kamarnya sebelum beralih pada tirai hingga kaca tertutup sempurna, gadis itu kembali lagi pada tugas kuliah yang menumpuk di laptopnya. Beberapa kali Lintang menguap, ia baru menyadari sudah pukul sebelas malam saat ekor matanya melirik sebuah jam berbentuk lingkaran yang menempel di atas kusen pintu. Pantas saja ia sudah mengantuk. Gadis itu mengakhiri urusannya, ia simpan laptop pada ransel di permukaan nakas dekat pintu, baru saja ia memutar tubuh—hendak menghampiri ranjang lagi—suara ketukan dari luar jendela membuat Lintang terhenyak, bola mata yang sempat menyipit kini melebar lagi. "Siapa? Siapa di luar?" Lintang tampak waspada, tiba-tiba ia merinding dalam sekejap, tapi benarkah sesuatu di pohon mangga itu akhirnya menemui Lintang? Tok-tok-tok! Lagi-lagi Lintang mendengarnya, meski ia merasakan takut, tapi tubuh seakan tak mampu diajak bernegosiasi kali ini, sepasang kakinya justru terus mendekat menghampiri jendela meski ekspresi wajah memperlihatkan ketakutan yang jelas. Tangan-tangan kurus Lintang bergerak menarik tirai, tak ada apa pun tampak dari kaca, kerutan di dahi mulai tercipta, peluh sebesar biji jagung juga mulai menetes. Seperti itukah rasa takut? "Ssh ... siapa?" Lintang belum ingin mundur, tangannya menarik pengait jendela, ia mendorongnya pelan hingga benda itu benar-benar terbuka, kini hawa dingin menyeruak masuk menyetuh tiap centi kulit tubuh, rasanya seakan lebih dingin dari sebelumnya. Bola mata Lintang waspada melihat pohon mangga, dari atas ke bawah, seterusnya berulang-ulang. "Tadi siapa yang ketuk pintu? Siapa?" Suara Lintang sedikit meninggi, keberaniannya juga didominasi rasa takut yang enggan mengalah. Tiba-tiba sesuatu muncul dari bawah kusen jendela, tersenyum padanya, tapi lebih terlihat seperti menahan tawa. Lintang yang mendelik hampir saja membiarkan jantungnya berlari tadi—jikalau netranya tak lekas mengenali sosok itu. "Elo!!!" "Siapa di luar?" Suara Celin terdengar dari kamar sebelah, ternyata teman kost Lintang yang satu itu belum terlelap. Ia semakin mendelik, tangannya terulur menarik kedua lengan Segara, memaksanya melompati jendela agar bisa masuk kamar kost. Celin tampak membuka jendela kamar, tapi tak ada siapa pun yang ia temui, gadis itu melongok keluar jendela—memperhatikan sekitar, semua jendela kamar tertutup rapat seperti milik Lintang. Gadis itu menerawang. "Perasaan tadi gue kayak dengar suara, kok sepi?" Ekspresinya berubah tegang. "Jangan-jangan setan yang di pohon mangga!" Segera ia tutup lagi jendela, bahkan menariknya cukup keras sampai bunyi yang khas terdengar. Segara tampak biasa saja meski Lintang terus menyipit memperhatikannya, laki-laki itu berdiri di dekat jendela yang sudah tertutup rapat, sedangkan Lintang berada di depannya seraya bersidekap. Ia terus menatap Segara seperti seorang polisi yang melakukan pemeriksaan, penuh rasa curiga. "Lo kenapa, sih? Gue nggak ada niat nyolong c*****t sama beha cewek-cewek di sini, kenapa ditatap kayak gitu terus—" Tubuh Segara terdorong membentur tembok saat Lintang membekap mulutnya seraya mendelik, ia mengangkat kedua telapak tangan tanda berdamai. "Elo ngapain malam-malam di tempat ini, lo pengin ketahuan orang banyak terus bikin gue dikeluarin dari kost ini, hm?" Lintang mengintimidasi, ia masih membekap mulut Segara, tatapan mereka sedekat itu, hanya beberapa centi. "Elo jangan macam-macam sama gue, ya. Mau gue banting juga di sini? Gue juara taekwondo waktu masih SMA!" Segara mengangguk, saat itulah Lintang menurunkan tangannya dari bibir Segara, tapi saat itu juga hal yang tak diduga berhasil Segara lakukan untuk melumpuhkan kekuatan lawan. Ia memutar posisinya dengan Lintang, kini gadisnya yang terkungkung di tembok, bahkan tak hanya terkungkung saat sebuah pagutan pelan mulai Segara langsungkan. Lintang menekan d**a Segara sebisa mungkin, tapi ia yang kalah pada akhirnya. Segara menarik diri saat napas Lintang tersenggal. "Maaf," ucap laki-laki itu seraya mengusap pelan sisi wajah Lintang. "Kasih tahu gue, lo ngapain malam-malam ke sini? Lo nggak punya jam?" Konyol juga terkaan Lintang, arloji bahkan melingkar di tangan kanan Segara. "Kangen sama lo," sahut Segara santai, ia tersenyum miring menanggapi kerutan di dahi Lintang. "Nggak salah, kan?" "Lo hampir bikin gue ketangkap basah masukin cowok ke kamar!" "Ya salah elo, kan? Elo yang paksa gue buat masuk tadi." Segara seakan melempar semua tanggung jawab pada Lintang. "Ya iyalah gue masukin elo tadi, kalau telat dikit aja—si Celin bisa lihat lo ada di sana, mau gimana nasib gue selanjutnya, Gara!" Lintang meremas rambut, ia menyingkir dan duduk di tepian ranjang, tapi kekesalan gadis itu adalah sesuatu yang menggemaskan bagi Segara. "Sorry, sorry." Segara ikut duduk di samping Lintang, kepalanya menengadah memperhatikan sekitar. "Besok-besok nggak akan lagi kayak gitu, deh. Jangan ngambek." "Besok-besok?" Lintang menoleh bersamaan tangan meremas lengan kekasihnya. "Nggak ada lagi yang beginian besok-besok, cukup malam ini!" Bukannya merasa sakit, Segara justru tersenyum sumringah. "Lo kalau galak makin gemesin, ya." "Cih!" Lintang menarik tangannya, ia bersidekap menatap lurus ke depan, percuma juga marah-marah jika Segara justru kegirangan. Keduanya saling diam, atmosfer keheningan membekukan ruangan itu, Lintang masih keukeuh dengan posisinya—bersidekap menatap lurus ke depan, sedang Segara beberapa kali melirik gadis itu, ia yang bosan akhirnya merebahkan tubuh di sana. Gadis itu lantas menoleh dengan tatapan jahat pada Segara, kekasihnya berkedip tak mengerti. "Lo mending pulang sekarang." Lintang beranjak, eskpresinya lebih ketus dari tadi. "Kasur gue yang kecil nggak akan muat buat tidur berdua." "Gue bisa tidur di bawah," sahut Segara tanpa ingin beranjak, ia menjadikan kedua tangannya sebagai bantalan. "Intinya gue nggak mau ada lo di sini, mending pergi sana. Kamar gue menolak kehadiran lo, Gara." Lintang berkacak pinggang, ia menunjuk jendela. "Karena lo masuk dari sana, keluar juga dari sana." "Kok gitu, sih? Kan gue tadi bilangnya mau tidur di sini, lo udah berapa kali tidur di apartemen, tapi gue belum pernah—" "Gue nggak pernah minta, kan? Lo yang selalu suruh gue di sana, kan? Malah sampe culik-culik segala." Ia memutar bola mata, haruskah Lintang mengingatkan hal sama seribu kali sehari? "Lin—" "Gar—" Segara beranjak duduk seraya meloloskan jaketnya, ia makin tak mengikuti perintah Lintang agar menyingkir dari tempat itu, bukankah sama saja menantang? "Lo pulang sekarang, Gara! Pulang!" "Gue nggak mau, gimana, dong? Kamar lo—kamar gue juga, kan? Ya ... walaupun kita nggak pernah—" Segara terkekeh saat Lintang mendorongnya kasar hingga terbaring lagi di ranjang, gadis itu kian murka. "Lo pulang atau gue teriakin cowok m***m sekarang!" ancam Lintang. "Bisa bilang kayak gitu?" Segara cepat beranjak bersamaan tangan menarik Lintang agar menyatu dengannya hingga mereka berbaring lagi di sana, tapi posisi Lintang berada di atas, di mana pun posisinya Lintang tak pernah sudi! "Setan lo, ya!" Segara memindahkan posisi Lintang ke samping, kini ia mendekapnya erat-erat tanpa ingin melepaskan. "Udah sih nurut aja, gue mau tidur sekarang." Ia menguap sebelum pejamkan mata, berkali-kali Lintang memberontak—kekasihnya tak membiarkan ia bebas, Lintang mengalah pada akhirnya. Ia membiarkan Segara terlelap dengan posisi seperti itu meski sama sekali tak nyaman baginya, tapi biarlah kali ini Segara menang lagi. Kelopak mata Lintang masih terbuka meski seseorang di sampingnya sudah mendengkur lirih, mungkin Segara benar-benar tertidur. Lintang menatap langit-langit, ia merasakan embusan napas Segara menyentuh lehernya. Ia menoleh menatap mata terpejam Segara, tangan Lintang terulur menyentuh wajah itu, ia bahkan tak pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya, Lintang selalu bersikap tak acuh meski Segara di sisi. Jika kekasihnya terpejam, jelas takkan tahu apa yang dilakukannya, bukan? Gue takut, Gar. Takut untuk dua hal, memperhatankan elo lebih lama, tapi juga takut kehilangan. Gue emang cewek t***l yang selalu menolak kehadiran lo di mana pun karena gue ngerasa dunia yang gue punya nggak cocok buat lo tinggali, kita punya planet masing-masing, gue nggak mau lo capek karena terus-terusan ngurusin gue yang bahkan enggak pernah tahu rasa terima kasih. Bola mata Lintang tampak berkaca, ia sedikit mengangkat kepalanya sebelum mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Segara. Selamat malam, Gara. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD