Sebenarnya Lintang sudah tertawa sejak ia membuka email undangan online dari Rara, tapi malam ini ia menahan tawa agar tak terlihat konyol di mata orang lain, entah sengaja atau tidak—mengapa tempat yang Rara sewa untuk melangsungkan acara ulang tahunnya adalah tempat Lintang pernah melakukan pekerjaan paruh waktunya beberapa tempo hari, tepat saat mereka bertemu ketika Lintang menjadi seorang pramusaji di acara pembukaan cabang kantor perusahaan seseorang.
Lintang tak ingin negatif thinking, toh ia selalu masa bodo dengan urusan orang, diundang saja sudah cukup meski sebenarnya enggan, entah benar atau tidaknya perkataan Rara pagi itu—saat mengejek jika Lintang diundang agar membersihkan piring kotor di sana, jika semuanya dihubungkan—bisa saja Rara sengaja menyewa hotel itu untuk mengolok Lintang, apa mungkin Lintang akan tersinggung?
Gadis yang sudah turun dari taksi sejak lima menit lalu masih berdiri di lobi hotel seraya memperhatikan sekitar, ia benar-benar mengenakan dress maroon yang dibelikan Segara, sepasang anting cantik itu juga menghiasi telinganya, Lintang lebih cantik saat ia sudi memoles sedikit saja riasan wajah di tiap lekuk rupa kuarsa innocent yang dianugrahkan Tuhan, mirip sang mama.
"Elo senior yang tadi pagi, kan? Makasih ya udah bantuin gue." Gadis yang sudah melepaskan kardus bertuliskan namanya itu berdiri di depan sosok senior OSPEK yang pagi tadi menerima hukuman dengan suka rela meski bukan kesalahannya, gadis itu mengulurkan tangan. "Makasih banget, gue pasti ngerepotin elo."
"Nggak apa-apa." Senior itu tersenyum, ia membalas uluran tangan Lintang seraya menatap lekat wajahnya. "Nama lo—"
"Lintang." Gadis itu menarik tangannya saat Segara tak kunjung melepaskan. "Kalau gitu gue langsung pulang, ya. Masih banyak urusan buat tempat kost baru gue di Jakarta, sekali lagi makasih." Lintang melenggang begitu saja, Segara yang masih bertengger di motornya tiba-tiba turun, menatap Lintang yang terus menjauh dari posisinya di area parkir kampus, keadaan begitu ramai saat banyak orang meninggalkan kampus—melewati celah lebar gerbang yang terbuka. "Lintang!" Untuk pertama kali ia menyebutkan nama gadis itu.
Lintang mendengarnya, untung saja sepasang kaki berbalutkan converse hitam belum melewati celah gerbang, ia menoleh menatap Segara dari kejauhan, tapi senyum di wajah laki-laki itu bisa tertangkap jelas di mata Lintang. "Apa!" Ia ikut berseru takut-takut Segara tak mendengarkannya.
"Sama-sama!" Segara menggunakan sepasang tangannya sebagai toa di bibir, saat itu mereka saling membalas seulas senyum tulus, banyaknya orang di sekitar seperti lenyap seketika, seperti hanya ada mereka saja di sana.
Mata nan senyum yang sama itu kini keduanya perlihatkan saat sosok lain nan berdiri di depan pintu masuk hotel yang terbuat dari kaca tebal, mereka saling membalas meski jarak keduanya terbentang luas, si laki-laki sungguh ingin menggapai gadisnya kini, tapi situasi selalu mendesaknya mundur, tak mengizinkannya mendekat. Jarak mereka akan selalu terbentang di mata orang lain, tapi terbabat habis jika hanya berdua.
Segara akan terus mengagumi Lintang setiap waktu meski gadis itu bisa melukainya luar dalam, batin serta fisik. Ia takkan lupa pada kejadian di mana Lintang memukul wajahnya hari itu hanya karena Segara mengantar Lintang hingga mereka tiba di parkiran kampus, untung saja keadaan tengah sepi, jadi tak perlu takut pada terbongkranya hubungan backstreet mereka.
"Hai, Lin," sapaan Malik yang tiba-tiba muncul di lobi dan menghampiri Lintang lantas membuat ekspresi Segara berubah dingin, kedua tangannya mengepal kuat menatap sang kekasih berbicara dengan laki-laki lain di depan mata, jika hubungan mereka diketahui banyak orang—pasti Segara sudah memukul wajah Malik saat ini juga. Sayangnya, Segara harus puas dengan menahan amuk dalam d**a, menyimpan kecemburuannya hingga esok—jika ia menemui Lintang lagi.
Dering ponsel Segara mengalihkannya dari Lintang dan Malik, ia merogoh benda pipih hitamnya dari kantung celana, nomor tanpa nama tertera di sana, tapi Segara bisa menegaskan siapa yang menghubunginya kali ini lewat tiga digit nomor paling akhir. Ia berdecak sebelum mengangkat panggilan dari Rara. "Gue masih di lobi, bentar lagi ke situ, tunggu aja." Suara Segara terdengar dingin, netranya kembali memperhatikan sepasang aktivitas manusia yang kini meninggalkan lobi menuju sebuah lift, saat itu Segara langsung mengakhiri panggilan tanpa menggubris perkataan gadis di seberang sana.
***
"Segara kenapa sih suka banget matiin telepon pas gue lagi heboh ngomong!" gerutu Rara seraya meremas ponsel, wajah cantiknya lantas muram seketika.
"Sabar dong, Ra. Mungkin Segara ada hal yang lebih penting—"
"Lebih penting mana dari gue!" potong Rara, ia melirik Keira yang baru saja membuatnya kian dongkol.
"Sabar, Ra, sabar." Elma mengusapi punggung Rara, ia berkedip pada Keira sekadar mengisyaratkan sesuatu. "Segara pasti lagi otw ke sini, jadi mungkin lagi di lift. Rara udah cantik banget kayak queen, kalau lo marah gini—cantiknya hilang dong."
"Tarik napas, Ra, tarik napas," imbuh Keira, kedua temannya itu berusaha membuat Rara tenang, lagipula benar perkataan Elma jika penampilan Rara di malam ulang tahunnya benar-benar bak ratu. Gaun putih menjuntai indah hingga menyentuh selasar, bagian punggung dibiarkan terbuka, leher serta tulang selangka gadis itu terekspos jelas, sebuah mahkota kecil menghiasi puncak kepalanya, tatanan rambut dibiarkan tergerai berujung curly dengan poni menghias sebagian keningnya.
Pintu ruangan itu terbuka lebar, semua orang bermunculan dari sana termasuk Lintang yang kini datang bersama Malik, mungkin malam ini keberuntungan bagi Malik bisa melihat Lintang secantik itu meski harusnya sang kekasih yang berada di samping Lintang. Hanya saja momen seperti ini terbiasa Lintang hadapi, lebih tepatnya ia dan Segara hadapi, tapi hati yang paling tersakiti adalah milik Segara, sebab ia cinta mati.
"Itu serius si Lintang? Lo nggak nyesal undang dia, Ra?" Keira menganga mendapati Lintang serta Malik memasuki ruangan megah tempat berlangsungnya acara, ia menepuk Elma beberapa kali. "Sumpah dia cantik banget."
"Keira!!!" Tatapan bengis Rara ia arahkan pada temannya itu, harusnya ia yang terus semua orang puji sepanjang malam ini, bukan manusia lain.
"Sorry, sorry, Ra. Mulut gue emang suka jahat." Keira tersenyum canggung, ia mengalihkan pandang seraya berkata lirih. "Tapi, emang si Lintang cantik banget, yang punya acara aja kalah."
"Lagian itu cewek dapat dress sebagus itu dari mana, bukannya kerjaan dia cuma cuci piring aja, kan, Ra," ujar Elma, ia memilin ujung rambutnya, saat netra gadis itu beradu dengan milik Malik seulas senyum sumringah muncul, Elma memang menganggumi Malik sejak lama, hanya saja cinta sendiri sepertinya menjadi sebuah pilihan.
"Tabungannya selama setahun kali," cibir Rara, senyumnya mengembang saat mendapati Segara muncul di belakang dua manusia tadi, makhluk tampan yang satu itu benar-benar elegan dengan setelan jas tartan abu-abu yang ia kenakan. "Gara!" Rara melangkah menghampiri laki-laki itu diikuti dua teman di belakangnya, mereka sudah seperti para dayang setia yang Rara miliki.
Segara memperlihatkan ekspresi datar saat Rara mendekat, tak segan memeluknya di depan banyak orang, saat itu Lintang menoleh mendapati pemandangan yang tak seharusnya ia lihat di depan mata. Netra mereka bertemu meski tak sampai lima detik Lintang menyingkir tanpa mengajak Malik, laki-laki itu justru tengah berbicara dengan Elma.
"Ya ampun, Gar. Kamu ganteng banget, tapi setiap hari emang ganteng sih, pantas aja aku cinta," seloroh Rara penuh semangat saat Segara justru memperhatikan gerak-gerik orang lain yang kini meraih segelas cocktail, tatkala Lintang meneguknya sedikit ekspresi seperti merasakan pahit asam itu membuatnya tampak lucu, senyum kecil Segara muncul. Hanya saja setelah itu beberapa laki-laki mendekatinya, mereka mahasiswa yang bahkan tak pernah mendekati Lintang saat di kampus, tiba-tiba saja malam ini berubah—mungkin sebab penampilan Lintang yang terlalu memikat, cicak di dinding mungkin juga naksir padanya.
Air muka Segara berubah, kenapa begitu cepat Lintang mengubah suasana hati yang sempat menghangat lantas terasa panas lagi, kenapa Lintang tak pernah peka jika Segara mudah cemburu? Kenapa dan kenapa? Kenapa Segara yang paling sabar menghadapi semuanya setelah setahun mereka bersama.
Mengerikan saat Lintang meladeni obrolan laki-laki di sekitarnya, tapi Segara merasa Lintang sengaja mengujinya saat gadis itu melirik seraya tersenyum miring seolah ingin mengatakan lo aja sama pacar lo, masa gue nggak bisa ngobrol sama cowok lain.
Segara berdecak, ia beralih menatap Rara. "Kapan acaranya dimulai? Gue nggak punya banyak waktu, ada urusan lain." Ia pura-pura menatap arlojinya.
"Emang kamu mau ke mana, Gar? Kan baru datang?" Rara tampak kecewa, padahal ia ingin menghabiskan acara sampai akhir dengan Segara.
"Urusan penting, ayo dimulai aja sekarang daripada ulur waktu."
"Ya udah, tapi kamu ikut aku, ya." Rara menarik Segara begitu saja menghampiri meja berisikan kue ulang tahun Rara yang begitu tinggi, terkesan seperti kue pernikahan. Saat itulah seorang MC di ujung ruangan berdekatan dengan meja piano mulai berbicara, membuka acara usai Rara menatapnya seraya bertepuk tangan dua kali.
***
"Lin, lo habis ini cuci piring, kan?" Tiba-tiba saja Rara menarik Segara ke arah Lintang yang sibuk menikmati macaroon, kue berbentuk burger kecil aneka warna yang satu itu memang menjadi favorit Lintang. "Gue serius lho undang lo ke sini buat bantuin pegawai hotel yang lain." Ia menatap Lintang dari ujung kaki hingga kepala, matanya mulai panas—bukan sebab ia akan menangis, tapi gemas melihat Lintang yang terlihat lebih cantik saat didekati.
"Oh." Lintang manggut-manggut, ia tak tersinggung mendengar cibiran Rara. Ia meraih lagi macaroon ketiga, mengunyahnya dengan nikmat di depan Rara yang semakin geram menanggapi tingkah tak acuh Lintang.
"Elo—"
"Ra, gue musti pulang sekarang," sela Segara, "urusan gue udah telat."
"Serius mau pergi sekarang, Gar? Yah." Lagi-lagi Rara menelan kekecewaan. "Ya udah, hati-hati di jalan." Ia membiarkan Segara melenggang menghampiri pintu utama, saat itu Segara menunduk seraya mengetik sebuah chat pada ponsel sebelum dering lain akhirnya terdengar usai ia mengirimkannya.
Ponsel Lintang berdering, gadis itu menelan macaroon terakhirnya sebelum mengeluarkan ponsel dari sling bag.
Keluar lo sekarang, gue tunggu di mobil.
"Sorry ya, Ra. Gue belum bisa melaksanakan tugas cuci piring yang lo minta karena harus pergi sekarang, lain kali pasti gue bantu," tutur Lintang seraya menepuk pelan bahu Rara beberapa kali, saat ia melenggang pergi Rara langsung mengusapi bekas tangan Lintang di bahunya menggunakan tisu.
"Bakteri nggak pantas sentuh-sentuh gue," sarkasnya seraya menatap kepergian Lintang.
Biasanya Lintang akan menghindar atau mengulur waktu jika Segara meminta mereka bertemu, tapi entah mengapa gadis itu ingin keluar lebih cepat dari sana—belum lagi datang ke acara ulang tahun Rara bukanlah mutlak keinginannya, kini tugas Lintang telah usai, waktunya ia menyudahi.
Lintang bergerak santai menghampiri mobil Segara yang terparkir di basement, saat itu pemiliknya tak duduk di balik kemudi—melainkan berdiri di dekat pintu sisi kanan seraya memperhatikan Lintang yang semakin mendekat, dari atas ke bawah, ujung ke ujung semuanya tak luput dari netra Segara. Ia seperti meneliti sesuatu.
Saat Lintang sudah berdiri di depannya, Segara langsung masuk mobil, kentara sudah amarah yang tersimpan di sudut matanya, ia juga bungkam tanpa kata. Lintang masuk, memasang sabuk pengaman, tapi kunci mobil tak lantas diputar pemiliknya, mereka justru diselimuti hawa sunyi saat keadaan di basement benar-benar sepi.
"Elo nyuruh gue ke sini biar apa, Gar? Kalau nggak mau ngomong—gue bisa pulang sendiri kok," ucap Lintang mengawali.
"Sama salah satu dari cowok tadi? Atau sama Malik yang senang banget sama lo itu."
Lintang menarik napas. "Dengar ya, Gar. Jangan coba salahin gue, siapa yang minta gue datang ke acara Rara? Siapa yang beliin gue baju? Gue bisa nolak dengan senang hati lho undangan itu." Lagipula Lintang memang memiliki alasan untuk kecemburuan Segara, siapa yang meminta? Toh, ia hanya akan dihina jika datang ke acara Rara, tapi Segara mendesaknya. "Gue juga lebih senang jadi tukang cuci piring di sana ketimbang jadi tamu Rara, bedanya tipis banget, Gar. Untungnya gue kebal sama hinaan orang lain."
"Sorry." Cemburu memang menutup akal sehatnya, kini laki-laki itu mulai melajukan mobil meninggalkan basement.
***
A/N :
Btw, kamu pernah gak sih backstreet kayak Segara-Lintang gini?