"Makasih." Lintang menerima sebuah es starbucks berukuran tall varian Frappuccino Nebula Cosmic dengan komposisi s**u, taro dan lyme syrup, whiped cream serta sprinkle warna-warni yang menggemaskan. Ia langsung menyesap minuman tersebut, Lintang memang merengek jajan pada Segara siang ini—dengan dalih jika ia belum menerima gaji pertamanya dari Moonstruck Cafe, padahal tanpa perlu berdalih pun Segara siap membagi apa saja. Cowok berjaket jeans itu duduk di samping Lintang, pada sebuah sofa di sudut Starbucks Central Park. "Semalem ayah lo telepon gue." "Terus?" "Ya gue angkat lah, dia nanya kenapa anak gadisnya nggak pernah angkat telepon. Kenapa? Hape lo nggak berfungsi lagi? Buang aja." Cukup sarkas memang, sebab diselingi rasa kesal, sudah berkali-kali Segara mengingatkan jika orangt

