PROLOG
Harin menatap pria di depannya tanpa ada rasa takut apapun. Dirinya sendiri sudah melewati tahap menegangkan, mencengangkan bahkan bisa dibilang menakutkan. Menghadapi Hiresh Adyastha Fijaya, baginya tidak ada apa-apanya dari kemarin.
Kenapa harus Hiresh Adyastha Fijaya?
Karena ada satu yang dipertaruhkan. Yaitu hidupnya. Dia ingin hidup seperti manusia normal pada umumnya. Tidak perlu bahagia, tidak perlu dipenuhi kasih sayang dan cinta. Sebab ia sudah menyerah dengan semua itu. Ia hanya minta tenang nan damai menjalani hidup yang singkat dan sementara ini.
Hiresh lah yang bisa mewujudkan.
Bukan yang lain tidak bisa, tapi Hiresh lebih dari mampu melakukan itu. Untuk ... menjaganya agar tetap hidup.
Di sisi bersebrangan, Hiresh menaikan satu alisnya, kedua tangan bersedekap dengan kaki disilangkan ke kaki satunya. Posisi bersandar pada sofa yang ada di ruang santai keluarganya.
Matanya memindai dari atas ke bawah, begitu pula sebaliknya. Ia cukup heran. Gadis di depannya cantik ralat—sangat cantik, kelihatan berkelas khas anak yang berpendidikan, tapi setelah menyodorkan sebuah proposal padanya pemikiran itu langsung buyar. Pikirannya dipenuhi tanda tanya. Kalau mengikuti kata hati, ingin sekali melontarkan kalimat, bahwa gadis itu tidak tahu diri dan tahu malu.
Bagaimana bisa seorang gadis melamar pria? Pada dirinya pula. Apa otaknya sedang bermasalah?
Hiresh mengambil proposal itu, dan membacanya satu kali lagi. Kemudian ia menghela napas panjang, sebelum berbicara.
“Maaf, Nona Harin. Jujur saja, proposal yang kamu ditawarkan bahkan tidak ada lima persen dari total kekayaan saya ini. Lagipula kenapa saya harus menikahi kamu? Kalau saya bisa mencari gadis yang lebih dari kamu. Sebaiknya kamu bawa itu pulang. Saya akan menganggap yang dibicarakan kita tadi tidak pernah ada.”
“Lima persen mungkin bagi Anda tidak berarti, Tuan. Tapi bagi saya itu adalah sangat, sangat berarti. Dan saya berani memberikan ke Anda, dengan harapan Anda melindungi nyawa saya.”
Jawaban tegas Harin, membuat Hiresh menaikan sudut bibirnya.
Salah satu tangan kanan Hiresh yang ada di situ. Bertaruh dalam hati.
Akankah Harin yang menang bisa menaklukkan Bosnya? Apa Harin menyerah karena Hiresh bukan orang yang mudah didekati?
Ah, ia jadi tidak sabar melihat ending dari Hiresh dan Harin ini.
***