Chapter 4: Perhatian

1002 Words
"Maaf. " Kata itu cukup mengejutkan Valetta. Bagaimana tidak—seorang Keynan yang terkenal dingin ini meminta maaf. *** Malam hari ini cukup dingin ditambah dengan suhu ruangan yang dipasang AC semakin membuat tubuh Keynan yang hanya berbalut kemeja nampak merasa kedinginan saat ia tertidur di sofa. Sementara Valeta masih berbaring di ranjang dengan infus yang tertancap di tangan kirinya. "Uhuk... Uhuk... " Suara batuk yang berasal dari Keynan cukup membuat Valeta terbangun. Ia menyandarkan kepala di atas ranjangnya lantas menoleh ke arah tempat Keynan terlelap sekarang. Sebuah sofa yang berukuran sedang, dan Laki-laki itu tertidur menemaninya di sana. Timbul rasa kasian saat melihat sosok Keynan yang saat ini tampak kedinginan—bagaimana tidak, Jas yang dipakainya ia sampirkan begitu saja dan kini yang tersisa hanya kemeja putih tipis yang melekat di tubuhnya. Beberapa kali Valeta melihat Keynan mulai memeluk tubuhnya sendiri. Ia kedinginan. Berusaha pula Valeta mencoba mengabaikannya. Namun saat kembali menoleh dan melihat laki-laki itu kedinginan, ia jadi tak tega. Dengan tertatih, Valeta meraih dua tongkat sebagai penyangganya berdiri. Kedua kakinya masih belum pulih jadi ia masih belum terlalu kuat untuk berjalan. Valeta mendekati tubuh Keynan dan langsung memakaikan selimut di tubuhnya. Tak sadar ia melihat wajah Keynan tampak pucat. "Alishia! " DEG Valeta bingung. "Alishia, jangan pergi! " Keynan mengigau dalam tidurnya. Berkali-kali posisi tidurnya tampak tak nyaman. Apakah laki-laki ini memimpikan perempuan bernama Alishia? "Alishia? "Valetta teringat saat menemukan foto yang terselip di salah satu buku milik Keynan. "Siapa sebenarnya Alishia? " "Alishia! " Keynan kembali memanggil nama itu. Awalnya Valeta tak terlalu memedulikan saat Keynan memanggil nama perempuan lain—toh itu bukan urusannya, namun saat ia berbalik, sebuah tangan menariknya dari belakang. "Valeta! " Valeta dibuat terkejut saat Keynan memanggil namanya. Benarkah ia dipanggil. Ia kembali menoleh untuk memastikan, ternyata Keynan masih terlelap dengan kedua mata yang tertutup. mungkin sara tadi hanya mengigau.  Valeta berusaha menyingkirkan tangan Keynan yang menempel di tangannya—dan saat tangan itu terlepas justru Keynan kembali bersuara. "Maaf! " Apa maksud ucapan maaf dari Keynan. Apakah dia merasa bersalah padanya? Tangan Valeta terulur mengeratkan selimut itu menutupi tubuh Keynan hingga batas leher, serta tangan yang masih digenggam Keynan ia lepaskan secara perlahan agar tak membuat laki-laki itu terbangun, lantas ia sendiri kembali ke ranjang untuk melanjutkan tidurnya.  *** Hati, perasaan, dan perhatian. Akankah hati  sedingin es akan mencair? Lalu sosok manakah yang bisa mencairkan hati sedingin es tadi? Jam menunjukkan pukul 08.00, Valeta mulai membuka perlahan kelopaknya yang terhalau sinar pagi—rupanya sang surya sudah lebih dulu bangun dibanding dirinya. Satu pemandangan yang pertama dilihat Valeta di kamar pasien adalah suster yang sedang membersihkan ruangannya--dan jangan lupakan sosok laki-laki yang tadi malam tertidur di sofa itu sudah tidak ada. Kemana dia? "Kamu sudah bangun rupanya." "Sus... Laki-laki yang nemenin saya kemarin di mana ya? " "Oh, tadi pacar kamu keluar membeli minuman katanya, dia meminta saya untuk lebih lama di sini sampai kamu terbangun. " "Pacar? "Valeta memincingkan mata heran. "Dia bukan pa—" Kriet... Suara engsel pintu mengagetkan keduanya, ternyata Keynan baru saja masuk dengan menenteng dua kresek putih hasil belanjaan tadi di supermarket. "Wah beruntung sekali, dia sudah datang. Kalau begitu saya permisi dulu, " ujar suster tadi pamit keluar. Sepeninggakan suster tadi, Keynan mulai mendekat dan menaruh apa saja yang tadi dibelinya. "Aku bawain buah! " "Bagaimana keadaanmu sekarang? " tanya Keynan. "Baik. " "Tadi Mama kamu nelpon, dia nggak kesini—jadi aku yang akan menemanimu terapi nanti. " "Oh. " Valetta hanya ber-Oh ria saja. Ia tak terlalu memedulikan siapa yang akan menemaninya terapi berjalan—dan lagipula ia juga bisa sendiri tanpa bantuan orang lain. "Dokter bilang kalau kaki kamu sudah sembuh sepenuhnya. Lusa depan kamu diperbolehkan pulang." "Benarkah? " Valeta antusias. Keynan hanya membalas dengan senyum tipis di bibirnya.  Valeta akui satu hal, Keynan memang sosok yang rupawan, raut wajahnya yang tegas dan kelopak matanya yang tajam mampu menghipnotis siapa saja yang menatapnya—itulah gambaran Keynan saat ini.  *** Ruang ICU Berbaring dengan kondisi yang masih sama. Alat medis masih terpasang di tubuhnya. Monitor dari layar segi empat itu terus menunjukan garis stabil tanpa perubahan, hanya terdengar bunyi kedipan yang secara tak langsung memenuhi ruangan yang saat ini tak berpenghuni.  Satu atau dua suster yang memang sering masuk untuk mengganti infus dan melihat perkembangan pasien yang saat ini koma.  Jangan lupakan hampir setiap hari ada kiriman bunga mawar putih yang selalu menghiasi meja di sebelahnya. tak ada nama pengirimnya, hanya kiriman bunga yang selalu sama yang selalu diantar oleh suster menghiasi ruangan itu.  Mawar putih,  lambang bunga yang hanya segelintir orang akan memilih.  Alasan seseorang mengirimkan bunga itu mungkin—karena ia peduli.  Ia masih sayang dan berharap orang yang saat ini tengah berbaring koma di sana akan sadar suatu hari nanti.  Walau entah kapan.  Valetta duduk di salah satu kursi panjang dengan masih memakai seragam pasien rumah sakit,  selesai terapi ia memilih taman sebagai tempat yang begitu tenang untuk merasakan semilir angin. 30 menit di posisi yang sama,  tanpa ia sadari seseorang menyampirkan jaket bernuansa hitam tepat di belakangnya. Sontak saja Valetta terkejut dan saat ia mendongak mencari tahu.  "Keynan! "kejutnya tak percaya. "Apa yang kamu lakukan disini? " tanyanya.  "Nggak ada, " ketus Valetta.  "Ayo masuk! " pinta Key Keynan membantu Valetta berdiri. Segera mereka kembali ke kamar.  3 hari kemudian. Bunga mawar putih yang kini telah mengering di sudut ruangan itu kembali diganti dengan yang baru. Sementara bunga yang lain ikut terbuang bersama bunga mawar yang lain. Miris,  mungkin.  Karena sudah hampir dua minggu kondisi pasien yang saat ini koma tidak menunjukkan perkembangan apapun.   Next Chapter:  "Baiklah, kita nggak jadi makan. Sekarang kamu mau apa?" Keynan pasrah. Valeta tampak berpikir, "apapun?" "Iya, apa yang kamu mau?" Valeta kembali berpikir, "baiklah, aku mau es krim!" "Es krim??" Kejut Keynan. "Iya, katanya kamu bilang aku mau apa kan? Aku mau es krim sekarang!" "Kamu baru saja keluar dari rumah sakit!" "Terus ada larangan nggak boleh makan es krim, ya sudah!" Valeta mengerucut. "Baiklah." Keynan pasrah, "kita akan membeli es krim!" 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD