"Hari ini Anda sudah bisa pulang, beruntung sekali Anda memiliki suami yang sangat pengertian yang setiap hari menjaga Anda!" ucapan suster saat melepas infus yang tertempel di tangan Valeta. Mendengar pujian yang diterimanya tak membuat Valetta merasa lebih baik.
Baginya, kehadiran sosok laki-laki lain yang tak pernah ia cintai membuatnya merasa risau. Memang Keynan selalu bersikap baik padanya, tapi, kehadirannya tak pernah membuat Valeta nyaman.
Selesai melepas infus Valeta, suster itupun pergi. Bersamaan dengan kepergiannya, datang Keynan dari ambang pintu membawakan sebuket bunga mawar merah. Ia lalu berjalan mendekati Valeta.
"Apa kamu sudah siap untuk pulang?" tanya Keynan dengan suara datar.
"Apa mama nggak ke sini?" Valeta celingukan mengharapkan kedatangan keluarganya menjemput.
"Mama sudah ada di rumah, dia bilang saya yang akan membawamu pulang hari ini!" ujarnya.
Walau sedikit kecewa, Valeta kini menurut dengan apa yang diucapkan laki-laki di depannya itu. Kaki Valeta perlahan sembuh, ia kini tak lagi duduk di kursi roda dan diganti dengan kruk yang ia sanggah di kedua tangannya. Tak lupa Keynan menyiapkan semuanya, membawa tas miliknya sembari menuntun Valeta keluar dari kamar rumah sakit. Ada semburan senang di wajah Valeta saat ia dinyatakan sembuh oleh dokter.
"Akhirnya keluar juga."
Keynan ikut senang, ia tersenyum menoleh padanya dan tanpa disadari saat Valeta menoleh ke arahnya kedua mata mereka bertemu. Hanya beberapa detik sebelum keduanya tersadar.
"Mobil sudah datang, ayo pulang!" Kata Keynan.
"Key!" belum sempat melangkah, Valeta menghentikan langkah Keynan.
"Aku ingin menemuinya, bolehkah?" kali ini Valeta sedikit memelas berharap Keynan akan mengizinkannya sebentar saja.
"Aku hanya ingin melihat keadaannya."
Laki-laki itu membisu, semburat wajahnya seakan tak mengizinkan, tapi melihat mata sayu di depannya, tak mungkin ia melarang, lagipula orang itu sangat berarti di hidup Valeta.
"Sebentar saja!"
Raut wajah Valeta tersenyum senang, "terimakasih Keynan."
"Tapi saya akan menemanimu!"
Valeta mengizinkannya, keduanya kini pergi mengunjungi Justin yang saat ini masih koma di rumah sakit itu.
***
Langkah Valeta menghampiri ranjang putih yang saat ini dihuni satu pasien dalam keadaan tak sadarkan diri. Ventilator terpasang di hidungnya dan infus di tangannya. Tak ada perkembangan dari garis yang terlihat di layar kotak di sebelahnya. Valeta duduk di samping Justin untuk melihat wajahnya yang tampak tenang.
"Justin!"
Tangan Valeta menyentuh tangan Justin yang terpasang infus, tangannya tampak dingin dan pucat. Eratan tangan Valeta menggenggamnya seakan menjadi rindu tak berbendung di hatinya.
Keynan nampak terdiam melihat keduanya yang saling merindu, apalagi kondisi koma yang dialami laki-laki di depannya kini mengingatkannya pada sosok yang juga pernah terbaring lemah di ranjang rumah sakit beberapa tahun yang lalu. Sosok lemah yang terus hidup di hatinya walau kini raga tak lagi jadi miliknya.
"Key...Keynan!"
Suara Valeta membuyarkan lamunannya, ia tersadar saat suara Keynan memanggilnya.
"Kamu kenapa?" tanya Valeta.
"Nggak ada apa-apa, sudah selesai?"
Valeta mengangguk, "Terima kasih."
Valeta dan Keynan meninggalkan Justin di kamar sendirian, bersamaan saat Veleta keluar dari kamar itu, jemari tangan Justin perlahan bergerak, hanya sedetik seakan kedatangan Valeta membuatnya memiliki harapan.
***
Mobil Keynan membawa keduanya menuju ke salah satu rumah mewah di salah satu komplek elit. Awalnya Valeta tak menghiraukan perjalanan mereka. Namun saat mobil itu berbelok ke arah jalan lain, seketika Valeta terkejut.
"Tung-tunggu, kenapa kita nggak ke jalan lain, bukannya rumah aku ke sana!" Vsleya sedikit panik.
"Key!"
Keynan tak merespon, ia masih fokus menyetir.
"Keynan, aku mau pulang!" teriak Valeta.
"Sebentar lagi kita akan sampai!" ucapnya.
"Rumah aku di sebelah sana, kita mau ke mana?"
"Kita pulang ke rumah."
"Rumah aku ke arah sana Keynan, aku—"
"Kita akan pulang ke rumah kita, kamu mengerti!"
Valeta tak habis pikir, rumah kita? Apa maksud laki-laki ini.
"Rumah kita, maksud kamu?"
"Valeta, mama kamu sudah menitipkan kamu sama saya, jadi kita akan—"
"Tinggal serumah, kamu gila ya, aku mau pulang!"
"Valeta!"
"Aku mau nelpon mama!" Kekesalan Valeta dengan keputusan sepihak yang dilakukan Keynan membuatnya marah, diambilnya ponsel miliknya untuk menghubungi mamanya.
"Mamaaaa!!"
"Sayang gimana keadaan kamu? Apa nak kalian sudah sampai rumah?"
"Maa, aku nggak mau tinggal serumah sama laki-laki ini, aku mau pulang ma!"
"Sayang, nak Keynan kan suami kamu sekarang, kamu harus nurut sama dia!"
"Tapi maa!"
"Pokoknya kamu harus nurut sama suami kamu mengerti sayang!"
Tut tut tut...
"Bagaimana?" Keynan menoleh.
"Anda menyebalkan!" Valeta menggerutu.
Di sepanjang perjalanan, tak ada suara diantara mereka. Valeta memilih diam dan enggan menunjukkan muka pada Keynan. Sementara Keynan masih sibuk menyetir sesekali menoleh pada gadis yang sedang marah di sampingnya.
"Kamu lapar?" tanya Keynan memecah keheningan.
Tak ada suara, Valeta memilih diam.
"Di sekitar sini ada restoran, apa kita berhenti untuk makan sebentar saja?"
Tetap tak ada suara.
"Baiklah, kita akan berhenti untuk makan, kalau nggak salah di sekitar sini ada restoran seafood enak!" Keynan tak menunggu persetujuan Valeta untuk mengiyakan keinginanya.
Mobil merchedes benz masuk ke area parkir. Salah satu restoran bergaya italia menjadi pilihan Keynan. "Ayo turun!" perintah Keynan.
Tak ada suara, Valeta masih bungkam.
"Valeta!"
Valeta akhirnya terpaksa menoleh, "saya nggak mau!"
"Kamu pasti lapar, kita akan makan dulu sebelum pulang," ujar Keynan.
"Kenapa Anda selalu memaksa, saya bilang, saya nggak mau!" geram Valeta.
Keynan memijat pelipisnya ikut geram, ia tak tahu lagi bagaimana menghadapi gadis manja seperti Valeta.
"Baiklah, kita nggak jadi makan. Sekarang kamu mau apa?" Keynan pasrah.
Valeta tampak berpikir, "apapun?"
"Iya, apa yang kamu mau?"
Valeta kembali berpikir, "baiklah, aku mau es krim!"
"Es krim??" Kejut Keynan.
"Iya, katanya kamu bilang aku mau apa kan? Aku mau es krim sekarang!"
"Kamu baru saja keluar dari rumah sakit!"
"Terus ada larangan nggak boleh makan es krim, ya sudah!" Valeta mengerucut.
"Baiklah." Keynan pasrah, "kita akan membeli es krim!"
Mobil kembali keluar dari parkiran restoran menuju jalan raya, kini tempat yang dituju ke salah satu tempat yang jual es krim.
"Ehh, itu ada supermarket di depan, kamu beli es krim di sana saja," pinta Valeta.
Keynan tak yakin, "kamu yakin?"
Valeta mengangguk, akhirnya Keynan turun di pinggir jalan untuk menyebrang ke arah supermarket yang ditunjuk Valeta tadi.
Valeta tersenyum senang, sebenarnya tadi hanya akal-akalannya untuk mengelabuhi laki-laki itu agar ia bisa kabur darinya.
"Anda sangat mudah dibohongi Tuan Keynan!"
Selama Keynan ke supermarket, ini kesempatannya untuk kabur. Dengan sedikit tertatih, Valeta mengambil tongkat dan keluar dari mobil itu. Saat ia akan menarik knop pintu mobil, Valeta tersadar sesuatu—mobil itu terkunci. Aishh, Valeta mengupat kesal, rupanya Keynan sudah mengunci mobil agar ia tak kabur. "Sial!"
Dari dalam supermarket saat Keynan membayar, ia tersenyum dengan apa yang dilakukannya.
"Keynan!" geram Valeta.
Tbc
Oopss, suka lucu sama kejailan keduanya, tapi keynan pintar juga
Apa yang akan dilakukan Valeta selanjutnya yaa? Apakah hubungan keduanya akan baik2 saja??
Ikuti terus kisahnya yaa!!!!